
"Lepas, lo semua mau bawa gue ke mana?"
Handa kembali memberontak, saat seorang cowok yang tidak dikenalnya kembali menarik tangannya dengan sangat kasar. Posisi kedua tangan yang sudah terikat membuat Handa tidak bisa melakukan perlawanan, apalagi dengan banyaknya jumlah para cowok yang kini mengiringi langkahnya setelah keluar dari mobil. Handa hanya menurut saja saat ke tujuh cowok yang mencegat mobilnya tadi kini beramai-ramai membawanya masuk ke dalam sebuah rumah. Rumah berukuran sedang dengan pelataran yang nampak sangat tidak terawat.
"Bos, ini cewek yang dimaksud gue kemaren!" Cowok itu tersenyum licik, setelah memperlihatkan Handa pada ketua gengnya.
Regha tersenyum miring melihat kedatangan cewek cantik yang kini berdiri tidak jauh dari tempatnya berada. Akhirnya setelah menunggu beberapa lama, ia kini bisa melihat perempuan yang diketahui adalah pacar dari musuhnya. "Jadi ini pacarnya Gala?"
Regha berjalan memutari Handa yang sedang berdiri dalam kebingungannya, tidak mengerti dengan apa yang dikatakan cowok aneh itu sebelumnya. Setelah puas menelisik Handa dari atas sampai bawah, Regha berhenti dan berdiri di hadapan gadis yang menurutnya sangat cantik itu. Putung rokok yang tersisa sedikit di tangannya ia isap sampai puas, lalu dengan perlahan asap yang masih bersarang di rongga mulutnya ia hembuskan ke wajah Handa.
Uhukk uhukk
"Bau kemenyan njir!" Handa menggeleng-gelengkan kepalanya menghilangkan asap yang masih berkumpul di sekitar wajahnya, tangannya yang masih serikat tali terangkat untuk menutupi hidungnya. "Dih mana bau jengkol lagi, nggak sikat gigi lo ya?" protesnya lagi.
Seketika Regha yang awalnya tersenyum miring, kini berubah terperangah mendengar apa yang telah dikatakan cewek itu. Menarik, ternyata perempuan di hadapannya itu tidak merasa takut sama sekali padanya. Sementara anak-anak lain yang masih berada di sana tengah berusaha menahan tawanya, agar tidak kelepasan di hadapan bosnya.
"Punya nyawa berapa lo, berani ngatain gue?" Regha menatap tajam, namun tanpa rasa takut sedikitpun Handa balik menatap dengan raut kekesalan.
"Satu lah! Lo pikir gue kucing, punya nyawa sembilan?" cicit Handa sedikit kesal.
"Anjay, nih cewek berani juga!" Hugo yang sejak tadi diam di kursinya, kini melangkah mendekati Regha yang masih menatap tajam Handa. "Enaknya di apain nih cewek?"
"Udah deh, to the point aja. Ngapain kalian bawa gue ke sini, pake diikat segala lagi. Lo pikir gue kambing?" kesal Handa. Melihat ada banyak cowok di ruangan itu membuatnya sedikit lebih waspada, karena bisa saja mereka hendak melakukan sesuatu yang tidak terduga padanya.
"Kita habisin aja bos! Nggak salah lagi, dia yang udah bikin Boby sama Deri dipenjara sekarang!" ucap cowok yang sejak tadi menahan marah setelah melihat kedatangan Handa.
__ADS_1
Regha hanya diam saja, masih terdistraksi oleh wajah cantik Handa yang tiba-tiba membuat jantungnya berdetak tidak karuan. Semakin lama menatap Handa malah membuat jiwa playboy nya meronta, melihat kecantikan natural yang belum pernah ia lihat sebelumnya. Selama ini ia memang belum tahu kalau ada cewek cantik yang satu sekolah dengan musuhnya. Maklumlah, Regha memang belum lama ini menjabat sebagai ketua di geng Gorized. Karena ia memang bukan berasal dari kota yang sama dengan para anggotanya kini.
"Maksud lo apa, nuduh gitu?"
Handa menatap intens cowok yang baru saja menuduh dirinya, setelah diingat-ingat ternyata cowok itu adalah orang yang pernah datang ke markas Clopster bersama dua orang yang telah membuatnya kecelakaan beberapa waktu lalu. Handa memang tidak tahu siapa nama dua cowok yang telah dipenjara itu, namun ia cukup yakin memang mereka yang di maksud cowok itu tadi. Apalagi setelah mendengar apa yang dikatakan cowok itu tentang nasib kedua sahabatnya yang sudah mendekam di penjara.
"Alah nggak usah ngelak, lo kan yang bikin sahabat gue masuk penjara?" Cowok bernama Amrul itu berjalan mendekati Handa masih dengan emosi menggebu, ingin rasanya segera memberi pelajaran kepada cewek itu.
"Tahan Rul, dia itu cewek kalau lo lupa!" Hugo yang masih waras segera menghalangi Amrul, mau bagaimana pun ia adalah seorang laki-laki yang anti melukai seorang perempuan. Hugo sangat tahu bagaimana rasanya ketika melihat anggota keluarganya terutama perempuan ada yang terluka, mengingat ia juga memiliki adik perempuan yang umurnya masih sepantaran dengan Handa.
"Tapi Go!" Dalam sekejap Amrul menutup mulutnya melihat sorot mata tajam Regha, sekilas tangannya mengepal geram, kemudian dengan penuh kekesalan kembali ke tempat sebelumnya. Jika tidak ada Regha, mungkin ia sudah tidak peduli dengan peringatan Hugo tadi karena saking kesalnya pada Handa.
"Kalian sebenarnya kenapa sih? Ngapain bawa gue ke sini?" tanya Handa lagi. Ia tahu mereka semua anggota geng Gorized, namun yang menjadi pertanyaan mengapa mereka mengincar dirinya. Padahal ia merasa sama sekali tidak ada hubungan atau masalah apapun dengan geng Gorized, terkecuali tentang dua anak yang sudah masuk dalam penjara itu.
"Bener, lo pacarnya Gala?"
"Nggak usah ngelak, kemaren gue liat lo lagi berduaan sama Gala di warung!" ucap salah satu anak Gorized yang membawa Handa sebelumnya.
"Oh jadi karena itu kalian bawa gue ke tempat kotor ini?" ucap Handa sedikit kesal.
"Mulut lo!" Geram dengan apa yang dikatakan Handa, Regha mengangkat tangannya seakan ingin menyerang gadis itu.
"Apa! Emang bener kan?" Handa mendelik tanpa rasa takut, lalu mengedarkan pandangannya menyapu seluruh ruangan yang terlihat sangat berantakan itu.
"Liat tuh, botol-botol berserakan!" Handa menunjuk pada meja di ruangan itu. Terdapat banyak botol bekas minuman, putung rokok dan bungkus makanan yang masih berserakan bahkan sampai terjatuh di lantai.
__ADS_1
Tangannya yang masih terikat beralih menunjuk ke arah sofa, di mana semua jaket bertuliskan Gorized nampak menggelantung dan teronggok di atas sofa itu. "Buang jaket sembarangan! Sofa itu buat duduk, bukan buat tempat sampah!"
"Lah malah ngeroasting, nggak ada takut-takutnya lo!" ucap salah satu anggota Gorized yang sejak tadi duduk di sofa. Merasa di anggap sampah, karena hanya tinggal cowok pendiam itu yang duduk di sana.
"Ini ngapain lagi ada bola bekel di sini?" Tanpa mendengarkan ucapan cowok tadi, Handa kembali berceloteh sambil menendang bola kecil berwarna oranye yang sejak tadi tergeletak di depan kakinya, "Nggak nyangka kalian masih main bekel, nggak sekalian main congklak biar gue bisa ikut main?"
"Woy jangan ditendang, itu punya adek gue!" Handa hanya menggeleng kecil, melihat cowok tadi kini sudah berjongkok untuk mengambil bola bekel yang masuk ke kolong meja.
"Udah puas? Lo di sini itu sebagai sandra, bukan buat roasting markas gue!" ucap Regha. Mencoba menghentikan Handa yang hendak kembali berceloteh bebas, sebelum kepalanya semakin pusing mendengar ocehannya yang banyak mengkritik markasnya itu.
"Ish ckckck pantes nggak berkembang, pemimpinnya aja pemalas gini!" decak Handa sambil menggelengkan kepalanya. Setelah puas membuat Regha kesal setengah mampus mendengar ucapannya, Handa dengan santai berjalan menuju sofa lalu menjatuhkan pantatnya tanpa peduli keadaan sekitar.
"Udah biarin aja, urusan kita bukan sama dia!" Melihat Reghe hendak meladeni ucapan pedas Handa, Hugo segera mencegahnya sebelum rencananya untuk mengancam Clopster gagal. Ia memang sengaja menyandra Handa, agar bisa mengancam anak Clopster untuk mengakui kesalahan mereka yang telah membuat Hara masih koma sampai sekarang. "Gue mau kasih tau anak Clopster dulu, kalau Handa ada di sini!"
"Tapi Go, masalah Bobby sama Deri gimana?" tanya Amrul menyela. Cowok itu masih tidak terima melihat kedua sahabatnya sampai sekarang masih mendekam di penjara, dan ia sangat yakin bahwa yang membuat mereka dipenjara tidak lain adalah Handa.
"Lo yakin, Handa yang udah bikin mereka ke ciduk polisi?"
Sejenak Amrul terdiam, karena memang masih ada sedikit keraguan tentang tuduhnya itu. Karena saat ia memeriksa dari keterangan polisi, ternyata bukan nama Handa yang melaporkannya. "Gue yakin, karena waktu mereka ditangkap itu tepat setelah gue nyerang markas Clopster bareng mereka. Di sana juga ada Handa dan satu cewek yang gue sendiri nggak tahu siapa namanya."
Hugo memasang air muka curiga, masih sangat ragu dengan apa yang baru saja dikatakan Amrul. "Kenapa gue nggak yakin sama apa yang lo bilang?" ungkapnya.
***********
Maaf baru bisa up hari ini karena kondisi makin nggak stabil kemaren, sekarang Alhamdulillah udah mendingan. Makasih doanya ya pren! 😁
__ADS_1
...Jangan lupa tinggalkan jejak! 🥰...
...Sampai bertemu di cerita Heavanna selanjutnya 👋🏻...