Heavanna

Heavanna
73. BERITA MENGEJUTKAN


__ADS_3

"Baru nyampe lo Heav, ke mana aja lo?" tanya Kenzo yang sedang duduk di atas meja miliknya.


"Abis nganterin cewek gue lah. Emangnya lo, jomblo karatan!" Heaven meletakkan tasnya sembari tersenyum jahat, "Buruan nyari cewek, biar nggak kering kering amat hidup lo!"


Seketika Kenzo melongo, sedikit shock mendengar penuturan Heaven yang terlalu jujur. Setelah di pikir-pikir memang sudah lama dirinya menjomblo, Kenzo pun tidak mengerti mengapa sampai saat ini dirinya belum memiliki pacar lagi. Lain halnya dengan Agam dan Nanda yang sudah beberapa kali ganti pacar, bahkan kedua cowok itu sekarang sedang tertawa ngakak menghina nasibnya yang sudah lama menjomblo. Sementara Gala lebih memilih diam seperti biasanya, karena pada kenyataannya Gala pun sama halnya dengan Kenzo. Ah tidak, Gala bahkan belum pernah pacaran sampai detik ini.


"Anjir, emang temen laknat nggak ada adab lo! Ditanyain bener-bener malah ngelunjak!" Kenzo mendengus kesal lalu kembali menyibukkan diri dengan gitar yang ada di pangkuannya. Akan lebih baik ia mengalah dan menghindar, atau akan lebih banyak lagi hinaan dan cacian dari para teman-teman laknatnya itu.


"Makanya Zo, lain kali jangan banyak tanya. Jadi kasian gue liat lo jomblo terus!" ucap Nanda kemudian tertawa ngakak.


"Woy Gam, ngapain lo ikut ketawa. Lo juga jomblo bego, mana gagal move on lagi. Kasian, mana masih muda!" cibir Nanda pada Agam yang duduk di sampingnya.


"Lah kenapa jadi bawa-bawa gue?" Agam menunjuk dirinya sendiri, "Heran gue, kenapa sih pada demen banget ngatain gue gamon!"


"Makanya move on, jangan Handa mulu yang dipikirin!" ucap Nanda menggebu.


Cowok itu langsung berdiri di atas meja, mengedarkan pandangannya menyapu isi kelas yang sudah lumayan ramai. Pandangannya terhenti pada Kenzo yang tengah sibuk memainkan gitarnya. "Iringin gue dong Zo! Gue mau nyanyi khusus buat Agam si jomblo gamon, jomblo gagal move on!" cengirnya.


"Oke!" ucap Kenzo sembari bersiap-siap.


"Nggak usah nyanyi lo, suara pas-pasan aja gegayaan mau nyanyi segala!" protes Agam yang masih duduk di atas meja.


Nanda sama sekali tidak menanggapi, karena sedang sibuk mempersiapkan pita suaranya agar mampu bernyanyi dengan indah. Beberapa kali cowok itu berdehem untuk memastikan suara pas-pasannya tidak akan serak ketika bernyanyi. Tidak lupa ia juga meregangkan otot-otot tubuhnya untuk mempersiapkan diri hendak menikmati lagu yang dinyanyikannya.


"Eeee eee aahhhh ada yang lagi deketin aku...."


Dia atas meja, Nanda mulai bernyanyi sambil menari menghebohkan seisi kelas yang sudah ramai siswa itu. Agam yang mulai terpancing jiwa absurd nya pun ikut menabuh meja mengiringi nyanyian itu.


"Eee eee aahhhh tiap hari nanyain aku... eeee eee aahhh aku pura pura nggak tahu...."


Suara pas-pasan yang berpadu dengan dua alat musik dadakan berupa meja dan sebuah gitar, membuat Nanda menari dengan lihai mengikuti alunan musik yang sangat tidak beraturan itu. Kenzo terkikik geli melihat kelakuan konyol sahabatnya, namun tetap saja melanjutkan petikan gitar yang sedang dimainkannya saat ini. Sementara Agam kini mulai ikutan menyanyi sambil menabuh gendang keramat berupa meja, menghebohkan seluruh penghuni kelas yang mulai bersorak sorai menikmati konser dadakan itu.


"Udah makan, udah mandi, udah tidur, udah, udah, udah, udah. Nanya melulu...." Nanda meliuk-liukkan badannya semakin hanyut ke dalam permainan musik itu, matanya merem melek saking asiknya menikmati tariannya, membuat semua siswa terkikik geli melihat tingkahnya.


"Assseekkk...." teriak Nanda mengajak semua teman-temannya untuk ikut berjoget ria.


"Sarimin pergi ke pasar!" Gala yang sudah jengah melihat kelakuan sahabatnya langsung menyela, melemparkan topi yang ada di atas meja menuju ke kepala Nanda. Namun sayangnya topi berwarna ungu gelap itu hanya membentur kepala Nanda, padahal niatnya melempar tadi agar topi itu mendarat tepat di kepala cowok itu.


Nanda menghentikan tariannya, menatap kesal Gala yang telah mengganggu kesenangannya. "Kampret, lo pikir gue topeng monyet?"


"Nah itu lo tau!" sahut Heaven membuat semua penghuni kelas tertawa ngakak.


"Ah nggak asik lo berdua!" Nanda melompat turun dari meja, kemudian menjatuhkan pantatnya di atas meja yang sebelumnya ia pijak.

__ADS_1


"Berisik nyet, kayak bagus aja suara lo!" balas Heaven.


"Ya elah Heav, salahin Agam noh yang nyanyi!" ucap Nanda menyepelekan.


"Lah kok cuma gue? Yang tadi nyanyi kan elu bangsat!" Agam yang tadi sedang membuka ponsel langsung mengalihkan pandangan, merasa namanya baru saja disebut oleh temannya yang kurang akhlak itu. "Pake joget joget nggak jelas lagi!" lanjutnya.


"Halah bilang aja lo suka liat gue joget gitu, tinggal ngaku aja susah amat!"


"Suka apaan? Joget nggak jelas kayak boneka mampang gitu, apanya yang disukain?" balas Agam pedas.


"Njir mana ada boneka mampang seganteng gue!" balas Nanda tidak terima.


Heaven dan yang lainnya hanya menggelengkan kepala mendengar kepedean Nanda yang sudah mencapai level seratus persen itu. Tapi apa yang dikatakan cowok itu memang tidak seluruhnya salah, Nanda memang tampan dan akan terlihat sangat manis ketika tersenyum. Karena itu banyak perempuan yang mengantri ingin menjadi pacarnya, sekalipun sudah mengetahui ada berapa banyak pacar Nanda sebelumnya.


"HEAV, GAL!"


Suara panggilan seorang cowok yang baru memasuki kelas dengan terburu-buru, ia berhenti tepat di mana Heaven dan yang lainnya sedang berkumpul. Nafasnya sedikit ngos-ngosan, karena harus berlari melewati area parkir yang cukup luas dan tujuh ruangan untuk bisa sampai di kelas Heaven dan teman-teman yang lainnya berada.


"Kenapa Al, abis dikejar kuyang lo?" tanya Nanda melihat Aldi tengah berusaha mengatur nafasnya.


"Kuyang pala lo," ucap Agam sembari menoyor kepala Nanda yang telah berbicara sembarangan tadi.


"Itu Handa!" Aldi menunjuk ke arah luar dengan heboh, "Gue lihat tadi mobilnya dicegat sama anak Gorized"


"Lo serius Al?" tanya Agam memastikan.


"Gue serius, sekarang Taufik lagi ngikutin ke mana mereka pergi bawa Handa. Mending kita ke sana sekarang, sebelum terjadi sesuatu sama tuh cewek!"


Keenam anak itu segera pergi keluar dengan langkah terburu-buru, bahkan mereka sudah tidak peduli dengan tasnya yang tertinggal di dalam kelas. Karena mengetahui gerbang sekolah sudah ditutup, seperti biasa mereka memilih pergi ke samping sekolah untuk memanjat tembok.


"Kok bisa sih mereka ngincar Handa? dia kan cewek!" ucap Nanda dengan geram.


"Mana gue tahu!" jawab Aldi masih mengikuti langkah cepat para sahabatnya.


"Terus kenapa lo nggak bantu?"


"Bantu pala lo penyok, mereka banyak nyet. Gue cuma berdua doang sama Taufik tadi, kalau nekat yang ada kita bonyok duluan!" ucap Aldi setengah kesal.


Setelah lama berjalan melewati area belakang bangunan sekolah, mereka pun hampir sampai di tempat yang dituju. Dari kejauhan Nanda melotot melihat dua orang perempuan yang masih nangkring di atas tembok tinggi itu. Nanda menajamkan penglihatannya, untuk memastikan siapa perempuan yang posisinya sedang membelakangi area sekolah.


"Anjir, Bos itu cewek lo sama Icha!" Nanda dengan heboh menunjuk ke arah tembok yang jaraknya masih cukup jauh dari tempatnya berada, terlihat jelas Zia dan Icha masih berada di atas sana.


"Bangsat, ngapain dia di sana?" Heaven yang melihatnya segera berlari, untuk menghentikan Zia yang sepertinya hendak meloncat bersama Icha. Pendengarannya menangkap suara Zia sedang menghitung, memberikan aba-aba pada Icha agar bisa turun secara bersamaan dalam hitungan ke tiga. "Jangan turun please!" ucap Heaven sambil berlari.

__ADS_1


Namun belum sampai hitungan ketiga, kedua gadis itu sudah lebih dulu terjun bebas tanpa pikir panjang. Heaven yang masih berlari langsung terhenti sejenak mendengar kedua gadis itu berteriak bersamaan, lalu satu detik kemudian terdengar suara benda jatuh cukup keras, pertanda bahwa kedua gadis itu sudah mendarat dengan sempurna di tanah.


"Aish sialan!"


Heaven menggeram kesal merasa sudah kecolongan, seandainya lebih cepat lagi dalam berlari mungkin ia sudah menghentikan apa yang akan dilakukan Zia dan Icha tadi. Tanpa pikir panjang ia langsung melompat, memanjat tembok dengan sangat gesit, agar bisa menghentikan Zia yang sepertinya akan bolos sekolah hari ini.


"MAU KE MANA LO BERDUA?"


Heaven menatap tajam dua perempuan yang kini mematung di tempat setelah mendengar suaranya tadi, padahal tadinya kedua gadis itu akan segera pergi meninggalkan tempat itu. Perlahan Zia dan Icha membalikkan badannya lalu menatap ke atas, sudah di duga oleh mereka sebelumnya suara yang terdengar dingin itu pasti milik Heaven.


"Kak Heaven!" Zia menyengir kaku, merutuk dalam hati mengapa di saat-saat genting seperti ini Heaven selalu muncul di hadapannya.


Heaven yang masih berada di atas segera melompat, hendak mengintrogasi gadisnya yang mencoba membolos sekolah tanpa sepengetahuan dirinya. Sementara kelima sahabat Heaven, satu persatu mulai menanjat tembok dan turun dengan sangat baik tanpa oleng sedikitpun. Heaven berjalan mendekati Zia, masih dengan tatapan penuh intimidasi.


"Mau ke mana lo berdua?" tanya Heaven sekali lagi.


"Kita mau cari Handa! Tadi kata Dio, Handa diculik sama orang jahat!" Bukan Zia yang menjawab, melainkan Icha dengan segala kepolosannya.


Heaven masih menatap Zia, semakin kesal setelah mendengar apa yang dikatakan Icha tadi. Perlahan ia menghela nafas panjang, mencoba untuk tidak marah pada gadisnya yang mencoba pergi tanpa sepengetahuan dirinya. "Lo berdua nggak perlu nyari Handa, biar kita aja yang nyari. Balik ke kelas sekarang!" titahnya.


"Kak please, kali ini aja!" Zia menatap dengan penuh permohonan, agar Heaven mau membiarkan dirinya pergi mencari sepupunya sendiri. Kali ini ia merasa sangat khawatir, dan ingin memastikan sendiri bagaimana keadaan Handa saat ini. Perasaannya sangat tidak enak, merasa seperti akan terjadi sesuatu pada sepupunya itu.


"Nggak Zia, di sana bahaya! Balik ke kelas sekarang!" titah Heaven dengan penuh penekanan. Ia tidak ingin membuat Zia berada dalam bahaya, menyadari anggota geng Gorized kini mulai bertambah banyak. Ada berapa banyak orang yang menahan Handa saat ini, Heaven pun belum bisa memastikannya.


"Jadi Kak Heaven tau di mana Handa sekarang?" tanya Zia mulai curiga.


"Gue nggak tau dia di mana sekarang, tapi gue bakal cari dia sampai ketemu!"


"Kak Heaven jangan bohong!" Zia mentap Heaven dengan bola mata yang mulai tergenang, "Di mana Handa sekarang?"


"Pasti ini terjadi karena musuh gengnya Kak Heaven yang nggak jelas itu kan?" Dari awal pun Zia sudah menduga bahwa permasalahan ini pasti tidak akan jauh dari perselisihan antar geng Clopster dan Gorized. Namun yang membuatnya heran mengapa mereka harus membawa Handa dalam permasalahan ini. Apa tidak ada cara lain untuk menyelesaikan permasalah mereka, tanpa harus melibatkan seorang perempuan seperti ini.


"Na, ini bukan waktu yang tepat buat berantem. Jadi dengerin gue, balik ke kelas sekarang!"


"Nggak mau, gue mau cari Handa! Gue nggak mau dia kenapa-kenapa!" Zia membalikkan badannya, melangkahkan kakinya pergi tanpa peduli lagi dengan Heaven dan teman-temannya. Air matanya sudah meleleh, Zia sangat tidak ingin terjadi sesuatu pada sepupunya.


*********


Maaf ya rada garing, Author lagi gak bisa mikir banget. Dari semalem demam ga turun-turun, ini badan udah sakit semua kayak digebukin orang satu RT 😅. Karena kemaren abis vaksin ke 3, sekarang jadi gak enak badan banget. Ini Author udah berusaha banget nulis biar bisa up hari ini, kalo ada yang salah tolong dibantu koreksi ya. Biar nanti bisa diperbaiki lagi. Kalian jaga kesehatan ya, stay safe and healthy!


Oh iya, buat yang ga tau lagunya siapa yang dinyanyikan Nanda. Itu lagu 'ada udang dibalik batu', punyanya Wali ya 😁.


Maaf ya, Author jadi banyak omong nih 😅

__ADS_1


...Sampai bertemu di cerita Heavanna selanjutnya 👋🏻...


__ADS_2