Heavanna

Heavanna
119. KHAWATIR


__ADS_3

"Kak, ini udah malem. Bukain pintunya, gue mau pulang."


Suara lembut Zia kembali terdengar memecah keheningan, Heaven menatap gadis yang masih duduk di atas ranjang. Setelah memutuskan panggilan dengan Handa beberapa jam yang lalu, emosi dalam diri cowok itu sudah berangsur menurun. Zia kini bisa bernafas lega, meski tidak tahu apa yang sebenarnya dikatakan Handa dalam telepon sehingga berhasil menenangkan Heaven.


"Nggak usah pulang, malam ini lo tidur di sini!"


"Hah?"


"Kenapa tidur di sini?" Zia mengerutkan dahi, menatap bingung Heaven yang masih duduk di sofa.


"Lo masih dalam masa hukuman, jadi malam ini lo tidur di sini!" jelas Heaven. Ia beranjak dari duduknya, mendekati Zia yang mulai kebingungan.


"Kak Heaven mau ngapain?" tanya Zia memberingsut mundur.


"Mau ngapain lagi? Tidurlah!" Heaven naik ke atas ranjang, kemudian merebahkan diri di samping Zia.


"Ya udah, kalo gitu gue tidur di sofa aja!" Zia beranjak turun dari ranjang.


"Mau ke mana?" tanya Heaven.


Zia menoleh setelah turun dari ranjang. "Mau tidur di sofa," jawabnya pelan.


"Nggak boleh! Lo tidur di sini!"


"Tapi Kak---"


"Nggak ada tapi-tapian!"


"Nggak boleh tau tidur berduaan, kita kan belum nikah. Berduaan dalam ruangan kayak gini aja nggak boleh sama agama!" tolak Zia secara halus.


"Nggak peduli," ucap Heaven sambil memberi isyarat pada Zia untuk kembali. "Buruan sini, atau ...."


"Atau apa?"


"Ck buruan Na!" titah Heaven yang mulai terpancing emosi.


Zia menelan salivanya dengan kasar, tatapan tajam Heaven masih mengarah padanya. Bisa saja cowok itu melakukan ha yang tidak diduga jika dirinya tidak menuruti perintahnya, mau tidak mau Zia kembali naik ke atas ranjang. Dia tau Heaven tidak akan melakukan apapun, tapi tetap saja gadis itu merasa tidak nyaman jika harus tidur dalam satu ranjang bersama cowok itu.


"Tidur!"


Sesuai perintah, perlahan Zia merebahkan diri di samping Heaven. Menarik selimut hingga menutupi sebagian tubuhnya, Zia memiringkan tubuhnya ke kanan. Sampai detik ini Heaven tidak melakukan apapun meski posisinya berada dibelakang Zia, itu tandanya cowok itu tidak masalah dengan posisinya saat ini.


Gue harus gimana ini, Azka gimana ya keadaannya sekarang?


Zia mencoba memejamkan mata, namun pikirannya kembali teringat pada Azka. Terakhir ia melihat saudaranya dalam keadaan babak belur, Zia takut Azka akan mendapatkan siksaan lebih dari teman-teman Heaven di sana.


Merasa tidak nyaman, beberapa kali Zia merubah posisinya dengan mata terpejam. Miring ke kanan, telentang, lalu miring ke kiri. Semua sudah ia coba, tapi tetap saja ia belum mendapatkan ketenangan dan kenyamanan dalam tidurnya.

__ADS_1


Tanpa Zia sadari, hal itu membuat Heaven merasa terganggu. Pergerakan gadis itu menggoyangkan ranjang empuk tersebut. Heaven membuka matanya, menatap pada Zia yang masih bergerak ke sana kemari seperti cacing kepanasan.


"Kenapa?" tanya Heaven.


Zia membuka matanya, pandangannya langsung bertemu dengan mata elang milik Heaven. "Hah?"


"Lo kenapa?" ulang Heaven lembut.


"Nggak bisa tidur," jawab Zia lalu beranjak mendudukkan diri.


"Emang nggak ngantuk?" Zia menggelengkan kepalanya.


"Apa lo laper? Belum makan?" Heaven bergerak mendekat, merebahkan kepalanya di pangkuan Zia.


Zia hanya menggelengkan kepala, membiarkan Heaven tidur dalam pangkuannya. "Kak Heaven udah makan?" tanya Zia sambil mengusap lembut rambut hitam cowok itu.


"Gue ngantuk Na!" ucap Heaven sambil memejamkan matanya. "Kenapa lo susah banget dibilangin?"


"Maaf, gue nggak bermaksud gitu!" Zia termangu, tiba-tiba rasa sesal menyeruak masuk dalam benaknya. Sampai detik ini, sudah banyak sekali kebohongan yang ia katakan pada Heaven. Entah kapan ia akan jujur dengan perasaannya, dan memulai hubungan baik dengan cowok itu.


Heaven menggenggam salah satu tangan Zia, kemudian memejamkan mata menikmati usapan lembut tangan gadis itu di kepalanya. Beberapa menit kemudian, Heaven sudah terlelap dalam tidurnya. Zia masih menatap wajah damai Heaven dengan perasaan tak menentu.


Maafin gue Kak, mungkin emang belum saatnya lo tau tentang gue dan keluarga gue!


Zia masih berseteru dengan rasa sesalnya. Perasaan Heaven begitu tulus padanya, namun dirinya justru berulang kali membohongi cowok itu.


Tindakan Heaven memang sudah keterlaluan, Zia tidak bisa membenarkan hal itu. Setiap apa yang dilakukannya selalu mengandung kekerasan, padahal masih banyak cara lain yang bisa dilakukan untuk menyelesaikan masalah.


Azka!


Zia kembali teringat pada Azka, ia sangat penasaran dengan keadaan saudaranya sekarang. Perlahan ia menurunkan kepala Heaven dari pangkuannya, kemudian mencari ponselnya yang masih disita oleh Heaven. Masih belum ketemu, Zia menatap lalu mendekat pada Heaven yang masih terlelap di atas ranjang.


Maaf Kak, gue pinjem hp lo sebentar.


Zia merogoh salah satu saku celana Heaven dengan sangat halus, cowok itu bahkan tidak merasa terganggu sama sekali dalam tidurnya. Tidak lupa Zia juga mengambil kunci di dalam saku celana Heaven. Setelahnya ia membuka pintu, kemudian pergi ke ruang tengah untuk menelepon seseorang.


Cukup lama tidak ada jawaban, hingga panggilan ke dua berlangsung, barulah terdengar suara seseorang di seberang telepon.


"Halo Heav?"


"Halo Kak Ken, ini gue Zia."


"Zia, kok lo pake hp nya Heaven?"


"Hp lo kemana? Lo gimana, Heaven nggak apa-apain lo kan?" Kenzo sedikit merendahkan suaranya, menyerbu Zia dengan berbagai pertanyaan. Terdengar ada kekhawatiran berlebih dalam pertanyaan Kenzo membuat Zia sedikit terheran, tidak biasanya cowok itu bersikap seperti ini pada dirinya.


"Gue nggak papa Kak, gimana keadaan Azka sekarang? Gue khawatir banget sama dia, Azka nggak di apa-apain kan sama mereka?"

__ADS_1


"Lo tenang aja, Azka aman kok di sini! Lo nggak perlu khawatir sama dia, ada gue di sini!"


Zia menghembuskan nafas lega, jawaban itulah yang ingin ia dengar sejak tadi. Setidaknya setelah ini ia tidak perlu terlalu mengkhawatirkan keadaan Azka.


"Syukur deh, gue cuma nggak mau kalo sampe dia kenapa-kenapa."


"Yang harus dikawatirkan itu lo, Heaven nggak macem-macem kan sama lo? Gue tau dia emosian, makanya gue nggak bisa percayain lo ke dia?"


"Gue nggak papa kok, Kak Heaven nggak apa-apain gue. Udah dulu ya Kak, gue takut Kak Heaven kebangun. Gue titip Azka ke lo!"


"Tenang aja, nggak perlu lo minta juga gue pasti bakal jagain tuh anak bandel!"


Zia memutuskan sambungan telepon, ia menatap layar ponsel yang sudah mati dengan perasaan lega. Ternyata ketakutan yang ia bayangkan sejak tadi tidak benar-benar terjadi, Azka baik-baik saja di markas Clopster.


Zia membalikkan badannya hendak kembali ke kamar, namun seketika tubuhnya mematung melihat pemandangan di hadapannya. Terlihat Heaven tengah berdiri dengan tangan terkepal kuat, sorot mata tajam penuh amarah masih tertuju pada Zia.


"Segitu khawatirnya ya lo sama cowok sialan itu!" ucap Heaven dengan penuh kegeraman. "Sampai lo bela-belain telfon pake hp gue!"


"Kak, ini nggak seperti yang lo pikirin!" Zia memberingsut mundur ketika Heaven berjalan mendekat, ia sangat takut melihat wajah dingin penuh amarah itu.


"Jangan mundur Na, atau gue bakal bikin tuh cowok nyesel seumur hidup karena udah berani deketin lo!" ancam Heaven dengan suara tertahan.


Seketika Zia mematung, pandangannya menunduk menghindari kilatan amarah pada sorot mata tajam Heaven. Zia memejamkan matanya, berharap Heaven tidak melakukan apapun padanya kali ini. Heaven masih berjalan mendekat, hingga cowok itu menghentikan langkahnya tepat di hadapan Zia.


Zia yang masih memejamkan matanya tiba-tiba merasakan sengatan kecil di bagian atas lengannya. Gadis itu membuka matanya, mendongakkan kepala menatap wajah Heaven. Tidak berselang lama, pandangan gadis itu mulai kabur. Zia mulai tidak bisa menahan rasa kantuknya hingga akhirnya terjatuh dalam pelukan cowok dihadapannya.


Sorry Na, gue terpaksa lakuin ini. Seandainya sejak awal lo lebih nurut apa kata gue!


πŸŽ€πŸŽ€πŸŽ€


Yang suka tanya "Kenapa sampai sekarang belum juga ketemu orang tua Zia?" atau "Kenapa salah paham terus?" atau mungkin pertanyaan-pertanyaan lainnya.


Aku jelasin ya pren, cerita Heavanna ini memang masih panjang. Bukan maksud author mau mengulur-ulur cerita, tapi emang sedari awal nulis outline nya begitu. Author hanya menulis sesuai kerangka yang udah diserahkan. Jadi mohon bersabar ya, Author udah siapin yang terbaik buat mereka semua.


Gimana cara Zia menghadapi Heaven yang terlalu toxic dalam menjalani hubungan dan bagaimana cara Heaven menyikapi Zia yang kurang terbuka pada pasangan. Menurut kalian enaknya diapain mereka berdua? ☺️


*********


Rekomendasi karya baru, jangan lupa mampir ya guys. Ceritanya nggak kalah seru, keren deh pokoknya. πŸ˜…


Judul : Ratu Dominant Menikahi CEO Cacat


Napen : Ay Nissa


Ayreen Anatasya A'Morra harus kembali dari masa pelatihannya setelah dipanggil sang kakek. Ayree mendapati sang kakek telah terbujur kaku dengan memegang liontin ruby dengan ukiran rumit dan sebuah surat wasiat. Surat wasiat yang berisikan perintah bahwa Ayreen diminta untuk menerima perjodohan yang sudah dibuat sang kakek dengan sahabatnya. Orang tua Ayreen meninggal ketika dia berusia satu bulan. Bayi yang masih polos harus menerima kenyataan pahit itu. Tetapi ada misteri dibalik kematian orang tuanya. Ayreen tumbuh menjadi gadis luar biasa menjadi ratu yang sangat mendominasi. Keano Nataniel Wicaksana, tinggi 182cm.Memiliki temperamen luar biasa. Pria cacat yang harus duduk di korsi roda diakibatkan kecelakaan yang menimpanya.Tuan muda keluarga besar, salah satu dari 5 keluarga besar. Dia adalah pengusaha dunia bisnis dan tertampan namun misterius. Bagaimana bila sang ratu dominan disandingkan dengan Keano? Akankah Ayreen bisa menjalankan perannya dengan baik sesuai wasiat sang kakek?


__ADS_1


...Sampai bertemu di cerita Heavanna selanjutnya πŸ‘‹πŸ»...


__ADS_2