
Dalam keterkejutannya, Azka masih diam di tempat, menatap kepergian Zia yang berada dalam gendongan cowok yang ia ketahui bernama Heaven itu. Melihat sepupunya masih duduk diam di lantai, Kenzo mengulurkan tangan hendak membantu. Namun siapa sangka, Azka justru menepis tangannya seolah tidak membutuhkan bantuan darinya.
"Gue bisa sendiri," ucap Azka tidak ramah. Kenzo menarik kembali tangannya dengan rasa kecewa, ia tahu Azka masih belum bisa memaafkan dirinya sampai saat ini.
"Azka, lo nggak papa?" tanya Handa sembari mendekat.
Gadis itu meringis melihat sudut bibir Azka yang mengeluarkan darah, dengan cepat ia mengambil tisu lalu membersihkan bibir cowok itu. Semua yang dilakukan olehnya tidak lepas dari pandangan Agam yang masih berdiri di samping Nanda, perhatian Handa berhasil membakar gumpalan merah di dalam sana. Membangkitkan amarah yang hanya mampu ia pendam dalam dadanya yang justru kian bergemuruh.
"Gue nggak papa!" Azka menyentil kening Handa dengan gemas, kebiasaan yang biasa ia lakukan pada Handa saat masih kecil dulu.
"Lo sih pake gitu segala!" Handa mengerucutkan bibirnya, masih khawatir dengan keadaan keadaan kedua sepupunya.
"Nggak usah cemberut gitu, jelek. Lo nggak mau apa, peluk gue bentaran aja?" tanya Azka merentangkan tangannya. Sudah sekitar tiga tahun ia tidak bertemu dengan sepupunya secara langsung, tentu saja Azka begitu merindukan gadis yang dulu sangat manja padanya.
"Ish masih sakit juga!" sungut Handa. Namun tetap saja gadis itu menyambut rentangan tangan itu dan mengejutkan semua orang di sana. "Gue kangen banget sama lo!" ucapnya.
Kini bukan hanya Agam yang tengah menahan rasa cemburu, bahkan Gala pun tampak mengepalkan tangannya melihat kemesraan Handa dan Azka sejak tadi. Kedua cowok itu merasa kalah saing dengan Azka, setelah berhasil mendekati Zia kini cowok itu justru beralih mendekati Handa dengan mudahnya. Sementara Nanda tengah berusaha menahan tawa, melihat wajah Agam yang mulai memerah terbakar api cemburu.
Sayup-sayup terdengar suara tepuk tangan seseorang dari belakang. Handa dan Azka segera melepaskan pelukannya, setelah menyadari sedang berada di mana mereka saat ini. Terlihat Rexie berjalan menghampiri segerombolan orang yang masih berada di tempatnya, masih dengan tepuk tangan yang entah ia tujukan pada siapa.
"Waw so sweet!" ucap Rexie tersenyum manis, menatap Handa dan Azka bergantian.
Handa mengernyit tidak paham. "Maksud lo apa?"
Sementara Azka justru dengan sengaja merangkul mesra bahu Handa, senyum miring terukir ketika melihat Agam tengah menahan marah setelah melihat kemesraan yang ia lakukan bersama Handa. Azka tahu, Agam adalah cowok yang telah menyia-nyiakan sepupunya. Semua informasi itu ia dapatkan dari Raffa yang memang selalu berpihak padanya dalam hal apapun, termasuk membocorkan status hubungan Handa dengan pacarnya.
"Bukan apa-apa, lo berdua keliatan cocok aja!" ucap Rexie menilai keduanya.
"Thank you!" Azka semakin mengeratkan rangkulannya, lalu tersenyum penuh arti pada Rexie.
"Ah kenapa coba lo cantik banget? Jadi makin cinta gue!" celetuk Azka sambil menatap wajah Handa yang tengah kebingungan sendiri. Azka mengerlingkan mata, mengisyaratkan pada Handa untuk menurut saja. Handa pun akhirnya menurut, mengikuti permainan yang sedang dimainkan sepupunya.
"Haha cantik, iya gue cantik." Handa tertawa garing, merasa terjebak dalam posisinya saat ini. Apalagi ketika melihat Agam masih menatap dingin padanya.
"Tunggu dulu, jadi kalian berdua ... pacaran?" tanya Icha yang sejak tadi masih kebingungan sendiri. "Bukannya Azka bilang nggak punya pacar ya?" tanyanya lagi.
__ADS_1
Azka tersedak mendengar pertanyaan Icha, bukan hanya pacar, ia bahkan sudah bertunangan dengan seseorang sekarang. Saat pertama kali berkenalan dengan Icha dulu, Azka mengaku masih jomblo karena memang belum memiliki pacar apalagi tunangan seperti sekarang. Namun semuanya berubah, ketika Daddy-nya tiba-tiba menjodohkan dirinya dengan seorang perempuan yang paling ia benci dalam hidupnya.
"Eum itu Cha, kita emang baru pacaran satu minggu ini kok. Gue juga nggak tau kalo Azka yang lo maksud ini Azka yang ini!" ucap Handa bingung. Gadis jadi merasa tidak enak mengatakan kebohongan pada Icha, apalagi sejak dulu ia selalu melarang Icha berhubungan dengan Azka.
"Oh gitu ya!" Dengan polosnya Icha menjawab, meskipun hatinya merasa tidak nyaman mendengar jawaban itu. "Eum ya udah deh, Icha pergi dulu ya!" pamitnya pada semua orang.
Jadi lo udah punya cowok lain Nda?
Bagai petir menyambar, Agam masih menatap keduanya dengan tidak percaya. Hatinya terasa nyeri mendengar pernyataan yang keluar dari bibir manis gadis yang dicintainya itu. Tidak ingin berlama-lama menahan rasa sakit, Agam memilih pergi meninggalkan tempat itu.
Begitu juga dengan Gala yang sudah tidak tahu lagi harus melakukan apa, hatinya terasa hancur ketika sekali lagi ia harus melihat gadis yang dicintainya bahagia bersama cowok lain.
Jika bisa dilakukan, sebenarnya Gala sangat ingin melupakan cintanya pada Handa. Namun, ia tidak bisa melakukan apa-apa karena di dalam hatinya sudah tertanam nama gadis cantik itu. Entah sampai kapan, Gala pun tidak tahu.
*********
Sudah sepuluh menit berlalu, air mata Zia masih menetes membasahi seragam milik Heaven. Di dalam ruang UKS itu, Zia masih belum mau juga melepaskan pelukannya. Gadis itu masih merasakan takut, masih terbayang di pikirannya perkelahian menegangkan antara Heaven dan Azka sebelumnya.
"Maafin gue ya!" ucap Heaven sembari mengelus punggung Zia.
"Takut!" lirih Zia masih menyembunyikan wajahnya pada dada Heaven.
Zia mendongakkan kepalanya, memperlihatkan wajahnya yang masih dibanjiri air mata. "Kak Heaven jangan berantem lagi hiks!" pintanya.
Heaven tersenyum lega, ternyata Zia sudah mau bicara dengannya. Padahal ia pikir gadis itu akan kembali sakit seperti beberapa hari yang lalu. Heaven tidak bisa membayangkan bagaimana jika Zia benar-benar drop setelah melihat perkelahian yang ia lakukan tadi.
Masih dengan rasa bersalahnya, Heaven mengangguk. "Maafin gue, gue terlalu terbawa emosi tadi," ucapnya sambil mengusap air mata di wajah Zia.
"Hiks ... nggak dimaafin!" isak Zia lalu kembali menyembunyikan wajahnya pada dada bidang Heaven.
"Lho kok gitu?"
"Ya udahlah mending gue pergi aja kalo lo nggak mau maafin gue. Lo nggak mau kan liat gue lagi?" Heaven mencoba melepaskan pelukan Zia. Bukannya terlepas, Zia justru semakin mengeratkan pelukannya.
"Jangan pergi hiks, takut!" ucap Zia terdengar sedikit tidak jelas.
__ADS_1
Heaven menyunggingkan senyum tipis, melepaskan pelukan Zia lalu mundur ke belakang. "Katanya nggak mau maafin gue, ya udah mending gue pergi aja. Lo balik aja sana, sama cowok nggak jelas itu!" ucapnya ketus.
"Huuaaa... nggak mau!" Zia beranjak mendekati Heaven, mencegahnya yang hendak pergi dengan cara memeluk tubuhnya sambil menangis. "Jangan pergi hiks!"
Dalam diam, Heaven tersenyum penuh kemenangan. Ia hanya sekedar menggertak tadi, mana mungkin juga ia bisa meninggalkan Zia dalam kondisi seperti ini. "Mau maafin gue nggak?"
Zia mengangguk cepat di dalam pelukan. "Iya tapi jangan pergi!" rengeknya menangis.
Heaven bernafas lega, sebenarnya ia juga merasa sedikit takut jika Zia memilih membiarkannya pergi tadi. Namun ternyata, gadis itu justru mempertanyakan dirinya di sisinya sekarang. "Ya udah jangan nangis lagi!" titahnya.
"Biarin nangis, Kak Heaven jahat!" ucap Zia dalam pelukan.
Heaven mengernyit mendengar ucapan Zia. "Kok gitu?"
"Beraninya cuma ngancem hiks!"
Heaven terkekeh kecil, merasa gemas dengan tingkah manja Zia saat ini. "Terus mau lo apa hm? Gue makan juga lo lama-lama!" ucapnya.
"Tuh kan ngancem lagi!" ucap Zia sambil memukul punggung Heaven pelan.
"Iya, ya udah terserah lo!" ucap Heaven mencubit pipi gadis itu dengan gemas.
"IH KAK HEAVEN, JANGAN KENCENG-KENCENG CUBITNYA. SAKIT!"
🎀🎀🎀
Duh drama bocil apaan sih ini, kok rasanya jadi pengen pindah ke mars sekarang juga ya. 😂
Sambil menunggu up, mampir dulu pren ke karya keren temanku. Ceritanya seru, mantap dah pokoknya. Jangan lupa mampir dan tinggalkan jejak ya! 🥰
...Judul : Atmosphere...
...Napen : Hilmiath_...
__ADS_1
...Sampai bertemu di cerita Heavanna selanjutnya 👋🏻...