
Bel pulang sekolah sudah berbunyi, Zia berjalan dengan tidak bersemangat keluar dari kelas bersama kedua sahabatnya. Sejak hukuman selesai tadi ia terus memperhatikan Handa yang sedikit bersikap aneh, sepupunya yang biasanya banyak bicara kini hanya diam membisu nampak tidak bersemangat. Ia cukup penasaran dengan apa yang sebenarnya terjadi, namun saat ditanya, Handa hanya menggeleng sambil mengatakan bahwa dirinya baik-baik saja.
"Nda, lo beneran nggak papa?" tanya Zia untuk kesekian kalinya. Merasa sedikit aneh, karena beberapa kali ia sempat menangkap raut kesakitan di wajah Handa. Gadis itu memang cukup pandai mengatur mimik wajahnya, namun itu tidak memungkiri bahwa Zia bisa melihat perubahan di wajah itu meski hanya sekilas.
"Gue nggak papa Zia, lo kenapa sih nanya mulu? Kayak wartawan aja!" ujar Handa bosan mendengar pertanyaan sepupunya.
"Apa? Zia pengen jadi wartawan?" tanya Icha heboh. Gadis itu memang sebelumnya tidak mendengar dengan jelas ucapan Handa, karena sedang sibuk bertukar pesan singkat dengan teman virtualnya. Siapa lagi kalau bukan Azka.
"Kok sama sih? Icha juga cita-citanya pengen jadi wartawan, biar bisa ketemu sama artis. Siapa tahu Icha bisa ketemu Selena," ucap Icha menggebu.
"Apa sih Cha, nggak nyambung banget lo?" Handa menggeleng tidak habis pikir, "Daripada lo cuma jadi wartawan, mending lo nyanyi biar bisa saingan sama Selena!" sarannya.
"Ish tapi Icha nggak mau saingan sama Selena!" Icha mencebikan bibir bawahnya.
"Kenapa emangnya?" tanya Zia heran.
"Penghinaan dong buat Selena!" jawab Handa menggebu seolah tidak terima, "Suara Icha kan merdu, merusak dunia!"
"Ish biarin, yang penting cantik wlee...." Icha menjulurkan lidahnya, kesal dengan ejekan Handa yang terlalu jujur. Padahal selama ini ia selalu menyangkal sambil terus meyakinkan diri jika suaranya itu bagus, tidak seperti yang Handa katakan.
"Nggak usah dengerin Handa, suara lo bagus kok Cha!" ucap Zia membela. Memang benar, suara Icha sebenarnya cukup bagus dan enak didengar. Meski tidak bisa juga disamakan dengan penyanyi papan atas, tapi setidaknya suara gadis itu masih enak didengar.
Sampai diparkiran suasana sudah mulai menyepi, banyaknya kendaraan yang biasanya memenuhi area parkir kini sudah mulai berkurang. Ada beberapa siswa yang masih nongkrong di sekitar sana, mungkin sedang menunggu sahabatnya yang belum keluar dari kelas. Icha langsung mengambil motornya dibantu oleh satpam sekolah, karena motornya masih terparkir di bagian dalam.
"Handa, Zia, Icha pulang dulu ya!" pamitnya setelah memakai helm dan menyalakan motor. Zia dan Handa hanya mengangguk, masih memandang Icha yang kini sudah melajukankan motornya keluar dari area sekolah.
"Mau pulang bareng gue?" tawar Handa. Sejak kecelakaan yang terjadi waktu itu, Handa memang sudah diperbolehkan membawa mobil sendiri oleh orangtuanya. Hal itu cukup membuatnya senang, karena setelah sekian lama berusaha dengan bujukan dan rayuan, akhirnya ia mendapatkan izin dari sang Ayah.
Zia mengedarkan pandangannya, mencari keberadaan Heaven yang belum juga muncul sejak tadi. Hingga akhirnya terbesit rencana untuk kabur bersama Handa sekarang, Zia tersenyum penuh misteri. "Boleh ayok, dari tadi Kak Heaven juga belum dateng!"
__ADS_1
Handa menganggukkan kepalanya, kemudian berjalan mengarahkan Zia menuju mobilnya. Namun belum sempat mereka sampai di mobil, sebuah tangan lebih dulu menarik kerah bagian belakang milih Zia. Gadis itu tersentak, kemudian menoleh untuk melihat siapa yang berani menarik kerah bajunya. Seketika cengiran bodoh tersungging di bibir, saat pandangannya bertemu sorot mata elang Heaven.
"Mau ke mana?"
Zia menghela nafas berat, gagal sudah dirinya kabur dari cengkeraman cowok dingin satu ini. "Nggak ke mana-mana kok!" jawabnya dengan bibir mencebik.
Handa hanya mampu menggeleng melihat Heaven yang begitu posesif pada Zia. Tidak pernah menyangka sebelumnya kalau cowok dingin dan tak tersentuh seperti Heaven mampu bersikap sebucin ini pada seorang gadis yang tidak lain adalah sepupunya sendiri. Dari arah belakang ia melihat siluet Agam tengah berjalan mendekat bersama Nanda dan Kenzo, pandangan mereka sempat bertemu, namun dengan segera Handa memutuskannya karena masih sangat kesal dengan bentakan Agam sebelumnya.
"Pulang bareng gue!" Heaven yang masih memegang kerah belakang baju Zia, langsung menariknya menuju mobil.
"Kak lepasin ih, emangnya gue kucing apa ditarik gini?" Zia mengerucutkan bibirnya kesal, meraih tangan Heaven yang masih menarik kerah bajunya.
Nanda menghela nafas, merasa kasihan pada Zia yang bernasib sial harus memiliki pasangan seperti Heaven. Bukan seperti dirinya yang sangat penyayang dan pengertian. "Pelan-pelan bos, kasian anak orang!" tegurnya.
"Bacot!" Sekilas Heaven melirik tajam, kemudian tangannya beralih menjewer pipi Zia sambil berjalan menuju mobilnya.
"Agam!" panggil Dela yang baru saja datang. Gadis itu berhenti tepat di depan Agam dengan nafas terengah, tangannya memegangi kening yang masih di perban akibat pertengkaran dengan Handa sebelumnya.
"Gue nebeng lo ya, supir gue nggak bisa jemput. Kepala gue juga udah pusing banget!" ucap Dela sembari memegang keningnya yang masih terasa sakit.
"Bukannya biasanya lo pulang bareng Angel, Del?" tanya Nanda menyela.
"Eum Angel sama Sarah mau shopping dulu katanya, gue nggak bisa ikut. Gue nggak mau ngerepotin mereka nantinya, boleh kan Gam?" tanya Dela dengan air muka memohon.
Agam hanya diam saja, bingung antara menyetujui atau tidak. Cowok itu melirik Handa yang hanya diam saja, menatap ke arah lain seolah tidak peduli dengan dirinya. Ia kembali menatap pada Dela yang masih saja menunggu jawaban darinya. "Sorry Del, gue-"
"Aw sshhh...." Dela merintih kesakitan sambil memegangi keningnya, bersamaan dengan itu tubuhnya yang lemas hampir terhuyung ke belakang. Jika saja tidak ada Agam yang membantu memegangi, mungkin gadis itu sudah terjatuh dan mendarat di tanah saat ini.
"Del, lo nggak papa?" Agam masih memegang kedua bahu gadis yang sedang sangat lemas itu, sementara Dela hanya mampu menggeleng lemah.
__ADS_1
"Guys, gue mau anterin Dela dulu!" pamitnya pada kedua sahabatnya.
Agam dan Dela berjalan melewati Handa yang tengah berdiri dalam diam memandangi pepohonan di sekitar sana. Tanpa sepengetahuan siapapun, sekilas Handa melirik pada Dela yang tengah tersenyum tipis padanya. Ah ingin sekali Handa mencabik-cabik wajah gadis itu, agar hanya punya satu wajah saja. Memang benar kata orang, memiliki dua wajah memang sangat berbahaya apalagi ketika di pakai secara bersamaan.
"Handa, ngelamun aja. Kesambet baru tau rasa lo!" ucap Nanda menyadarkan.
"Kalau masih suka kejar, jangan diem aja kayak orang bego!" ucap Nanda sekedar menyarankan.
Handa hanya diam saja, masih tenggelam dalam lamunannya. Ingin sekali ia berada dalam posisi Dela saat ini, bisa berjalan berdampingan dengan Agam menuju motornya. Handa menarik nafas dalam mencoba menguatkan diri, mau bagaimana pun sekarang ia tidak memiliki hubungan apapun dengan Agam. Mungkin memang sudah saatnya ia melupakan mantan pacarnya, karena tidak mungkin selamanya ia akan berada di tempat yang sama.
"Woy malah bengong!" Tangan Nanda bergerak memukul pelan punggung Handa, namun yang terjadi setelahnya malah membuat tiga cowok yang masih tersisa di sana terkejut.
"Aw sshh... sakit!" Handa meringis sambil memegangi tengkuknya yang masih terasa perih, ditambah dengan pukulan kecil dari Nanda tadi malah semakin membuatnya kesakitan.
"Lo kenapa Nda? Gue mukulnya kekencangan ya?" Nanda terkejut melihat Handa tengah memejamkan mata seperti menahan rasa sakit. Saat hendak memeriksa, tanpa diduga Gala sudah lebih dulu menyingkap rambut panjang Handa tanpa permisi.
"Lo luka!" ucap Gala melihat ceruk leher Handa yang mengeluarkan darah.
Handa yang terkejut langsung menutup mulut Gala, ia tidak ingin ada siapapun yang tahu. Luka itu didapat saat pertengkarannya dengan Angel dan kedua sahabatnya tadi. Handa juga tidak menyangka kalau ternyata Dela memiliki kuku yang sangat tajam hingga mampu menggores ceruk lehernya. Tapi ia masih sedikit curiga, bagaimana bisa kuku yang panjangnya tidak seberapa itu mampu menyebabkan luka cukup dalam. Apa mungkin saat itu Dela memang sedang membawa senjata tajam? Entahlah, tidak ada yang tahu kecuali Dela sendiri.
"Ssttt... jangan berisik, gue nggak mau ada yang denger!" ucap Handa masih menutup mulut Gala. Ia mengedarkan pandangannya melihat ke sekeliling, nampak Zia masih berada di samping mobil sedang berdebat dengan Heaven. Kemudian dari belakang, terlihat motor Agam melintas tidak jauh dari tempat mereka berada.
"Nggak usah pegang-pegang!" Gala menyingkirkan tangan Handa sampai menjauh.
"Luka lo kayaknya dalem Nda, mending lo obati dulu deh. Takut infeksi!" saran Kenzo.
Belum sempat Handa menjawab, Gala sudah lebih dulu menarik gadis itu pergi. Meninggalkan Nanda dan Kenzo yang kini berdiri dalam keadaan cengo melihat apa yang dilakukan Gala. Aneh sekali rasanya karena tidak biasanya cowok itu mau memegang tangan seorang cewek, terakhir kali yang mereka lihat adalah Icha. Dan kini cowok datar itu sudah berani menggandeng perempuan lain, wah itu sangat mengejutkan menurut mereka.
*********
__ADS_1
...Sampai bertemu lagi di cerita Heavanna selanjutnya 👋🏻...