Heavanna

Heavanna
139. MENEMUI DANIS


__ADS_3

"Ngapain lo ngajakin gue ke sini?"


Di dalam cafe yang cukup sepi itu, Danis memandang dingin gadis di hadapannya. Gadis yang beberapa waktu lalu telah membohongi dirinya, hingga membuatnya harus kehilangan orang yang ternyata sangat berarti baginya.


"Gue ngajak lo ke sini, karena gue mau minta maaf sama lo," ucap Rexie.


"Minta maaf lo bilang?" tanya Danis tak percaya, setelah apa yang sudah Rexie lakukan padanya. Jika bisa dikatakan, Danis benar-benar ingin membalas perbuatannya. Namun, ia merasa kali ini bukanlah waktu yang tepat. "Gue nggak butuh permintaan maaf dari cewek murahan kayak lo!"


Danis beranjak dari duduknya, hendak pergi dari tempat itu. Ia rasa tidak ada gunanya berbicara dengan Rexie, karena itu hanya akan membuat kekesalan dan penyesalannya bertambah berkali lipat.


"Kak, please dengerin gue dulu. Kita perlu bicara sekarang, gue nggak mau terus merasa bersalah sama lo kayak gini!" Rexie mendekap tangan Danis, menahan pergerakannya yang hendak pergi.


"Lepasin tangan gue, sialan!" Danis menghempas tangan Rexie. Jika dulu dirinya sangat menyukai hal itu, sekarang itu semua tidak ada artinya lagi. "Lo itu udah bukan siapa-siapa gue lagi! Ingat itu!"


"Iya gue tau, tapi---"


"Tapi apa hah? Setelah semua penghianatan yang lo lakuin, masih berani juga lo ngomong sama gue. Emang nener kata orang-orang, lo itu cewek yang nggak tau malu!" Tatapan Danis menajam, tangannya terkepal kuat mengingat penghianatan serta kebohongan yang telah Rexie lakukan.


"Gue nggak pernah ada niat buat hianatin lo Kak, pertunangan ini terjadi karena Bokap yang atur. Gue nggak tau kalo ternyata gue udah dijodohin dari kecil atas permintaan Nyokap gue!" kata Rexie menjelaskan yang sebenarnya terjadi. Saat itu ia pun tidak menyangka akan benar-benar dijodohkan dengan Azka, cowok paling menyebalkan menurutnya.


"Gue nggak peduli! Mau lo dijodohin atau bukan yang jelas kita udah nggak ada hubungan apa-apa lagi. Setelah apa yang lo lakuin, gue sadar kalo cuma Zia yang ada di hati gue. Jadi mulai sekarang mending lo jauhin gue dan Zia, karena gue nggak akan segan beri perhitungan sama lo, kalo sampe lo macem-macem lagi!" tekan Danis sambil menunjuk wajah gadis di hadapannya.


"Kak, gue tau gue salah sama kalian berdua. Gue udah jadi penghalang di hubungan lo sama Zia, tapi yang gue lakuin ini untuk kebaikan kalian!" ucap Rexie memberi pernyataan.


"Kebaikan lo bilang? Dengan bikin Zia benci sama gue, lo bilang buat kebaikan?" Danis menggeram marah.


"Yang bikin Zia benci sama lo itu bukan gue, tapi sifat plin-plan lo. Seandainya hati lo tulus buat Zia, lo pasti nggak akan pernah tergoda sama cewek manapun termasuk gue! Dan asal lo tau, sampai kapanpun lo sama Zia nggak akan pernah bisa bersama, Kak!"


Danis mengepalkan tangannya, giginya saling menggemeretak saking geramnya. "Siapa lo berani nentuin hubungan seseorang hah? Tuhan?" tekannya.


"Percuma Kak, sekuat apapun lo berusaha buat dapetin Zia, itu semua nggak akan pernah terjadi!" balas Rexie lagi. Hanya dengan cara ini, ia berharap Danis akan berhenti mengejar Zia dan memulai hidup dengan hal-hal yang baru dengan tenang.


"Itu semua nggak akan terjadi selama masih ada lo di sini! Jadi gue peringatin sama lo, jangan pernah lagi muncul di hadapan gue ataupun Zia!" kata Danis memperingatkan.


"Jadi lo bakal tetep ngejar Zia?"


Danis yang hendak pergi, kembali menoleh pada Rexie dengan tatapan tajamnya. "Sekarang gue bukan cowok pengecut, dan sampai kapanpun gue nggak bakal pernah berhenti buat dapetin Zia kembali!"


"Meskipun Zia udah punya cowok?"


Dengan mantap, Danis mendekatkan wajahnya. "Meskipun dia udah punya cowok sekalipun!" tekannya.


"Lo mau ngapain Kak?"


"Gue bakal lakuin apapun, buat dapetin Zia kembali!" ucap Danis kemudian pergi meninggalkan tempat itu.


Rexie memejamkan matanya, sambil menjambak rambutnya kemudian mendudukkan diri. Ternyata tidak semudah itu membujuk Danis agar berhenti mengejar Zia. Jika hal ini tetap dibiarkan, ia khawatir Daddy Zion yang akan bertindak sendiri nantinya. Rexie sangat tidak ingin hal-hal buruk terjadi pada Zia, karena itu ia rela membolos sekolah demi bisa menemui Danis.


"Bagus! Bukannya sekolah, lo malah bolos demi temuin cowok sialan itu!"

__ADS_1


Beberapa menit berlalu, Rexie yang masih menutup wajahnya dengan posisi kepala menunduk seketika terpaku. Ia cukup mengenal suara siapa itu. Perlahan ia mendongakkan kepalanya, terlihat Azka tengah berdiri sambil menatap tajam dirinya. "Azka?" lirihnya.


"Kenapa? Lo kaget ada gue di sini? Lo takut ketahuan selingkuh sama mantan pacar lo hah?" Azka mengepalkan tangannya kesal.


"Ka, gue nggak selingkuh. Dengerin penjelasan gue dulu!" Rexie hendak meraih tangan Azka, namun langsung ditepis oleh cowok itu.


"Jangan sentuh gue!" ucap Azka datar. "Bukannya lo bilang terpaksa kan terima pertunangan ini? Ok kalo gitu, gue bisa bilang sama Mommy buat batalin pertunangan ini!" lanjutnya.


"Enggak Ka, lo ngomong apa sih. Kenapa malah jadi ngelantur gini?" tanya Rexie bingung.


"Bukannya lo bilang pertunangan kita bukan karena kemauan lo? Gue denger semua pembicaraan lo tadi, asal lo tau!" geram Azka.


"Tapikan emang bener pertunangan kita emang bukan kemauan gue, itu karena Bokap yang mau! Bukannya dulu lo juga nolak pertunangan ini, lo bahkan nampar gue di hari pertunangan kita!" ucap Rexie dengan polosnya.


Seketika Azka merasa tertampar, menyadari bahwa dirinya dulu lebih banyak menentang pertunangan ini. Sampai dirinya dengan tega menampar gadis yang baru berstatus sebagai tunangannya, hanya karena masalah sepele dulu. "Kenapa lo jadi ngungkit masalah itu lagi?"


"Ya kan lo dulu yang mulai!" omel Rexie sambil menggelengkan kepalanya.


"Kamu yang mulai duluan, ngapain pake bolos sekolah buat ketemu sama cowok sialan itu!" Ucapan Azka sedikit melembut, menyadari sudah banyak kesalahan yang sudah ia perbuat pada gadis itu.


"Tadi aja bilangnya lo gue!" sungut Rexie. "Makanya jangan suka marah-marah jadi orang! Dengerin dulu apa yang sebenarnya terjadi, jangan main asal nuduh!" lanjutnya.


Azka mencebikan bibir bawahnya. Melihat hal itu, Rexie segera mendekat dan memeluknya. "Aku tuh capek tau nggak berantem mulu sama kamu, cuma gara-gara hal kecil. Coba deh kamu lebih dewasa dikit."


"Maaf," ucap Azka lirih.


"Nggak mau!" jawab Rexie sambil melepaskan pelukannya.


Rexie seketika terkekeh mendengar rengekan cowok itu. Dengan segera ia menutup mulut Azka, sebelum beberapa pengunjung di sana mendengarnya. "Iya iya udah, tapi jangan berantem lagi. Capek tau!"


"Kan kamu yang ngajakin berantem mulu!" ucap Azka.


"Tuh kan mulai lagi!"


"Iya nggak, nggak jadi!" Rexie hanya menggelengkan kepalanya, membiarkan Azka berbicara semaunya.


"Duduknya sinian!" ucap Azka sembari menarik Rexie agar duduk berdekatan. "Kamu kok bisa sih ketemu sama cowok itu lagi?"


Rexie seketika menoleh pada Azka. "Kak Danis---"


"Jangan sebut nama dia!" sela Azka tidak suka.


Rexie menghela nafasnya sejenak, ia tahu Azka tidak menyukai hal itu. "Dia masih mau berusaha buat deketin Zia lagi, makanya aku harus bicara baik-baik sama dia. Kalo di diemin aja, aku takut bakal bikin hubungan Zia sama Kak Heaven renggang."


"Jadi dia masih mau deketin Zia," ucap Azka seraya berpikir. Bagaimanapun juga, sebagai saudara Azka tidak akan membiarkan Zia dalam bahaya lagi. "Urusan itu biar aku pikirin kedepannya. Kalo sampai dia macem-macem lagi, aku sendiri yang bakal bertindak!"


"Tenang aja, Kak Heaven pasti bisa kok jagain Zia," ucap Rexie.


"Kenapa kamu malah dukung dia, bukan aku?"

__ADS_1


"Ya kan Kak Heaven pacarannya!" jawab Rexie.


"Tapikan aku saudaranya!" protes Azka.


"Azka!" Rexie menangkup kedua pipi cowok itu. "Bisa nggak sih jangan ngajakin berantem mulu!"


"Nggak bisa, kan kamu yang mulai. Harusnya kamu dukung aku, bukan Heaven!" ucap Azka kesal.


"Iya iya, aku dukung kamu." Sekilas Rexie mencium bibir cowok itu agar sedikit tenang. "Tapi kan kamu juga harus jagain aku, nanti kalo fokus sama Zia terus, aku gimana?" lanjutnya sambil mengerucutkan bibir.


"Itu kan bisa diatur, aku bisa kok jagain kalian berdua!" jawab Azka sambil tersenyum sumringah, setelah mendapatkan ciuman dari gadis itu.


"Hemm iya deh!" kata Rexie sambil melepaskan wajah Azka.


"Mau lagi," ucap Azka sambil memegang tangan Rexie.


"Mau apa?"


"Yang tadi, masa cuma sekilas doang? Mau yang lama," kata Azka tersenyum girang.


"Nggak mau, banyak orang!" ucap Rexie sambil menatap kanan dan kiri. Ia juga tidak menyangka tadi akan dengan sangat mudah mengecup bibir Azka.


"Nggak keliatan juga," ucap Azka ikut mengedarkan pandangannya. "Buran Xie, mau lagi!" pintanya.


"Ck nggak mau, banyak orang Azka!" tolak Rexie.


"Berarti kalo sepi mau?"


"Nggak!"


"Ke apartemen yuk!"


"Mau ngapain?"


"Lanjutin yang tadi, nanggung Xie!" Tanpa basa-basi, Azka langsung menarik tangan Rexie untuk segera pergi meninggalkan Cafe.


"Azka pelan-pelan jalannya!"


🎀🎀🎀


Sambil menunggu Heavanna up, mampir dulu yuk ke karya keren di bawah ini.


Judul : Langit Jingga Memgubah Takdir


napen : EuRo40


Jingga yang gendut berubah menjadi cantik setelah bertemu dengan Langit. Akhirnya berniat membalas dendam pada keluarganya yang selalu menyiksa dia sejak kecil. Bahkan Kakak tirinya berusaha untuk melecehkannya. Mereka juga selalu menghinanya. Kini dia sudah cantik. Jingga juga menjadi anggota perkumpulan rahasia. hubungannya dengan Langit hanya sebagai teman walau Jingga mencintai Langit. Jingga tahu Langit adalah playboy. Langit takut dengan komitmen dan pernikahan. Sampai suatu hari Langit benar-benar merasa kehilangan Jingga. Dia berjanji tidak akan melepaskan Jingga dan akan menikahinya.


__ADS_1


...Sampai bertemu di cerita Heavanna selanjutnya 👋🏻...


__ADS_2