
"Zi, lo nggak papa kan?"
Di atas brankar pasien, Zia masih memejamkan matanya. Handa mencoba membangunkan paksa gadis itu dengan menggoyangkan tubuhnya yang masih terbaring dengan beberapa luka yang sudah diobati di bagian tangan dan kakinya.
Azka yang sedang duduk di samping brankar seketika menepuk jidatnya. Datang-datang, sepupunya yang abnormal itu langsung menghebohkan seisi ruangan. Suaranya yang cempreng berhasil mengganggu beberapa pasien yang juga sedang beristirahat di sekitar sana.
"Kok bisa sih lo kecelakaan, lo nggak mati kan Zi?" celetuk Handa melihat Zia tidak kunjung membuka mata.
Azka membulatkan matanya. "Mulut lo!" tegurnya.
"Eh sorry!" Handa menyengir lebar, kemudian menepuk mulutnya yang telah bicara sembarangan. "Zi, bangun dong. Jangan bikin gue khawatir!"
Zia membuka matanya gusar, baru berapa detik memejamkan mata ia sudah kembali diganggu oleh sepupunya yang entah dari mana datangnya. "Berisik banget sih lo, Nda! Gue nggak papa!" sungutnya.
"Huaaa... gue takut lo kenapa-kenapa. Nggak kebayang gue, khawatir banget gue tadi!"
Handa bergerak memeluk tubuh Zia yang masih tiduran, ia begitu khawatir setelah menerima kabar dari Azka yang mengatakan bahwa Zia baru saja mengalami kecelakaan. Terang saja Handa yang baru sampai di rumahnya segera kembali masuk ke salam mobil, dan tanpa pikir panjang langsung menuju rumah sakit di mana Zia berada.
"Kok bisa sih lo kecelakaan?" tanya Handa penasaran.
"Gue teledor tadi!" jawab Zia sekenanya. Ia juga tidak paham mengapa bisa senekat itu. Awalnya ia hanya berjalan biasa, namun pikirannya masih kacau setelah kepergian Heaven. Hingga ia tidak sadar dengan apa yang telah dilakukannya. Beruntung saat itu Azka masih berada di sekolahnya dan melihat apa yang dilakukan Zia.
"Kok bisa sih Zi, nggak biasanya lo kayak gini?" ujar Handa.
Zia menggelengkan kepalanya, ia juga tidak paham dengan suasana hatinya sesaat setelah kepergian Heaven tadi. Bayangkan saja, gadis itu begitu senang karena merasa hubungannya dengan Heaven akan sedikit meningkat jika cowok itu benar-benar mengajaknya pergi menemui orang tuanya. Namun ternyata, semuanya berubah ketika dirinya mendapati Heaven tengah menuntun Rexie masuk ke dalam mobil, lalu meninggalkan dirinya.
Satu hal yang belum pernah Heaven lakukan pada perempuan lain, selain dirinya. Lalu siapa yang tidak kecewa? Saat itu pun Zia masih mencoba berpikir positif, namun kebohongan yang dilakukan Heaven seketika berhasil meruntuhkan pertahanannya.
Sekali lagi, Rexie berhasil muncul menjadi perenggang hubungan antara dirinya dengan seseorang yang dicintainya. Terserah jika kalian menganggap Zia terlalu lebay, karena pada kenyataannya memang itulah yang Zia rasakan saat ini. Gadis itu benar-benar tidak ingin kehilangan Heaven, hingga tanpa sadar hal itu justru membuatnya berubah menjadi perempuan yang begitu posesif. Zia sadar kini telah menyukai Heaven, karena itu ia tidak rela melihat Heaven dekat dengan perempuan lain.
"Lo nggak jadi pulang sama Kak Heaven berarti? Tumben banget, ke mana dia emangnya?"
__ADS_1
Hening, Zia tidak tahu harus menjawab apa. Mana mungkin juga Zia menjawab Heaven tengah bersama Rexie saat ini, apalagi di sampingnya masih ada Azka. Sudah dapat dipastikan saudaranya itu akan marah besar nantinya.
Gadis itu masih diam, hingga suara langkah kaki yang mendekat berhasil mengalihkan atensi ketiga orang di sana. Zia menatap bingung seseorang yang kini berdiri tidak jauh dari ranjang tempatnya duduk, begitu juga dengan Azka dan Handa yang terheran melihat kedatangan cowok itu.
"Zia!" panggil cowok itu lirih.
"Kak Danis?"
Zia masih diam di tempatnya, berbeda dengan Azka yang langsung beranjak dari duduknya. Azka tahu, cowok yang tengah menatap saudarinya kini adalah mantan pacar yang telah begitu menyakiti Zia dulu. Sebagai saudara, sudah menjadi tugas Azka menjaga Zia dari seseorang yang bisa saja hendak menyakitinya.
"Zi, aku ... mau bicara sesuatu sama kamu," ucap Danis sedikit canggung. Danis tidak tahu siapa laki-laki yang tengah memegang tangan Zia saat ini, namun dapat ia rasakan tatapannya begitu menusuk padanya.
"Mau bicara apalagi Kak, bukannya urusan kita udah selesai?" Zia mencoba bersikap tenang, karena di sampingnya tampak Azka tengah memendam amarah yang bisa meledak kapan saja.
"Bisa kita bicara berdua?" tanya Danis sambil melirik dua orang yang masih saja berdiri di samping Zia.
"Kenapa harus berdua?" Azka menyela pembicaraan, memandang Danis dengan tatapan tidak ramah. "Gue nggak masalah kalo kalian berdua mau bicara sesuatu, tapi gue nggak bisa ninggalin cewek gue yang lagi sakit."
"Sayang?" Danis mengerutkan dahinya, "Kalian berdua pacaran?" tanyanya tidak percaya.
Azka mencium puncak kepala Zia dengan sayang, membuat Zia dan Handa melotot melihat apa yang dilakukannya. Sementara Danis? Cowok itu kini tengah mengepalkan tangannya, tidak terima gadisnya dicium oleh cowok lain.
"Menurut Anda?" tanya Azka dengan senyum miring tersungging di bibirnya.
"Sayang, maaf ya. Aku nggak bisa ninggalin kamu sekarang, kamu tau kan gimana khawatirnya aku tadi?" Azka mencium punggung tangan Zia, bersikap seolah begitu mengkhawatirkan keadaan gadis itu.
Seketika Zia ingin muntah melihat akting Azka yang terlalu berlebihan menurutnya, tapi mau tidak mau Zia harus mengikuti permainan Azka kali ini. "Enggak lah sayang, mana mungkin aku berani usir kamu! Aku nggak bisa jauh-jauh dari kamu sekarang, aku takut!" ucapnya manja.
Danis semakin kesal melihat kemesraan di depan matanya, keduanya terlihat sangat serasi. Saat berpacaran dengan dirinya dulu, Zia bahkan belum sempat memanggil dirinya dengan kata sayang dan bersikap manja pada dirinya seperti yang ia lakukan pada cowok itu sekarang. Danis terpaku, seketika rasa penyesalan kembali menyeruak masuk ke dalam benaknya.
"Ekhem ... maaf, kalo begitu lebih baik aku permisi. Zia, semoga kamu bahagia dengannya," ucap Danis kemudian berlalu meninggalkan ketiga orang itu dengan rasa kecewanya.
__ADS_1
Sampai kapanpun aku tidak akan meninggalkan mu Zia, kita lihat saja nanti.
Zia masih menatap kepergian Danis, kemudian beralih menatap Azka yang sampai sekarang masih menggenggam erat tangannya. Tiba-tiba rasa jijik menghampiri dirinya, begitu juga dengan Azka yang menyadari tangannya masih menggenggam erat tangan Zia. Seketika kedua melepaskan genggaman tangannya.
"Iihhh ... hueekkk ...." Keduanya bersikap seolah mual dengan apa yang telah dilakukan tadi. Mereka memang jarang sekali akur, bahkan untuk bermesraan seperti tadi saja tidak pernah Zia dan Azka lakukan sejak dulu.
"Hahaha... lo berdua kenapa?" tanya Handa melihat kedua sepupunya saling membuang muka.
"Jijik gue," ucap Azka bergidik jijik.
"Gue apalagi, mana pake cium-cium segala lagi!" sungut Zia sambil mengusap puncak kepalanya yang telah dicium Azka sebelumnya.
"Harusnya gue yang jijik! Bukannya terimakasih, ini malah marah-marah!" kesal Azka mendudukkan dirinya.
"Ya lagian pake cium-cium segala, lo nyari kesempatan kan?" tuduh Zia.
Azka memasang wajah jijik. "Ngapain gue nyari kesempatan, kurang kerjaan banget! Daripada gue nyium lo mending gue nyium tunangan gue, eh!" Azka menutup mulutnya.
Zia terdiam menatap Azka dengan penuh selidik, begitu juga dengan Handa yang kini mulai mendekati Azka. "Wah kayaknya ada yang udah bisa terima tunangan nih!" ucap Zia.
"Serius Ka, lo udah mau terima perjodohan ini?" tanya Handa penasaran. "Kalo lo emang suka sama dia, mending buruan deh lo minta maaf. Gue kasian sama tunangan lo, dia kan cuma mau bantuin Zia waktu itu. Eh lo nya malah salah paham!" ujarnya.
Azka menatap Zia dan Handa bergantian, ia juga menyesal dengan apa yang telah dilakukannya. "Lo berdua nggak tau apa-apa, mending diem deh!" ucapnya.
"Yee bocah prik! Dikasih tau yang bener juga!"
🎀🎀🎀
Ada yang penasaran dengan tunangannya Azka? Kira-kira siapa ya? 🤔
...Sampai bertemu di cerita Heavanna selanjutnya 👋🏻...
__ADS_1