
"Handa! Genggaman tangan ini mungkin udah nggak ada artinya lagi buat lo sekarang, setelah apa yang udah gue lakuin selama ini. Banyak permasalahan yang gue hadapi akhir-akhir ini, tapi cuma satu yang paling gue sesali dan gue terus merenungi kesalahan gue yang satu ini"
Tatapannya begitu dalam. Di setiap kalimat yang terucap, tak sedetikpun ia mengalihkan pandangannya. Senyum serta candaan yang sering kali ia tunjukkan kini tersingkirkan oleh keseriusan di raut wajahnya. Dalam sekejap, ia mampu mengubah karakternya. Wajah serius itu mampu membuat beberapa orang di sana terdiam, menyimak setiap kata penuh penyesalan yang ia ucapkan.
"Mungkin sekarang, terlalu terlambat buat gue menyadari kesalahan gue saat itu. Terlalu lama buat gue merenungi kesalahan paling bodoh yang pernah gue lakuin. Seandainya waktu bisa diulang, gue pasti lebih memilih tetap singgah bahkan mungkin menetap di tempat nyaman yang lo sediain."
Genggaman tangan itu semakin erat, seiring dengan tatapannya yang semakin mendalam. Berbeda halnya dengan si pemilik tangan yang berada dalam genggaman cowok itu. Sejak tadi, raut wajahnya selalu menunjukkan reaksi berbeda, merasa jijik dengan apa yang sedang dilakukan oleh cowok yang tengah berjongkok di hadapannya itu.
"Ppfftttt bhahaha... anjay akting lo, kaku banget njir!" Tawa Kenzo pecah. Beberapa cowok yang sejak tadi menyimak, kini ikut tergelak karena tidak mampu lagi menahan tawanya.
"Kalimat lo astaga, Nan. Gue sampe terhura, eh terharu. Saking terharunya, gue sampe malu dengernya." Aldi memegangi keningnya, merasa sangat kacau setelah melihat apa yang dilakukan Nanda pada Agam sebelumnya. "Pake pegang-pegang tangan segala lagi bhahaha!"
"Ah elah, lo semua ganggu banget siake. Nggak liat apa, gue lagi seserius ini?" dengus Nanda, merasa terganggu dengan suara gelak tawa para sahabatnya saat ini.
"Ck lo pada lagi ngapain sih? Ganggu banget!" decak Heaven. Cowok yang sedang bermain game itu, kini merasa terganggu dengan suara teman-temannya.
"Jijik bego!" Agam menghempaskan tangannya, melepas genggaman tangan itu sebelum tingkah sahabatnya semakin menjadi-jadi.
"Lagian lo ngapain, pake akting kayak gitu segala? Mana kaku banget lagi, nggak ada natural-naturalnya. Itu lagi, muka lo ngapain pake di jelek-jelekin segala?" ucap Kenzo setelah puas tertawa. Wajah Nanda saat ini memang terlihat begitu memprihatinkan, ada beberapa lebam biru di beberapa bagian wajahnya. Cowok itu memang baru saja berkelahi dengan laki-laki yang tidak terima, ketika mantan pacarnya lebih memilih Nanda dibandingkan dirinya.
"Itu bukan di jelekin, Zo. Tapi emang udah jelek sari sananya!" Setelah mengatakan hal menyakitkan tersebut, Agam langsung tergelak di hadapan Nanda yang kini memasang wajah kesal.
"Anjing lo emang, udah dibantuin juga!" Nanda dengan kesal mengambil jaketnya, kemudian menutupkannya pada wajah songong Agam dengan kasar.
Mendapat perlakuan tidak menyenangkan itu, Agam justru hanya tergelak, kemudian menyingkirkan jaket milik Nanda sejauh mungkin. "Hahaha gue nggak minta!" ucapnya.
"Anjrit dibuang jaket gue!" ucap Nanda tidak terima. "Lo nggak minta tapi ngomong mulu, capek gue dengernya sialan! Makanya gue ajarin, mending lo ngomongnya kayak gitu aja. Cepetan!"
"Cepetan-cepetan, lo pikir gampang!" sewot Agam.
"Lo bilang pengen balikan, terus kenapa nggak terus terang aja? PDKT mulu, balikan enggak. Kalo gue jadi Handa, mending gue tinggalin cowok kayak lo!" ucap Nanda menyepelekan. "Nggak bisa gercep dikit, heran gue. Kasian tuh yang nungguin udah sampe lumutan!" lanjutnya.
"Bacot banget mulut lo, gue tuh lagi nyari moment yang pas buat ungkapin perasaan gue. Kayak nggak tau sifat Handa aja lo, kalo gue paksa yang ada dia kabur nanti," ucap Agam menyangkal ucapan Nanda sebelumnya.
"Eh bego, emang lo nggak liat apa? Udah jelas-jelas Handa masih suka sama lo. Kalo enggak, mana mungkin dia mau diajak jalan berkali-kali sama lo. Gini deh Gam, gue bilangin nih ya. Mending lo jangan keseringan ngegantungin cewek deh, ntar yang ada lo keterusan. Giliran diembat sama yang lain, ntar nangeesss. Tau sendiri kan yang suka sama Handa itu banyak, nggak cuma lo!" ucap Nanda panjang lebar menyarankan.
__ADS_1
"Betul tuh, gue jadi curiga. Sebenarnya lo masih suka apa enggak sih sama Handa?" tanya Kenzo, sekilas membenarkan ucapan Nanda sebelumnya.
"Ya masih lah," jawab Agam.
"Terus kenapa lo masih sesantai ini Nyet?" sahut Nanda kesal. Sebagai seorang playboy, ia memang sudah sangat berpengalaman dalam urusan perempuan. Nanda paling tidak suka dalam mengulur-ulur waktu. Jika perempuan yang ia incar sudah terlihat memberikan lampu hijau, maka Nanda akan dengan cepat melancarkan aksinya.
"Emang gue harus ngapain anjir!" sewot Agam kesal.
Seketika Nanda menepuk jidatnya. "Tau ah Gam, ngomong sama tembok aja tuh. Capek gue ngomong sama lo, nggak selesai-selesai bangsat! Nyadar enggak, makin bego iya," ucap Nanda seraya menunjuk ke arah tembok di belakangnya. "Ntar kalo Handa kecewa, gue bodo amat ya. Jangan cari gue pokoknya!" peringatnya.
"Berasa penting aja lo! Ntar gue pikirin deh gimana caranya buat ungkapin perasaan gue ke dia," ucap Agam akhirnya.
"Buru, jangan lama-lama, kasian tuh cewek. Udah diputusin, abis itu di dideketin lagi, peke di gantungin segala lagi. Lo belum tau aja akibatnya kalo cewek udah terlanjur kecewa," ucap Nanda kembali mengingatkan.
"Iya iya, bacot banget mulut lo. Udah kayak yang paling jago aja!" dengus Agam kesal.
"Terserah lo!" Nanda mengalihkan pandangannya, tidak peduli lagi dengan permasalahan Agam. "Bos, kok lo tumben sih udah ada di sini? Biasanya lo paling betah kalo udah sama Zia?" tanyanya.
"Lagi ada pengganggu di apartnya, makanya gue diusir!" jawab Heaven malas. Jika bukan karena kehadiran Icha di apartemen Zia, mana mungkin ia rela pergi meninggalkan gadisnya tadi. Padahal, sebelumnya ia berencana akan makan siang dengan Zia tadi.
"Belek kuda muka lo jajar genjang! Gini-gini gue ganteng bego, nggak liat senyum gue udah kayak Antonio Giovanni?" ucap Agam dengan sombongnya.
"Antonio Giovanni siapa anjrot, kagak kenal gue!" sanggah Nanda pura-pura tidak tahu.
"Lo nggak kenal?" Agam bertanya, dengan wajah songongnya. "Makanya, main lo kurang jauh!"
"Eh bacot, lo bedua bisa diem nggak?" bentak Heaven merasa terganggu. Cowok itu kini sedang mencoba menghubungi Zia, namun anehnya belum ada jawaban sama sekali.
"Lo kenapa sih Bos? Marah-marah nggak jelas, kesurupan reog?" ucap Nanda sembari mengambil ponsel. Setelah membuka ponselnya, Nanda begitu terkejut melihat banyaknya panggilan dari nomor dengan nama Handa. "Anjir, ini ngapain Handa nelfon gue banyak banget!"
"Goblok, itu hp gue!" Agam berkata seraya mengeplak kepala Nanda, kemudian merebut ponselnya dengan cepat.
"Anjir, kasian banget tuh cewek dicuekin gitu!" Nanda mengusap kepalanya seraya menggeleng, melihat banyaknya panggilan telepon yang Handa lakukan tadi. "Gila lo emang, gue curiga sebenarnya lo nggak serius sama Handa. Masa iya dia nelfon sebanyak itu lo biarin aja!" lanjutnya tidak habis pikir.
"Gue nggak tau kalo dia nelfon, bego. Hpnya gue silent tadi!" ucap Agam membela diri. Dengan segera, ia menelepon balik nomor Handa.
__ADS_1
"Handa nelfon lo, Gam?" tanya Heaven. Melihat Agam mengangguk, Heaven sedikit merasa janggal. "Handa juga nelfon gue berkali-kali tadi."
"Kenapa nggak lo angkat?" tanya Agam bingung.
"Nggak penting, lagian gue lagi log-in sama Gala tadi. Nanggung!" kata Heaven menjelaskan.
"Emang gila lo, gimana kalo ada yang penting! Game muku, Heran gue!" ucap Agam.
Baru saja Agam hendak menghubungi nomor Handa untuk yang kedua kalinya, sayup-sayup terdengar suara ketukan pintu dan teriakan seorang gadis. Semua orang di dalam markas tersebut seketika terdiam, mencoba memastikan suara siapa yang mereka dengar tadi.
"PERMISI! ADA ORANG NGGAK DI DALEM?"
"Handa?!" Seketika Agam terkesiap, menyadari suara tersebut adalah milik Handa. Semua orang saling berpandangan, berbagai pertanyaan kini muncul di benak mereka. Tidak mungkin Handa sampai datang ke markas Clopster kalau bukan untuk sesuatu yang penting.
"Apa sepenting itu sampai dia bela-belain datang ke sini?" tanya Nanda penasaran.
Tanpa menanggapi ucapan Nanda, semua orang bergegas keluar markas. Menghampiri Handa yang tengah kebingungan di depan pintu. Jika bukan karena sesuatu yang penting, mana mungkin Handa mau datang ke tempat perkumpulan anak berandalan itu.
"Handa? Kenapa, tumben banget lo ke sini?" tanya Agam setelah sampai di depan.
Sekilas Handa menatap Agam dengan raut wajah datar, kemudian beralih menatap Heaven dengan raut wajah kesal. "Kak Heaven gimana sih, gue telfon berkali-kali kenapa lo tolak? Gue chat juga nggak dibales," omelnya.
"Gimana mau bales, gue baca juga enggak!" sahut Heaven cuek. "Lagian lo ngapain telfon-telfon gue? Kalo mau cari Agam jangan sama gue, nggak penting banget."
Mendengar ucapan Heaven, Handa seketika mengepalkan tangannya geram. Dalam keadaan genting seperti ini, bisa-bisanya Heaven lebih mementingkan hal sepele seperti itu. "Kalo bukan masalah penting juga gue ogah telfon lo, anjir!" kesalnya.
"Lo bawa ke mana Zia? Tadi gue ke apartemennya nggak ada siapapun. Bukan cuma itu, pintu apartemennya juga masih kebuka lebar pas gue dateng ke sana!"
"Apa?! Zia nggak ada di apart?" Heaven terkejut mendengar ucapan Handa, pantas saja sejak tadi ia menghubungi nomor telepon Zia tidak ada yang mengangkatnya. "Bukannya dia lagi sama Icha?"
"Terus ke mana dia?" tanya Handa mulai terpancing. Sedetik kemudian, ia baru teringat sesuatu. "Astaga, jangan-jangan---"
"Jangan-jangan apa?" tanya Heaven mulai khawatir. Semburat kekhawatiran terlihat jelas di permukaan wajah Handa, kedua tangan gadis itu kini memegangi kepalanya. Heaven menduga, ada yang tidak beres dengan menghilangnya Zia dan Icha sekarang.
🎀🎀🎀
__ADS_1
...Sampai bertemu di cerita Heavanna selanjutnya 👋🏻...