
Sudah hampir satu jam berlalu, Kenzo masih duduk diam menatap dua gundukan tanah basah di hadapannya. Beberapa menit yang lalu, Papa Kenzie lebih dulu pulang membawa kesedihan bersama Vanessa dan rombongan keluarga lainnya. Kini hanya ada beberapa sahabat yang masih setia menemani, termasuk Zia yang tepat berada di sebelahnya.
Kenapa harus Mama dan Vincie? Kenapa bukan gue aja?
Rasanya masih seperti mimpi, kemarin Kenzo masih bisa bercengkrama dengan Mama Shena dan Vincie. Namun sekarang, mereka sudah lebih dulu pergi jauh dari jangkauan. Dadanya begitu sesak, ia merasa sudah menjadi manusia paling bodoh karena tidak mampu menjaga keduanya dengan benar.
"Lo tau nggak, Zi?" Kenzo bertanya, tanpa melepaskan pandangannya dari makan Mama Shena dan Vincie.
"Banyak orang bilang, Mama Shena itu orang baik. Tapi anehnya, gue selalu bilang kalo Mama itu orang paling galak sedunia. Gue sering banget dimarahin Mama, padahal cuma gara-gara telat pulang. Gue juga dimarahin Mama pas pertama kali minta dibeliin motor karena mau masuk geng motor, alasannya karena gue masih kecil. Padahal waktu itu gue udah mau lulus SMP!" Kenzo tertawa ringan, mengingat kenangan semasa hidup bersama Mama Shena.
"Gue pengen masuk geng motor karena sejak kecil gue udah diajarin bela diri sama Mama, bareng Handa juga. Dan lo tau? Pas latihan, Mama selalu muji Handa, katanya Handa jago banget bela dirinya. Setiap kali Mama muji Handa, gue selalu ngambek dan bilang nggak mau ngomong lagi sama Mama." Kenzo terkekeh kecil. "Gue nggak nyangka dulu bisa sebandel itu. Pantes aja Mama selalu marah-marah! Setiap kali marah, gue pasti selalu bilang nggak mau ngomong lagi sama Mama. Dan setelah itu gue sadar, Mama adalah orang yang paling baik sedunia. Mama selalu sabar sama sikap gue, meskipun gue bukan anak kandung Mama dan Papa!"
"Kak!" panggil Zia lirih, mencoba menghentikan. Selembut mungkin, tangan Zia menyentuh bahu Kenzo.
Kenzo mengusap nisan di hadapannya dengan penuh penyesalan, tidak peduli dengan air mata yang sudah membanjiri wajahnya. "Mah, dulu Kenzo emang sering marah dan nggak mau ngomong sama Mama. Waktu itu Mama juga selalu sabar bujuk Kenzo biar mau ngomong lagi sama Mama. Tapi sekarang ... Kenzo nggak gitu lagi kok Ma." Kenzo menggeleng cepat, mencoba menahan isak tangis yang memaksa keluar. "Kenzo mau ngomong lagi sama Mama, kayak kemarin."
"Kak Kenzo!" panggil Zia, merasa Kenzo mulai tidak terkendali.
"Kenzo janji bakal jadi anak yang baik. Kenzo mohon Ma, jangan tinggalin Kenzo kayak gini ... hiks! Kenzo nggak papa kalo emang mereka mau ambil Kenzo dari Mama, asalkan Kenzo masih bisa liat Mama walaupunβ"
"Kak!"
"KAK KENZO STOP!" bentak Zia. Kedua tangannya dengan sigap menangkup wajah Kenzo, sehingga membuat cowok itu menatap padanya. "Tante Shena udah berjuang buat lindungin Kakak, jadi please, jangan bicara kayak gitu lagi!"
"Gara-gara gue, Zi. Ini semua karena gue masih di sini! Seandainya gue pergi dari dulu, pasti Mama dan Vincie masih baik-baik aja sekarang!" sesal Kenzo.
Kenzo kembali teringat dengan surat ancaman yang dikirimkan seseorang pada Mama Shena, sebelum kepergiannya. Ketika itu Kenzo tidak tahu menahu tentang permasalahan yang terjadi, sampai ketika kepergian Mama Shena dan Vincie membuat Papa Kenzie mau berbicara terus terang padanya.
Kenzo sendiri tidak menduga hal itu akan terjadi. Mama Shena tetap memilih mempertahankan Kenzo, meskipun ayah kandung Kenzo sudah memintanya secara baik-baik. Katanya tidak ada pilihan lain, Mama Shena tidak ingin putranya berada di tangan orang yang salah. Bagaimanapun juga, ia sangat tahu seluk beluk keluarga kandung Kenzo.
"Kak," Zia menggeleng pelan, air mata sudah meluncur deras. "Ini bukan gara-gara Kakak! Tante Shena tahu ini yang terbaik, Tante nggak mau hidup Kakak hancur karena mereka!"
__ADS_1
Kenzo mengusap wajahnya dengan kasar. "Tapi sekarang hidup gue jauh lebih hancur, Zia. Gara-gara gue Mama pergi, Vincie juga ikut pergi. Dan ...."
Dan lo, orang yang gue cintai ... juga udah pergi. Udah nggak ada harapan buat gue tetap hidup. Gue cinta sama lo, Zia. Tapi cinta lo udah sepenuhnya buat Heaven, sekarang gue nggak bisa apa-apa!"
"Dan sekarang, Papa mungkin juga benci sama gue karena gue penyebab semua ini terjadi!" lirih Kenzo.
"Kak Kenzo, sadar! Jangan mikir terlalu jauh, mending kita pulang sekarang! Lo butuh istirahat!" ajak Zia. Sejak semalam Kenzo tidak istirahat sama sekali, Zia sadar, cowok itu sudah sangat kelelahan sekarang.
"Istirahat lo bilang?" tanya Kenzo dengan wajah datar. "Gimana gue bisa istirahat, Zia?"
"Yang dibilang Anna bener, lo butuh istirahat sekarang!" sahut Heaven yang setia berdiri di belakang Zia sejak tadi.
"Tapi Heav," ucap Kenzo. "Lo nggak tau apa yang gue rasain sekarang!"
"Gue emang nggak tau apa yang lo rasain sekarang! Tapi yang gue tau, lo butuh banyak istirahat sekarang!" ucap Heaven tegas. "Sampai kapan lo mau kayak gini terus? Lo bayangin gimana perasaan Tante Shena kalo tau lo kayak gini sekarang?"
Kenzo terdiam, menyadari betapa sayangnya Mama Shena pada dirinya. Jika melihat apa yang dilakukannya sekarang, mungkin Mama Shena akan kembali marah-marah padanya seperti dulu. Kenzo jadi teringat dengan pesan Mama beberapa hari yang lalu.
Senyum dan tawa di bibir manis Mama kembali terbayang di benak Kenzo. Tidak mudah baginya untuk melupakan semua kenangan tentang Mama Shena, apalagi ini baru dihari pertama. Benar! Menjaga Vanes adalah tugasnya sekarang. Jika terus seperti ini, Mama Shena pasti akan marah besar padanya.
*********
Satu minggu berlalu sejak kepergian Mama Shena dan Vincie, Kenzo masih saja dihantui rasa bersalah. Ia sering kali mengabaikan makannya hanya untuk memandangi foto keluarga Halian. Beruntungnya, Zia dengan telaten mau menemani cowok itu. Setiap hari, teman-temannya juga datang ke rumah untuk menemani Kenzo agar tidak terlarut dalam kesedihan.
"Lo yakin, Zo, mau ninggalin kita?" tanya Heaven lagi.
Nanda menekuk wajah, melihat Kenzo yang sudah rapi dengan jaket hitam dan celana jeans yang senada. Jangan lupakan beberapa berkas perpindahan sekolah yang Kenzo bawa di tangan kirinya, juga koper warna merah menyala di tangan kanannya. Benar, hari ini Kenzo akan pergi ke luar negeri. Dengan alasan ingin menenangkan diri.
"Kalo nggak yakin ngapain gue repot-repot diskusi panjang sama kepala sekolah biar bisa pindah?" Kenzo tertawa kecil. "Tenang aja, gue nggak akan lupain kalian semua kok!"
"Tapi kalo nggak ada lo nggak asik, Zo. Ntar siapa yang mau traktir gue makan kalo nggak ada duit?" tanya Nanda sedih.
__ADS_1
"Traktiran mulu di otak lo, heran gue!" sahut Agam tidak habis pikir.
"Udah tenang aja, kan masih ada Agam. Kalo duit lo abis, minta aja sama dia!" saran Kenzo kemudian terkekeh.
"Nggak ah, Agam pelit. Kayak nggak tau aja lo," sungut Nanda.
Terdengar suara airport announcement memenuhi seantero bandara, Kenzo mengedarkan pandangannya menatap semua teman-temannya yang berbaris rapi di hadapannya.
"Ya udah guys, gue cabut dulu ya. Nggak perlu khawatir, gue baik-baik aja kok!" ucap Heaven seraya memeluk satu persatu sahabatnya.
"Ya udah, lo hati-hati ya. Kalo bisa cepet pulang, Clopster butuh lo!" ucap Heaven seraya bersalaman ala cowok gaul. Kenzo hanya tersenyum dan mengangguk.
"Gue titip Zia ya!" ucap Kenzo, membuat kening Heaven berkerut. Namun Kenzo tidak peduli, pandangannya sudah tertuju pada Zia. "Zi, gue boleh peluk lo sebentar nggak?"
Tanpa peduli dengan perasaan Heaven, Zia langsung tersenyum kemudian merentangkan kedua tangan. Kenzo dengan senang hati langsung menghambur ke pelukan Zia. Walaupun hanya beberapa saat saja, itu semua sudah lebih dari cukup bagi Kenzo.
Menyadari Heaven mulai emosi melihat Zia dipeluk pria lain, Nanda, Gala dan Agam segera menahan pergerakannya.
"Sabar Bos, sabar. Sekarang bukan waktunya buat cemburu, lagian cuma sebentar doang kok," ucap Nanda lirih.
"Kak Kenzo hati-hati ya," kata Zia seraya melepaskan pelukan.
"Thanks!"
Usai berpamitan dengan teman-temannya, dengan berat hati Kenzo melangkahkan kakinya menuju pesawat. Setidaknya dalam beberapa waktu ia harus menjauh dari keluarga dan teman-temannya. Kenzo hanya tidak ingin ada korban lagi selain Mama Shena dan Vincie. Selain untuk menenangkan diri, Kenzo juga harus belajar melupakan rasa cintanya pada Zia.
Kenzo sengaja pergi untuk memenuhi permintaan seseorang yang mengaku sebagai Ayah kandungnya. Dengan begitu, mungkin ia akan lebih mudah mengalihkan perhatiannya dari kesedihan. Meskipun sebenarnya, Kenzo juga tidak tahu apa yang akan terjadi pada dirinya setelah bertemu dengan orang tua kandungnya. Seseorang yang belum pernah ia temui sebelumnya.
πππ
...Sampai bertemu di Ex part Heavanna selanjutnya ππ»...
__ADS_1