Heavanna

Heavanna
122. NANDA TAUBAT


__ADS_3

"Mau ke mana lo, Chin? Sini aja, duduk sama gue!"


Nanda menarik tangan Chindy hingga gadis itu kembali duduk di sampingnya, lalu menyandarkan kepala di pundaknya. Chindy? Gadis itu sebenarnya sudah malas menghadapi Nanda, namun apa boleh buat. Kepalanya sudah cukup berasap menghadapi tingkah Nanda sejak tadi. Jika melawan, mungkin itu hanya akan membuat isi kepalanya meledak seketika.


"Nggak usah sentuh barang-barang gue!" tegur Chindy melihat Nanda mulai bertingkah.


Nanda menghentikan tangannya, padahal ia hendak mengambil parfum di dalam laci meja milik Chindy. "Kenapa sih pelit banget, cuma mau pinjem doang juga!"


"Pinjem apaan? Kalo pinjem tuh cuma pegang sama liat-liatin aja, bukan pake apalagi ngabisin kayak kemarin. Dan lagi kalo minta tuh sewajarnya aja, jangan dihabisin juga. Sekali-kali tuh di pake otaknya. jangan cuma buat pajangan!" omel Chindy.


Masih membekas di hati dan pikirannya, ketika Nanda menghabiskan parfum miliknya kemarin. Memang isinya sudah berkurang, tapi bukan berarti Nanda bisa menghabiskan parfum miliknya dalam sekali pakai. Chindy pun tidak tahu bagaimana caranya Nanda bisa menghabiskan parfumnya dalam sekejap. Padahal dalam beberapa semprot saja wangi parfum itu sudah sangat menyengat.


"Anjir diungkit lagi, gue kan nggak sengaja sayang!" ucap Nanda membela diri.


"Lo tuh aneh tau nggak! Di mana-mana orang pake parfum tuh di semprot, bukan diguyur!" balas Chindy kesal setengah mati.


"Anjir diguyur! Udah kayak siraman tujuh bulanan bhahaha...." sahut salah satu siswa di sana.


Tawa beberapa siswa di kelas itu langsung pecah, mendengar perdebatan antara Nanda dan Chindy. Sudah sangat biasa bagi mereka mendengar perdebatan ini, tapi tetap saja tidak mengurangi kelucuan yang terjadi di dalamnya.


"Diem lo semua, ketawa sekali lagi gue sentil biji jakun lo!"


Nanda mengancam sambil mendelik pada semua teman-teman kelasnya. Bukannya merasa takut, justru mereka semakin tertawa mendengarnya. Termasuk Agam dan Kenzo yang masih duduk di belakang mereka. Berbeda dengan Heaven yang memilih menyibukkan diri menatap foto gadisnya yang tengah tersenyum manis. Gala? Cowok itu belum sampai di sekolah, mungkin sedang dalam perjalanan sekarang.


"Lo yang seharusnya diem, udah minggir sana ah. Balik sana ke alam lo, capek gue ngadepin lo. Nggak abis thinking gue, kok bisa sih lo habisin setengah botol parfum secepet itu?" kesal Chindy.


"Ya bisa lah, apa sih yang nggak bisa buat lo. Jangankan abisin parfum, abisin sisa hidup bersamamu aja gue mampu!" ucap Nanda merayu.


"Anjay...," sahut Agam tertawa diikuti yang lainnya.


"Gimana?" Nanda menaikturunkan alisnya, melempar senyum penuh goda pada gadis di sampingnya.


"Gimana apanya monyet, nggak jelas banget lo jadi orang!" kesal Chindy jengah.


"Otw KUA kita nanti sore," ucap Nanda.


"Naj*s, gue udah punya cowok. Lebih ganteng, lebih bening, lebih soft, lebih alim, bahkan lebih segalanya daripada lo!" ucap Chindy berbohong.


Nanda tercengang mendengar ucapan gadis itu, sedikit tidak percaya jika Chindy sudah memiliki tambatan hati. "Lo udah punya cowok?" tanyanya memastikan.


Chindy menganggukkan kepalanya, namun menghindari tatapan mata Nanda. "Iya, kenapa?"


Bukannya merasa sedih, Nanda justru dengan mudahnya tersenyum menatap Chindy. "Nggak masalah kalo lo udah punya cowok, semua bisa di atur. Lagian kalo ternyata nama gue udah tertulis di lauhul mahfudz lo, cowok lo bisa apa?" ucapnya sambil tersenyum jenaka.


"Anjay, berdamage. Bawa-bawa lauhul mahfudz, preet kayak tau aja lo isinya!" sahut Kenzo tertawa cekikikan bersama Agam dan yang lainnya.


"Ya siapa yang tau, kalo ternyata nama gue yang ada di sana!" ucap Nanda percaya diri.

__ADS_1


"Nggak usah mimpi, sampai kapanpun gue nggak akan pernah mau sama cowok playboy cap upil kayak lo. Demennya nemplok di sana-sini, nggak tau tempat!" tolak Chindy mulai kesal.


Nanda masih terlihat santai, meskipun teman-temannya kini sedang tertawa ngakak mendengar cara Chindy menolak dirinya. Hati cowok itu kini sudah kebal, setelah sering kali mendapat penolakan dari gadis itu.


"Mungkin sekarang lo bilang nggak mau sama gue, nggak suka sama gue atau bahkan benci banget sama gue. Tapi belum tentu kedepannya, bisa aja kan, lo tiba-tiba terpesona dengan ketampanan paripurna gue!" ucap Nanda percaya diri.


"Mimpi! Sampai kapanpun juga gue nggak mau sama cowok tengil, pecicilan dan nggak ada otak kayak lo!" sinis Chindy masih dalam pendirian.


"Gue bakal terus kejar lo sampe lo capek, dan milih kembali menengok ke belakang. Di mana cuma ada gue di sana, cuma gue yang siap nerima lo apa adanya!" ucap Nanda.


"Menghalu lah sesuka hatimu!" balas Chindy.


Bukannya menyerah, Nanda malah semakin tertarik menggoda Chindy. "Akan ku buka pintu hatimu dengan bismillah dan ku iringi dengan Al-Fatihah, sehingga terguncang lah Al-Zalzalah. Karena aku tahu, hatimu tidak sekeras Al-hadid melainkan selembut Ar-Rahman."


"Wahanjir tobat lo, Nan?" pekik Agam kaget serta kagum.


"Mantap, rayuan lo nggak ada tanding!" sahut yang lainnya heboh.


"Anjay berdamage! Nanda tobat, mau jadi Ustadz!"


Semua siswa di sana langsung memekik kagum mendengar ucapan Nanda sangat tidak biasa tadi, bahkan ada yang sampai menggebrag meja saking terkejutnya. Chindy hanya melongo mendengar ucapan Nanda tadi, tidak menyangka Nanda akan mengucapkan hal itu di hadapannya.


Nanda menunjukkan senyum kemenangan, merasa telah membuat Chindy terpesona setelah mendengar rayuan mautnya tadi. Dengan percaya diri ia beranjak berdiri, kemudian menyugar rambutnya di hadapan Chindy. "Kenapa, lo terpesona kan sama rayuan gue tadi? Gue bilang juga apa?" sombongnya.


"Akan ku pinang kau dengan bismillah dan ku akhiri dengan alhamdulilah. Masuk surga sama-sama kita nanti," rayu Nanda lagi.


Chindy semakin melongo mendengarnya. "Gue nonis goblok!" ucapnya.


Seketika rasa percaya diri dalam diri Nanda luntur, ia syok hingga kembali terduduk dengan wajah cengo. Bukan hanya Nanda, semua orang di sana pun ikut merasakan apa yang saat ini dirasakan Nanda. Namun itu hanya dalam beberapa saat, karena setelah menyadarinya, semua orang di sana langsung tertawa terbahak-bahak.


"Bhahaha... nggak ada gunanya lo ngerayu dia!" tawa para siswa di sana pecah.


"Bego di formalin!" sahut Heaven yang kini terkekeh melihat raut wajah Nanda.


"Makanya kalo mau rayu orang tuh liat dulu background nya hahaha...."


"Seketika Ustadz Nanda kena mental bahaha...," ucap Kenzo tertawa ngakak.


"Untung Gala belum dateng, kalo udah mampus lo kena cibiran!" kata Agam.


"Jadi lo nonis Chin?" tanya Nanda setelah beberapa menit berlalu.


Chindy menganggukkan kepala. "Makanya jangan asal ngomong jadi orang, kepedean banget sih lo! Kan gue udah pernah bilang kalo kita itu beda keyakinan!" dengusnya.


Nanda terdiam mematung, ia benar-benar kena mental menyadari dirinya dan Chindy tenyata berbeda keyakinan. Awalnya Nanda pikir beda keyakinan yang dimaksud Chindy adalah tentang perbedaan perasaan, ia menyukai Chindy namun Chindy tidak menyukai dirinya dan malah menyukai orang lain. Namun ternyata semua itu di luar dugaan, salahnya juga sih tidak bertanya lebih dulu sebelumnya.


"Aku patah hati!" Nanda memegangi dadanya, mendramatisasi. "Jika doa di shalat tahajjud ku tidak mampu mendapatkan mu, maka izinkanlah sholat jenazah ku mengiringi kepergian mu!" celetuknya.

__ADS_1


"Huss... sembarangan kalo ngomong!" tegur salah satu siswa.


Plakk


"Lo doain dia cepet meninggoy?" ucap Kenzo setelah memberikan pukulan kecil di kepala Nanda.


Nanda menyengir lebar. "Ehee nggak gitu kok!"


"Zo, peluk gue Zo!" Nanda merentangkan tangannya sambil mendekati Kenzo. "Ternyata kisah cinta gue nggak direstui sama Tuhan!"


"Jijik bangsat!" Kenzo menepis tangan Nanda yang hampir memeluknya, kemudian mendorong cowok itu hingga menjauh. "Lebay banget lo, kayak nggak punya cewek lain aja!"


"Inget Nan, hilang satu tumbuh seribu. Cewek lo itu bejibun kalo lo lupa!" ucap Agam mengingatkan.


"Iya juga ya, ngapain juga gue sendih!" ucap Nanda kemudian santai kembali.


"Anjing, punya temen gini amat ya. Playbook nya kebangetan pake banget, eh! Playboy maksud gue!" ralat Kenzo.


"Biarin, yang penting happy!" ucap Nanda menaik turunkan alis. "Hidup cuma sekali, manfaatkanlah waktu sebaik mungkin!"


Chindy yang melihatnya hanya menggeleng tidak habis pikir, begitu mudahnya Nanda berpindah ke lain hati. Itulah sebabnya ia tidak bisa menyukai Nanda dari segala sisi, lagipula sudah ada orang lain yang kini tersemat dalam hatinya. Seorang cowok yang menurutnya sangat tepat dan mampu bertanggung jawab padanya.


"Kenapa kalian?" tanya Gala yang baru sampai.


"Patah hati Gal, gue patah hati!" jawab Nanda memasang wajah sedih.


"Biasa aja mukanya, jijik gue!" Gala berjalan menuju kursinya, meletakkan tas kemudian mengambil ponselnya. "Heav, gue ada berita buat lo!"


Heaven menoleh, lalu melihat ke arah layar ponsel Gala yang menyala di hadapannya. Ia memicingkan mata, membaca berita tersebut. "Ini maksudnya ...."


"Yap bener banget!" ucap Gala. "Berita ini udah tersebar sejak beberapa hari yang lalu, tapi sempat hilang. Dan artikel ini gue dapet setelah Papa bilang ke gue buat cari informasi di mana dia sekarang!"


"Jadi Azka itu anaknya ...." Heaven menggantungkan ucapnya, setelah menyadari ada banyak siswa di sana. Bisa saja salah satu dari mereka adalah anak dari salah satu musuh keluarga Azka, dan jelas itu akan membahayakan hidup Azka atau bahkan dirinya yang memang mengetahui keberadaan Azka saat ini.


Jadi Azka itu anaknya Om Zielinski, pemilik perusahaan ZIE Group?


🎀🎀🎀


Kisah cinta Nanda dan Chindy berakhir di perbedaan keyakinan. It's ok, cinta nggak harus memiliki ya Nanda. Jadi ikhlaskan saja, biarkan Chindy bahagia bersama jodohnya. 😂🤭


Sambil menunggu Heavanna up, mampir dulu yuk ke karya keren milik temanku. Jangan lupa mampir ya 🥰


Judul : Apa Salahku Tuan?


Napen : muda Anna


Ningtiyas Paramitha adalah gadis 18 tahun yang baru lulus SMK jurusan tata busana. Dia harus menerima takdir dinikahkan siri dengan paksa oleh ayahnya dengan lelaki dewasa berumur 30 tahun dan telah memiliki istri bernama Alfarizi Zulkarnain. Kontrak nikah selama lima bulan tetapi Neng selalu mengalami kekerasan baik lahir maupun batin. perlakuan suami sirinya yang selalu melampiaskan kekesalannya akibat kesalahan istri sahnya. Setelah empat bulan berlalu Al meninggalkan Neng begitu saja, tanpa disadari Al meninggalkan benih janin di kandungan Neng. Akhirnya Neng meninggalkan desanya yang selama ini menjadi kebanggaannya. Pergi ke Jakarta untuk merubah nasib dan menyongsong masa depan yang lebih baik bersama janin yang dalam kandungan. Sayangnya takdir pertemukan mereka kembali setelah delapan tahun berlalu. Dengan situasi yang berbeda, apakah mereka akan bersatu kembali setelah Al mengetahui memiliki keturunan. Apakah Neng menerima cinta Al?

__ADS_1



...Sampai bertemu di cerita Heavanna selanjutnya 👋🏻...


__ADS_2