Heavanna

Heavanna
40. MENDAPATKAN HUKUMAN


__ADS_3

Setelah insiden terjatuh dari tembok, Zia, Handa, Heaven dan Gala yang terpergok salah satu Guru langsung diseret ke ruang BK. Kini mereka sedang mendapat hukuman setelah sebelumnya diceramahi panjang lebar oleh Pak Rudi, selaku guru BK. Hampir setengah jam sudah keempat anak itu berdiri di bawah tiang bendera, disiksa matahari yang pagi ini terpampang nyata tanpa halangan.


Mereka saling diam dengan pikirannya masing-masing, hanya Handa yang beberapa saat lalu sempat terdengar menggerutu. Zia yang masih kesal dengan Heaven tidak kunjung membuka suara. Begitu juga dengan Heaven yang merasa bersalah karena telah membuat Zia dihukum, serta Gala yang memang pada dasarnya seorang pendiam. Lengkap sudah keheningan mereka di bawah terik matahari pagi.


"Udah belum sih hukumannya? Capek gue, mana panas lagi!" Sekali lagi terdengar Handa menggerutu kesal, sembari mengibaskan tangan ke arah wajahnya yang kian memerah.


"Lumayan Nda, dapet tambahan vitamin D. Selain membantu mengatasi darah tinggi, juga bisa memperkuat otot tulang! Siapa tahu lo pengen nonjok orang yang udah bikin lo naik darah!" celetuk Zia. Bermaksud menyindir seseorang yang sedang berdiri di sebelahnya, yang tidak lain adalah Heaven.


"Ngomong apa sih? Lo kira gue hipertensi?" ucap Handa yang tidak paham.


Heaven yang berdiri di sebelah Zia hanya diam saja, meski tahu kalau gadis itu sedang menyindirnya. Memang salahnya juga telah lupa memberitahu Zia sebelumnya, padahal kemarin ia begitu memaksa Zia agar menunggu jemputan darinya. Ah baru kali ini Heaven merasa seperti orang yang tidak berguna.


Dari kejauhan nampak Pak Rudi datang menghampiri, setelah hampir satu jam mereka berdiri di tengah lapangan. Handa kembali menghela nafasnya, menyadari akan mendapatkan ceramah lagi sebelum hukumannya selesai. Pak Rudi berdiri di hadapan keempat anak itu dengan wajah garang, namun seketika memudar saat tatapan matanya bertemu dengan sorot mata dingin Heaven.


"Ekhem...," Pak Rudi berdehem untuk mencairkan suasana yang terasa mencekam baginya, lalu kembali memasang wajah penuh wibawa, "Apa kalian sudah makan? eh!" Pak Rudi menutup mulutnya sekilas.


"Apa kalian sudah jera?" tanyanya ulang dengan serius.


"Sudah Pak!" jawab keempat anak itu dengan malas. Bahkan jika didengar dengan seksama, hanya ada suara Zia dan Handa saja yang terdengar jelas.


"Apa kalian akan melakukannya lagi?"


"Tidak Pak!"


"Saya harap hukuman ini bisa membuat kalian menyadari kesalahan kalian, dan saya harap kedepannya kalian tidak akan melakukan hal itu lagi!" kata Pak Rudi.


"Baik Pak!" jawab Zia dan Handa.


Sementara Gala dan Heaven hanya diam saja, karena sudah malas mendengar pertanyaan yang menurutnya tidak penting itu. Mau sampai kapan pun juga kedua cowok itu tidak akan jera, dan akan selalu melakukan hal itu jika dalam keadaan terdesak seperti tadi pagi.


"Baik, kalian berempat boleh kembali ke kelas masing-masing!" ucap Pak Rudi kemudian berlalu meninggalkan lapangan.


"Nah gitu kek Pak dari tadi!" celetuk Handa lalu menarik Zia hendak pergi menuju kantin.

__ADS_1


Entah gurunya yang tidak pengertian atau memang muridnya yang bandel. Di saat guru menyuruh kembali ke kelas, mereka justru malah menuju ke kantin. Bagaimana mereka mau ke kelas seperti yang diperintahkan, sedangkan tenggorokan mereka kering kerontang setelah satu jam berdiri di bawah sinar matahari.


"Anna!" Melihat Zia hendak pergi, Heaven segera mengejarnya.


Namun Zia hanya diam saja, berjalan bersama Handa tanpa menghiraukan Heaven yang beberapa kali memanggil namanya. Heaven yang tidak mau menyerah terus mengikuti Zia sembari meminta maaf, tidak peduli lagi dengan statusnya sebagai ketua geng.


Gala yang mencibir pun sudah tidak ia hiraukan. Menurutnya tidak apa lah kalau hanya Gala yang melihat. Asal jangan teman laknatnya yang lain, kalau sampai teman laknatnya yang melihat pasti itu akan menjadi bahan bulan-bulanan yang paling menarik bagi mereka. Mau diletakkan di mana wajah ganteng Heaven nanti.


"Anna dengerin gue dulu!" Dengan tidak sabar Heaven memegang tangan Zia, sebelum gadisnya itu semakin marah padanya.


"Zi, gue ke kantin dulu ya!" Menyadari dirinya bukan siapa-siapa, Handa memilih pergi lebih dulu. Meskipun penasaran dengan apa yang sedang terjadi, tapi ia cukup menyadari bahwa itu bukan urusannya.


"Mau ngomong apa? Cepet!" ucap Zia sedikit cuek.


"Maaf gue nggak jemput lo tadi!" ucap Heaven menyesal. "Gue ada urusan penting, dan gue lupa ngabarin lo! Sorry!'


"Nggak dimaafin!" Zia melepaskan genggaman tangan Heaven, lalu melipat tangannya bersedekap dada agar Heaven tidak bisa lagi seenak jidat memegang tangannya.


"Na!" Heaven menatap dengan wajah memelas, tangannya beralih memegang kedua bahu Zia agar mau menatap ke arahnya.


Jleb


Heaven menutup mulutnya, ucapan Zia berhasil membuatnya langsung kicep. "Tadi gue nggak bisa jemput lo karena ada yang urgent, gue harus bantuin Gala di jalan!" ucap Heaven jujur.


Tadinya Heaven memang hendak menjemput Zia, namun di tengah jalan ia melihat beberapa musuhnya tengah mendesak Gala yang membawa motor seorang diri. Mau tidak mau Heaven langsung ikut membantu, herannya semua musuhnya selalu mengincar teman-temannya yang terlihat sedang sendirian.


"Kak Heaven abis berantem?"


Heaven terdiam, pertanyaan Zia yang satu ini tidak mampu ia jawab. Heaven tahu kalau Zia tidak suka dengan perkelahian, jika di jawab iya, sudah dipastikan Zia akan semakin marah. Tapi tanpa dijawab pun Heaven yakin jika saat ini Zia sudah tahu jawabannya, walaupun nampak tidak ada luka atau pun lebam di bagian tubuhnya sekalipun.


"Lo boleh deh minta apa aja ke gue! Asal jangan diemin gue kayak gini!" Heaven mengalihkan pembicaraan, agar Zia tidak mendesaknya untuk menjawab pertanyaan yang jelas sudah diketahui jawabannya itu.


Mata Zia melebar penuh misteri saat mendengar ucapan Heaven yang hendak menuruti permintaannya. "Beneran?"

__ADS_1


"Iya! Asal jangan minta putus aja dari gue!" jawab Heaven pasrah. Lebih baik menuruti keinginan Zia yang cukup beresiko, daripada melihatnya ngambek hingga tidak mau berbicara.


"Gue mau lo jangan ngomong sama gue sepuluh hari!" ucap Zia. Tadinya hendak minta putus, tapi ternyata Heaven sudah mengantisipasi dengan memberikan larangan lebih dulu.


"Hah?" Heaven mengernyit tidak mengerti.


"Jangan ngomong sama gue dan jangan ikutin gue!!" Zia menepis kedua tangan Heaven, lalu berlari mengejar Handa yang sedang menuju ke kantin.


Heaven mengusap wajahnya kasar melihat kepergian Zia, mungkin sekarang bukan waktu yang tepat untuk berbicara dengannya. Terlebih lagi Zia masih sangat kesal padanya, Heaven hanya mengikuti gadisnya ke kantin agar bisa mengawasinya meski mereka masih saling diam.


"Udah selesai urusannya?" tanya Handa. Melihat Zia datang dengan wajah cemberut, Handa langsung menyerahkan minuman yang memang sudah disiapkan untuk Zia tadi. "Kenapa muka lo, asem banget?" tanyanya lagi.


"Gue kesel!" Zia menenggak minuman rasa jeruk itu hingga tersisa setengah, lalu meletakkannya dengan kasar di atas meja hingga terdengar bunyi yang cukup keras. Masih kesal dengan Heaven yang sudah mengingkari ucapannya sendiri, terlebih itu untuk sesuatu yang yang sangat dibencinya. "Berantem mulu! Mau jadi palang pintu?" gerutunya.


"Lo kenapa sih? Kesurupan reog?" tanya Handa melihat Zia marah-marah tidak jelas.


"Na, lo masih marah sama gue?" Heaven yang baru datang langsung mendudukkan diri di samping Zia, hatinya belum bisa tenang jika gadis itu masih marah padanya.


"Nggak usah ngomong sama gue!" Zia menggeser duduknya hingga menempel pada Handa, "Lo itu tukang bohong, udah gitu pemaksa lagi!" lanjutnya.


"Gue nggak bohong, kan tadi udah gue jelasin!" ucap Heaven frustasi.


"Terus kenapa nggak bilang dulu kalau nggak jadi jemput?"


"Ya mana sempet Na, keadaannya udah genting tadi! Kalau gue ngabarin lo dulu, yang ada gue bonyok duluan!" ucap Heaven, "Ntar kalau ganteng gue berkurang gimana?"


"Dih masih sempet-sempetnya!" gumam Handa menyindir sembari menggeleng kecil.


"Nggak peduli, pokoknya jangan ngomong sama gue!" ucap Zia sembari berdiri, "Siapa suruh berantem, mau jadi jagoan? Ya udah sana berantem lagi, jangan deketin gue!" peringatnya.


Heaven mengusap wajahnya gusar, melihat Zia melenggang pergi meninggalkan kantin yang masih sangat sepi itu. Handa yang sejak tadi mendengar perdebatan itu hanya terkekeh, lalu pergi mengikuti Zia menuju kelasnya.


*********

__ADS_1


Udah dulu ya hehe, jangan lupa tinggalkan jejak. 😇


__ADS_2