Heavanna

Heavanna
45. ISI HATI KENZO


__ADS_3

Suasana di halaman belakang rumah itu nampak ramai, langit yang cerah seolah mendukung acara makan malam itu, memperlihatkan keindahan ribuan bintang yang saling berdampingan. Sembari mengobrol santai, semua orang nampak menikmati makanan yang sudah tersedia di atas meja. Tapi itu tidak berlaku untuk Zia dan Shena yang sejak tadi kelimpungan menyiapkan segala sesuatu untuk merayakan ulang tahun Kenzo.


Cowok yang baru saja genap berusia delapan belas tahun itu hanya duduk dalam diam, nampak tidak menikmati acara kecil-kecilan yang dibuat untuknya. Kenzo merasa sudah cukup besar untuk merayakan hari ulang tahun, walau itu hanya sekedar makan-makan bersama. Kue yang sudah dengan susah payah Zia buat, bahkan nampak dingin tanpa adanya pancaran api lilin kecil yang menghangatkan. Hingga lantunan lagu selamat ulang tahun bahkan tidak terdengar menggema di halaman yang cukup luas itu.


"Kenzo, kok lo diem aja sih dari tadi?" tanya Nanda. Aroma daging barbeque di atas meja begitu menyeruak, membangunkan jiwa rakus Nanda. Hingga detik ini cowok berpenampilan manis itu sudah menghabiskan hampir tiga piring, membuat yang melihat hanya mampu menggeleng mencoba memaklumi.


"Kenapa? Maksudnya gue disuruh teriak-teriak gitu?" Menatap tidak bersahabat, Kenzo mengambil makanan milik Nanda tanpa persetujuan.


"Woy woy woy... itu punya gue anjrit!" protes Nanda. Namun sayangnya semua daging barbeque yang hanya tersisa sedikit itu sudah masuk ke dalam mulut Kenzo, hingga pipi cowok itu nampak mengembang dengan sempurna. "Ah elah Zo, itu kan punya gue. Lo bakar sendiri napah?" kesal Nanda.


"Swama twemen aja pwelit lo!" dengus Kenzo sambil mengunyah makanannya.


"Simi timin iji pilit li!" cibir Nanda, "Temen apaan lo? Temen nggak ada adab?" celetuknya. Lalu mengambil aneka kue, kemudian menyantapnya tanpa memedulikan lagi sahabatnya yang tidak beradab itu.


"Ma, udah kali duduk dulu. Emang nggak capek apa dari tadi mondar-mandir mulu?" Kenzie yang sedang duduk santai kini mulai terganggu melihat istrinya sibuk menyiapkan ini dan itu sejak tadi.


"Ini bentar lagi juga selesai kok Pah," jawab Shena santai. Wanita itu tengah asik menata piring di atas meja, hingga nampak cantik dan rapi seperti orangnya.


Kenzie hanya mendengus, lalu mengambil ponselnya yang tiba-tiba berbunyi. "Kalian lanjutkan saja ya acara makan-makan nya, Om mau masuk ke dalam dulu. Jangan sungkan-sungkan, habiskan saja semua makanannya!" ujar Kenzie kemudian berlalu masuk ke dalam rumah.


"Siap! Om jangan khawatir, ada Nanda disini!" jawab Nanda bersemangat.


"Zo, gue numpang kamar mandi ya!" ucap Gala yang sejak tadi diam saja.


"Masuk aja, lurus nanti belok kanan!" jawab Kenzo. Gala langsung pergi, mengikuti arah yang ditunjukkan Kenzo.


"Vin, lo makan mulu nggak kenyang apa?" tanya Nanda pada Vincie yang tengah berada dalam pangkuan Agam.


"Nggak kebalik tuh pertanyaan?" sahut Heaven, "Yang dari tadi makan kan lo?"

__ADS_1


"Ck lo mah nyambung aja, kayak truk!" decak Nanda kesal, "Kalau gue wajar udah gede, lah Vincie kan masih kecil. Liat noh perutnya udah lima bulan!" tunjuknya pada perut Vincie yang kian melebar.


"Sembarangan lo kalau ngomong!" sentak Kenzo menunjukkan kepalan tangan ingin menjotos sahabatnya yang suka asal bicara itu.


"Hehe santai dong santai, nggak usah ngegas gitu!" Nanda mengulas cengirannya, "Lo mah paling demen nistain gue, kenapa si? Hobi lo nggak bermutu banget!"


"Bacot!" sela Kenzo kesal.


"Zi, tolongin Tante ya! Ambil pring kecil di dapur buat bagi kuenya!" pinta Shena pada Zia yang sedang duduk diam bersama Heaven dan yang lainnya.


"Iya Tante!" Dengan senang hati Zia langsung menuju dapur, meninggalkan Heaven yang menatap kepergiannya dengan raut wajah penuh kesal.


Kalau saja Tante Shena bukan orang tua Kenzo, Heaven mungkin sudah memarahinya karena sejak tadi terus saja memerintah Zia untuk melakukan ini dan itu. Apalagi Shena terlihat sangat menyukai Zia begitu juga sebaliknya. Heaven jadi merasa paling tersisihkan di antara mereka.


"Gue ke kamar mandi bentar ya!" Kenzo langsung pergi meninggalkan taman belakang rumah yang ramai dengan keberadaan sahabatnya itu.


"Lo semua ngerasa aneh nggak si?" tanya Nanda setelah kepergian Kenzo, Zia dan Shena.


"Kalau dilihat-lihat Zia agak mirip sama Tante Shena, apa cuma gue yang salah lihat!" Nanda kembali berseteru dengan pikirannya, menyadari dirinya yang selalu melihat perempuan cantik itu sama kasta dan derajat di hati dan matanya.


"Sama, gue juga! Menurut gue malah Kenzo yang nggak ada mirip-miripnya sama Tante Shena dan Om Kenzie. Kalau Vincie dan Vanes mirip sama Om Kenzie! Apa jangan-jangan mereka ketuker!" Agam terkekeh menyadari tebakannya yang dirasa tidak mungkin itu.


"Jangan suka sembarangan kalau ngomong! Nggak enak kalau yang punya rumah denger!" sindir Handa agar obrolan mereka tidak melebar ke mana-mana.


"Emang Kak Agam nggak tau ya kalau Zia itu a hap!"


Ucapan Vincie kembali terhenti saat Handa memasukkan satu kue putu kedalam mulutnya. Handa menyadari kalau tidak menghentikan Vincie detik itu juga pasti rahasia keluarganya akan terbongkar di hadapan semua.


"Iwh Handwa kwuenya kebwesarwan! Vwinci nggwak bwisa ngwunyah!" protes Vincie terdengar tidak jelas.

__ADS_1


"Katanya Vincie suka kue putu bikinan Handa, makanya Handa suapin Vincie!" ucap Handa mengelak.


Sementara di sisi lain, Zia yang berada di dapur sedang mengambil piring kecil di lemari bagian atas. Memang sedikit lebih tinggi, namun Zia masih bisa mengambil sedikit demi sedikit. Tanpa Zia sadari, kini Kenzo sudah berdiri di belakangnya sambil menatap dengan raut wajah yang sulit diartikan.


Zia membalikkan badannya hendak pergi setelah selesai mengambil beberapa piring, namun gerakannya terhenti melihat Kenzo yang sudah berada di hadapannya. Tanpa ingin menyapa, Zia melangkahkan kaki melewati cowok itu dengan cuek.


"Ngapain lo balik lagi ke sini?" pertanyaan Kenzo berhasil menghentikan langkah Zia. "Ngapain lo repot-repot bikin kue buat gue?" tanyanya lagi. Keduanya membalikkan badan, saling berhadapan satu sama lain memperlihatkan raut wajah tidak bersahabat.


"Buat lo?" Zia terkekeh kecil mendengar pertanyaan Kenzo, "Gue nggak merasa kue itu buat lo, itu buat Tante Shena karena dia yang minta. Lo nggak suka? Buang!" ucap Zia tidak peduli.


"Ini peringatan terakhir, jauh jauh dari gue. Jangan lakukan apapun buat gue, kalau lo nggak mau gue nekat!" ucap Kenzo penuh peringatan.


"Mau sampe kapan lo bakal benci gue?" tanya Zia dengan bola mata kian menggenang. Tidak mengerti dengan sikap Kenzo yang begitu kekanak-kanakan, selalu membenci dirnya selama ini tanpa alasan yang jelas.


"Sampe gue benci sama lo!" jawab Kenzo membuat Zia mengernyit tidak mengerti. Kata itu juga yang pernah diucapkan Kenzo sesaat sebelum Zia pindah bersama keluarganya ke Jerman dulu.


"Gue nggak ngerti jalan pikiran lo!" Zia menggeleng tidak percaya, "Jangan paksa gue lagi buat menghindar dari lo tanpa alasan yang jelas kayak gini, lo aja yang menghindar kalau nggak mau deket sama gue lagi!" ucap Zia kemudian pergi meninggalkan dapur.


Kenzo menatap kepergian Zia dengan raut wajah yang sulit diartikan. Ada kehampaan melihat gadis itu saat ini, ada rasa sesak di dadanya, namun Kenzo berusaha memendam semuanya. Mensugesti dirinya untuk kembali membenci Zia, tapi lagi dan lagi Kenzo tidak bisa melakukannya. Rasanya ingin sekali Kenzo mengutarakan kegundahannya, namun ada rasa takut terselip di hatinya.


Zia berjalan dengan langkah berat, pikirannya masih terbayang wajah Kenzo yang memendam begitu banyak kebohongan. Zia tahu Kenzo hanya berbohong saat mengatakan membenci dirinya, tapi sampai sekarang ia masih tidak mengerti apa yang membuat Kenzo melakukan hal itu. Zia menghentikan langkahnya, saat menyadari Gala sedang berdiri menghalangi jalan dengan sorot mata tajam mengintimidasi.


"Ka-Kak G-Gala ngapain di sini?" tanya Zia sedikit gelagapan karena baru saja keluar dari dapur. Wajah Gala memang tidak menunjukkan tanda-tanda curiga, tapi bisa saja cowok itu mendengar percakapannya dengan Kenzo tadi.


"Ada hubungan apa lo sama Kenzo?" Gala mulai memperlihatkan kecurigaannya. Sejak kemarin ia memang sudah curiga dengan sikap Kenzo yang begitu berbeda jika menatap Zia, dan kini mulai terjawab kecurigaannya itu setelah tidak sengaja mendengar percakapan antara Zia dan Kenzo tadi.


"Gu-gue nggak ada hubungan apa-apa sama Kak Kenzo!" Zia menggeleng cepat, namun tingkahnya masih menunjukkan keganjalan.


"Gue nggak tahu ada hubungan apa lo sama Kenzo, gue cuma mau bilang jangan main-main sama Heaven. Karena gue nggak akan pernah tinggal diam kalau lo berani mainin sepupu gue!" ucap Gala memperingatkan. Cowok itu kemudian pergi, meninggalkan Zia yang masih mematung di tempatnya.

__ADS_1


*********


Sampai jumpa di cerita Heavanna selanjutnya 👋🏻


__ADS_2