Heavanna

Heavanna
129. MENEMUI HEAVEN


__ADS_3

"Boleh masuk nggak ya, coba dulu deh. Mudah mudahan boleh masuk!"


Setelah cukup lama berdebat dengan Azka di mansion Zielinski tadi, Zia akhirnya boleh pergi menggunakan mobilnya. Kini gadis itu sudah berada di depan mansion besar milik keluarga Galvander. Zia menekan bel di depan pintu gerbang, berharap setelah ini akan diperbolehkan masuk oleh penjaga mansion. Tak berselang lama, seorang berpakaian serba hitam datang menghampiri gadis itu.


"Ada yang bisa saya bantu Nona?" tanya penjaga gerbang dari dalam. Sedikit terheran melihat gadis cantik ada di depannya.


"Iya Pak, saya temennya Kak Heaven. Hari ini ada janji mau ketemu, boleh saya masuk?" tanya Zia. Berharap penjaga tersebut akan percaya dengan kebohongannya.


"Sebentar dulu ya, biar saya tanyakan ke atasan saya dulu."


"Eh nggak usah Pak, saya buru-buru soalnya. Nanti kalo telat, Kak Heaven bisa marah!" Zia mencegah, ia merasa Heaven tidak akan mengizinkan dirinya masuk sekarang.


"Tidak bisa begitu Nona, saya harus mematuhi prosedur yang ada di mansion ini. Tidak boleh menerima sembarang orang masuk!" ucap penjaga bertubuh kurus itu.


"Oh gitu ya Pak, ya udah deh!" Zia membiarkan penjaga itu pergi, untuk menghubungi atasannya tentang kedatangan dirinya. Tidak berselang lama, penjaga itu datang kembali.


"Maaf Non, Tuan Heaven tidak berpesan akan ada tamu hari ini. Jadi saya tidak bisa mengizinkan Anda untuk masuk," ucap penjaga tersebut.


"Yah tapi Pak, saya buru-buru sekarang." Sudah Zia duga sebelumnya, hal ini pasti akan terjadi.


"Maaf Non, lain kali lebih baik Anda membuat janji dengan Tuan Heaven lebih dulu!" kata penjaga.


Tidak ada jawaban dari Zia, gadis itu kecewa karena tidak bisa masuk ke dalam mansion sekarang. Merasa tidak ada harapan, Zia hendak pergi meninggalkan tempat. Namun suara deruan motor yang datang mengalihkan atensinya, terlihat Gala datang dan berhenti di hadapannya.


"Ngapain lo di sini?" tanya Gala setelah membuka kaca helm full face nya.


"Kak Gala, ah untuk lo dateng. Bantuin gue!" Zia tersenyum sumringah, saking bersemangatnya ia sampai memegang motor itu.


"Bantuin apaan?" tanya Gala.


"Gue nggak dibolehin masuk sama penjaga, please bantuin gue." Zia sampai menyatukan kedua tangannya di depan Gala, berharap cowok itu mau membantu.


"Ogah! Kenapa lo nggak minta aja ke Heaven, dia kan anaknya yang punya mansion!" Gala kembali menutup kaca helm nya, hendak menyalakan motornya kembali.


"Nggak bisa, Kak Heaven nggak bisa dihubungi dari tadi. Please, kali ini aja bantuin gue!" pinta Zia lagi.


Namun sayangnya, Gala tampak tidak ada niatan sama sekali untuk membantunya. Cowok itu hanya diam, menjalankan motornya memasuki gerbang yang sudah terbuka, meninggalkan Zia seorang diri. Gadis itu menghela nafas pasrah, tidak tahu lagi harus melakukan apa saat ini.


"NON, MAU KE MANA? SILAKAN MASUK!"


Zia menoleh saat akan menaiki mobilnya, terlihat pintu gerbang sudah terbuka lebar. Sepertinya Gala hanya bercanda tadi, karena pada kenyataannya pintu gerbang saat ini terbuka lebar. Mempersilakan dirinya untuk masuk bersama mobil mewah milik Azka yang ia bawa.


*********


"Kak Gala, makasih ya udah bantuin gue tadi!" Zia berjalan menyamai langkah langkah Gala yang tengah menuju pintu utama. "Ish datar banget sih!" lirihnya.


"Buruan jalannya, ntar kalo ketinggalan lo nggak bisa masuk!" kata Gala. Membuka pintu utama kemudian masuk ke dalam.

__ADS_1


Zia buru-buru masuk ke dalam, sebelum pintu benar-benar tertutup. Mengikuti Gala yang tengah berjalan di depannya, entah dengan tujuan ke mana, Zia tidak tahu.


"Gala, akhirnya kamu dateng juga!"


Seorang wanita cantik berlari menghampiri Gala, dari belakang Zia hanya mampu mengintip. Sedikit bertanya-tanya, siapa wanita cantik itu. Jika dibandingkan dengan usia Mommy Shina, sepertinya wanita itu sedikit lebih muda usianya.


"Tante nggak papa, kenapa tiba-tiba minta Gala ke sini? Apa ada yang mendesak?" tanya Gala pada tantenya, Garnis.


"Mendesak banget, Tante sampai nggak tahu harus ngapain lagi kecuali panggil kamu ke sini. Heaven tiba-tiba ngurung diri di kamar, Tante nggak tau dia kenapa setelah pulang tadi. Dia masih demam sampai sekarang, Tante takut dia kenapa-kenapa di dalem!" ucap Tante Garnis yang sejak tadi kebingungan.


"Jadi Kak Heaven masih demam?" Tanpa sadar Zia menyela pembicaraan, membuat Gala dan Tante Garnis menoleh ke sumber suara.


Mengerutkan keningnya, Tante Garnis sedikit terheran melihat ada gadis cantik di belakang Gala. "Siapa gadis cantik ini? Pacar kamu, Gala?" tanyanya penasaran.


"Calon menantu Tante," jawab Gala singkat padat dan tidak jelas.


Tante Garnis seketika membulatkan matanya. "Jadi bener ini pacar kamu?" tanyanya heboh.


"Bukan Tante!"


"Terus pacar siapa? Keponakan Tante kan cuma ada kamu!" Tante Garnis semakin tidak mengerti.


"Tante tanya aja sama anak Tante nanti. Sekarang Gala buru-buru, masih ada kerjaan. Tante boleh banyak tanya kalo urusan Heaven udah selesai!" Gala menarik Tante Garnis untuk segera menuju kamar Heaven, ia tidak ingin terlalu banyak membahas tentang Zia. Karena itu adalah hak Heaven untuk memperkenalkan gadis itu pada keluarganya.


"Ngapain lo diem aja di situ, buruan ikut." Dari kejauhan, Gala menegur Zia yang justru hanya diam di tempatnya. Di mansion yang masih sangat asing baginya itu, tentu Zia tidak berani melakukan apa-apa sendiri.


Sesampainya di depan kamar milik Heaven, Gala tidak segan langsung menggedor pintu tersebut. Tante Garnis hanya diam saja membiarkan Gala membujuk sepupunya, karena biasanya cara ini cukup efektif untuk membuat Heaven mau membuka pintunya.


"Heav, buka pintunya!" teriak Gala.


Tidak ada jawaban sama sekali, Gala kembali menggedor pintu tersebut. Karena tidak kunjung mendapat balasan, Gala mencoba membuka pintu. Benar saja, pintu terbuka dengan mudahnya. Seketika Gala menatap Tante Garnis yang sedang tercengang, karena sebelumnya pintu itu tidak bisa dibuka sama sekali.


"Tante," ucap Gala sedikit geram.


"Tadi nggak bisa dibuka pintunya, Tante nggak bohong!" ucap Tante Garnis bingung.


"Ya udah mending Tante ambilin makanan dulu deh, buat Heaven!" ucap Gala kemudian masuk ke dalam. Zia yang sejak tadi hanya diam memilih ikut masuk ke dalam, sementara Tante Garnis langsung pergi ke dapur untuk mengambil makanan.


Di atas ranjang, terlihat gundukan besar di bawah selimut berwarna putih itu. Gala beralih menatap Zia di belakangnya. "Kayaknya dia lebih nurut sama lo, mending lo bujuk dia biar mau makan. Gue keluar dulu!"


"Eh tapi Kak-" Ucapan Zia terhenti, karena Gala sudah lebih dulu menutup pintunya.


Zia menghela nafas panjang, memikirkan bagaimana menjelaskan tentang semuanya pada Heaven. Cowok itu bahkan masih menyembunyikan seluruh tubuhnya di bawah selimut saat ini. Perlahan Zia berjalan mendekat, kemudian duduk di sisi ranjang. Menatap gundukan tertutup selimut yang tidak ada gerakan sama sekali.


"Mama mau ngapain lagi sih, aku nggak laper Ma!" Dari dalam selimut terdengar Heaven mengomel, ketika Zia menyentuh selimut tersebut.


"Kak?" panggil Zia lembut.

__ADS_1


Hening sejenak, tidak ada pergerakan sama sekali dari dalam selimut itu seperti sebelumnya. Heaven tengah merasa bingung dan aneh, apa suara yang ia dengar tadi memang benar adanya? Dengan cepat ia membuka selimutnya, memperlihatkan bagian kepalanya saja.


Air mukanya berubah kesal. "Ngapain lo ke sini lagi?" Ketus, Heaven menatap Zia yang ia kira hanyalah sebuah bayangan.


"Lagi?" Zia mengerutkan keningnya. "Emangnya kapan gue pernah ke sini?" tanyanya bingung.


"Nggak lucu! Lo pasti bahagia kan putus dari gue?" Heaven memejamkan matanya, rasa pusing membuatnya sudah seperti orang gila. Mengira seseorang yang ada di hadapannya hanyalah sebuah bayangan. "Kenapa juga gue harus ketemu sama lo!" ujarnya sambil mengusap wajah.


"Kak Heaven ngomong apa sih?" Zia beranjak mendekat, meraih tangan Heaven yang hendak menjambak rambutnya sendiri.


Heaven terheran, merasakan sentuhan hangat tangan itu. "Kok lo bisa pegang gue?" bingungnya.


"Ya bisa lah, lo pikir gue hantu!" ucap Zia.


Menyadari perempuan di hadapannya ini adalah nyata, wajah Heaven seketika berubah datar. Ia menghempaskan tangan Zia, kemudian beranjak duduk sambil membenarkan letak selimutnya.


"Ngapain lo di sini? Keluar dari kamar gue, bukannya urusan kita udah selesai!" ketus Heaven.


"Nggak, urusan kita belum selesai!" tekan Zia.


"Nggak usah sentuh-sentuh gue!" Heaven menepis tangan Zia yang baru saja menyentuh tangannya, kemudian beralih mengambil telepon rumah di atas nakas.


"Kak, dengerin penjelasan gue dulu. Lo mau ngapain!" Zia mencegah tangan Heaven yang tampaknya hendak menelepon bawahannya.


"Mau usir lo dari sini, kita udah nggak ada hubungan lagi!"


"Nggak, kata siapa? Kita masih ada hubungan, jangan ngomong kayak gitu!" Zia menghambur memeluk cowok itu, ia benar-benar tidak ingin kehilangan Heaven sampai kapanpun itu.


"Lepasin, lo ngapain peluk-peluk gue?" Heaven mencoba melepaskan pelukan gadis itu, namun terurung ketika mendengar gadis itu terisak. Hatinya terenyuh, sebenarnya dirinya juga merindukan pelukan gadis itu saat ini.


"Nggak mau, dengerin penjelasan gue dulu makanya. Lo cuma salah paham tadi!"


"Salah paham apanya, jelas-jelas gue liat dengan mata kepala gue sendiri. Lo pergi sama tuh cowok, lo mau ketemu sama calon mertua kan?" Heaven kesal, namun tetap membiarkan Zia memeluk tubuhnya.


"Nggak, nggak gitu Kak. Mereka bukan calon mertua gue, lo salah paham!"


🎀🎀🎀


Lanjut besok!


Sambil menunggu Heavanna up, mampir dulu yuk ke karya keren di bawah ini.


Judul : Tiba-tiba menikah


Napen : Lena Laiha


__ADS_1


...Sampai bertemu di cerita Heavanna selanjutnya 👋🏻...


__ADS_2