Heavanna

Heavanna
95. BERTEMU AZKA


__ADS_3

"Handa, Icha pulang duluan yah?"


Icha beranjak berdiri sembari memasukkan ponselnya ke dalam saku, setelah membaca dan membalas pesan singkat dari seseorang. Ia mengedarkan pandangannya menyapu sekeliling, ternyata masih ada beberapa siswa yang belum pulang di sekitar sana. Sama halnya dengan dirinya dan Handa yang sejak tadi masih menunggu kedatangan Zia atau mungkin Heaven.


"Kenapa emangnya? Bukannya lo bilang mau nebeng gue?" tanya Handa sedikit curiga.


"Hari ini Icha nggak jadi nebeng deh, udah ditungguin soalnya!" jawab Icha menyengir.


"Ditungguin? Sama siapa?" tanya Handa mengernyitkan dahi.


"Sama Azka, katanya Azka udah sampe di cafe sekarang!"


Icha menjawab dengan nanda sedikit hati-hati, ia tahu Handa masih belum mengizinkan dirinya untuk berteman lebih dekat dengan Azka. Terlihat jelas semburat ketidaksukaan di wajah Handa, sampai sekarang gadis itu masih belum bisa mengizinkan Icha berteman dengan Azka. Selain karena Icha anak yang polos, Handa juga belum tahu manusia seperti apa Azka itu.


"Lo serius mau ketemu dia, Cha? Lo nggak takut gitu kalo ternyata dia orang jahat?" tanya Handa masih tidak habis pikir, "Atau, lo mau gue temenin. Siapa tau gue bisa bantuin lo nanti, kalo emang dia orang jahat!"


"Ish Handa ngomong apa sih, nggak perlu. Icha udah bisa kok jaga diri sendiri!" jawab Icha meyakinkan.


"Ya udah sana, kalo ada apa-apa telepon gue langsung!" Melihat Icha yang begitu antusias, mau tidak mau Handa mengiyakan saja. Mau bagaimana pun itu adalah pilihannya, ia lebih berhak atas dirinya sendiri dan Handa juga tidak ingin terlalu mengekang kebebasan gadis itu.


"Tenang aja Handa, Icha ketemuannya di cafe kok. Kalo Azka orang jahat, Icha tinggal teriak aja!" ucap Icha kembali meyakinkan, "Ya udah, Icha pergi dulu ya. Bye Handa!"


Handa hanya mengangguk mengiyakan, menatap kepergian Icha yang berlari kecil meninggalkan area sekolah. Ia kembali mengedarkan pandangannya, terlihat dari kejauhan Heaven datang bersama teman-temannya. Menghela nafas lega, akhirnya yang ditunggu-tunggu datang juga.


"Cewek gue mana?" Tanpa basa-basi, Heaven langsung menanyakan keberadaan Zia yang tidak terlihat bersama Handa.


"Zia lagi ke belakang bentar, lo tunggu aja di sini. Ini tasnya!" Handa menyerahkan tas milik Zia pada Heaven, "Dan gue mau pulang dulu, bye semua!" Gadis itu tersenyum manis pada Heaven dan teman-temannya, kemudian dengan langkah semangat ia meninggalkan semua orang di sana.


"Kenapa tuh anak?" tanya Nanda mengernyit aneh.


"Bodo amat, gue ke belakang dulu!"


Heaven melenggang pergi meninggalkan keempat sahabatnya, ia sedang tidak ingin menunggu Zia terlalu lama. Sesampainya di toilet khusus cewek, Heaven menyandarkan tubuhnya menunggu sejenak. Namun setelah lama menunggu, tidak ada satupun orang yang keluar dari dalam. Heaven berinisiatif masuk ke dalam untuk mengeceknya, dan benar saja, tidak ada siapapun di dalam toilet itu.


Kemana lo, bocil?


Perasaan khawatir tiba-tiba saja muncul, Heaven segera keluar untuk mencari Zia di tempat lain. Ia berjalan menyusuri koridor sambil mengedarkan pandangannya, namun tetap saja tidak menemukan keberadaan gadis itu. Tapi Heaven tidak menyerah, ia terus mencari hingga akhirnya ia melihat siluet dua orang gadis yang tampak sedang bersitegang di depan gudang belakang sekolah. Dan salah satu di antaranya adalah Zia.


"Itu bukan urusan lo, daripada pusingin hidup gue mending lo urus hidup lo sendiri!" Suara Zia mulai terdengar ketika Heaven bergerak semakin mendekat.


Rexie mendorong tubuh Zia hingga mundur dua langkah ke belakang, "Maksud lo apa sih Zi, emang siapa yang mau mikirin hidup lo? Kurang kerjaan banget!"


Zia mengerutkan keningnya, merasa heran mengapa secara tiba-tiba Rexie mengubah seratus delapan puluh derajat pembicaraan mereka sebelumnya. "Wah gue salut sama akting lo, mau sampe kapan lo kayak gini hah?" ucap Zia sambil bertepuk tangan ringan namun penuh ketidakpercayaan.


"KALIAN BERDUA NGAPAIN DI SINI?"


Zia tersentak kaget mendengar suara Heaven yang muncul secara tiba-tiba, beda halnya dengan Rexie yang sedikit menyunggingkan senyum tipis melihat keterkejutan Zia sebelumnya. Zia perlahan menoleh ke sumber suara, terlihat Heaven dengan wajah datar sedang menatap kesal padanya.


"Pulang!" Tanpa banyak basa-basi lagi, Heaven langsung menarik Zia pergi. Rexie yang masih berada di tempatnya hanya mampu melihat kepergian keduanya dalam diam.


Lingkungan sekolah sudah sangat sepi, tidak terlihat ada orang di sana. Zia masih berjalan cepat mengikuti langkah Heaven yang sejak tadi hanya diam memasang wajah datar. Entahlah, Zia juga tidak mengerti. Sejak permasalahan di kantin tadi, Heaven sama sekali tidak menanyakan hal apapun padanya.


"Kak, lo marah sama gue?" Zia menahan pergerakannya, saat Heaven sudah membuka pintu mobil dan mendorongnya untuk masuk.


"Marah kenapa?" Heaven memaksakan senyumnya lalu mengacak rambut Zia yang sedikit berantakan, "Buruan masuk, udah sore!"


Tanpa menunggu Zia masuk lebih dulu, Heaven berjalan memutari mobil lalu masuk dan duduk di belakang kemudi. Zia yang melihat perubahan itu merasa sedikit aneh, tidak biasanya Heaven meninggalkannya yang belum masuk ke dalam mobil lebih dulu.

__ADS_1


Masih dalam diamnya Heaven menjalankan mobil, pikirannya sedang tidak menentu. Sejak mendengar ucapan Rexie siang tadi, ia jadi sangat penasaran tentang siapa orang yang disukai oleh Zia. Salah besar jika kalian mengira Heaven akan bertanya pada Zia tentang masa lalunya, masa lalu yang kata Zia sudah tidak ada artinya.


Bukan karena takut kehilangan, Heaven hanya tidak ingin mendengar kenyataan dari bibir Zia secara langsung. Bahwa alasan Zia tidak kunjung membuka hati untuknya, itu karena mantan kekasihnya. Heaven tidak ingin melampiaskan kemarahan pada gadis itu, karena sedari awal memang dirinya lah yang sudah memaksa masuk ke dalam kehidupan Zia.


*********


Setengah jam berlalu, Icha yang memutuskan naik taksi kini akhirnya sampai di depan cafe. Gadis itu tersenyum sambil berjalan memasuki cafe itu, ia sudah sangat penasaran seperti apa wajah Azka yang masih menjadi misteri baginya. Gadis itu membuka pintu, mengedarkan pandangannya mencari cowok berkemeja putih. Hanya ada satu di pojok cafe itu, ah ternyata tidak sesulit itu mencari keberadaan Azka.


Icha berjalan mendekati cowok yang duduknya membelakangi dirinya, seketika ia tercengang setelah berhasil melihat wajah Azka yang ternyata sangat jauh berbeda dari dugaannya.


Bener kata Handa, Azka jelek. Kepalanya botak, gemuk, perutnya hamil lagi. Aduh... Icha harus gimana ya? -batin Icha setelah melihat pria tua itu dari atas sampai bawah.


"Ngapain kamu lihat-lihat saya?" tanya pria tua itu sambil mendelik tajam.


"Eh enggak, namaku bukan Icha kok. Namaku Markonah!" ucap Icha gelagapan, saking takutnya dengan pria yang ia ketahui bernama Azka.


Pria tua itu mengerutkan keningnya. "Memang siapa yang bertanya nama kamu?"


"Om bukan yang namanya Azka?" tanya Icha hati-hati.


"Azka Azka, nama saya Baron! Kamu masih bocah, berani sekali merayu saya!"


Icha meringis jijik mendengar ucapan pria itu, memang siapa yang mau menggoda pria botak dan gemuk sepertinya. "Maaf Om, kayaknya Icha salah orang! Lagian Icha nggak suka sama Om Om hamil!" celetuk Icha polos.


"Apa kamu bilang? Om Om hamil?" Pria itu meradang, "Berani sekali kamu mengatakan saya hamil!"


Icha memberingsut mundur saat pria itu beranjak berdiri, matanya yang melotot dan permukaan wajah yang mulai memerah membuat Icha sedikit takut. Namun secara tiba-tiba, seorang cowok merangkul bahunya dari samping. Icha menoleh menatap cowok itu dari samping, bola matanya membulat tercengang melihat pemandangan cowok tampan itu dari.


Wahhh ganteng banget, nggak kalah gantengnya sama Kak Gala!


"Hey, kenapa masih bengong gitu gadis manis?" Cowok itu menarik Icha untuk duduk setelah selesai berdebat dengan pria tua tadi.


"Kamu ganteng!" Masih terperdaya oleh ketampanan itu, Icha segera menutup mulutnya setelah menyadari apa yang baru saja ia katakan. "Eum maaf Icha suka keceplosan!" lanjutnya.


"It's okay!" jawab cowok itu sambil tersenyum manis, "Jadi lo yang namanya Icha?"


Icha hanya mengangguk sambil menunjukkan cengirannya.


"Pas banget, nama gue Azka!"


Untuk keduakalinya Icha tercengang mendengar cowok tampan itu memperkenalkan diri, yang ternyata tidak lain adalah Azka. Gadis itu mengulurkan tangannya, dengan bibir masih membentuk hurul 'O' karena saking tidak percayanya.


"Sorry gue lupa bilang sama lo tadi kalau gue udah ganti baju," ucap Azka.


"Iya nggak papa kok!" jawab Icha tersenyum canggung.


"Lo abis pulang sekolah?" Icha mengangguk cepat. "Kenapa nggak ganti baju dulu?" tanya Azka.


"Eum Icha... lupa," jawab Icha sekenanya. Karena ia sendiri pun tidak mengerti, saking penasarannya dengan Azka membuatnya lupa untuk pulang dan mengganti seragam sekolahnya lebih dulu.


Azka terkekeh melihat wajah polos Icha yang begitu lucu menurutnya, wajahnya yang menggemaskan itu mengingatkannya pada seseorang. "Lucu!" ucapnya.


Karena merasa canggung, Icha mengedarkan pandangannya menyapu ruangan cafe yang cukup sepi itu. Namun pandangannya malah melihat sosok yang sangat dikenalnya sedang duduk bersama seorang anak laki-laki yang ia duga seumuran dengan Gala. Keakraban mereka membuat Icha merasa tertampar, tubuhnya kian menegang melihat Papanya tertawa lepas bersama anak laki-laki itu.


"Papah!" lirih Icha. Gadis itu beranjak dari duduknya, berjalan mendekati pria yang tidak lain adalah Papa-nya.


"Cha, lo mau ke mana?" Bahkan pertanyaan dari Azka pun sudah tidak ia hiraukan, gadis itu sudah sangat penasaran siapa cowok yang sedang duduk bersama Papa-nya itu.

__ADS_1


"Pah, aku ke toilet sebentar ya!" pamit cowok itu pada Rico.


"Heum pergilah, Papa juga harus menghubungi klient Papa dulu!" ucap Rico mengizinkan.


Papah?


Icha mengernyitkan dahi, mendengar cowok itu memanggil Papa-nya dengan panggilan Papa juga. Apa maksudnya ini, Icha bahkan tidak tahu siapa cowok itu. Mungkinkah ia memiliki saudara lain, selain Kak Cakra? Icha menggelengkan kepalanya, menepis pemikirannya yang mulai berkeliaran ke mana-mana.


"Papa ngapain di sini?" tanya Icha mencoba bersikap biasa.


"Icha? Ngapain kamu di sini?" tanya Rico terkejut.


"Jawab Icha dulu Pah, Papa ngapain di sini. Dan... siapa laki-laki tadi?" tanya Icha mulai tidak sabar.


"Kamu ini bicara apa, ngapain kamu di sini? Dan apa ini... kamu masih pakai seragam sekolah?" Rico menatap putrinya dengan marah, "Siapa yang mengajarkan kamu seperti ini? Pasti Kakakmu yang tidak berguna itu!"


"Jangan ngalihin pembicaraan Pah, siapa anak laki-laki itu?" tanya Icha dengan nada meninggi dan mata berkaca-kaca.


"Berani sekali kamu bicara seperti itu padaku, dasar anak tidak tahu diri. Kamu pulang sekarang!" bentak Rico.


"Maaf Om kalau saya lancang ikut campur, tidak bisakah Anda memelankan suara. Anda tidak lihat Icha sudah menangis?" Azka yang sedikit geram pun akhirnya ikut angkat bicara.


"Siapa kamu? Berani sekali ikut campur urusanku dengannya!" bentak Rico.


"Saya memang bukan siapa-siapa Om, tapi saya sangat tidak suka melihat seorang Ayah membentak putrinya sendiri. Memang di mana letak kesalahannya? Icha hanya membutuhkan jawaban dari Anda, tapi kenapa Anda harus marah-marah seperti ini?"


"Diam kamu, jangan ikut campur!" bantak Rico. "Icha, kita pulang sekarang!"


"Nggak mau Pah, nggak mau! Papa jawab dulu pertanyaan Icha!" Dengan kasar Rico menggenggam tangan Icha, lalu menariknya hendak membawanya pergi. Tentu saja Icha menolak, Azka yang melihat hal itu pun segera menahannya.


"Om, bukankah ini sudah sangat keterlaluan. Bisakah membicarakan masalah ini secara baik-baik?" ucap Azka mencoba melerai.


"Jangan ikut campur urusan rumah tangga saya, Icha ayo pulang sekarang!" Rico kembali menarik tangan Icha, namun Azka kembali menahannya.


Melihat Papanya sudah mulai marah besar, Icha yang tidak ingin melibatkan Azka dalam masalah ini akhirnya memilih menuruti apa kata Papa-nya. "Nggak papa Azka, maaf Icha pulang duluan ya!"


Mendengar jawaban Icha, mau tidak mau Azka melepaskannya. Bagaimana pun ini memang bukan urusannya, karena itu adalah masalah pribadi keluarga Icha. Azka hanya menatap kepergian Icha dalam diam serta tangan terkepal kuat, berharap Papanya Icha tidak belaku kasar pada putrinya.


...🎀🎀🎀...


Sambil menunggu Heavanna up, mampir dulu yuk ke karya keren temenku. Ceritanya tak kalah seru lho, jangan lupa mampir ya! 🥰


Judul : Pesona Tuan De Luca


Napen : Komalasari


Matteo de Luca adalah putra mahkota dari Klan de Luca, yang merupakan organisasi mafia terselubung dan sangat disegani. Sang ayah begitu menyayangi dan melindunginya. Ia seakan memiliki rasa kurang percaya terhadap Matteo, sehingga membuatnya merasa terkekang. Atas dasar itulah, Matteo mencoba melepaskan diri untuk membuktikan bahwasannya ia mampu.


Matteo melakukan transaksi ilegal dengan seorang sahabat lama yang ternyata mengkhianatinya. Dalam kondisi terluka, Matteo melarikan diri ke kota Venice. Di sana ia bertemu dengan sosok Mia yang kemudian merawat luka dan memberinya tumpangan untuk menginap di dalam kedai milik ayahnya.


Benih-benih cinta mulai tumbuh di antara mereka. Namun, Matteo memilih untuk pergi dan menolak Mia dengan kasar, sehingga membuat gadis itu pergi dan mencoba membuka hatinya untuk pria lain. Akan tetapi, ketika Mia memutuskan untuk menikah, Matteo menjadi kalut dan datang kembali serta meminta Mia membatalkan pernikahannya. Terjadilah penyerangan pada acara pesta pernikahan Mia, yang menewaskan ayah serta suami yang baru ia nikahi.



...🎀🎀🎀...


...Sampai bertemu di cerita Heavanna selanjutnya 👋🏻...

__ADS_1


__ADS_2