Heavanna

Heavanna
127. HEAVEN SADAR


__ADS_3

Dalam diam, Zia masih menunggu Heaven yang masih terbaring lemah di atas brankar pasien. Zia terus menggenggam tangannya yang sudah tertutup kain perban itu. Sedikitpun ia tidak pernah melepaskan pandangannya dari cowok yang masih memejamkan mata sampai detik ini.


"Zi, mending lo istirahat dulu deh. Ntar kalo lo sakit gimana? Tadi kan dokter udah bilang, lo harus istirahat!" Rexie berjalan mendekat, memegang bahu Zia yang tampaknya masih melamun menatap Heaven yang masih menutup matanya.


"Nggak perlu Xie, gue udah nggak papa kok! Lo kalo ngantuk tidur aja, atau kalo lo mau pulang juga nggak papa. Udah malem juga, ntar lo dicariin!" kata Zia menolak.


"Ya nggak bisa lah, mana mungkin gue tega tinggalin lo sendirian di sini. Ntar kalo ada apa-apa gimana?"


Rexie beralih menatap Heaven, sudah setengah jam berlalu setelah dokter selesai memeriksa keadaannya. Heaven masih saja memejamkan mata, padahal Zia sudah benar-benar khawatir saat ini.


"Dia lagi mimpi apaan sih, kok nggak sadar-sadar?" celetuk Rexie, masih berdiri di samping Zia yang sedang duduk di kursi.


"Mimpi cari cewek di hutan," ucap seseorang.


"Ish mana ada cewek di hutan, itu mau cari cewek apa kuyang?" celetuk Rexie belum sadar.


"Mau cari telinga lo berdua!"


Ucapan itu membuat Zia dan Rexie terbingung, namun sedetik kemudian, sebuah tangan menarik telinga mereka bersamaan.


"Aw aw telinga gue!" Kedua gadis yang masih memegangi telinga itu menoleh bersamaan, terlihat Azka berdiri di belakang mereka masih dengan wajah garangnya. "Azka?" terkejut bersamaan.


"Zian, panggil gue Zian!" koreksi Azka menatap kedua gadis itu bergantian. Yaa seperti Zia, cowok itu memang tidak suka dipanggil Azka oleh seseorang yang spesial baginya.


"Nggak peduli! Mau panggil Azka atau Zian, terserah gue!" ucap Rexie kesal.


"Heh, lo itu tunangan gue. Yang sopan dong ngomong sama calon suami!" tegur Azka.


"Calon suami? Kita nikah masih lama. Lagian gue ogah nikah sama cowok kayak lo, tukang selingkuh!" Rexie memasang wajah penuh kesal, mengingat apa saja yang telah dilakukan Azka sejak pertunangan keduanya kemarin.


"Selingkuh kepala mu, ngomong gitu sekali lagi gue gigit juga bibir lo, Xie!" ancam Azka kesal.


Seketika Rexie menutup mulutnya. "Emang bener kok!" ucapnya.


"Iming binir kik! Gue nggak selingkuh, lo nya aja yang dateng telat!" koreksi Azka.


"Sama aja lo selingkuh! Mau dateng telat apa enggak, di mana-mana tunangan lebih berhak!" omel Rexie lagi.


"Lo berdua apa-apaan sih? Lepasin telinga gue!" Zia mendelik, berani sekali adiknya ini menjewer telinganya. "Gue tampol nih!" ancamnya.


"Nggak takut, abis dari mana lo berdua?" tanya Azka tanpa melepaskan jewerannya.


"Abis dari mana? Harusnya gue tanya, ngapain lo di sini? Nggak ada adab banget sih lo sama kakak sendiri!" omel Zia sambil menepis tangan Azka.


"Gue yang bilang tadi," ucap Rexie memberitahu.


"Kenapa lo bilang ke dia?" tanya Zia.


"Emangnya kenapa kalo bilang? Dia kan tunangan gue. Udah seharusnya gue tau keberadaan dia!" ucap Azka menarik Rexie hingga mendekat.


"Tunangan apaan lo, Rexie kabur dari Jerman aja lo kagak tau!" sewot Zia tidak habis pikir.


"Gimana gue bisa tau, orang Daddy aja ngurung gue di rumah!" balas Azka.


Zia terbengong sejenak. "Bener juga ya!" ucapnya.


"Ah udah deh, mending lo pergi dari sini. Berisik tau, nanti Kak Heaven keganggu!" ucap Zia melihat Heaven yang masih terlelap.


"Apa muka gue terlihat peduli?" Azka memasang wajah yang sangat menyebalkan bagi siapa saja yang melihatnya.


"Anjir, muka lo cringe banget ppffttt!" Rexie terkekeh melihat wajah Azka.


"Nggak usah ketawa lo, siap-siap aja dapet hukuman malem ini!" ancam Azka.


"Ih kok gitu, gue kan nggak ngapa-ngapain!" protes Rexie.


"Nggak ngapa-ngapain lo bilang?" Azka menatap tunangannya kesal. "Jam berapa ini? Pulang sekolah bukannya langsung pulang, ini malah main ke rumah sakit. Bikin orang panik aja!" sewotnya.


"Tumben lo khawatir sama gue, biasanya juga masa bodo!" ucap Rexie.

__ADS_1


"Gue khawatir sama lo, sialan. Nggak usah macem-macem deh, ngajak debat mulu nggak capek apa?" kesal Azka.


"Stop, stop. Udah ya, lo berdua mending pulang deh. Berisik tau, ganggu pasien istirahat aja!" omel Zia pada kedua adiknya.


"Enak aja, lo pulang bareng gue. Nggak perlu lo tungguin tuh cowok pengecut, biarin dia sendiri disini!" Azka meraih tangan Zia, hendak mengajaknya pulang.


"Eh nggak bisa gitu dong!" Zia dan Rexie seketika mencegah apa yang akan dilakukan Azka.


"Gue harus jagain dia, mending lo berdua aja yang pulang!" usir Zia sambil menepis tangan Azka.


"Nggak, lo harus pulang sekarang. SAMA GUE, TITIK!" tekan Azka.


"Terus Kak Heaven sama siapa di sini bego! Udah deh mending lo pulang aja sama Rexie!" usir Zia lagi.


"Bodo amat dia mau sama siapa di sini, yang penting lo pulang sama gue!" Azka kembali menarik tangan Zia.


"Azka! Lo bisa nggak sih jangan kayak anak kecil gini?" omel Rexie.


"Kak Heaven sendirian di sini! Lo lupa, yang jagain gue pas sakit kemaren itu siapa? Kak Heaven. Sementara lo? Lo aja nggak tau kalo gue sakit kemaren!" tekan Zia. Seketika Azka terdiam, memang benar apa yang baru saja dikatakan Zia tadi.


"Udah Azka, lo pulang sama gue aja. Biarin Zia jagain Kak Heaven di sini!" Rexie menggenggam tangan Azka yang masih terdiam, kemudian merogoh semua saku di pakaian cowok itu untuk mengambil ponselnya.


"Zi, kita pulang duluan ya. Lo hati-hati di sini, kalo ada apa-apa telfon aja ke gue pake hpnya Azka!" Rexie menyerahkan ponsel Azka, karena ia tahu ponsel Zia masih ada di tangan musuhnya Heaven.


"Kenapa hp gue yang dikasih ke dia?" tanya Zian bingung.


"Ya elah Zian, lo kan orang kaya. Masa beli hp baru aja nggak mampu, lagian juga dipake sama Zia ini. Kalo pake hp gue, ntar gue gimana. Lo kan tau sendiri gue orang nggak punya!" ucap Rexie kemudian terkekeh.


"Nggak punya apaan? Lo kan punya gue!" Zia memutar bola matanya malas, mendengar gombalan Azka.


"Punya lo juga nggak ngaruh apa-apa," celetuk Rexie bosan. "Udah ayok pulang, gue ngantuk!" lanjutnya.


Rexie melingkarkan tangannya pada tubuh Azka, kemudian menariknya untuk pergi. "Kita balik dulu, bye!" pamitnya pada Zia. Mau tidak mau Azka menurut, ia sadar Zia sedang mengkhawatirkan Heaven saat ini.


"Sayang jangan di sini peluknya, sini aja!" Azka membenarkan pelukan Rexie, ketika hendak melewati pintu.


"Ish sama aja juga!"


"Kak, lo kok nggak bangun-bangun sih. Emangnya nggak laper apa?" Zia mencebikan bibir bawahnya, kemudian mendudukkan diri di kursi lagi.


Suasana begitu sunyi sejak kepergian Rexie dan Azka, Zia mulai merasa ngantuk setelah cukup lama menggenggam tangan Heaven. Ia bahkan hampir tertidur, namun gerakan tangan Heaven seketika menyadarkannya kembali.


"Kak, lo sadar?" Zia tersenyum lega melihat Heaven tengah mengerjakan matanya.


"Na, lo nggak papa?" Heaven beranjak mendudukkan diri, sambil mengerjapkan mata menyesuaikan pencahayaan di sekitar sana.


"Harusnya gue yang tanya gitu, Kak Heaven ngapain aja sih, kok bisa kurang tidur gini?" tanya Zia.


Heaven mencubit pangkal hidungnya, kepalanya masih terasa pusing. Setelah sadar, ia beralih menatap Zia yang masih duduk menatap dirinya. "Gue nggak papa!"


"Nggak papa apanya?" protes Zia.


"Sinian duduknya!" Masih dengan suara seraknya, Heaven menarik Zia agar duduk di atas brankar bersama. "Luka lo gimana?" tanyanya.


"Luka?" Zia menyentuh ceruk lehernya. "Udah diobati kok sama dokter tadi!"


Heaven menyentuh luka di leher Zia yang sudah tertutup plester, masih menatap gadis itu dengan penuh sesal. "Maaf gara-gara gue, lo jadi harus ngalamin kayak tadi!" ucapnya.


Zia menggelengkan kepalanya. "Nggak, lo nggak salah. Semua udah terjadi, yang penting kita selamat sekarang!"


Gadis itu tersenyum, Heaven yang merasa gemas langsung menariknya ke dalam pelukan. Masih ada rasa sesal dalam benaknya, ketika mengingat apa yang terjadi pada Zia beberapa jam yang lalu. Jika terus seperti ini, Heaven yakin para musuhnya akan melakukan sesuatu yang lebih parah dari ini.


"Gue sayang sama lo!" lirih Heaven.


"Hah?" Zia mendongakkan kepalanya karena tidak mendengar dengan jelas ucapan Heaven tadi, namun cowok itu justru kembali mendorong kepala Zia hingga membentur dadanya. "Kak Heaven ngomong apaan sih, nggak jelas tau!"


"Kak Heaven laper?" Zia menyembulkan kepala, dengan kedua tangan masih melingkar di tubuh Heaven. "Makan dulu ya!" ajaknya.


"Gue pengen makan lo," ucap Heaven tersenyum tipis.

__ADS_1


"Ish nggak boleh lah, kanibal itu namanya!" Zia hendak melepaskan pelukannya, tapi lagi-lagi Heaven mencegahnya.


"Mau ke mana?" tanya Heaven.


"Mau ambil buah, Kak Heaven belum makan lho!" jawab Zia.


"Nggak perlu, gue nggak laper. Lagian gue masih ngantuk!" ucap Heaven sambil mencubit kecil pipi Zia.


"Oh ya udah, Kak Heaven tidur lagi aja!" ucap Zia menyilakan.


"Gue maunya tidur sama lo!"


"Ish nggak boleh tau, kita kan belom nikah. Gue tidur di sofa aja ya!" Zia mencoba melepaskan pelukannya, namun Heaven tetap saja tidak mau.


"Nggak peduli," ucap Heaven kemudian merebahkan diri masih memeluk tubuh gadis itu.


"Kak ih, susah tau!" protes Zia. Kemudian membenarkan posisi tidurnya, Heaven benar-benar tidak melepaskan dirinya barang sedetikpun.


"Nanti kalo ada yang liat gimana?" Zia bertanya, mendongakkan kepalanya menatap mata Heaven.


"Biarin aja, siapa suruh ganggu!" cuek Heaven. Ia kembali menyembunyikan kepala Zia di dadanya, membiarkan gadis itu terlelap dalam pelukannya.


"Kak Heaven bau keringat, belum mandi!" celetuk Zia.


"Bau aja lo betah, apalagi wangi!"


"Siapa yang betah? Ini juga terpaksa, orang Kak Heaven yang maksa!"


"Terus kenapa lo kenceng banget pelukannya kalo terpaksa, hm?" tanya Heaven. Saat ini Zia memang tengah memeluk tubuhnya dengan sangat erat, seolah tidak ingin lepas sedikitpun.


"Kata siapa? Enggak kok!" elak Zia sambil mengendurkan pelukannya.


"Ngeles aja kayak bajai. Buruan tidur, udah malem besok sekolah!" titah Heaven kemudian mengecup puncak kepala Zia.


"Kenapa sekolah?" tanya Zia bingung.


"Kenapa sekolah? Ya biar pinter lah, cepet lulus abis itu kita nikah!"


"Bukan gitu ih, Kak Heaven kan masih sakit. Belum boleh sekolah!"


"Yang sakit kan gue, bukan lo. Jadi lo tetep harus sekolah!" ujar Heaven.


"Nggak mau!" tolak Zia cepat. Gadis itu tidak ingin meninggalkan Heaven di saat sakit seperti ini.


"Jangan gitu, lo harus sekolah besok. Jangan karena gue sakit, terus lo bolos sekolah!"


"Ya kan tinggal minta izin ke guru!" ucap Zia sedikit tidak suka.


"Na!" ucap Heaven semi memperingkatkan.


"Iya iya gue sekolah besok!" final Zia meskipun tidak rela.


"Nah gitu kan enak! Sekarang tidur, jangan berisik!"


Zia memejamkan mata, dalam diam ia kembali teringat dengan kejadian beberapa jam yang lalu.


Gue harus cari tahu tentang Dio besok, jangan sampe hal kayak gini terjadi lagi!


πŸŽ€πŸŽ€πŸŽ€


Apa ada yang mencariku? (Mimpi kali🀭) Maaf ya baru sempet update. Kemaren sibuk beut, malemnya langsung tepar di kamar sampe ga sempet nulis.


Sambil menunggu Heavanna up, mampir dulu yuk ke karya keren di bawah ini. Jangan lupa mampir dan tinggalkan jejak ya πŸ₯°


Judul : Junio CEO and Bodyguard Mei


Nepen : ingflora


__ADS_1


...Sampai bertemu di cerita Heavanna selanjutnya πŸ‘‹πŸ»...


__ADS_2