Heavanna

Heavanna
64. PERTENGKARAN HEBAT


__ADS_3

"AGAM, HEAVEN!"


Nanda berlari terburu-buru masuk ke dalam kelas, memanggil nama kedua sahabatnya dengan heboh. Semua orang di dalam kelas yang tadinya sedang asik mengobrol langsung mengalihkan pandangannya, melihat Nanda berhenti di hadapan Heaven dengan tangan memegangi perut sambil membungkuk. Heaven hanya mengernyit melihat Nanda tengah meraup udara dengan begitu cepat, sementara yang lain tengah menunggu apa yang ingin disampaikan cowok itu hingga membuatnya terlihat begitu panik.


"Gawat Heav, Gam!" ucapnya menggebu.


"Kenapa? Sakit perut lo?" tanya Agam yang merasa namanya dipanggil oleh manusia langka di hadapannya.


"Bukan, ah elah! Itu, anu huft... di luar!" Nanda menunjuk ke arah luar kelas, sambil mengatur nafasnya yang masih memburu. Masih berusaha untuk mengatakan dengan jelas tentang informasi menghebohkan yang sempat dilihatnya tadi.


"Ngomong yang jelas monyet! Tarik nafas dulu, kayak lebah beranak aja lo!" kesal Heaven.


"Itu Heav, duh bentar dulu!" Nanda menghirup nafas panjang, lalu menghembuskannya secara perlahan. Tangannya memegang dadanya yang berdegup kencang, bukan hanya karena kabar mengejutkan yang ia bawa tapi juga karena sebelumnya terlalu banyak berlari.


"Apa sih Nan, ngomong yang jelas. Keselek biji kelapa lo, sesak napas gitu?" tanya Agam ikut kesal dengan keleletan sahabatnya dalam berbicara.


"Emang kelapa ada bijinya?" sela Kenzo. Agam hanya mengendikan bahu, karena memang tidak tahu bagian mana dalam kelapa yang biasa disebut biji kelapa.


"Ck sabar napah!" decak Nanda ikut kesal sendiri, "Itu si Angel lagi berantem sama Handa sama Zia, di depan perpus!"


Brakk


"APA?" Heaven yang sedang duduk reflek menggebrak meja dan langsung berdiri, terkejut mendengar apa yang dikatakan Nanda tadi. "Sial!" geramnya kemudian berlari keluar kelas.


Tidak hanya Heaven, Agam dan yang lainnya pun ikut berlari segera menuju perpustakaan. Guratan kekhawatiran nampak jelas di permukaan wajah Heaven dan Agam, mengingat Angel dan kedua sahabatnya tidak akan dengan mudah bisa dikalahkan. Kenzo yang berada di belakang pun ikut berlari, khawatir terjadi sesuatu pada Zia. Tidak menutup kemungkinan pertengkaran ini akan membuat trauma Zia muncul kembali, Kenzo sangat tidak ingin itu terjadi.


Sampai di depan perpustakaan, banyaknya siswa yang meramaikan tempat langsung menyingkir, menyadari kedatangan Heaven dan teman-temannya. Heaven nampak terkejut melihat keadaan yang sudah sangat kacau, Handa masih memegang ponsel sambil merekam dirinya yang tengah menampar wajah Angel.


Gadis malang itu sudah tidak mampu melawan, karena kekuatan fisik Handa ternyata jauh lebih kuat darinya. Di sisi lain Zia tengah terduduk sambil menutupi telinganya sedang berada dalam pelukan Icha, sementara Sarah sedang menyandar pada dinding sembari memegangi keningnya yang benjol akibat beradu dengan dinding.


"Lepasin Angel, setan!" geram Dela yang sejak tadi masih berusaha membantu melepaskan Angel dari kungkungan Handa.

__ADS_1


"DIEM LO!" Handa menghentikan pergerakannya, menatap tajam Dela yang sejak tadi mengganggu kegiatannya. Gadis itu belum puas membalas semua yang dilakukan Angel pada Zia tadi dan juga kemarin.


Melihat Dela sudah ketakutan, Handa kembali menatap gadis yang masih berada dalam cengkeramannya. "Balasan yang tepat buat cewek kayak lo, selama ini gue selalu diem sama perlakuan lo ya. Tapi kali ini lo udah keterlaluan, beraninya lo nampar Zia di depan gue!"


Marah, Handa mengangkat tangannya tinggi hendak menampar Angel untuk keempat kalinya. Namun karena ketidakfokusannya, Handa berhasil didorong oleh Dela hingga menjauh dari Angel. Secara tiba-tiba tarikan cukup keras sangat terasa di kulit kepala, Handa mencengkram kuat pergelangan tangan Dela agar melepaskan helaian rambutnya. Tarikan rambut itu mulai melemah bersamaan rintihan yang terdengar jelas keluar dari bibir Dela, hingga akhirnya gadis itu menyerah dan melepaskan helaian rambut Handa.


Masih dengan emosi yang meluap-luap, Handa mendorong Dela tanpa ampun hingga membuat gadis itu membentur dinding dengan begitu keras. Tanpa memikirkan bagaimana keadaan Dela, Handa bergerak menuju Angel yang kini mulai ketakutan melihat kemarahan luar biasa di wajahnya.


Emosinya begitu tak terkendali setelah melihat dengan mata kepalanya sendiri, Angel telah menampar pipi Zia untuk yang kedua kalinya. Handa mengangkat tangan ketika jaraknya sudah semakin dekat dengan Angel, namun sebuah tangan besar seketika berhasil menghentikan pergerakan Handa.


"STOP HANDA!"


Secara tiba-tiba Agam mencengkram tangan kiri Handa, hingga membuat ponsel di tangannya terpelanting dan mendarat cukup keras membentur lantai. Gadis itu menatap ponsel miliknya yang kini tergeletak menyala, beberapa goresan memanjang nampak memenuhi layar. Ponsel miliknya pecah. Handa beralih menatap Agam dengan bola mata yang mulai tergenang, masih mencoba menepis rasa nyeri yang kembali menyelimuti hatinya.


"BISA NGGAK SIH, JADI CEWEK YANG LEMBUT DIKIT. MAU JADI PREMAN HAH?" bentak Agam sembari menunjuk Dela yang tengah terduduk dengan darah segera keluar dari keningnya.


"BUAT APA LO BIKIN KERIBUTAN KAYAK GINI? MAU JADI JAGOAN?" bentaknya lagi.


"Mending lo urus cewek lo, bilang ke dia jangan ganggu hidup gue!" Ia mendorong kuat tubuh Agam hingga cengkraman itu terlepas, kemudian berlari meninggalkan keramaian itu.


Cewek gue? - gumam Agam tidak mengerti.


"ADA APA INI?" Beberapa orang guru datang membelah keramaian di koridor depan perpustakaan itu, mereka cukup tercengang setelah melihat kekacauan yang sudah terjadi di sana.


"Na, lo nggak papa?" Heaven menghampiri Zia yang masih berada dalam pelukan Icha. Semburat merah nampak jelas terlihat dipermukaan wajah sebelah kiri Zia, hal itu tentu membuat Heaven melebarkan matanya terkejut. "Pipi lo kenapa?" tanyanya.


"Nggak papa gimama sih Kak Heaven, jelas-jelas pipinya Zia abis ditampar!" ucap Icha sembari melepaskan pelukannya.


"Lo di tampar? Siapa yang berani nampar lo?" Heaven mengepalkan tangannya, rahangnya mengeras mendengar apa yang di ucapkan Icha. Ia marah, tidak terima gadisnya ditampar oleh siapapun itu.


"Lepas!" Zia menepis tangan Heaven yang tiba-tiba memegang bahunya, lalu melirik pada Angel yang tengah terdiam dalam ketakutannya. Gadis itu mengedarkan pandangannya, melihat Agam tengah membantu Dela yang terluka. "Mending lo urus aja mereka dan jangan ganggu gue!"

__ADS_1


Zia menunjuk semua perempuan yang telah memancing keributan lebih dulu, hanya gara-gara seorang laki-laki mereka rela melakukan kekerasan seperti ini. Terlebih lagi dengan bodohnya Agam lebih memilih membela Dela, tanpa tahu apa yang sebenarnya terjadi. Zia yakin saat ini Handa sedang berada pada posisi yang tidak baik-baik saja, karena orang yang dicintainya justru malah menolong perempuan lain.


"Handa!" Zia yang teringat dengan sepupunya langsung berlari meninggalkan keramaian itu, tidak bisa dipungkiri saat ini pasti gadis itu sedang merasakan sakit hati luar biasa, setelah beberapa saat yang lalu Agam dengan kasar membentaknya di hadapan banyak orang.


"Na, lo mau ke mana?" Heaven segera mengejar mengikuti gadisnya yang berlari hendak pergi entah ke mana, namun secara tiba-tiba pergelangan tangannya tertahan oleh tangan lembut seseorang.


"Heav, tolong gue!" Angel mencegah, menunjukkan raut wajah memelas meminta pertolongan Heaven.


"Lepas!" Masih dengan suara datar, Heaven melirik tangannya yang masih dipegang Angel.


"Kaki gue nggak bisa jalan Heav, dan pipi gue...." Angel menunjuk pipinya yang memerah, juga sudut bibirnya yang sedikit berdarah karena tamparan keras Handa sebelumnya.


"Bukan urusan gue!" Heaven hanya menjawab dengan cuek, karena saat ini pikirannya sedang dipenuhi oleh kekhawatirannya terhadap Zia.


"Tapi Heav-"


"Lepas!" titah Heaven masih dengan nada rendah. Namun Angel sama sekali tidak mendengar perintahnya, membuat Heaven semakin kesal setengah mati.


"LEPAS BANGSAT!" bentak Heaven marah. Cowok itu langsung pergi setelah Angel dengan cepat melepaskan tangannya, saking takutnya mendengar bentakan itu.


"HEAVEN! JAGA BICARAMU!" Salah satu guru yang mendengar bentakan itu langsung menegur. Namun terlambat, karena Heaven sudah lebih dulu pergi meninggalkan tempat. "Anak satu itu!" gumamnya tidak habis pikir.


"Ada apa ini, kenapa kalian bertengkar?"


Pak Rudi berjalan menghampiri Angel yang katanya tidak bisa berjalan, karena kakinya yang keseleo saat beradu kekuatan dengan Handa sebelumnya. Sementara Dela sedang dibantu oleh Agam, keningnya yang mengeluarkan darah membuat Dela tidak bisa berjalan dengan fokus hingga membutuhkan bantuan orang lain. Agam yang berada di sampingnya dengan suka rela membantu gadis itu, karena merasa semua permasalahan ini terjadi mungkin karena dirinya.


"KALIAN SEMUA BUBAR! AGAM, BAWA DELA KE UKS. SARAH JUGA, SETELAH ITU DATANG KE RUANGAN SAYA!"


*********


...Sampai bertemu di cerita Heavanna selanjutnya 👋🏻...

__ADS_1


__ADS_2