
Sudah sekitar dua jam Zia masih terlelap dalam tidurnya, kain hangat masih setia menempel di kening, sedang berusaha menurunkan demam yang masih menderanya. Di samping tempatnya tidur, terlihat Handa sedang menyandar sembari menatap televisi besar yang menyala di depan sana. Beberapa kali nampak Handa dengan telaten mengganti kain di kening Zia dengan yang lebih hangat, berharap demam gadis itu segera turun.
Beberapa jam yang lalu setelah mengantarkan Zia pulang dari sekolah, Heaven langsung menghubungi Handa untuk datang menemani Zia yang secara tiba-tiba mengalami demam. Awalnya Heaven ingin menjaganya sendiri, namun tidak bisa dikarenakan ada urusan mendadak yang harus segera ia selesaikan hari ini juga. Hingga akhirnya cowok itu mempercayakan Handa untuk menjaga dan menemani Zia daripada ditinggal seorang diri di apartemen dalam keadaan sakit seperti ini. Setidaknya dengan adanya Handa, Heaven tidak perlu terlalu khawatir saat meninggalkannya.
"Handa...," panggil Zia dengan suara khas bangun tidur. Matanya mengerjap memfokuskan pandangan, tangannya mengambil benda basah yang masih menempel di kening.
"Zia!" Handa bergegas membantu Zia yang hendak bangun, "Gimana keadaan lo, udah enakan?"
"Lo perlu sesuatu nggak, atau mungkin lo laper? Lo pengen makan? Aduh makan apa yak?" Handa menggaruk kepalanya yang tidak gatal, kebingungan itu membuatnya heboh sendiri, tidak tahu bagaimana caranya menghadapi Zia. Gadis itu memang belum pernah sekalipun menemani Zia ketika sedang sakit seperti ini, karena itu ia tidak tahu apa yang harus dilakukan sekarang.
"Ssstttt... nggak usah heboh gitu, gue udah nggak papa kok!" ucap Zia menenangkan.
Tapi tetap saja Handa tidak bisa tenang, ia takut salah melakukan sesuatu yang bisa saja membuat Zia semakin sakit. "Lo nggak laper atau pengen apa gitu?" tanyanya.
Zia hanya menggeleng sambil menutup matanya, namun sedetik kemudian ia membuka matanya menyadari sesuatu. Bola matanya menatap Handa dengan intens, lalu tersenyum penuh misteri. "Lo beneran mau tau gue pengen apa?"
Handa mengangguk cepat. Daripada melihat Zia sakit berkepanjangan, menurutnya lebih baik menuruti permintaan gadis itu agar lebih cepat melihatnya sembuh seperti sedia kala. Namun yang membuat Handa sedikit ragu, terkadang ketika sakit Zia menginginkan sesuatu yang aneh-aneh. Ia merasa belum bisa memutuskan mana yang harus dituruti dan mana yang harus ditolak ketika Zia meminta sesuatu, Handa takut hal itu malah akan memperburuk keadaannya nanti.
"Gue pengen jalan-jalan naik mobil lo, nonton bioskop, belanja atau makan di luar gitu!"
"Hah?"
Sesuai dugaan sebelumnya, Handa kini tercengang mendengar permintaan Zia yang terkadang tidak pas dengan keadaan dirinya saat ini. "Enggak boleh, lo kan lagi sakit!" ucap Handa menolak.
"Tapi gue pengen cuci mata!" Zia memegang tangan gadis di sampingnya, memohon agar bisa pergi jalan-jalan untuk sekedar memanjakan mata dan pikirannya.
"Tapi lo kan lagi sakit. Lo juga nggak boleh kemana-mana kan sama Kak Heaven? Gue pergi beli cemilan aja nggak bolehkan tadi!"
Handa mencoba mengingatkan Zia dengan larangan yang Heaven katakan sebelum pergi. Cowok itu bahkan menyuruh anak buahnya untuk membelikan cemilan yang Handa inginkan agar bisa menemani dan menjaga Zia dengan baik. Oke, kali ini Handa menyukai usaha yang telah dilakukan Heaven demi menjaga Zia. Tapi tetap saja masih banyak hal dalam diri Heaven yang membuatnya tidak bisa dengan mudah menyukainya, contohnya dingin, pemaksa dan keras kepala. Uhh... menyebalkan.
"Tapi gue pengen nonton bioskop!"
Melihat wajah Zia yang terlihat sangat ingin pergi, akhirnya mau tidak mau Handa mengangguk menyetujuinya. Mengingat dulu Uncle Zion pernah mengatakan jika Zia sakit akan lebih baik menuruti semua permintaannya, tapi jika itu masih dalam batas normal. "Ya udah kita berangkat."
*********
"Lo berdua tunggu aja di sini, biar gue yang pesen tiketnya!"
Handa berlalu pergi menuju segerombol orang yang tengah mengantri untuk membeli tiket, meninggalkan Zia dan Icha yang sedang duduk di kursi yang di sediakan oleh staf bioskop. Sebelumnya Handa sengaja mengajak Icha agar sedikit lebih ramai, rasanya akan ada yang kurang jika pergi hanya berdua saja bersama Zia. Buktinya sekarang suasananya menjadi sedikit lebih menyenangkan, setelah beberapa kali mendengar ocehan bodoh yang Icha ucapkan cukup membuat orang naik darah.
"Lo kenapa senyum-senyum sendiri?" tanya Zia pada Icha yang tengah senyum menatap ponselnya.
"Ini Azka lucu banget, masa katanya Icha cantik!" jawab Icha.
__ADS_1
"Emang lo nggak cantik?" tanya Zia bingung.
"Eum cantik!"
"Terus kenapa dibilang lucu?"
"Soalnya nggak ada yang pernah bilang Icha cantik, Icha cantik menurut Icha sendiri!" jawabnya.
"Nggak usah manyun gitu, lo cantik kok!" ucap Zia menyemangati, "Lo masih kontekkan sama Azka, Cha?"
"Eum gimana ya, Icha juga nggak tau. Menurut Icha, Azka baik kok orangnya!"
Zia hanya menggeleng pelan, membiarkan Icha melakukan apa yang diinginkannya. Tidak berapa lama Handa sudah kembali dengan membawa tiga kertas tiket di tangan kanan dan dua wadah popcorn ukuran sedang di tangan kanan dan kirinya. Icha terkikik geli melihat Handa sedang kesulitan berjalan untuk menyeimbangkan popcorn itu agar tidak jatuh. Sementara Zia sambil terkekeh kecil langsung beranjak membantu gadis itu.
"Ketawa lo, bukannya bantuin juga!" ucap Handa kesal.
"Ini udah Icha bantuin pake-"
"Pake doa, iya gue tahu!" sela Handa sebelum Icha menyelesaikan ucapannya.
"Itu Handa tau!" Icha menyengir lebar, menunjukkan sederet giginya yang putih bersih.
"Udah yuk masuk, udah mau mulai filmnya!"
Selama hampir dua jam ketiga gadis itu habiskan di dalam bioskop, kini mereka sudah keluar dengan raut wajah senang menggambarkan kepuasaan setelah selesai menonton film. Handa merasa sedikit lega sekarang, karena saat berada di dalam tadi ia sempat memeriksa suhu tubuh Zia yang ternyata demamnya sudah turun. Memang benar awalnya Handa masih belum tenang karena demam Zia yang tak kunjung menurun, meskipun Zia sendiri sudah mengatakan bahwa dirinya baik-baik saja.
"Kita mau ke mana sekarang?" tanya Icha bersemangat.
"Kita makan dulu aja kali yak?" usul Zia yang memang sudah merasa lapar.
"Ya udah ayok!" balas Handa langsung berjalan lebih dulu.
Suara getaran ponsel terdengar dari dalam tas sling bag berwarna abu-abu milik Zia, hingga seketika menghentikan langkah Handa dan Icha yang sudah berjalan lebih dulu. Zia segera mengambil ponselnya untuk melihat siapa yang menelepon, nama Heaven tertera di layar yang menyala itu. Zia membulatkan matanya, menatap Handa dengan wajah bingung sekaligus takut membayangkan jika Heaven tahu di mana keberadaannya saat ini. Saat akan pergi menjemput Icha tadi, baik Handa maupun Zia memang sudah sepakat untuk tidak memberitahu Heaven tentang kepergian mereka.
"Siapa?"
"Kak Heaven, gimana dong? Apa jangan-jangan dia udah di apart ya?" Zia memasang wajah panik, menatap Handa yang tengah mendekat untuk meminta saran.
"Biar gue aja yang jawab, lo pura-pura tidur aja!" Handa mengambil alih ponsel itu, lalu menggeser icon hijau menerima panggilan.
"Halo, kenapa?" tanya Handa terkesan ketus. Gadis itu berjalan ke tempat yang lebih sepi agar Heaven tidak mendengar suara orang-orang yang berlalu lalang melewati tempat itu.
"Kok lo yang jawab?"
__ADS_1
"Zia masih tidur."
"Anna gimana keadaannya? Masih demam?"
"Masih."
"Oke, jagain dia. Gue masih ada urusan, mungkin sekitar satu jam lagi gue ke apart!"
"Hmm... nggak usah dateng juga nggak papa." Handa langsung memutuskan panggilan sepihak, menghembuskan nafas lega karena ternyata Heaven masih ada urusan.
"Gimana?" tanya Zia masih belum tenang.
"Tenang, Kak Heaven masih ada urusan. Mungkin satu jam lagi dia dateng ke apart lo!" jawab Handa sembari mengembalikan ponsel pada pemiliknya.
"Untung aja!" Zia menghembuskan nafas lega, ternyata Heaven belum kembali ke apartemen miliknya.
"Kalian lagi bicarain apa sih, Zia kan nggak lagi tidur?" Icha yang belum paham sejak tadi, hanya menggaruk kepalanya yang tidak gatal.
"Bukan apa-apa Cha!" Zia enggan menjelaskan, karena sudah dapat dipastikan akan sangat panjang kalimat yang harus dikeluarkan hanya untuk membuat Icha paham.
"Ya udah, mending kita ke foodcourt sekarang. Masih ada waktu tiga puluh menit sebelum kita balik!"
Ketiga gadis itu berjalan menuju eskalator untuk turun ke bawah, karena tempat foodcourt nya memang berada ada di lantai bawah. Zia masih diam mendengarkan kedua sahabatnya itu mengoceh tidak jelas, beberapa kali senyum tipis tersungging di bibirnya. Melihat Handa dan Icha tertawa bahagia membuatnya merasa bersalah. Gadis itu merasa akan menjadi penghancur kebahagiaan mereka, mengingat apa yang pernah dilakukan ayahnya Icha kepada dirinya dulu.
Apa gue salah dateng ke sini?
"Zia!" Icha melambai-lambaikan tangannya didepan wajah gadis itu, "Zia kenapa bengong?"
Zia tersadar dari lamunannya, lalu melihat Handa dan Icha kini menatap dirinya dengan heran. "Nggak papa kok, ayo jalan!"
Gadis itu tersenyum untuk menghilangkan raut kekhawatiran yang terlihat jelas di wajah Handa, lalu menggandeng kedua sahabatnya menuju foodcourt yang jaraknya kini hanya sekitar sepuluh meter dari tempat mereka berdiri. Baru saja berjalan berapa langkah, Zia sudah di kejutkan oleh kehadiran seorang laki-laki yang berdiri di hadapannya dengan tangan terlipat bersedekap dada. Aura dingin begitu terasa memenuhi atmosfer di sekeliling mereka setelah melihat Heaven tengah diam sambil melemparkan sorot mata tajam pada Zia.
"Bagus! Udah berani bohong sekarang!"
Zia mengerjapkan matanya beberapa kali, merasa takut melihat sorot mata Heaven yang begitu dingin mengintimidasi. Mulutnya terasa tercekat, seolah tidak mampu lagi mengucapkan kata untuk membela diri. Kali ini aura dingin Heaven begitu terasa, membuatnya semakin terpojok tidak mampu melakukan apa-apa. Tidak kuat berlama-lama melihat tatapan tajam itu, Zia akhirnya menundukkan kepalanya menutupi rasa takut.
"Ngapain lo di sini?" Heaven masih menatap tajam Zia yang sejak tadi menundukkan kepalanya. Gala yang berdiri di sampingnya bahkan tidak berniat menenangkan cowok yang sedang dilanda kemarahan dan kekesalan itu.
Karena tidak kunjung mendongak, Heaven meraih dagu Zia agar menatap ke arahnya. Seketika cowok itu membulatkan matanya, baru menyadari bahwa saat ini wajah Zia terlihat sangat cantik dilapisi makeup. Rambutnya nampak sangat indah bergelombang di bagian ujungnya. Bukannya senang, Heaven malah semakin kesal melihatnya. Masih ada dua ratus lebih pengunjung di plaza itu, dan mungkin saja mereka telah menikmati wajah cantik Zia lebih dulu daripada dirinya. Ah memikirkannya malah membuat Heaven kesal sejadi-jadinya.
*********
...Sampai bertemu lagi di cerita Heavanna selanjutnya 👋🏻...
__ADS_1