
"Makan soto kayaknya enak deh kak!"
Suara Zia kembali terdengar, memecah keheningan yang sempat terjadi. Heaven yang sedang sibuk menyetir hanya mampu menghela nafas panjang. Tidak mengerti lagi dengan Zia yang sejak tadi tengah dilanda kebingungan, memikirkan makanan apa yang sedang diinginkannya. Sejak keberangkatannya dari apartemen tadi, Zia berulangkali menyebutkan berbagai nama menu makanan enak. Hingga sudah hampir satu jam berlalu, mereka hanya sibuk mengelilingi kota untuk mencari makanan yang enak disantap ketika sore hari seperti ini.
"Apa kita makan nasi goreng aja ya, udah lama juga nggak makan nasi goreng!" ucap Zia lagi sembari menimbang-nimbang.
"Jadi sebenarnya lo mau makan apa, hm?" tanya Heaven mulai tidak sabar.
"Eum...." Zia berpikir sembari mengetukkan jari telunjuknya ke dagu, sambil menatap jalanan yang selalu ramai kendaraan seperti biasanya.
"Ck lama!" decak Heaven mulai kesal.
"Ish sabar sih!" Zia mengerucutkan bibirnya, merasa terganggu dengan Heaven yang terus saja mendesak dirinya. Tidak tahu apa, kalau saat ini Zia tengah menimbang-nimbang berbagai menu makanan favorit yang masih saling berseliweran di otaknya.
"Kebanyak mikir, nanti lama-lama biar gue aja yang makan lo sekalian!" Heaven tampak kesal sembari menghentikan laju mobilnya, karena saat ini semua mobil dan kendaraan lainnya tengah tertahan oleh lampu merah yang masih menyala di atas sana.
"Kak Heaven kok marah sih, emang salahnya di mana coba? Gue kan cuma lagi cari menu makanan yang enak," gerutu Zia.
"Ya jelas salah lah, ini udah berapa jam kita di mobil. Dari tadi kerjaannya cuma muter-muter doang buat cari warung makan yang lo mau. Lo kira ini mobil kincir angin, dibawa muter-muter mulu?"
Zia menutup telinganya yang terasa sedikit berdengung, mendengar suara Heaven yang mulai meninggi. "Lagian Kak Heaven dari tadi ditanya mau makan apa nggak jawab!" balasnya tidak kalah kesal.
"Nah yang laper kan lo, bukan gue!" Heaven yang merasa gemas langsung mencubit pipi Zia yang seperti biasa sengaja dikembungkan ketika sedang merasa kesal.
"Sakit ih!" Zia menabok tangan Heaven yang masih mencubit pipinya, hingga cubitan itu terlepas. "Kenapa sih suka banget cubit pipi gue?" tanyanya dengan kesal.
"Pipi lo empuk, makanya gue cubit!" kata Heaven gemas.
"Kenapa juga harus dicubit, sakit tau!" sungut Zia sembari mengelus pipinya yang baru saja dicubit Heaven.
"Daripada gue gigit, nanti ngamuk!" ucap Heaven sembari melajukan mobilnya kembali.
Sejak tadi pandangan cowok itu berulang kali memeriksa ke belakang, nalurinya merasa seperti ada yang sedang mengikuti. Namun Heaven tetap bersikap biasa saja seolah tidak sedang terjadi apa-apa, mencoba tenang agar tidak membuat Zia panik. Ia pun belum bisa memastikan siapa yang sebenarnya sedang mengikuti mobilnya, karena adanya para pengendara di sana yang cukup ramai.
"Ish siapa juga yang ngamuk!"
"Oh, jadi lo mau gue gigit hm?" Heaven tersenyum penuh arti.
"Eh bukan gitu, maksudnya tuh... argh pokoknya bukan itu maksud gue!" ucap Zia panik dan salah tingkah sendiri. Merasa sedikit malu, karena bisa-bisanya ia terjebak oleh kata-kata Heaven dengan gampangnya.
"Tinggal ngaku aja apa susahnya sih," ucap Heaven mulai sedikit gusar. Di belakang sana ia melihat ada sebuah mobil yang masih mengikuti mobil miliknya, bahkan ketika dirinya memutarbalikkan arah, mobil itu pun masih saja mengikuti dari belakang.
__ADS_1
"Kak Heaven kok putar balik sih?" Zia mengernyit heran, melihat Heaven secara tiba-tiba mengganti arah dengan kecepatan kian meninggi. "Kak kenapa, kok buru-buru banget?" tanyanya mulai panik.
"Sorry, kayaknya ada yang ngikutin kita. Tapi lo tenang aja, ada gue di sini!"
Heaven kembali menambah kecepatan laju mobilnya, kondisi jalanan yang padat pengendara mengharuskan dirinya mengarahkan mobil ke tempat yang lebih sepi. Di belakang sana mobil berwarna hitam itu masih saja mengikuti, bahkan tidak jarang mobil itu berusaha menyalip kecepatan mobil Heaven. Hingga pada akhirnya, Heaven yang mulai geram langsung menghentikan mobilnya di jalanan yang cukup sepi pengendara. Ia cukup penasaran siapa pengendara mobil yang sejak tadi terus mengikuti dirinya.
"Kak jangan pergi!"
Zia meraih tangan Heaven sembari menggelengkan kepala, mencegahnya yang hendak keluar dari mobil. Mobil yang sejak tadi mengikuti kini sudah berhenti tidak jauh di depan sana, tampak ada beberapa anak muda keluar dari mobil itu. Zia segera mencegah, karena tidak ingin terjadi sesuatu yang tidak diinginkan. Namun sepertinya Heaven sudah diselimuti oleh kekesalan luar biasa, hingga menghindar bukanlah hal yang cowok itu inginkan saat ini.
"Lo tenang aja, apapun yang terjadi jangan sampai lo keluar dari mobil!" titah Heaven seraya menutupi kepala Zia menggunakan jaket miliknya.
Heaven langsung keluar dari mobil, menghampiri enam anak Gorized yang sudah menunggu di depan sana. Tanpa rasa takut sedikitpun, Heaven berjalan dengan sorot mata tajam yang mampu menusuk siapa saja yang berani menghalangi pandangannya. Semua anggota Gorized kini menunjukkan seringainya, melihat target hanya datang seorang diri.
"Mau apa lo semua?" tanya Heaven dengan nada dingin namun menusuk.
"Mau kita? Gue yakin lo udah tau mau kita apa!" jawab Regha dengan santai.
"Mending lo semua pergi, gue nggak ada waktu buat ngurus sampah menjijikkan kayak kalian!" ucap Heaven kemudian membalikkan badannya hendak pergi.
"Nggak semudah itu lo pergi!"
Regha yang geram mendengar ucapan Heaven, tanpa pikir panjang langsung menyuruh teman-temannya untuk menyerang lima lawan satu cowok itu. Perkelahian tidak dapat terelakkan lagi, mau tidak mau Heaven harus menggerakkan seluruh tubuhnya untuk menghindar dan memberikan serangan pada lima orang itu. Hingga beberapa menit berlalu, Heaven sudah berhasil melumpuhkan empat dari enam orang yang ada.
Bugh
Heaven tersungkur ke depan, baru saja pukulan keras mendarat di kepalanya. Matanya terpejam merasakan sakit luar biasa, Heaven meringis sambil memegangi kepalanya yang baru saja dipukul oleh Regha. Telinganya menangkap suara tawa yang menggema keluar dari bibir Regha dan teman-temannya. Heaven yang masih berusaha menahan rasa sakit, kini mendongak untuk melihat keadaan. Tampak semua anak Gorized sudah berdiri mengelilingi dirinya yang masih tertunduk di atas aspal jalan.
"Itulah akibatnya bermain-main dengan anak Gorized!" ucap Regha dengan senyum seringai tersungging di bibirnya.
"Enaknya kita apain boss?"
"Kita abisin aja sekalian di sini!"
"Jangan, mending kita bawa dia ketempat yang lebih sepi!" sela Regha yang sudah memiliki rencana.
Heaven beranjak berdiri masih berusaha menahan rasa sakit di kepalanya, sangat pantang baginya untuk menyerah begitu saja. Tanpa aba-aba cowok itu langsung memberikan serangan pada Regha, namun itu tidak bertahan lama. Karena semua anak Gorized kini beramai-ramai menyerang dirinya, meski beberapa kali Heaven masih bisa menghalaunya.
Dari kejauhan terlihat sebuah motor sport berwarna hitam melaju cepat ke arah mereka, Heaven yang sudah kelelahan kini kembali tersungkur di tanah saat pukulan dari Regha mendarat di perutnya. Sementara semua anak Gorized seketika membubarkan diri, saat motor sport itu kian mendekat ke arah Heaven. Tanpa diduga pengendara motor sport itu berputar-putar mengelilingi Heaven, sembari mencoba mengusir semua anak Gorized yang hendak kembali menyerang Heaven.
Beberapa kali pengendara motor itu dengan sengaja mengarahkan motornya untuk menabrak para anggota Gorized, hingga Regha dan teman-temannya sempat kualahan menghindari serangan motor itu. Heaven sendiri tidak mengerti kenapa pengendara motor asing itu malah menolong dirinya, padahal ia sempat mengira motor itu akan menabrak dirinya tadi. Karena situasi semakin sulit dan cukup beresiko, Regha dan teman-temannya pun memilih untuk kembali ke dalam mobil, kemudian segera pergi meninggalkan tempat itu agar selamat dari kejaran pengendara motor gila itu.
__ADS_1
Heaven beranjak berdiri, lalu menghampiri pengendara motor yang sudah berhenti tidak jauh dari tempatnya berada. Saat sudah dekat, ia baru bisa melihat seperti apa wajah pengendara motor itu, yang ternyata adalah seorang laki-laki. Heaven sendiri tidak tahu siapa laki-laki asing di hadapannya, karena sebelumnya ia merasa belum pernah melihat wajah asing itu.
"Thanks bro!" ucap Heaven sembari mengulurkan tangannya.
Cowok itu tersenyum tipis, lalu mengulurkan tangannya menyambut tangan Heaven. "Santai aja, gue cuma nggak suka lihat orang berantem!"
"Heaven," ucap Heaven memperkenalkan diri.
"Gue Danis!" sambutnya dengan ramah.
"Kepala lo baik-baik aja?" tanya Danis yang memang sempat melihat Heaven dipukul tadi, "Gue saranin mending lo ke rumah sakit, kayaknya luka."
Heaven memegang bagian belakang kepalanya, lalu melirik tangannya yang memang terdapat noda darah. "Yeah saran yang bagus, kalau gitu gue pergi dulu."
Melihat Danis mengangguk, Heaven langsung melenggang pergi menuju mobilnya. Sebelum masuk ke dalam mobil, ia sudah lebih dulu menghapus jejak darah yang masih ada di tangannya. Heaven hanya tidak ingin Zia khawatir jika melihat dirinya terluka, meski ia sendiri masih sedikit ragu akan hal itu. Apakah mungkin Zia akan mengkhawatirkan dirinya, ketika melihat luka di kepalanya saat ini.
Heaven segera masuk ke dalam mobil, sudut matanya melihat Zia yang masih menelungkup dengan kepala tertutup jaket miliknya. Hal itu sontak membuat Heaven terkekeh, saking gemasnya melihat tingkah lucu Zia ketika sedang ketakutan seperti sekarang.
"Mau sampai kapan lo ngumpet kayak gitu?" ucap Heaven sembari menarik jaket yang menutupi seluruh tubuh Zia.
Zia mendongak perlahan, menatap ke arah Heaven yang ternyata sudah berada di sampingnya dalam keadaan baik-baik saja. "Kak Heaven nggak papa?" tanyanya.
"Menurut lo?"
Heaven tidak ingin menjawab, karena memang nyatanya ia sedang tidak dalam keadaan baik-baik saja. Pukulan balok tadi masih terasa membekas di kepalanya, namun ia mencoba menahan rasa sakit itu agar tidak ketahuan. Beruntung Zia tidak melihat perkelahian itu tadi, karena Heaven sangat tidak ingin dan tidak suka ketika melihat Zia mengkhawatirkan dirinya.
Zia sama sekali tidak menjawab, entah mengapa ia merasa Heaven sedang menyembunyikan sesuatu darinya. Saat perkelahian terjadi tadi ia memang langsung menyembunyikan seluruh tubuhnya, Zia hanya tidak ingin membuat trauma muncul di saat-saat seperti ini. Jika bisa dikatakan, Zia juga ingin merasakan hidup normal seperti manusia pada umumnya. Kehidupan penuh kenyamanan tanpa harus dihantui oleh rasa takut dan tertekan ketika melihat perkelahian.
"Kita pulang aja ya, gue lupa kalau hari ini ada urusan penting. Nanti kalau urusan gue selesai, gue bawain makan buat lo!" ucap Heaven sedikit berbohong. Sebenarnya cowok itu hendak pergi ke dokter, untuk memeriksakan kepalanya yang masih terluka. Ia tidak ingin mengambil risiko yang mungkin saja akan membahayakan tubuhnya.
Tidak ada jawaban apapun dari Zia, gadis itu kini tengah terpaku melihat sosok Danis sedang mengenakan helm lalu menjalankan motornya pergi. Entah mengapa pikirannya kembali kacau, masih tidak mengerti bagaimana bisa ada Danis di depan sana. Heaven yang heran pun segera melihat ke arah pandangan Zia tertuju, yaitu pada laki-laki yang tadi menolong dirinya.
"Lo kenal sama dia?" Heaven bertanya sembari menepuk pundak Zia.
"Hah?" Zia menoleh dengan wajah bingungnya, "Enggak, gue nggak kenal!" ucapnya bohong.
"Kak mending kita pulang aja ya, gue takut!"
*********
Ada yang penasaran mukanya Danis gak ya? 🤔
__ADS_1
Oh iya Author mau ngingetin kalo hari ini hari senin, siapa tahu masih ada sisa vote yang mau disumbangkan ke karya receh ini 😁
...Sampai bertemu di cerita Heavanna selanjutnya 👋🏻...