
Matahari sudah menampakkan cahayanya, membangunkan setiap insan yang terlelap untuk memulai kembali aktivitasnya. Di atas ranjang berwarna biru muda itu Zia masih terlelap dengan tenang, sampai saat cahaya matahari tiba-tiba menerangi ruangan, masuk melalui jendela kaca yang baru saja dibuka oleh seseorang. Gadis itu mulai menggeliat, lalu perlahan mulai membuka matanya.
Posisi tubuhnya yang miring ke kanan, langsung membuatnya melihat pemandangan langka di depan jendela. Sudah empat hari ini ia selalu melihat sosok yang sama, kini tampak seorang cowok tengah berdiri membelakangi dirinya. Zia mengerjapkan mata sambil menggeliat, mengumpulkan nyawa yang masih terbawa arus mimpi.
Tanpa ingin beranjak, Zia masih memandangi tubuh cowok itu. Cowok yang sudah empat hari ini selalu menemani dirinya tanpa rasa lelah, bahkan sampai merelakan waktu tidurnya hanya untuk mengawasi dirinya yang selalu lepas kendali dalam keadaan apapun. Heaven, nama itu selalu muncul ketika ia terbangun dari tidurnya dan melihat sosok itu di depan jendela kamar miliknya.
Zia tersenyum tipis, rasanya ingin sekali ia mengucapkan beribu-ribu rasa terima kasih untuk Heaven. Namun sampai sekarang bahkan satu kata pun belum mampu ia ucapkan dengan benar, rasa takut terkadang muncul membuat suaranya terasa tercekat. Seperti ada gumpalan yang menyangkut di tenggorokan hingga dirinya tidak mampu mengucapkan hal itu, pada cowok yang sepertinya tengah menyesap kopi menggunakan cangkir berwarna biru muda miliknya.
Makasih Kak, maafin gue yang udah ngerepotin lo!
Heaven yang tengah sibuk memandang keluar gedung sambil beberapa kali menyesap kopinya bahkan sampai tidak sadar, jika dirinya sedang diperhatikan sejak tadi. Cowok itu tengah menahan rasa kantuknya setelah empat hari ini kurang tidur, karena harus mengawasi Zia yang selalu mengigau tak terkendali ketika sedang tidur. Tidak hanya itu, terkadang Zia juga berteriak histeris ketika ditinggal seorang diri di dalam kamar.
Sampai sekarang Heaven pun masih tidak mengerti mengapa Zia belum juga sembuh dari sakitnya, sejak kemarin suhu tubuhnya selalu naik turun hingga membuatnya kebingungan sendiri. Ucapan Daddy Zion bahkan seringkali terngiang di telinganya, setelah terbukti selama empat hari ini Zia belum juga sembuh dari sakitnya. Dan itu artinya, Zia memang belum mencintai dirinya bahkan belum merasa nyaman bersamanya.
Sampai kapan gue bakal pura-pura bego demi bisa dapetin hati lo, Na? Gue udah tau kalau lo nggak suka sama gue, tapi dengan bodohnya gue masih berharap lo bisa punya perasaan yang sama buat gue.
Heaven menghela nafas panjang, lalu meletakkan secangkir kopi miliknya di atas meja. Mencoba melupakan kenyataan yang semakin lama membuat hatinya kembali merasa ragu, bimbang dan tidak karuan jika mengingat posisinya di hati Zia. Cowok itu membalikkan badannya, ingin memeriksa keadaan Zia yang sejak semalam masih saja demam. Pandangannya melihat gadis itu sudah terbangun dari tidurnya, Heaven segera mendekat dengan senyum manis tersungging di bibirnya.
"Selamat pagi!" ucap Heaven pada Zia yang sudah menyandarkan tubuh di kepala ranjang.
Seperti biasa, tanpa adanya jawaban Heaven langsung memeriksa suhu tubuh gadis itu melalui keningnya.
"Masih panas!" ucap Heaven dengan nada biasa. Meskipun dalam hati sebenarnya kecewa, mengapa sampai sekarang dirinya belum bisa menyembuhkan Zia dari sakitnya.
Tanpa berbicara apapun, Zia turun dari ranjang lalu menuju kamar mandi seorang diri. Sebuah perubahan yang cukup baik membuat Heaven sedikit tertegun, karena sejak kemarin Zia sama sekali tidak mau turun dari ranjangnya. Bahkan Heaven harus memaksa Zia ke kamar mandi dengan cara membopong tubuh kecil itu, sesuai dengan apa yang diinstruksikan oleh dokter dan calon ibu mertua melalui telepon.
__ADS_1
Sembari menunggu Zia selesai, Heaven segera menuju dapur untuk mengambil sarapan pagi untuk keduanya. Beberapa menit menyiapkan menu sarapan, ia kembali masuk ke dalam kamar dengan membawa dua mangkuk berisi bubur. Heaven meletakkan makanan di atas meja, karena ternyata Zia belum juga keluar dari kamar mandi. Hingga beberapa menit menunggu, terlihat Zia keluar dengan wajah yang lebih segar dari sebelumnya, meski dengan penampilan yang masih acak-acakan.
"Udah selesai?" Heaven meraih tangan Zia lalu menariknya untuk duduk di sofa, "Kita sarapan pagi ya?" bujuknya.
Tanpa diduga Zia mau menuruti ucapannya, sekali lagi perubahan itu cukup membuat Heaven senang. Karena hari-hari sebelumnya Zia begitu sulit ketika akan makan, meski beberapa kali Heaven sudah memaksa tapi tetap saja gadis itu selalu mengunci mulutnya rapat-rapat. Meskipun masih tidak ingin berbicara atau sekedar membalas ucapannya, namun tetap saja Heaven sangat senang melihat perubahan kecil itu.
"Ok, tunggu sebentar!"
Heaven beranjak menuju nakas samping ranjang untuk mengambil sesuatu, setelahnya ia kembali duduk di samping Zia yang sudah melipat kedua kakinya, duduk tenang di sofa. Heaven mengulurkan tangannya merapikan rambut Zia yang berantakan, lalu mencepolnya dengan asal agar tidak mengganggu saat makan berlangsung.
"Akhirnya lo nurut juga apa kata gue, Na!" ucap Heaven senang. Cowok itu mulai menyendok bubur, meniupnya sejenak lalu mengarahkannya pada mulut Zia. "Buka mulutnya aaa...!"
Zia membuka mulutnya lebar-lebar, membiarkan satu sendok bubur itu masuk ke dalam mulutnya meski sebenarnya saat ini ia sedang tidak merasa lapar.
"Enak nggak?" Heaven terkekeh melihat Zia makan dengan mulut yang sengaja dikembangkan, tangannya masih sibuk memainkan bantal sofa kecil di pangkuannya.
Beberapa menit berlalu Zia sudah menghabiskan setengah mangkuk bubur itu, perutnya terasa sudah penuh. Hingga pada suapan berikutnya, gadis itu langsung menutup mulutnya menggunakan kedua tangan.
Heaven yang tidak paham langsung mengernyitkan dahi, merasa tidak yakin jika Zia sudah kenyang setelah menghabiskan enam suapan. "Kenapa?" tanyanya.
"Lo baru makan dikit lho! Nanggung Na, tinggal dikit lagi!" ucap Heaven seraya membujuk. Namun tetap saja Zia hanya diam, menyandarkan tubuhnya tanpa mau menatap kembali ke arahnya.
Karena tidak kunjung mendapat jawaban, akhirnya Heaven memilih diam dan mengalah. Daripada membuat keributan lebih baik ia menghabiskan makanannya sendiri, mencoba memaklumi Zia yang mungkin saja sudah kenyang. Cowok itu kini sibuk dengan makanannya, mengabaikan Zia yang sepertinya sedang berseteru dengan pikirannya sendiri.
Setelah menghabiskan makanannya, Heaven mengambil segelas air putih yang dibawanya tadi. Baru saja hendak minum, ia menoleh menyadari Zia tengah memperhatikan dirinya terus menerus. "Kenapa?" Heaven menaikan satu alisnya.
__ADS_1
"Lo haus?" Melihat Zia melirik minuman di tangannya, ia langsung mengarahkan minuman itu padanya. Dan benar saja, Zia langsung meminumnya tanpa mau memegang sendiri gelasnya.
"Kalau haus kenapa nggak bilang dari tadi, hm?" Heaven menggeleng kecil melihat Zia sudah menghabiskan air minum itu, ia sadar itu adalah kesalahannya yang tidak memperhatikan makan dan minum Zia sebelumnya.
"Ya udah, gue tinggal sebentar ya!" Baru saja Heaven beranjak berdiri membawa nampan berisi mangkuk bekas makan, secara tiba-tiba Zia menahan pergerakannya. Memegang lengan tangannya seolah tidak mengizinkannya untuk pergi ke manapun.
Heaven mengernyit menatap Zia berdiri di atas sofa dengan wajah ketakutan. "Gue nggak ke mana-mana sayang, cuma ke dapur doang. Mau balikin mangkuk ini dulu!"
Zia tetap bersikukuh tidak mau melepaskan pegangannya, karena itu Heaven perlahan mengarahkan gadis itu untuk duduk kembali di sofa. "Gue janji cuma bentar doang, ya?" ia tersenyum mencoba meyakinkan Zia.
Dengan berat hati gadis itu mulai menurut, melepaskan tangan Heaven secara perlahan dengan hati tak menentu. Heaven mengelus puncak kepala Zia sejenak, sebelum akhirnya melangkahkan kaki meninggalkan Zia sendirian. Sorot mata gadis itu masih menatap kepergian Heaven dan itu malah membuatnya semakin merasa ketakutan. Karena semakin takut Zia berlari mendekati Heaven yang akan sampai di pintu, dan tanpa pikir panjang ia langsung melompat hingga tubuhnya berada di gendongan tubuh kokoh Heaven.
Sontak hal itu membuat Heaven terkejut, untung saja tubuhnya mampu menahan terjangan yang datang secara mendadak itu. "Astaga, lo ngapain lompat-lompat gitu. Bahaya Anna!" ucap Heaven sambil menahan tubuh Zia dan nampan di tangannya agar tidak terjatuh.
"Lo mau ikut?"
"Ya udah turun dulu, gue susah bawanya!" Bukannya menurut, Zia malah semakin mengeratkan pelukannya, melingkar pada leher Heaven. Dan jangan lupakan kedua kakinya yang saling mengait kuat, membuat Heaven hanya mampu menggeleng kecil sambil menghela nafasnya.
"Ok kalau itu yang lo mau, pegangan yang bener!" titah Heaven kemudian melangkahkan kakinya perlahan menuju dapur.
*********
Heaven lagi galau, sama kayak othornya. Yang sabar Heav, semua akan indah pada waktunya 🤭
...Sampai bertemu di cerita Heavanna selanjutnya 👋🏻...
__ADS_1