
"Zi, lo nggak papa 'kan?"
"Gue semalem ke apart lo, tapi lo nggak ada. Tidur di mana lo semalem? Kak Heaven nggak apa-apain lo 'kan?"
Zia menutup telinga mendengar suara cempreng Handa, datang-datang, sepupunya yang kelewat pede ini langsung membuat kehebohan seisi kelas. Untung saja hari masih pagi, jadi hanya ada beberapa siswa saja di kelasnya. Bahkan Icha pun belum sampai di sekolah saat ini.
"Haduhhh Handa, berisik tauk. Pelan-pelan kenapa ngomongnya, nyerocos terus kayak bebek!" sungut Zia. "Gue nggak papa kok!" lanjutnya.
"Sumpah Zi, gue semalem khawatir banget sama lo. Kak Heaven langsung matiin hp lo gitu aja, bikin gue kepikiran terus. Takutnya gue salah ngomong kemarin, makanya gue langsung ke apart lo! Eh lo nya malah nggak ada!" ujar Handa merendahkan suara. Menghindari beberapa pasang telinga yang mulai penasaran dengan apa yang sedang ia bicarakan dengan Zia.
"Gue tidur di apart nya Kak Heaven, dia nggak ngebolehin gue pulang semalem. Jangankan pulang, baru minta aja gue udah dimarahin!" ucap Zia mencebikan bibir bawahnya.
"Tapi lo nggak di apa-apain 'kan sama Kak Heaven, dia nggak nyakitin lo 'kan?" tanya Handa sembari memeriksa tubuh sepupunya.
"Ck! Udah, gue nggak papa kok, nggak usah lebay gitu. Lagian mana mungkin juga Kak Heaven nyakitin gue sampe segitunya!" jawab Zia sedikit berbohong. Ia hanya tidak ingin sampai Handa membenci Heaven jika mengetahui apa yang telah dilakukan cowok itu padanya semalam.
"Bagus deh kalo Kak Heaven masih waras, gue takut aja dia kesetanan gara-gara liat lo bareng Azka kemaren!" celetuk Handa.
"Tapi kok lo bisa tai sih, eh!" Zia menutup mulutnya. "Tapi kok lo bisa tau sih kalo gue ada masalah sama Kak Heaven kemaren?" tanyanya heran.
"Di suruh sama Kak Kenzo, sebenarnya Azka juga nyuruh gue ke restoran kemarin. Tapi gue telat dateng, lo sama Azka udah keburu pergi duluan!" ucap Handa.
Zia mengangguk mengerti. "Tapi sekarang Azka lagi di rumah sakit katanya," ucapnya pelan.
Mendengar hal itu, Handa membulatkan matanya. "Demi apa lo?" tanyanya dengan nada setengah meninggi.
"Ssstttt... pelanin suara lo!" tegur Zia melihat beberapa siswa di sana melihat ke arahnya dengan air muka penasaran sekaligus heran.
"Wah emang gila Kak Heaven, terus gimana keadaannya sekarang?" tanya Handa.
"Mana gue tau, Kak Heaven aja nggak ngasih tau!"
Zia mendengus kesal, ketika dalam perjalanan menuju sekolah tadi, Heaven ditelepon oleh seseorang. Zia sendiri tidak tahu siapa. Dalam percakapannya, Heaven tidak sadar telah mengatakan bahwa Azka sedang berada di rumah sakit. Namun ketika ditanya, cowok itu justru enggan menjawab dan berujung marah-marah lagi pada Zia.
"Zi, saran gue mending lo jujur aja deh sama Kak Heaven tentang identitas lo. Kalo boong terus kayak gini, yang ada Kak Heaven makin salah paham terus."
Meski Handa tidak terlalu menyukai sikap Heaven, namun entah mengapa ia malah percaya kalau cowok itu bisa menjaga sepupunya. Bagaimana pun juga di sini Zia membutuhkan sebuah perlindungan, bukan sebuah ancaman yang merugikan orang-orang di sekitarnya.
__ADS_1
"Gue juga pengen jujur Nda, tapi posisinya kemarin banyak orang. Dan gue udah nggak bisa berfikir jernih, lo tau kan kalo gue kadang suka panikan orangnya." Zia menghela nafasnya dengan kasar. "Gue bakal cari waktu yang tepat buat bicara jujur sama Kak Heaven, dan untuk sekarang gue masih ada tugas rahasia."
"Tugas rahasia apaan?" tanya Handa penasaran.
"HANDAAAA! HUAAA... BURUNG ICHA TERBANG!"
Seorang gadis berteriak sambil menangis menghampiri Handa. Handa yang sebelumnya tengah fokus bertanya sampai tersentak kaget ketika tiba-tiba terdengar suara melengking milik sahabatnya, Icha.
"Icha, bacot banget sih lo. Nggak usah teriak-teriak gitu napa, kayak suaranya bagus aja lo!" tegur Handa. Gadis itu semakin dibuat terkejut ketika secara tiba-tiba Icha menghambur ke pelukannya masih dengan tangisnya.
"Burung Icha terbang hiks! Wulan kabur, gara-gara nggak punya jodoh. Wulan ngambek gara-gara nggak diizinin keluar kandang, padahal kan dia masih perawan."
"Hah? Ngomong apa sih lo Cha, nggak jelas banget!" Handa mengerutkan keningnya mencoba memahami ucapan sahabatnya tadi. "Apa hubungannya sama perawan?"
Masih dengan tangisnya, Icha melepaskan pelukannya lalu menatap sahabatnya. "Wulan kabur dari rumah, gara-gara nggak punya jodoh. Dia kan masih perawan, nanti kalo dijadiin tumbal sama dukun gimana?"
"Dukun nenekmu salto, mana ada dukun yang mau numbal pake burung Cha, Cha!" Handa menggaruk kepalanya tidak habis pikir.
"Tapikan wulan masih perawan---"
"Apa hubungannya anjir, emosi gue lama-lama ngomong sama lo. Begonya nggak ketulungan!" kesal Handa sambil menoyor kepala Icha.
"Lo ngomong apa sih, Cha? Tumbal perawan itu kan buat manusia bukan buat burung!" sahut Zia yang sama pemikirannya dengan Handa.
"Tauk nggak jelas! Lagian kalo mau pake burung juga pasti pilih yang cakep, kalem dan elegan. Lah Wulan? Udah kayak kuda lumping kesurupan, jingkrakkan mulu!" ejek Handa pedas.
"Udah kecil, banyak gaya lagi!" lanjutnya.
"Ih kok Handa malah jadi ngatain Wulan sih, emang Wulan salah apa coba!" sungut Icha tidak terima.
"Iming wilin silih ipi cibi?" cibir Handa.
"Wulan emang nggak salah, yang salah itu gue." Handa memutar bola matanya malas. "Bisa-bisanya gue mau temenan sama cewek oon kayak lo!" lirihnya.
"Ih kok Handa gitu sih, jadi Handa nggak suka temenan sama Icha. Handa nggak niat temenan sama Icha?" tanya Icha juga kesal.
"Gue nggak bilang gitu ya!" Handa menyahut cepat. "Lagian kenapa harus pelihara burung segala. Wulan kan juga pengen hidup bebas, jadi biarin aja dia pergi."
__ADS_1
"Tapi nggak gitu juga, Icha kan udah terlanjur sayang sama Wulan. Icha nggak pengen Wulan kenapa-kenapa!" ujar Icha mengingat kenangan tentang burung kesayangannya dulu.
"Ya udah ikhlasin aja sih, coba lo pelihara yang lain. Ikan, kucing atau kura-kura mungkin, siapa tau lo suka nanti!" saran Zia.
Icha mengetukan jari telunjuknya pada dagu, mempertimbangkan saran yang diberikan Zia. "Eum Icha nggak mau pelihara ikan, nanti terbang lagi kayak Wulan!"
Seketika Handa membulatkan matanya emosi. "Mana ada ikan terbang Icha, lo pikir tuh ikan punya sayap merpati? Kan enggak!"
"Ih Handa nggak pernah liat ya, Icha sering tuh liat ikan terbang di tv kalo abis nonton kartun!" ungkap Icha dengan polosnya.
Seketika Zia dan Handa menepuk jidatnya. "Ampun dah, emang susah ngomong sama lo. Imajinasi lo itu terlalu tinggi, sampe keluar angkasa. Gue curiga otak lo itu isinya cuma ruang hampa Cha!" celetuk Handa.
"Handa kalo ngomong tuh ya, Icha masih normal tau!" kesal Icha tidak terima. "Icha mau pelihara burung lagi aja deh, mau minta burungnya Kak Nanda boleh nggak ya. Pelihara burung perkutut kayaknya lebih seru!"
Icha tersenyum membayangkan burung perkutut yang tengah berceloteh di dalam rumahnya, rasanya pasti akan sangat menyenangkan. Berbeda halnya dengan air muka Zia dan Handa sekarang, mereka syok, sampai detik ini Icha masih mengingat burung peliharaan Nanda. Jika dibiarkan, gadis itu pasti akan membuat keributan lagi.
"Gimana menurut Handa sama Zia?" tanya Icha menatap bergantian kedua sahabatnya.
"Gimana apanya?" sewot Zia bertanya. "Jangan aneh-aneh deh Cha!"
"Icha nggak aneh-aneh kok, orang cuma mau tanya. Kira-kira boleh apa enggak kalo minta burungnya Kak Nanda, eh tapi nanti Kak Nanda nggak punya burung lagi. Kasian dong nggak punya temen," monolog Icha berpikir. "Apa Icha tanyain aja ya, di mana Kak Nanda bisa dapet burungnya? Biar nanti Icha beli sendiri!"
"Udah, udah stop! nggak usah bahas burung lagi. Lo nggak perlu tanya apa-apa ke Kak Nanda kayak gitu, nggak penting. Jangan ngadi-ngadi lo, Cha!" sela Handa. Zia dan Handa semakin bingung mendengar ucapan melantur Icha, pikiran mereka menjadi traveling. Burung seperti apa yang Icha maksud sebenarnya?
🎀🎀🎀
Aduh Icha, nggak tau ya lagi pada puasa? Maaf ya temen-temen, jangan terlalu diambil pusing omongan Icha. Anggap saja burung Nanda burung merpati. 🤭
Rekomendasi karya keren nih buat kamu, jangan lupa mampir dan tinggalkan jejak ya. 🥰
Judul : Rumah Tangga
Napen : MinNami
Cinta saja tak pernah cukup, begitulah kata para pepatah. Binar dan Albiru tidak pernah menyangka ujian cinta mereka justru hadir setelah mereka menikah. Masalah bertubi-tubi menghampiri rumah tangga mereka. Ada mertua dan ipar Binar yang terus mengganggu kenyamanan Binar. Belum lagi masalah orang ketiga yang selalu mencari celah untuk masuk di kehidupan mereka. Saat batas kesabaran Binar sudah diambang batas namun tidak ada satupun yang memihaknya. Lantas salahkan Binar bila ingin menyerah?
__ADS_1
...Sampai bertemu di cerita Heavanna selanjutnya 👋🏻...