Heavanna

Heavanna
48. NONTON KONSER


__ADS_3

"Baiklah anak-anak, sekarang kumpulkan tugas kalian tadi. Setelah itu kalian boleh istirahat!" ucap guru matematika yang baru masuk setelah meninggal kelas beberapa menit yang lalu.


Semua murid maju ke depan untuk mengumpulkan buku, tapi tidak dengan Zia yang memilih menitipkannya kepada Handa. Setelah buku terkumpul di atas meja, terdengar bunyi bel tanda istirahat. Semua murid mulai meninggalkan kelas satu persatu, begitu juga dengan guru yang pergi sambil membawa tumpukan buku di tangannya.


"Nda, gue nggak ke kantin ya! Mau ke UKS, kepala gue pusing!" Zia memang merasa sedang tidak enak badan sejak tadi, karena itu akan lebih baik ia beristirahat saja di UKS yang tempatnya lebih tenang.


Handa menoleh dengan wajah khawatir, tangannya terulur memeriksa kening Zia. "Agak anget sih, lo nggak papa? Mending kita ke rumah sakit aja ya, takutnya tambah parah nanti," saran Handa.


"Nggak usah lebay, gue nggak papa kok! Nanti juga sembuh!" Zia menolak sambil memindahkan tangan Handa yang masih menempel di keningnya.


"Ya udah, lo ke UKS sendiri nggak papa kan? Nanti abis makan gue bawain makan buat lo!"


"Iya gue bisa sendiri kok, thanks ya!"


"Iya, gue ke kantin dulu!" Handa melenggang pergi menuju kantin, meninggalkan Zia yang masih duduk di tempatnya.


Tidak lama setelah itu, Zia juga ikut pergi menuju ruang UKS dengan rasa pusing yang masih menderanya. Begitu sampai di ruangan, Zia melihat tidak ada siapapun di sana. Terlihat satu ranjang tertutup oleh tirai, sepertinya ada yang sedang beristirahat di dalam sana. Tidak ingin memusingkan, Zia mendekati ranjang besi di sebelahnya lalu merebahkan diri.


Nyaman!


Tidak ada suara apapun di ruangan itu, rasa pusingnya sedikit mereda setelah merebahkan diri. Zia memejamkan mata menikmati ketenangan yang ada, mungkin setelah beberapa saat tubuhnya akan sedikit lebih baik dari sebelumnya. Namun baru beberapa detik Zia memejamkan mata, terdengar suara aneh dari ranjang yang tertutup tirai di sebelahnya.


Suara apaan tuh? -gumam Zia dalam hati. Cewek itu mengernyit sambil menajamkan pendengarannya, karena suara itu terdengar begitu kecil di telinganya.


*********


"Heav, mau ke mana lo. Main nyelonong aja!" ucap Kenzo melihat Heaven berjalan hendak meninggalkan kelas yang mulai menyepi itu.


"Kantin!"


"Tungguin kita dong, biasanya juga bareng! Nggak sabaran banget sih mau ketemu Bu bos!"


Agam berlari lalu merangkul bahu Heaven secara tiba-tiba, menunjukkan cengiran bodoh saat melihat Heaven mendelik tajam. Gala dan Kenzo hanya mengikuti dari belakang, keduanya berjalan dengan tangan dimasukkan ke dalam saku celana. Itulah gaya jalan yang mereka kira nampak biasa, namun mampu menyihir para kaum hawa ketika melihatnya.


Heaven menatap tajam lalu menepis tangan Agam yang bertengger di bahunya, rasanya tidak nyaman diperlakukan seperti itu apalagi oleh seorang cowok. Meskipun Agam tidak berniat yang lain, tapi tetap saja Heaven tidak nyaman dengan itu. "Nanda mana, dari tadi perasaan nggak kelihatan?" tanya Heaven.


"Nggak tau gue, paling lagi nonton konser di tempat biasa!" tebak Agam dengan santai.


Heaven menganggukkan kepala mengerti, berteman dengan Nanda sejak duduk di bangku sekolah menengah pertama membuatnya tahu apa saja kegiatan cowok itu. Sering kali Heaven menasehati anak satu itu, tapi tetap saja tidak ada yang berubah. Heaven hanya berharap suatu saat nanti sahabatnya itu bisa berubah, karena sebenarnya Nanda adalah anak yang baik.


"Lo nggak nonton konser juga Gam?" tanya Kenzo terkekeh sambil menyamakan langkahnya.


"Nggak lah, mana pernah gue nonton begituan!" jawab Agam sewot.


"Kok gue nggak percaya yah, lo sama Nanda kan satu server!" sangkal Kenzo.


"Ya elah nggak percayaan banget sih jadi orang! Gue nggak pernah nonton begituan!" Agam memasang wajah serius, seolah membenarkan apa yang di katakan.


"Iya lo emang nggak pernah, nggak pernah telat!" sahut Gala.


"Wah parah lo!" dengus Agam melihat Gala yang memasuki kantin lebih dulu.


Gala berjalan mendahului ketiga sahabatnya, lalu duduk di depan Handa yang sedang makan seorang diri. Bukannya apa Gala duduk di kursi itu, sejak keributan yang dilakukan Dio beberapa waktu lalu, kursi di pojok kantin itu memang sudah di klaim milik si most wanted dan teman-temannya. Karena itu tidak ada yang berani duduk di sana. Mungkin Handa lupa, atau mungkin terpaksa duduk di sana karena tidak ada kursi kosong lain lagi.

__ADS_1


Melihat Gala dan teman-temannya datang, Handa seketika menghentikan makannya. Haruskah Handa pergi sekarang? Sayangnya makanannya belum habis, masa iya Handa harus menghentikan makan hanya karena kedatangan mereka. "Maaf Kak, gue pinjem tempatnya bentar ya. Kursi lain penuh semua!" ucap Handa hati-hati pada cowok dingin di hadapannya.


Gala hanya melirik sekilas, lalu mengalihkan pandangannya ke arah lain. Tidak ada niatan sama sekali bagi Gala membalas ucapan cewek itu. Tentu saja itu membuat Handa ngedumel dalam hati, memang apa sulitnya sih menjawab ucapanya.


"Bilang iya kek, diem aja kayak manekin bergerak," gumam Handa memalingkan wajah menahan kesal.


"Mana cewek gue!" tanya Heaven tiba-tiba.


Handa menatap dengan bingung, datang-datang cowok dingin itu bertanya tanpa basa-basi lebih dulu. Bertanya pada siapa pun Handa tidak tahu, namun dari sorotan matanya cowok itu sepertinya sedang bertanya padanya. Ah benar, Handa lupa kalau sejak dulu Heaven memang selalu bersikap semaunya sendiri.


"Nanya ke gue?" tanya Handa menunjuk dirinya sendiri.


"Iya lah, emang siapa lagi temen cewek gue selain lo!"


"Lagian lo lagi nanya apa lagi introgasi? Nggak ada basa basi nya banget!" ketus Handa, "Orang mah kalau mau nanya nyapa dulu 'Hai Handa!' gitu kek." ucapnya dengan tangan melambai dan senyuman yang manis.


"Nggak ada waktu buat nyapa lo! Nggak penting!"


"Ish pantes aja Zia depresi tiap hari, cowoknya aja model begini!" celetuk Handa lalu kembali menyuap makanannya.


"Bacot banget lo! Di mana cewek gue, cepetan?" tanya Heaven yang sudah mulai jengah.


"Ish swabar swih!" Dengan mulut penuh Handa mengunyah lalu segera menelannya, "Zia lagi di UKS, lagi sakit-"


Brakk


"Sh*it!" Heaven mengumpat setelah menggebrak meja, jawaban Handa tadi membuatnya terkejut seketika. Sontak hal itu membuat semua orang melihat ke arahnya, mencoba mencari tahu apa yang sedang terjadi.


"Ih kok ngamok?!" Handa kesal melihat kuah baksonya tumpah karena Heaven menggebrak meja dengan begitu kerasnya.


"Kak, lo mau ke mana?" tanya Handa menghentikan langkah Heaven.


"UKS!"


"Tunggu, nitip ini buat Zia makan!"


Handa menyodorkan keresek berisi makanan saat Heaven hendak pergi lagi. Tanpa pikir panjang Heaven mengambil makanan itu, lalu berlari meninggalkan kantin menuju ruang UKS. Melihat kepergian Heaven yang seperti dikejar anjing, tawa Agam seketika pecah. Cowok itu tahu betul apa yang sedang Heaven khawatirkan, bahkan Gala dan Kenzo pun sebenarnya tahu. Hanya saja kedua cowok itu tidak berniat menunjukkan kerecehannya di hadapan banyak orang.


Sesampainya di ruang UKS, Heaven membuka pintu dengan tergesa-gesa. Melihat Zia yang sedang mematung di atas ranjang, Heaven segera mendekat lalu menutup kedua telinga gadisnya. Zia yang terkejut akan kedatangan Heaven langsung menempelkan jari telunjuknya ke depan bibir, memintanya untuk diam.


"Jangan dengerin!" ucap Heaven memperingatkan.


"Ssttt... diem!" Zia menutup mulut Heaven sementara kedua telinganya masih ditutup oleh tangan Heaven.


"Sialan!" umpat Heaven setelah tangan Zia menjauh dari bibirnya, "Keluar lo, setan!" kesalnya.


Zia terkejut dengan umpatan Heaven, mengira umpatan itu ditujukan untuknya. Namun tidak berselang lama tirai yang menutupi ranjang sebelah terbuka, memperlihatkan seorang cowok yang tengah tiduran sedang memasang raut wajah terkejut.


"Eh ada Pak bos sama Bu bos, sejak kapan di sini?" tanya Nanda menunjukkan cengirannya.


"Lo kalau mau nonton konser jangan di sini, monyet! Cari tempat lain kek!" kesal Heaven.


"Hehe sans dong bos! Bosen gue, lagian lo kan tau ini tempat fav gue!"

__ADS_1


"Paling enggak lo pakai earphone, biar lo sendiri yang denger! Gtm banget lo!" Ingin sekali Heaven memukul kepala Nanda yang menunjukkan wajah polos itu, wajah yang sangat berbanding terbalik dengan kelakuannya.


"Emang lo denger? Perasaan udah gue kecilin volume nya!" Nanda menggaruk kepalanya yang tidak gatal.


"Bocah laknat, cewek gue yang denger bangsat! Lain kali kalau mau nonton liat sikon dong!" Sungguh, Heaven sedang sangat kesal saat ini. Cowok itu tidak ingin Zia mendengar apa yang di tonton sahabatnya yang prik itu. Bisa-bisa ceweknya yang masih polos terkontaminasi virus Nanda nantinya.


Zia menatap bergantian kedua cowok itu dengan air muka bingung, tidak mengerti apa yang sebenarnya sedang mereka ributkan sejak tadi. Sebelumnya ia memang mendengar sesuatu, namun suaranya begitu kecil hingga sulit untuk memastikan suara apa itu.


"Emang Kak Nanda nonton apa sih Kak?" tanya Zia mengerjap polos.


Heaven menatap Zia dengan intens, tangannya yang masih bertengger di telinga berpindah mengapit pipi Zia, hingga membuat bibirnya maju ke depan seperti bebek. "Lo denger?" tanyanya.


Zia menepis tangan Heaven hingga menjauh dari pipinya, kemudian memutar otaknya mengingat apa yang sempat ia dengar tadi. "Eumm kayak suara...." Zia menggigit bibir bawahnya, rasanya sulit mengungkapkan apa yang ia dengar tadi.


"Nggak nggak, nggak usah diinget lagi. Dia cuma lagi nonton konser!" Heaven menyentil kening Zia agar tidak memikirkan yang tidak-tidak lagi, membuat Zia sontak memegang keningnya sambil mencebikan bibir bawahnya.


"Nonton konser?" Zia mengernyit heran, pasalnya suara yang terdengar tadi sangat jauh dari yang namanya konser.


"Kak Nanda nonton konser apa? Kok aneh suaranya, boleh liat ngak?" tanya Zia penasaran.


"Lo pengen nonton? Boleh, ayok!" Dengan senang hati Nanda menyetujui permintaan Zia, nonton solo saja seru apalagi duet.


"NGGAK BOLEH!" cegah Heaven pada Zia. "Gue bunuh lo, kalau nggak pergi sekarang juga!" ancam Heaven pada Nanda.


Mendengar ancaman itu, Nanda turun dari ranjang dengan tergesa-gesa. "Sans dong bos! Sorry ya Zia, kita lain kali aja nonton konsernya!"


"NANDA!" sentak Heaven menatap tajam.


"Nggak bos, bercanda!" Nanda langsung berlari menuju keluar, sebelum Heaven menjadikannya remahan rengginang nanti.


"Kak Heaven kenapa sih marah-marah mulu dari tadi?" tanya Zia mendengus sebal. Padahal ia cukup penasaran seperti apa konser yang sejak tadi ditonton Nanda.


"Siapa yang marah?" balas Heaven dengan nada seperti orang marah.


"Lah itu ngegas?"


Heaven menghembuskan nafas panjang, menormalkan kembali emosinya. "Gue nggak marah Anna!" ucapnya sedikit merendahkan suara.


"Ini apa?" tanya Zia. Melihat keresek putih yang Heaven letakkan di pangkuannya.


"Makanan buat lo! Lo sakit?" Mulai sedikit khawatir, Heaven memegang kening Zia untuk memeriksa keadaannya. Saking kesalnya pada Nanda, hampir saja Heaven melupakan Zia yang sedang sakit.


"Gue nggak papa, istirahat bentar juga mendingan!" ucap Zia meyakinkan.


"Ya udah sini makan! Lo udah minum ob-"


"BOS JANGAN LAMA-LAMA, NGGAK BAIK BERDUAAN TERUS!" Nanda menyela ucapan Heaven, melongok di pintu masih dengan wajah tengilnya.


"NTAR KALAU MAU TRANSFER JIGONG SAMA ADU MEKANIK JANGAN LUPA KUNCI PINTU!" Ia tergelak kemudian berlari meninggalkan tempat tanpa menutup pintu, membuat Heaven yang melihatnya kesal setengah mampus.


"TRANSFER JIGONG MATAMU! TUYUL SIALAN!"


*********

__ADS_1


...Jangan lupa tinggalkan jejak ya 😇...


...Sampai ketemu lagi di cerita Heavanna selanjutnya 👋🏻...


__ADS_2