
"Zian, Lo dimana sekarang? Kok lama banget sih?"
Di dalam sebuah restoran, Zia beberapa kali mengedarkan pandangannya. Sudah sekitar setengah jam yang lalu ia menunggu kedatangan Azka, namun sampai sekarang cowok itu belum juga terlihat batang hidungnya.
"Sabar dulu napa sih, Na. Gue udah di depan ini, buru-buru amat!" jawab Azka dari seberang telepon.
"Buruan masuk, gue takut ketahuan sama Kak Heaven kalo kelamaan di sini!"
Itulah yang sejak tadi Zia khawatirkan. Sebelum memutuskan datang menemui Azka setelah pulang sekolah, dirinya memang tidak meminta izin atau bahkan mengatakan apapun pada Heaven. Lagipula mana mungkin juga dirinya mengatakan akan menemui saudaranya pada cowok itu.
"Ck kalo ketahuan emang kenapa? Posesif banget sih cowok lo, jadi pengen gue tenggelamin ke laut natuna!"
Dari arah pintu masuk, terlihat Azka datang bersama beberapa orang di belakangnya. Bukan, beberapa orang itu bukanlah pengawal Azka, melainkan hanya seorang pengunjung yang ingin mengunjungi restoran tersebut.
"Nggak usah macem-macem! Gue cuma nggak mau muka jelek lo itu jadi makin jelek gara-gara berantem lagi sama Kak Heaven!"
Zia memutuskan sambungan telepon, setelah melihat Azka sudah berdiri di hadapannya. Tanpa banyak bertanya, cowok itu juga melakukan hal yang sama, kemudian mendudukkan diri di kursi yang masih kosong.
"Jangan salah, kemaren itu gue cuma ngalah aja. Kalo bukan demi lo, mana mungkin gue biarin dia menang gitu aja!" tekan Azka tidak terima.
"Kalah mah kalah aja, tinggal ngaku doang apa susahnya sih. Haus banget ya lo, sama pujian?" Zia memutar bola matanya jengah.
"Wah penghinaan, jadi lo remehin kemampuan bela diri gue? Lo nggak percaya kalo gue bisa kalahin dia?" tanya Azka tidak suka.
"Bukan gue nggak percaya, Zian. Gue cuma khawatir sama lo, gue nggak mau kalo sampe lo kenapa-kenapa!" ucap Zia panjang lebar.
"Lo tenang aja, gue nggak papa kok!" Azka merogoh saku jaketnya, mengambil benda berwarna hitam berukuran kecil yang Zia minta sebelumnya. "Nih yang Lo mau!" ucapnya sambil memberikan benda tersebut.
Dengan senang hati Zia menerima benda tersebut, sebuah penyadap suara berukuran kecil itu kini sudah berada di tangannya. Zia tersenyum tipis, kemudian memasukkannya ke dalam tas sling bagnya. "Thank you!" ucapnya.
"Buat apa lo minta benda itu, lo ada masalah?" tanya Azka heran. Zia hanya menggelengkan kepalanya.
"Kalo ada apa-apa bilang aja, gue nggak mau kalo lo sampe kenapa-kenapa lagi!" lanjutnya.
"Tenang aja, gue bisa kok selesain semuanya sendiri," jawab Zia percaya diri.
"Tenang gimana? Lo itu anak manja Na, sedari kecil lo udah terbiasa hidup nyaman. Semua yang lo mau pasti langsung diturutin sama semua orang terutama Daddy!" ucap Azka menegaskan.
Zia hanya mendengus kesal, namun tidak bisa memprotes ucapannya. Karena, semua yang dikatakan Azka memang benar adanya. Sejak selamat dari penculikan waktu itu, Zia selalu mendapatkan perhatian lebih dari seluruh keluarganya. Terutama Mommy dan Daddy.
"Dan sekarang nggak ada lagi yang jagain lo selain gue, Paman Max sama Paman Jo lagi nggak ada di sini. Mereka masih di Jerman!" ucap Azka memberitahu.
"Kenapa mereka masih ada di Jerman, bukannya semua masalah udah selesai. Lo kan udah tunangan?" tanya Zia yang memang tidak terlalu banyak tahu.
__ADS_1
Azka menggeleng kecil. "Bukan karena itu, tapi karena identitas gue sebagai anak Daddy Zion mulai terbongkar. Sekarang banyak musuh dari perusahaan Daddy yang lagi mengincar gue, karena itu gue harus bisa jaga diri baik-baik di sini. Sebenarnya Daddy nyuruh gue buat tetep stay di rumah, tapi gue khawatir banget sama lo. Makanya gue terpaksa kabur ke sini sendiri buat nemuin lo," jelas Azka penjang lebar.
Zia melongo mendengar apa yang dikatakan Azka, matanya membulat sempurna serta bibirnya membentuk huruf o kecil saking terkejutnya. "Lo gila ya?" ucapnya spontan.
"Gue nggak gila, di sini gue cuma khawatir sama lo. Lagian kenapa sih lo pake pindah sekolah segala?" ucap Azka kesal.
"Buat apa lo khawatirin gue di sini, sekarang keselamatan lo itu lebih penting Azka! Lo pernah mikir nggak sih, musuh perusahaan Daddy itu ada di mana-mana. Kalo sampe mereka tau lo ada di sini, itu malah semakin bahaya buat lo!" kata Zia menjelaskan. Bukan hanya di Jerman, musuh perusahaan Daddy Zion pun ada banyak di Indonesia. Zia memegang kepalanya yang tiba-tiba terasa pening, belum selesai masalah satu kini ia sudah di terpa masalah lainnya.
"Maka dari itu, gue harus pinter-pinter jaga diri di sini. Keberadaan gue nggak boleh sampe tercium sama mereka, sebelum Daddy selesain masalah perusahaan di sana. Ah bukan cuma gue, lo juga termasuk Na. Mau bagaimanapun lo itu saudari kembar gue!" ralat Azka mengingatkan.
Zia semakin tidak mengerti dengan keadaan, ia tidak menyangka sebelumnya, kalau masalah di perusahaan Daddy akan melibatkan keselamatan dirinya dan saudara kembarnya.
"Jadi Daddy sama Mommy belum dateng ke sini?" tanya Zia sedikit kecewa. Awalnya ia begitu senang melihat kedatangan Azka, karena mengira semua anggota keluarganya juga ikut bersamanya. Namun ternyata, sekali lagi Zia harus menahan kerinduannya kepada Mommy, Daddy dan adik bungsunya Satya.
Azka menggeleng kecil, dapat ia rasakan ada kekecewaan dalam benak Zia saat ini. "Lo tenang aja, mungkin beberapa hari lagi mereka dateng buat nemuin lo!" ucapnya mencoba menenangkan.
"Zian, mending lo tinggal di mansion aja deh. Kalo di apartemen, gue takut ada yang tau keberadaan lo!" ucap Zia mengalihkan pembicaraan.
"Nggak bisa Na, justru kalo gue tinggal di mansion malah semakin banyak orang yang tau wajah ganteng gue nanti. Nggak bisa dipungkiri, mereka pasti lagi awasin mansion kita sekarang!" jawab Azka.
Zia menganggukkan kepala, sekali lagi apa yang dikatakan Azka memang benar. "Kalo gitu lo jaga diri baik-baik ya, jangan lupa hubungi gue!" ucapnya.
"Yang seharusnya ngomong gitu tuh gue!" Azka mengulurkan tangannya, mengelus puncak kepala Zia sambil tersenyum manis.
"Maksudnya?"
"Icha terlalu polos buat tau semua tentang masa lalu Papanya, Rico!" ucap Azka santai.
Setelah mendapat informasi tentang sahabat baru Zia, Azka memang langsung mencoba mendekati gadis itu. Kebetulan sekali gadis polos itu masuk ke dalam perangkapnya dengan mudah, hingga Azka tidak perlu bersusah payah mendekati gadis itu. Bukan karena apa, Azka hanya khawatir dengan Zia kala itu. Bagaimana pun juga, saat itu Azka masih tidak rela membiarkan Zia pindah sekolah seorang diri.
"Gue udah duga sebelumnya sih, makanya gue nggak terlalu pusingin tentang status Icha sebagai anak Om Rico!" ucap Zia.
"Tapi ngomong-ngomong temen lo cantik juga, lucu gitu. Polos banget anaknya!" Azka tersenyum penuh arti.
Seketika Zia mendelik tajam. "Jangan macem-macem! Lo itu udah tunangan, kalo Mommy sampe tau lo deketin cewek lain bisa digantung hidup-hidup lo!" ancam Zia.
"Ck siapa suruh jodohin gue sana nenek lampir!" decak Azka membuat Zia seketika syok.
"Nenek lampir lo bilang? Lo tuh bisa bedain nggak sih, yang mana nenek lampir dan yang mana cinderella?" geram Zia.
Mereka masih sibuk membahas tentang pertunangan Azka yang begitu dramatis, semakin lama Zia semakin tenggelam dalam candaan konyol saudaranya. Hingga beberapa menit berlalu, tanpa mereka sadari, seorang cowok tengah berjalan menghampiri keduanya dengan tangan terkepal kuat serta mata menyorot tajam.
Azka masih bercerita tentang pengalaman pertunangan yang tidak pernah ia inginkan sebelumnya, sementara Zia hanya menyimak pembicaraan cowok yang sedang dilanda kegalauan luar biasa itu. Hingga tanpa diduga....
__ADS_1
Bugh
Sebuah pukuan mendarat di pipi Azka, seketika cowok itu tersungkur berikut dengan kursi yang di duduki olehnya. Seketika Zia beranjak dari duduknya, terkejut melihat apa yang terjadi. Restoran yang awalnya ramai dengan obrolan para pengunjung, seketika hening setelah melihat kedatangan cowok dingin itu.
"GUE UDAH BILANG SAMA LO, JAUHIN CEWEK GUE BANGSAT!" bentak Heaven mencengkeram kerah baju Azka yang masih terduduk di lantai.
Bugh
Sekali lagi, sebuah pukuan mendarat di tulang pipi Azka. Heaven begitu marah, aura kegelapan tampak jelas terpancar di sekelilingnya. Azka tidak mampu berbuat apa-apa, tubuhnya terkunci di bawah kungkungan cowok yang tengah di selimuti api cemburu itu.
Bugh
"KAK STOP!" pekik Zia mencoba menghentikan apa yang dilakukan Heaven pada Azka.
Heaven sama sekali tidak peduli dengan teriakan orang di sekelilingnya, telinganya seakan menuli. Bahkan teman-teman Heaven pun tidak ada yang berani mencegah apa yang tengah dilakukan cowok itu. Atmosfer di sekelilingnya seakan menggelap, tampak jelas raut kemarahan di wajah Heaven saat ini. Zia tidak tahu apa yang harus dilakukan, Heaven masih saja memukuli Azka tanpa ampun.
Bugh
Bugh
"KAK STOP GUE MOHON!" Sekali lagi, Heaven tidak mendengarkan pekikan Zia yang kini mulai menitikkan air mata melihat keadaan Azka.
"STOP BRENGSEK!"
🎀🎀🎀
Hai pren, aku ada rekomendasi karya baru nih. Jangan lupa mampir ya! 🥰
Judul : Cinta Yang Diabaikan
Napen : mama reni
Arumi Nadya Karima, seorang wanita yang terlahir dari keluarga berada.
Hidupnya semakin sempurna saat menikahi seorang pria tampan yang bernama Gibran Erlangga.
Dua tahun pernikahannya Gibran selalu perhatian dan memanjakan dirinya. Arumi mengira dirinya wanita paling beruntung, hingga suatu hari kenyataan pahit harus ia terima.
Gibran ternyata selama ini menduakan cintanya. Perhatian yang ia berikan hanya untuk menutupi perselingkuhan. Arumi sangat kecewa dan terluka. Cintanya selama ini ternyata diabaikan Gibran. Pria itu tega menduakan dirinya.
Apakah Arumi akan bertahan atau memilih berpisah?
__ADS_1