
"Ada hubungan apa lo sama cewek gue?"
Heaven masih menatap tajam Azka yang sedang duduk di kursi dengan posisi tubuh terikat, terlihat wajah Azka masih dipenuhi luka lebam akibat dari serangan Heaven saat di restoran sore tadi. Semua anggota Clopster pun hanya diam menyimak percakapan antara Heaven dan Azka, termasuk Kenzo yang sebenarnya mulai khawatir jika Azka bertindak ceroboh dengan memancing kemarahan Heaven lebih dalam.
"Menurut lo?" Azka tersenyum miring. "Yang jelas bukan seperti hubungan toxic yang lo jalanin sama dia selama ini!"
Heaven mengepalkan tangannya geram, ia beranjak dari duduknya mendekati Azka lalu mencengkeram kerah bajunya dengan kasar. "Tau apa lo tentang hubungan gue hah?"
Azka terkekeh melihat kemarahan Heaven. "Kenapa? Lo tersinggung?"
"Hubungan yang gue jalanin itu urusan gue dan cewek gue, nggak ada hak buat lo ikut campur!" tekan Heaven.
"Miris, itulah kenapa gue nggak rela Zia berhubungan sama lo!" ucap Azka merasa kasihan.
"MAKSUD LO APA?" bentak Heaven menarik kerah baju Azka. Mendekatkan wajahnya yang sudah dipenuhi amarah membuncah, Heaven tidak terima dengan apa yang dikatakan Azka barusan.
"Maksud gue? Jauhin Zia!" tekan Azka.
"Siapa lo berani ngatur hubungan gue?" desis Heaven.
"Gue emang bukan siapa-siapa, tapi di sini gue cuma merasa kasihan aja sama Zia. Selama ini dia terjebak dalam hubungan nggak sehat sama lo!" Azka dengan berani membalas tatapan tajam Heaven. "LO ITU TERLALU OVER PROTECTIVE!"
"DAN ASAL LO TAU, KEPOSESIFAN LO ITU BISA NGERUGIIN SEMUA ORANG! SIFAT TOXIC LO ITU CUMA BAKAL NYAKITIN ZIA! LO SADAR NGGAK?"
Heaven semakin geram mendengar ucapan Azka, akan tetapi apa yang dikatakannya memang benar. Buktinya, setiap kali dirinya marah atau bahkan merasa cemburu, Zia selalu menjadi korbannya. Bahkan sebelum ini ia sudah memberikan obat penenang untuk gadis itu melalui suntikan.
Memang hal itu tidak akan berbahaya untuk Zia, karena sebelumnya Dokter Felio sendiri yang sudah mengajarinya ketika Zia sakit beberapa waktu yang lalu. Obat penenang itu beberapa kali Heaven berikan pada Zia ketika sedang meracau tidak terkendali saat itu. Dan sekarang ia telah menyalah gunakan obat tersebut, padahal tidak seharusnya ia melakukan hal itu pada Zia.
"Dan satu lagi, mending lo jauhin Zia mulai sekarang. Karena itu untuk kebaikan Zia kedepannya!" ucap Azka lagi.
Heaven semakin emosi, rahangnya mengeras bersama kilatan amarah yang muncul melalui sorot mata tajamnya. "Sampai kapanpun gue nggak akan pernah jauhin Zia!" tekan Heaven.
"Dan lo bakal tetep biarin musuh-musuh lo mengancam keselamatan Zia?" tanya Azka marah.
"Tau dari mana lo tentang musuh-musuh gue?" Heaven beralih menatap para sahabatnya, meminta penjelasan.
"Tadi sore anak Gorized datang lagi ke sini, buat mempertegas ancamannya!" ucap Gala dengan tenang. Berbeda halnya dengan teman-temannya yang lain, mereka memilih diam agar selamat dari amukan singa buas itu.
"See? Mending lo jauhin Zia mulai sekarang!" tegas Azka lagi.
Heaven menoleh, masih dengan tatapan tajamnya. "Nggak semudah itu gue bakal tinggalin Zia!" ucapnya masih berada dalam pendirian.
Azka justru semakin kesal dibuatnya. "Buat apa lo pertahanin hubungan yang justru bakal nyakitin kalian berdua? Asal lo tau, Zia juga butuh kebebasan. Semua orang punya hak melakukan apapun yang mereka mau, termasuk Zia!"
"Tidak, bukan untuk Zia. Karena dia cuma milik gue, dan gue bakal kasih kebebasan buat dia dengan cara gue sendiri!" jawab Heaven masih tetap pada pendiriannya. Karena sampai kapanpun ia tidak akan pernah rela melihat Zia bahagia bersama cowok lain.
"Milik lo? Apa lo sadar dengan yang lo ucapin barusan?" tanya Azka tidak habis pikir.
"APA LO NGGAK SADAR? RASA YANG LO MILIKI BUAT ZIA ITU BUKAN CINTA, TAPI OBSESI. LO TERLALU TEROBSESI BUAT MILIKIN ZIA SEORANG DIRI, TAPI LO LUPA KALO ZIA JUGA BUTUH ORANG LAIN! SELAIN LO!"
"BACOT, TAU APA LO TENTANG PERASAAN GUE!"
Bugh
Bugh
Bugh
Tiga kali pukul mendarat di tubuh Azka, Heaven tidak terima dengan apa yang dikatakan cowok itu. Perasaan cintanya untuk Zia baru saja dianggap sebuah obsesi, padahal ia benar-benar tulus mencintai gadis itu. Rasa cinta Heaven terlalu besar, hingga ia tidak rela melihat Zia bersama cowok lain. Hanya itu, Lalu di mana letak kesalahannya? Heaven hanya ingin mempertahankan cinta pertamanya, tidak lebih dari itu.
__ADS_1
"HEAV, STOP HEAV. LO NGGAK BISA KAYAK GINI TERUS!"
Kenzo menarik Heaven menjauh dari Azka yang sudah terguling bersama kursinya, begitu juga dengan Gala yang ikut menahan pergerakan sepupunya. Sementara yang lain segera membantu Azka agar kembali ke posisi yang seharusnya.
"LEPASIN BANGSAT, GUE BELUM SELESAI SAMA COWOK SIALAN ITU!" bentak Heaven sambil memberontak.
"STOP HEAV!" bentak Gala. "Nan, Gam! Kalian bawa tuh cowok ke rumah sakit!"
"Nggak boleh, gue belum puas kasih pelajaran sama dia!" ucap Heaven dengan rasa kesalnya.
"Sampai kapan lo bakal puas? Lo mau bunuh dia?" bentak Gala. Ia menatap pada Nanda dan Agam yang masih mematung di tempat, sedang merasa bingung karena tidak tahu harus menuruti ucapan siapa. Gala atau ketua geng mereka.
"Lo berdua kenapa diem aja? Buruan bawa dia keluar goblok!" bentak Gala lagi.
"Eh iya Gal, sabar napah! Galak amat, kesurupan reog lo?" celetuk Nanda merasa sedikit takut.
"Bacot!"
********
Pukul 05.00 pagi Heaven sudah berada di kamar apartemennya, masih memandangi Zia yang masih terlelap dalam tidurnya. Ah tidak, mungkin gadis itu masih berada dalam pengaruh obat sekarang. Ia bahkan tidak bergerak sedikitpun, masih berada di posisi yang sama seperti sebelum ia meninggalkan gadis itu.
Heaven mengelus surai rambut Zia, pikirannya sedang menerawang mengingat apa yang dikatakan Azka sebelumnya. Obsesi? Ia bahkan tidak pernah membayangkan hal itu sebelumnya. Namun setelah mendengar ucapan Azka, ia jadi memikirkan apakah Zia juga menganggap cintanya hanya sebatas obsesi semata.
Gue harap lo bisa merasakan ketulusan yang gue miliki buat lo, Na.
Heaven masih mengusap surai rambut Zia dengan sayang, tanpa mengalihkan pandangannya sedikitpun. Ia beralih memegang tangan Zia lalu menciumnya sekilas, tanpa di duga hal itu berhasil menyadarkan Zia dari tidurnya. Gadis itu menggeliat, Heaven masih memperhatikannya hingga Zia membuka mata dan menatap ke arahnya.
"Selamat pagi!" sambut Heaven.
Zia kembali memejamkan matanya, masih terdisorientasi setelah beberapa detik tersadar dari tidurnya. Ia masih menganggap apa yang ada dihadapannya ini hanyalah mimpi belaka, kemudian ia kembali membuka matanya setelah berhasil mengumpulkan nyawa.
"Nemenin lo tidur!" jawab Heaven.
"Hah?"
"Hah hah mulu, kepalanya pusing nggak?" tanya Heaven ingin memastikan.
Zia memegang kepalanya, kemudian menggeleng kecil. Barulah ia menyadari apa yang telah terjadi padanya tadi malam. Ia kembali menatap Heaven lalu bertanya, "Kak Heaven udah nggak marah?"
"Kenapa harus marah?" tanya Heaven sambil merapikan rambut Zia.
"Bukannya semalem ...."
"Ssttt... nggak usah dibahas lagi, ok?" ucap Heaven sambil menggelengkan kecil.
Buk
Heaven tercengang, baru saja Zia memukul dadanya tanpa alasan yang jelas. "Kenapa lo jadi mukul gue?"
"Itu balesan karena Kak Heaven udah nyuntik gue semalem!" Zia mencebikan bibir bawahnya kesal, mengingat apa yang dilakukan Heaven semalam.
"Siapa suruh lo nggak nurut!" ujar Heaven.
"Ya nggak gitu juga, pake dikasih obat segala. Gue juga nggak akan kabur," sungut Zia.
"Tetep aja lo salah, ngapain juga lo nanyain keadaan cowok sialan itu? Diam-diam lagi!"
"Tapi bukan gitu emph---"
__ADS_1
Heaven terpaksa membekap mulut Zia, ia sudah tidak ingin berdebat lagi dengan gadis itu. "Diem, ssttt... nggak usah bahas itu lagi!" titahnya sambil mendelik.
"Sekarang mandi sana, siap-siap berangkat sekolah!" Heaven beranjak berdiri, menarik tangan Zia agar turun dari ranjang.
"Seragamnya gimana? Di sini kan nggak ada seragam gue?" tanya Zia.
"Ada itu, udah gue ambilin tadi!" Heaven menunjuk ke atas sofa, di sana sudah ada seragam, tas dan peralatan sekolah Zia lainnya. "Buruan mandi!"
"Eum Kak Heaven duluan deh yang mandi!" ucap Zia.
Heaven menoleh, menatap Zia yang masih duduk di atas ranjang. "Lo mau ngapain emangnya?"
"Pengen masak! Ada bahan makanan apa aja di dapur?" tanya Zia.
"Nggak usah masak, nanti biar gue beli aja lewat online!" Heaven semakin mendekat pada Zia yang tiba-tiba mencebikan bibir, setelah mendengar ucapannya tadi. "Buruan turun!" ia menarik gadis itu.
"Nggak mau online, mau masak sendiri!" ucap Zia sambil menahan tangan Heaven yang masih mencoba menariknya turun.
"Emang lo mau masak apa?" tanya Heaven.
"Adanya apa?"
"Bisanya masak apa?"
"Masak aer!" jawab Zia kesal. "Tinggal jawab juga, pake banyak nanya!"
"Bukannya apa, gue cuma takut aja lo ancurin dapur apart gue!"
Zia melongo mendengar ucapan Heaven. "Lo kira gue nggak bisa masak?" sewotnya.
Heaven terkekeh kecil. "Ya mana gue tau, gue kan nggak pernah liat lo masak!"
"Tauk ah, makanya kalo gue masak tuh liatin, eh!" Zia menutup mulutnya, setelah menyadari dirinya telah salah berbicara.
"Oh jadi lo mau gue liatin kalo lagi masak?"
"Nggak gitu, nggak perlu dilihatin juga kali!" Zia mendengus. "Tinggal jawab doang apa susahnya sih.
"Susah, karena gue nggak mau lo masak pagi-pagi begini. Biar gue beli online aja ya," bujuk Heaven.
"Nggak mau, pokoknya mau masak!" jawab Zia kukuh. "Ada bahan apa aja di dapur? Tinggal jawab ih!" geramnya
"Gue lupa ada apa aja, mending lo cek aja ke dapur. Biar gue mandi duluan!" Zia menganggukkan kepalanya senang. Heaven tersenyum tipis, mengusap kepala Zia sejenak kemudian melangkahkan kakinya menuju kamar mandi.
🎀🎀🎀
Selamat menunaikan ibadah puasa bagi teman-teman muslimku, semoga di bulan ramadhan ini dan di bulan-bulan kedepannya kita bisa menjadi insan yang lebih baik lagi. Mohon maaf lahir dan batin semuanya, Marhaban Ya Ramadhan 🙏🏻🥰
Sambil menunggu Heavanna up, mampir dulu yuk ke karya keren temanku. Ceritanya nggak kalah seru lho, jangan lupa mampir ya! 🥰
Judul : Hey! Gadis Berkacamata
Napen : Putri Nilam Sari
Perjalanan Eisha si gadis berkacamata dalam merubah penampilan dan menggapai impiannya dibantu Adnan seorang pria misterius dan bersikap dingin serta bermasalah di lingkungan nya. Namun benih cinta yang tumbuh diantara mereka belum sempat mekar karena kesalahpahaman dan kejadian tak terduga. Hingga Pertemuan tak disangka kembali memulai kisah yang belum usai, namun bagaimana dengan takdir yang memberikan kejutan bagi mereka, akankah kisah mereka berakhir bahagia??
...Sampai bertemu di cerita Heavanna selanjutnya 👋🏻...
__ADS_1