
"Ya udah Cha, kita pulang dulu ya! Cepet sembuh ya!" pamit Zia begitu juga dengan Handa dan yang lainnya.
"Iya Zia, temen-temen makasih ya! Udah nemenin Icha!" ucap Icha sebelum menerima suapan lagi dari kakaknya.
Beberapa menit yang lalu Cakra baru datang, waktu kini sudah menunjukkan pukul setengah sembilan malam. Meskipun kedatangannya sangat terlambat dari waktu yang sudah dijanjikan, tapi Icha sama sekali tidak mempermasalahkannya. Saat ini Icha sedang menyantap makan malam sembari disuapi oleh Cakra, karena memang sejak tadi Icha sengaja menunggu kakaknya untuk makan malam bersama. Selesai makan Zia dan yang lainnya memutuskan untuk pulang, sebelum waktu semakin larut.
"Zi, lo pulang bareng gue kan?" tanya Handa sesaat setelah keluar dari ruangan Icha.
"Nggak! Anna pulang bareng gue!" sela Heaven mencegah Zia yang hendak menyetujuinya. Cowok itu langsung menarik Zia berjalan mendahului para sahabatnya. Terlalu ramai membuat Heaven tidak bisa leluasa berbicara dengan gadis itu.
"Ish terus gue pulang sama siapa?" protes Handa mengerucutkan bibirnya.
"Gam! Kalau lo nggak mau anterin, biar gue aja!" ucap Nanda menawarkan diri. Jangan salah, Nanda hanya ingin membuat Agam mau mengantarkan Handa, kalau hanya didiamkan pasti Agam tidak akan mau mengantarkan.
"Serah lo!" ucap Agam yang langsung melenggang pergi lebih dulu.
"Serius lo, Gam?" Nanda cukup terkejut, mengira tadinya Agam tidak akan mengizinkan dirinya untuk mengantarkan Handa.
"Gue udah ada janji!" balas Agam sebelum menghilang dari pandangan.
"Gimana Nda?" tanya Nanda meski sedikit heran dengan sikap Agam yang aneh.
"Nggak usah Kak, gue pulang sendiri aja!"
Wajah Handa berubah datar mendengar apa yang dikatakan Agam. Handa tidak suka mendengar jawaban itu. Meskipun Handa sendiri tahu apa yang membuat Agam menolak mengantarkannya, tidak lain karena Handa sendiri juga akan menolaknya nanti seperti yang terjadi biasanya. Agam sudah tahu kalau Handa tidak akan pernah mau diantar oleh siapapun ke rumah, bahkan saat kecelakaan kemarin pun Handa memilih pulang bersama supir barunya daripada di antarkan oleh Agam.
"Gue duluan ya Kak!" pamit Handa.
Sementara di sisi lain, Heaven dan Zia baru saja sampai di parkiran. Harapan Zia malam ini akan pulang menggunakan mobil, tapi sayangnya harapannya itu harus di kubur dalam-dalam. Karena setelah sampai di basement ternyata yang terlihat di hadapannya adalah sebuah motor sport. Yaps semalam karena sedang nongkrong bersama para sahabatnya, Heaven yang memang tengah menggunakan motor langsung datang ke rumah sakit tanpa mengganti kendaraan lebih dulu.
__ADS_1
"Sorry, gue bawa motor!" kata Heaven yang paham akan raut wajah Zia. Mengingat Zia pernah mengatakan trauma saat pertama kali dirinya memaksa mengantarkan pulang menggunakan motor, wajah pucatnya bahkan masih tercetak jelas di pikiran Heaven.
"Nggak papa, bukannya kemaren juga naik motor!" jawab Zia yang tidak lagi memusingkan.
"Lo nggak trauma lagi?" tanya Heaven sembari melepas jaket Clopster yang di pakainya.
"Nggak!" Mata Zia membulat melihat Heaven membuka jaket, ia mulai berjaga-jaga karena tidak ada siapapun di parkiran saat ini. "Mau ngapain lo?"
"Di luar dingin!" ujar Heaven sembari memakaikan jaket itu pada tubuh kecil Zia.
Gadis itu hanya memakai baju berlengan pendek dengan bahan yang cukup tipis dan celana panjang sedikit ketat, Heaven tidak ingin sampai gadisnya kedinginan di jalan. Setelah selesai memakaikannya, Heaven terkekeh melihat tubuh Zia yang tenggelam di balik jaket miliknya.
"Nggak usah ketawa, nggak lucu!" kesal Zia. Sedikit malu dengan postur tubuhnya yang terlalu kecil dibandingkan tubuh Heaven.
Heaven segera melajukan motornya setelah memastikan Zia sudah dalam posisi aman, mereka hendak langsung menuju apartemen milik Zia karena waktu sudah semakin larut. Tidak baik bagi seorang gadis berpergian malam-malam, Heaven tidak mau terjadi sesuatu yang tidak di inginkan pada Zia.
Saat hendak keluar dari basement, sebuah mobil berwarna putih melintas secara tiba-tiba. Heaven yang terkejut sontak mengerem mendadak membuat Zia terdorong ke depan, begitu juga dengan mobil itu ikut berhenti mendadak. Cowok itu menyorot tajam mobil yang hampir mencelakakan dirinya dan Zia, seorang pria paruh baya keluar dengan ekspresi marah.
"KAMU GIMANA SIH? KALAU TIDAK BISA BAWA MOTOR, JANGAN BAWA MOTOR!" bentak pria itu marah-marah.
Heaven semakin kesal mendengar bentakan itu, karena menyadari dirinya berada dalam posisi yang benar. Pria itu menerobos masuk melalui jalur keluar, padahal sudah di sediakan jalur masuk tersendiri di basement itu. "Harusnya Bapak yang berhati-hati, jalur masuk berada di sana bukan lewat sini!" kesal Heaven setengah membentak sambil menunjukkan jalur lain.
Zia yang masih duduk di belakang Heaven, tengah berusaha melihat seperti apa wajah pria paruh baya itu dari balik helm full face yang di pakainya. Penerangan yang sedikit temaram di area itu membuat Zia tidak bisa dengan mudah melihatnya, apalagi pria itu terus bergerak ke sana kemari sambil marah-marah.
Deg
Seketika Zia mematung di tempat setelah melihat wajah pria itu, ada rasa takut yang kini mulai menghantui dirinya. Tanpa sadar Zia memeluk erat Heaven dari belakang, mencari perlindungan. Gadis itu menyembunyikan kepalanya dibelakang Heaven agar tidak kelihatan, padahal tanpa bersembunyi pun pria itu tidak akan mengenali dirinya karena sedang mengenakan helm.
Setelah mendengar ucapan Heaven, pria paruh baya yang sedang marah-marah itu kembali masuk kedalam mobilnya. Sambil mencak-mencak tidak jelas ia melajukan mobilnya, menuju basement tanpa memedulikan peringatan Heaven sebelumnya. Heaven pun hanya menggeleng melihat sikap arogan pria tua yang sangat menyebalkan itu, sudah tahu salah namun tidak mau disalahkan.
__ADS_1
"Lo nggak papa kan?" tanya Heaven pada Zia yang masih bersembunyi di belakangnya. Cowok itu tahu kalau saat ini Zia sedang ketakutan, mungkin karena pria tua yang marah-marah tidak jelas tadi, pikirnya.
"Nggak papa!" jawab Zia sekenanya. Heaven kembali menjalankan motornya meninggalkan area rumah sakit, setelah mendengar jawaban dari Zia.
Gue harus gimana sekarang? - guman Zia dalam hati.
Lima belas menit berlalu mereka sudah sampai di apartemen, Heaven mengantarkan Zia hingga sampai di depan pintu. Seperti bisa, cowok itu harus memastikan gadisnya masuk ke apartemen lebih dulu, agar ia bisa pulang dengan tenang.
"Makasih ya!" Zia melepaskan jaket untuk di kembalikan pada pemiliknya.
"Udah sana masuk, udah malem!" ucap Heaven setelah menerima jaketnya kembali.
"Iya!"
"Langsung tidur, besok pagi gue jemput!"
"Hah?"
"Mulai besok biar gue aja yang anter jemput lo!" ucap Heaven sembari memakai jaketnya.
"Nggak mau ih, gue udah punya supir!" tolak Zia cepat.
Zia mengumpat merutuki kebodohannya, bisa-bisanya terjebak dalam kebohongan sendiri. Kalau begini terus yang ada dirinya akan lelah nanti. Heaven akan mengantarkannya ke apartemen setiap hari, sementara tempat tinggalnya yang sebenarnya di rumah Paman Max. Sungguh, ini benar-benar jauh dari prediksi Zia sebelumnya.
"Nggak mau tau, pokoknya gue jemput lo besok! Kalau perlu gue jemput lo pagi buta sekalian!" ucap Heaven kukuh dalam pendirian.
"Terserah!" Dengan kesal Zia langsung masuk ke dalam apartemen, meninggalkan Heaven yang belum selesai bicara.
Di dalam ruang tamu, Zia mendudukkan diri di sofa sembari memejamkan mata. Berpikir seandainya ia tetap tinggal di rumah Paman Max, pasti lama kelamaan Heaven akan tahu dirinya yang sebenarnya. Apalagi dengan kepribadian Heaven yang pemaksa, Zia harus pintar-pintar mengelak jika tidak ingin membuatnya curiga.
__ADS_1
**********
Jangan lupa tinggalkan jejak ya 😇