
"Lo beneran nggak kenal sama tuh cowok?"
Heaven menatap Zia intens, mencari sekelebat kebohongan yang mungkin saja akan muncul pada mimik wajahnya. Sebenarnya ia merasa sedikit curiga dengan sikap aneh Zia, apalagi ketika mendapati Zia dalam keadaan baik-baik saja walaupun sudah melihat perkelahian menegangkan sebelumnya. Padahal, saat itu dokter Felio sangat menekankan pada dirinya untuk menjauhkan Zia dari sebuah perkelahian.
Bukan Heaven tidak suka melihat Zia dalam keadaan baik-baik saja, hanya saja ia merasa sedikit aneh. Zia telah melihat perkelahian di depan matanya, namun kondisinya saat ini tampak baik-baik saja setelah mendapatkan pelukan dari cowok asing itu. Sangat jauh berbeda ketika bersama dirinya. Heaven merasa seperti ada sesuatu antara Zia dan cowok yang tidak dikenalnya itu, yang tidak ia ketahui sebelumnya.
"Kok diem?" tanya Heaven sedikit memaksa.
Zia masih diam membisu, lalu menggelengkan kepalanya. "Nggak kenal Kak," jawabnya lirih.
Maafin gue, Kak. Gue belum bisa jujur sama lo, keselamatan adek gue lebih penting sekarang. Gue janji bakal ceritain semuanya, setelah keadaan baik-baik aja. -gumam Zia dalam hati
"Kalo nggak kenal kenapa bisa lo tau namanya, dan dia tau nama lo?" desak Heaven.
Zia hampir tersedak mendengar pertanyaan itu, rasa penasaran Heaven begitu mempersulit dirinya. Gadis itu merasa sangat bersalah karena telah memilih membohongi Heaven lagi dan lagi. "Kan sempat kenalan tadi!" jawab Zia lirih.
"APA! LO KENALAN SAMA DIA?" Heaven terkejut mendengar jawaban Zia, masih sempat-sempatnya gadisnya ini berkenalan dengan cowok paling menyebalkan menurutnya itu.
Zia memejamkan mata, mengusap telinganya yang terasa berdengung setelah mendengar pekikan keras Heaven. "Ish nggak usah teriak-teriak gitu bisa nggak sih, gue nggak budek!" kesalnya.
"Gue nggak bilang lo budek!" Heaven kebali menjewer pipi Zia geram sekaligus gemas. "Ngapain lo kenalan sama dia hm, mau selingkuh?" cecarnya.
"Ih apaan sih Kak!" Zia menepis tangan Heaven hingga terlepas, "Nggak usah ngaco deh, siapa juga yang mau selingkuh!" sungutnya.
"Terus ngapain lo emph-"
Ucapnya Heaven terputus, karena secara tiba-tiba Zia menutup mulutnya dengan tangan. "Ssstttt... diem, berisik!" ucap Zia mendelik di depan wajah Heaven.
Bukannya marah, Heaven justru terpaku melihat wajah menggemaskan Zia dari dekat. Matanya sampai tidak berkedip, karena begitu terpesona dengan paras cantik gadis yang masih membekap mulutnya saat ini.
Arrgghhhh... bisa gila gue lama-lama kalo gini terus!
Heaven berteriak dalam hati, mencoba menahan gejolak dalam hatinya agar tidak melakukan sesuatu yang macam-macam terhadap gadis itu.
"Dengerin! Kak Heaven tuh bisa nggak sih, sehari aja nggak marah-marah. Nggak capek apa marah-marah mulu? Gue aja cap ih Kak Heaven ngapain?!" Ucapan Zia terputus, ketika secara tiba-tiba Heaven menarik tubuhnya hingga membentur dada bidang cowok itu lagi.
"Lepasin, nggak mau peluk!" Zia mendorong tubuh Heaven agar menjauh. Namun yang terjadi justru sebaliknya, Heaven semakin mengeratkan pelukannya.
"Kenapa sih lo gemesin banget hm?" Heaven masih mempertahankan pelukannya, mengayunkan ke kanan dan ke kiri setelah Zia memilih untuk menyerah. "Bisa nggak, sehari aja nggak bikin gue pusing? Gue tuh sayang banget sama lo, Na. Dan gue nggak mau kehilangan lo!"
Deg
__ADS_1
Zia terpaku dalam pelukan, ucapan Heaven berhasil menumbuhkan jutaan bunga di dalam hatinya. Pipi gadis itu mulai memanas, dalam diam ia mengulum senyum sambil menduselkan kepalanya pada dada bidang Heaven. Zia tengah mencoba menyembunyikan permukaan wajahnya yang sudah memerah padam. Heaven baru saja menyatakan rasa sayang pada dirinya. Meski bukan untuk yang pertama kali, namun Zia masih saja tersipu mendengar ucapan itu dari bibir Heaven.
Kruyuk... kruyuk....
Zia membulatkan matanya, perutnya baru saja berbunyi dengan sangat keras. Bahkan Heaven sampai menghentikan gerakannya saat mengelus puncak kepala Zia tadi. Gadis itu masih mematung, ketika Heaven melepaskan pelukannya sambil menatap intens padanya.
"Lo laper Na?" tanya Heaven sambil menyelipkan anak rambut Zia yang sedikit berantakan, ke belakang telinga.
Perut sialan!
Zia menyengir kaku, merasa sangat malu dengan posisinya saat ini. Perutnya memang belum diisi oleh apapun, karena di kantin tadi dirinya belum sempat makan sesuap nasi pun. "Kayaknya ... iya," jawab Zia malu.
"Kayaknya?" Heaven mengerutkan kening, menatap perut Zia yang tiba-tiba berbunyi lagi. "Laper banget ya? Ayo makan!" ucap Heaven pada perut Zia.
Zia hanya tersenyum kaku, kali ini ia benar-benar merasa sangat malu. Dirinya hanya pasrah mengikuti Heaven yang menggenggam tangannya, mengajaknya pergi meninggalkan ruang UKS. Jam istirahat sebenarnya sudah selesai, namun tampaknya cowok itu tidak terlalu mempedulikannya.
"Mau makan apa?" tanya Heaven melirik gadis yang berjalan santai di sampingnya.
"Eum seblak!" jawab Zia sembarangan.
"Mana ada seblak di sini, makan nasi aja. Biar cepet kenyang!" sahut Heaven.
Heaven mengusap puncak kepala Zia. "Kasian cacing di perut lo kalo dikasih makan seblak mulu!" ucapnya.
"Ih kok gitu, gue kan nggak pernah makan seblak!" protes Zia tidak terima.
"Hm iya iya deh, terserah lo!"
*********
"Kenapa muka lo, surem amat?"
Kenzo mengernyit heran, melihat Nanda datang dengan wajah masam. Nanda hanya menghembuskan nafas berat, kemudian berlalu mendudukkan diri di atas meja. Kenzo yang melihatnya semakin bingung, apalagi saat ini Agam dan Gala juga sedang dalam suasana hati yang sama. Entah kenapa Kenzo merasa ketiga sahabatnya ini baru saja mengalami patah hati yang membuat ketiganya hanya diam saja sejak tadi.
"Kalian tuh kenapa sih, aneh banget?" tanya Kenzo pada ketiga sahabatnya.
Terdengar Nanda menghela nafas panjang, cowok itu menatap Kenzo dengan muka galaunya. "Chindy, Zo!" ucapnya nanggung.
"Ck Chindy kenapa, ngomong yang jelas?" tanya Kenzo berdecak malas.
"Masa dia lebih milih cowok sialan itu daripada gue!" ucap Nanda mendramatisir. Kenzo semakin mengerutkan keningnya tidak paham.
__ADS_1
"Ngomong yang jelas, bangsat!" geram Kenzo.
"Gue tadi liat Chindy lagi ngobrol sama cowok sialan yang pelukan sama Handa tadi, siapa namanya gue nggak tau!" Nanda mendengus kesal. "Kambing, mana gue dikacangin lagi."
"Pfftttt... bhahaha lo abis dikacangin sama Chindy?" tanya Kenzo tertawa ngakak. "Hahaha kasian banget lo."
Kenzo menghentikan tawanya, melihat Nanda mendengus kesal. "Emang lagi ngapain mereka, sampe lo dikacangin gitu?" tanyanya.
Nanda menghembuskan nafas gusar, tampaknya kali ini ia mendapat saingan baru yang lebih berat dari sebelumnya. "Gue lagi deketin Chindy, eh tiba-tiba Chindy manggil nama Azka. Dateng lah tuh cowok yang katanya pacarnya Handa, sialan, mana mereka akrab banget lagi."
Saat kembali dari kantin tadi, Nanda memang sengaja mengikuti Chindy. Mengajak gadis itu berbicara sambil sedikit mengeluarkan rayuan mautnya. Namun, tiba-tiba Chindy memanggil nama seseorang yang tidak dikenalnya, hingga muncul lah Azka di antara mereka berdua. Nanda sangat kesal, karena sikap Chindy justru lebih ramah terhadap cowok itu dibandingkan pada dirinya.
"Bhahaha... nggak kebayang gimana lucunya lo waktu dikacangin Chindy, sayang banget gue nggak liat tadi," ucap Kenzo masih tertawa. Raut wajah Nanda saat ini begitu masam, seperti saat meminum perasaan lemon yang tanpa campuran apapun.
"Sialan lo, bukannya semangatin gue, lo malah bikin mood gue makin hancur tau nggak!" kesal Nanda. "Fix, hari ini hari paling galau sedunia cuma gara-gara tuh cowok sialan!"
*********
"Cha, lo kenapa? Tumben diem aja dari tadi?"
Handa menyentuh pundak gadis di sampingnya. Sejak jam istirahat selesai tadi, Icha masih saja diam mengabaikan dirinya. Handa jadi sedikit merasa bersalah, menduga gadis itu diam karena apa yang telah dirinya dan Azka lakukan sebelumnya.
Icha menyingkirkan tangan Handa dari bahunya pelan, kemudian tersenyum tipis. "Icha nggak papa kok Handa, cuma lagi males ngomong aja."
"Males ngomong?" Handa mengerutkan kening, "Lo marah ya soal Azka tadi?" tanyanya.
"Enggak kok Icha nggak marah, cuma kaget aja. Kok Handa nggak bilang sih kalo udah punya pacar baru?" tanya Icha sedikit kecewa.
"Eum maafin gue ya Cha, gue bukan bermaksud bohongin lo. Gue juga nggak tau kalo Azka yang lo maksud itu Azka yang sama, Zian Azka."
Handa merasa tidak enak, sepertinya Icha sudah menyukai Azka saat ini. Tampak dari sikapnya, Icha sedikit menjauhi dirinya setelah mendengar pengakuan Azka saat di kantin tadi. Salah dirinya juga sih, kenapa harus mengikuti permainan Azka. Tapi jika tidak, Azka akan terus terjebak oleh permainannya sendiri. Saat ini Azka sudah bertunangan, Handa hanya ingin Azka fokus dengan tunangannya dan tidak lagi mengganggu perempuan lain.
"Iya Handa, Icha nggak marah kok. Icha cuma kaget aja denger Handa udah punya pacar baru, ganteng lagi. Jadi sekarang Handa nggak perlu galau lagi karena Kak Agam," ucap Icha tersenyum manis.
Handa memaksakan senyumnya, entah mengapa ia merasa tidak ada ketulusan di dalam senyum Icha kali ini. Tapi Handa tetap berpikir positif, mungkin Icha memang masih belum bisa merelakan Azka saat ini. "Makasih Cha!" ucapnya sambil memeluk gadis polos itu.
🎀🎀🎀
Lagi pada galau, othor jadi ikutan galau nih.🤭
...Sampai bertemu lagi di cerita Heavanna selanjutnya 👋🏻...
__ADS_1