Heavanna

Heavanna
87. MINTA ES KRIM


__ADS_3

Sudah setengah jam berlalu Zia masih berjongkok di sisi ranjang, senyum tipis yang tercetak di bibirnya tidak kunjung pudar, masih memandangi seseorang yang sedang terlelap di atas ranjangnya. Heaven, sekitar tiga jam yang lalu cowok itu tidak sengaja ketiduran karena terlalu kelelahan, setelah semalaman penuh menjaga Zia yang masih saja mengalami mimpi buruk.


Hampir setiap hari cowok itu tidak bisa tidur dengan nyenyak lantaran harus menjaga Zia, namun untuk kali ini ia baru bisa tertidur pulas karena sejak tadi memang tidak ada yang mengganggunya. Bahkan ponsel Heaven pun sengaja dimatikan agar tidak menganggu waktu istirahatnya. Zia yang kondisinya mulai membaik setelah lima hari berlalu, kini mulai berinisiatif melakukan semuanya sendiri agar tidak merepotkan Heaven lagi.


Zia sadar tubuh Heaven sedang membutuhkan istirahat panjang setelah berhari-hari sibuk menjaga dirinya. Bahkan sekarang gadis itu merasa tidak enak sendiri karena telah banyak merepotkan Heaven sejak hari pertama dirinya sakit, hingga sampai sekarang. Karena itu sejak tadi ia sengaja membiarkan Heaven tertidur pulas, tanpa adanya gangguan dari dirinya seperti biasanya.


Merasa bosan terlalu lama memandangi Heaven, Zia beranjak menuju lemari besar di dalam ruang ganti. Mendekati lemari berkaca besar yang kini menampilkan seluruh tubuhnya, ia menatap pantulan dirinya di dalam kaca.


Barulah ia menyadari sejak tadi tampilannya begitu memperihatinkan, sangat berantakan tidak seperti seorang gadis pada umumnya. Zia menarik rambut kusutnya dengan air muka jijik, lalu beralih menatap plester kompres turun panas yang masih menempel di keningnya.


Arghhh... kenapa berantakan gini?


Zia menutup wajahnya sedikit malu, setelah menyadari sejak empat hari yang lalu dirinya tidak pernah memperhatikan penampilannya di depan Heaven. Bahkan seringkali cowok itu yang selalu merapikan tatanan rambutnya, ketika habis mandi ataupun saat sedang makan bersama. Zia bahkan sangat malu jika mengingat hari-hari yang sudah ia lalui bersama Heaven kemarin.


Argh kenapa gue baru sadar sekarang?


Masih dengan rasa kesalnya ia mengambil sisir untuk segera merapikan tatanan rambutnya, tidak lupa ia mengganti baju tidurnya dengan T-shirt berwarna putih. Sekarang ia merasa sedikit malu jika harus berpenampilan jelek seperti hari-hari sebelumnya, apalagi jika di hadapan Heaven. Ah tidak, jangan sampai hal itu terjadi lagi.


Selesai berkutat dengan penampilannya, Zia yang baru merapikan barang-barangnya kini mulai merasa haus. Secara tiba-tiba berputar di kepalanya satu cup es krim rasa strawberry yang cukup membuatnya menelan salivanya dengan kasar. Zia yang sudah mulai tergiur langsung mengintip Heaven yang ternyata masih tertidur pulas, tanpa menunggu lama ia langsung berjalan mengendap-endap keluar dari kamar.


Sesampainya di dapur, gadis yang sudah sangat tergoda oleh bayangan es krim yang berputar di kepalanya itu langsung membuka semua pintu kulkas yang ada. Mencari di mana ia pernah meletakkan es krim kesukaannya sebelumnya, hingga akhirnya ia tersenyum lebar setelah menemukan apa yang dicarinya. Tanpa berlama-lama ia langsung mengambil dan membuka es krim tersebut, tanpa menutup pintu kulkas terlebih dahulu karena saking tidak sabarnya.


"Lagi ngapain lo?"


Baru saja hendak menyuap es krimnya, Zia sudah lebih dulu dikejutkan oleh suara mengintimidasi milik seseorang yang sangat dikenalnya. Zia yang tengah membuka mulutnya lebar-lebar, seketika menghentikan pergerakan tangannya. Kepalanya perlahan mendongak, menatap cowok yang sudah berdiri di hadapannya dengan kedua tangan terlipat bersedekap.


"Udah berani nyuri sekarang ya?" tanya Heaven sambil merebut es krim dingin itu, "Lo lagi sakit, nggak boleh makan es krim!"


Zia masih mempertahankan es krim miliknya, meskipun Heaven sudah memperingatkan dengan sorot mata tajamnya. Mana mungkin juga ia rela kehilangan es krim kesukaannya, bahkan kini bola matanya mulai tergenang saat Heaven hampir berhasil merebut es krim itu darinya. Gadis itu mencebikan bibir bawahnya, menatap Heaven dengan raut wajah penuh permohonan.


"Nggak Anna, lo lagi sakit!" Melihat raut wajah memohon itu, Heaven malah tanpa merasa kasihan langsung mengambil dan menyembunyikan es krim itu di belakang tubuhnya.


Seketika Zia yang sedang berdiri langsung merosot ke bawah, duduk di lantai sembari memasang wajah kesal. Heaven yang melihat hal itu pun ikut berjongkok, mencoba membujuk Zia yang tampaknya sedang dalam mode ngambek. "Ngambek?" tanyanya.


"Dengerin gue!" Heaven memegang kedua bahu Zia, namun gadis itu segera menepis sambil mengalihkan pandangannya.

__ADS_1


"Liat gue, Na!" Zia masih mengalihkan pandangannya, dengan pipi mengembang seperti bakpao.


"Lo itu masih sakit, nggak boleh makan es krim!" ucap Heaven. Menangkup kedua pipi Zia agar mau menatap ke arahnya.


Zia kembali mencebikan bibir bawahnya, tanpa mau menatap ke arah cowok di hadapannya. Hatinya masih tidak bisa rela melihat es krim yang tergeletak di sisi kiri Heaven. Ia sangat menginginkan es krim kesukaannya itu, tapi kenapa Heaven tidak mengerti juga dengan apa yang dirinya mau.


"Mau es krim!" ucap Zia dengan air mata yang sudah meleleh.


"Tapi lo nggak boleh makan es-" Heaven menghentikan ucapannya, menyadari ada sesuatu yang aneh sebelumnya. Baru saja ia mendengar Zia berbicara, setelah lima hari ini mengunci mulutnya rapat-rapat. "Lo... barusan ngomong Na?" tanyanya masih tidak menyangka.


"Kak Heaven jahat!" ucap Zia. Tanpa aba-aba gadis itu langsung menggigit tangan Heaven yang masih memegangi pipinya.


"Akh sshhh...." Heaven meringis menahan rasa sakit, namun tetap membiarkan Zia menggigit tangannya hingga puas.


Setelah puas menggigit, Zia beralih memukul pelan dada Heaven dengan wajah yang sudah di banjiri air mata. "Mau es krim hiks!"


Heaven yang begitu senang melihatnya yang kini sudah mau berbicara, langsung menarik gadis itu dalam pelukannya. Senyum senang seketika tersungging di bibirnya, tidak peduli lagi dengan apa yang sedang di pinta oleh Zia. "Gue seneng lo udah mau ngomong lagi, Na!"


"Gue pikir lo nggak bakal mau ngomong lagi sama gue?" ungkap Heaven bahagia. Beberapa kali ia mencium puncak kepala gadis yang masih menangis dalam pelukannya, merasa sangat lega setelah cukup lama dirinya merindukan suara itu.


"Lo nggak boleh makan es krim, Na! Lo masih sakit!" Heaven mengusap wajah Zia, lalu mencubit pipi yang sudah lama tidak disentuh olehnya.


"Aaaa Kak, mau es krim...," rengeknya.


"Nggak boleh sayang!"


"Nggak peduli, gue gigit lagi nih!" ancam Zia karena tidak kunjung mendapatkan apa yang di mau.


"Udah mulai pinter ngancem sekarang?" Heaven menatap dengan wajah dingin, membuat Zia seketika langsung kicep.


"Cuma mau dikit doang juga! Ya, boleh ya?" bujuk Zia lagi dengan puppy eyes nya.


"Ya udah makan aja es krimnya sampe puas, kalau lo mau gue pulang sekarang!" ancam Heaven.


"Berani lo sentuh es krim itu lagi, gue pulang sekarang!" Mendengar ancaman itu, Zia yang hendak mengambil es krim secara diam-diam langsung menarik kembali tangannya dan mencebikan bibir bawahnya.

__ADS_1


"Jangan pulang, ntar gue sama siapa?" ucapnya sedih.


"Makanya dengerin gue! Lo itu belum boleh makan yang dingin-dingin, nanti lo tambah demam!" ucap Heaven mencoba memberi pengertian.


"Udah nggak demam kok!" Zia melebarkan matanya mencoba meyakinkan, meraih tangan Heaven lalu menempelkan pada keningnya. "Udah turun kan?" tanyanya.


"Tetep aja lo belum boleh makan es krim!"


"Tapi-"


"Nggak ada tapi-tapian, sekarang waktunya istirahat di kamar. Lo juga belum minum obat kan?" Zia masih duduk di tempatnya, meski Heaven sudah menarik tangannya hendak membawanya masuk ke dalam kamar.


"Nggak mau, mau es krimnya dulu!" ucap Zia tanpa mau berdiri.


Heaven menghela nafasnya, melihat Zia yang masih saja merengek minta es krim. Tanpa pikir panjang ia langsung meraih tubuh kecil itu, menggendongnya ala bayi koala. "Besok lagi es krimnya kalau lo udah sembuh!"


"Kak turunin, sayang es krimnya ketinggalan!" Zia menatap miris es krimnya yang masih tergeletak di lantai, sementara dirinya terus bergerak kian menjauh seiring dengan langkah kaki Heaven yang tengah menuju kamar.


"Apa lo liat-liat! Iri kan lo, nggak punya cewek cantik kayak cewek gue!" ejek Heaven. Melihat muka menyebalkan Jaka yang sedang duduk di sofa, saat hendak masuk ke dalam kamar.


"Kak Heaven nggak jelas!" Di dalam gendongan, Zia masih mencebikan bibir bawahnya menatap Heaven dengan wajah memohon.


"Apa?"


"Mau es krim!"


Heaven yang sudah jengah mendengar permintaannya langsung mendelik tajam, membuat Zia kembali mengeratkan rangkulannya. Zia tahu Heaven akan kembali mengancam dirinya, atau bahkan lebih dari apa yang ia bayangkan sebelumnya.


"Gue gigit lama-lama lo, Na!" ancam Heaven.


"Tapi kan...."


"IH KAK HEAVEN JANGAN DIGIGIT BENERAN PUNDAKNYA!"


**********

__ADS_1


...Sampai bertemu di cerita Heavanna selanjutnya 👋🏻...


__ADS_2