Heavanna

Heavanna
54. DEMI ZIANNA


__ADS_3

Zianna?


Tanpa basa-basi Heaven langsung mengurangi kecepatan motornya, mengarahkan motor untuk mendekati gadis yang masih berjalan dengan langkah berat di pinggir jalan. Tidak peduli lagi dengan balapan yang sedang diikutinya saat ini, karena baginya Zia lebih penting dari itu semua. Heaven menghentikan motornya, melepaskan helm lalu turun dari motor dengan terburu-buru.


"Hey!"


Heaven melangkah dengan cepat mengejar Zia yang masih berjalan luntang-lantung tidak jelas, keadaannya sudah sangat berantakan. Dilihat dari belakang bajunya begitu lusuh seperti tidak di setrika, itu pun hanya memakai kaos berlengan pendek. Rambutnya dibiarkan tergerai berantakan dan jangan lupakan sandal jepit berwarna biru yang sangat mendukung penampilannya saat ini. Saat sudah semakin dekat Heaven segera meraih tangan gadis yang nampaknya sudah sangat kelelahan itu.


"Ngapain lo malem-malem di sini?" tanya Heaven. Menarik Zia untuk menghadap ke arahnya, dan betapa terkejutnya ia melihat wajah Zia yang sudah sembab di banjiri oleh air mata.


Zia yang sedang menangis sama sekali tidak terkejut melihat Heaven yang tiba-tiba menarik tangannya, pikirannya sedang sangat kacau hingga membuatnya tidak bisa memikirkan dirinya sendiri. "Kak Heaven hiks...," tangisnya.


"Lo kenapa nangis di pinggir jalan malem-malem gini hm?" Heaven yang tadinya ingin marah, langsung mengurungkan niatnya setelah melihat keadaan Zia yang teramat sangat kacau.


"Hiks... cap-pek hiks...." Zia merosot kebawah, mendudukkan diri di pinggiran aspal masih dengan tangisnya. Kedua kakinya sudah sangat lemas, hingga rasanya seperti akan lepas dari bagian tubuhnya.


"Jangan nangis!" Melihat tingkah Zia yang seperti itu, Heaven jadi bingung sendiri harus melakukan apa. Cowok itu ikut berjongkok, mencoba mencari tahu apa yang sebenarnya terjadi.


"Lo kenapa, ada yang gangguin lo?" Heaven mengusap air mata yang membasahi wajah itu, ia sangat tidak suka melihat Zia menangis seperti ini. "Bilang sama gue, jangan nangis kayak gini!"


"Hiks... capek hiks...."


"Ngomong yang bener Anna! Jangan nangis kayak anak kecil gini bisa nggak sih?" Heaven yang sudah tidak sabar mulai meninggikan suaranya, mendengar tangisan itu malah membuatnya frustasi sendiri.


"Kak Heaven kok marah-marah sih? Kalau nggak suka ya udah pergi aja sana!" kesal Zia. Menepis tangan Heaven, lalu kembali menangis sambil mengedarkan pandangannya seperti mencari sesuatu.


Heaven menahan nafas sejenak, memejamkan mata dan mengepalkan tangan mengendalikan amarahnya. Menghadapi Zia kali ini membutuhkan lebih banyak bersabar, jika tidak gadis itu mungkin tidak akan mau diajak pulang nantinya. "Gue nggak marah, lo kenapa bilang sama gue?" tanyanya sedikit merendahkan suara.


"Hiks Jaka, Jaka hilang huaa...." Air mata Zia kembali bercucuran. Sudah sekitar tiga jam lebih gadis itu berkeliling mencari keberadaan kucing kesayangannya itu, namun belum juga di temukan. Zia menyesal telah mengabaikan Jaka saat jalan-jalan tadi sore karena terlalu sibuk menikmati es krim yang dibelinya saat berada di taman, alhasil kucing itu kini hilang entah kemana.


Pandangan Heaven menyorot tajam mendengar Zia menyebut nama seorang laki-laki, terlebih lagi gadis itu menangis seolah merasa sangat kehilangan. Jika itu dirinya, apakah mungkin gadis itu akan menangis seperti sekarang ini? Heaven tidak yakin akan hal itu. Memikirkan hal itu malah membuatnya semakin kesal, hingga tanpa sadar ia sudah mencengkram kedua tangan Zia dengan erat. "Siapa Jaka? Pacar lo, lo selingkuh di belakang gue?" tanyanya geram.


"Kak sakit tangan gue, hiks...." Zia merintih masih dengan tangisannya, tubuhnya sudah cukup lelah dan kini harus merasakan sakit karena ulah Heaven yang mencengkram tangannya dengan begitu kuat.

__ADS_1


"JAWAB ANNA, LO DEKETIN COWOK LAIN DI BELAKANG GUE?" bentaknya menatap tajam.


Mendengar pertanyaan Heaven, Zia yang sedang khawatir seketika berubah menjadi kesal. Cowok itu membentak dirinya, meskipun tahu bahwa dirinya sedang menangis sekalipun. Zia menatap Heaven tidak percaya, cairan bening kembali menggenang di pelupuk matanya ketika melihat tatapan tajam penuh kemarahan itu.


"Huaaa Kak Heaven jahat, ngeselin. Nggak suka!" Zia mendorong tubuh Heaven dengan kasar, hingga membuatnya tersungkur ke belakang. Masih dengan tangisannya gadis itu beranjak berdiri hendak meninggalkan Heaven yang sedang sangat sangat sangat menyebalkan menurutnya. Bukannya membantu dirinya mencari keberadaan Jaka, Heaven malah sibuk marah-marah tidak jelas.


Heaven yang terkejut sempat mematung sejenak mengontrol emosi, masih memahami kenyataan bahwa Zia ternyata lebih memilih seseorang bernama Jaka itu di bandingkan dirinya. Namun tidak semudah itu Heaven menyerah. Menyadari sudah tertinggal cukup jauh, ia langsung berlari mendekat kemudian menghentikan langkah Zia. Membalikkan tubuh gadis itu dengan kasar, lalu dengan cepat menggendong tubuh kecil itu layaknya karung beras, kemudian berjalan menuju motornya.


"Kak Heaven turunin!"


Zia yang terkejut langsung memukuli punggung Heaven berulang kali, mencoba memberontak agar cowok itu mau melepaskan dirinya. Namun Heaven sama sekali tidak peduli dengan pukulan kecil itu, perasaan marah masih menyelimuti hatinya. Heaven mungkin akan benar-benar membunuh seseorang bernama Jaka itu, karena telah berani membuat Zia berkeliaran malam-malam begini. Sampai di samping motornya, Heaven menurunkan tubuh itu lalu menatapnya dengan sorot mata tajam.


"Lepasin, sakit!" Zia berusaha melepaskan tangan Heaven yang masih mencengkram erat pergelangan tangannya. Tangannya sampai memukul dada bidang Heaven karena saking sulitnya melepaskan diri. Cengkraman tangan itu rasanya benar-benar sakit, sampai Zia kembali menitikkan air mata hanya untuk menahannya.


"Lo mau ke mana!" tanya Heaven sembari menahan pergerakan gadis itu.


Karena tidak kunjung dilepaskan, Zia balik menatap tak kalah tajam kearah Heaven. Gadis itu ingin segera lepas dari cengkeraman itu. Heaven semakin mengeratkan cengkramannya melihat Zia sudah semakin berani menentang dirinya. Namun itu hanya sesaat, karena sekilas ia menyadari semburat kesakitan di wajah gadis itu. Sampai saat di mana Heaven mulai merenggangkan cengkramannya, Zia langsung menepis tangan itu dengan kasar.


"Mau cari Jaka!" jawabnya ketus. Zia mulai menyadari jika saat ini Heaven sedang sangat marah, dapat ditebak dari nama panggilan yang diucapkan Heaven tadi. "Kak Heaven kalau mau pulang ya udah pulang aja. Gue mau cari Jaka, nggak mau Jaka kenapa-kenapa."


Dengan cepat Zia membalikkan badan, kemudian berlari pergi hendak mencari Jaka lagi. Entah mengapa ada sedikit rasa tidak suka saat cowok itu memanggil dirinya dengan nama Zia, bukan Anna seperti biasanya. Mungkinkah ia sudah terlanjur nyaman dengan panggilan itu sekarang? Ah mana mungkin. Heaven yang tidak mau terjadi sesuatu pada Zia segera berlari mengejar, kemudian menahan pergerakannya.


"Nggak boleh, pulang sekarang!" Heaven menarik tangan Zia, hendak membawanya pergi dari tempat yang cukup sepi itu. Namun terhenti karena Zia enggan pulang sebelum menemukan Jaka.


"Nggak mau, mau cari Jaka!"


"F*ck f*ck f*ck!" Heaven mengacak rambutnya frustasi, berulang kali Zia mengucapkan nama cowok lain dengan bibirnya. Zia tidak tahu apa, kalau Heaven saat ini sedang menahan rasa cemburunya. "Ngapain dicari, emangnya dia kucing apa? Kalau hilang musti dicari kayak gini!" kesalnya.


"Kan emang kucing!" ucap Zia sembari menyedot ingusnya yang terasa mau keluar.


"Hah?"


"Jaka kan emang kucing!" jawab Zia setengah kesal, "Kak Heaven kalau nggak mau cari ya udah pergi aja, jangan ganggu!" usirnya.

__ADS_1


Gadi itu sudah sangat lelah mencari Jaka, terlebih lagi sejak tadi dirinya belum sempat makan malam. Karena itu suasana hatinya tidak bisa diajak berkerjasama, seandainya ada sedikit kesempatan rasanya ia ingin marah-marah sekarang juga. Sebenarnya Paman Jo sudah menyuruh Zia untuk pulang, agar para pengawal saja yang mencari keberadaan Jaka. Namun Zia tetap bersikukuh ingin mencarinya sendiri, karena menurutnya para pengawal tidak tahu seperti apa rupa Jaka miliknya.


Heaven terperangah tidak percaya, ternyata sejak tadi Zia sedang membicarakan seekor kucing, bukan seorang laki-laki. Masih tidak habis pikir kenapa Zia harus memanggil kucing itu dengan nama Jaka, yang tentu saja itu membuatnya salah paham seperti sekarang. Hanya untuk seekor kucing saja Zia rela mencarinya hingga sampai malam seperti ini, dan itupun hanya seorang diri. Sebegitu sayangnya Zia pada kucing bernama Jaka itu.


"Jadi Jaka itu kucing?" tanya Heaven yang langsung mendapat anggukan dari Zia, "Kenapa nggak bilang dari tadi?" tanyanya dengan gemas.


"Gimana mau bilang, belum apa-apa aja Kak Heaven udah marah-marah nggak jelas!" ucap Zia masih sedikit sesenggukan. Hidungnya beberapa kali menyedot ingusnya yang memaksa untuk keluar dari kandang, akibat kebanyakan menangis sejak tadi.


"Jaka...." Zia kembali mengedarkan pandangannya, mencoba mencari Jaka yang mungkin saja tersangkut di sekitar sana.


"Nggak usah nangis, jelek!" ucap Heaven melihat Zia hendak menangis lagi. Cowok itu menarik ujung jaketnya lalu mendekatkannya pada wajah Zia.


"Mau ngapain?" tanya Zia melihat apa yang sedang dilakukan Heaven.


"Buang tuh ingus, jorok banget sih udah gede juga masih ingusan!" cibir Heaven. Namun cowok itu tetap mendekatkan ujung jaketnya, meminta Zia untuk mengeluarkan ingusnya sendiri.


"Nggak papa?" Zia mengerjap polos, jujur saja ia pun merasa risih dengan ingus yang masih bersarang di hidungnya. Tapi Zia tidak ingin membuangnya sembarangan, apalagi saat ini ada Heaven di dekatnya.


"Nggak usah banyak nanya, cepet!" titah Heaven tanpa mau di bantah.


"Ish galak banget sih jadi cowok!"


Cewek itu menarik sedikit lebih banyak jaket Heaven agar memudahkannya membuang ingus, tidak peduli lagi dengan rasa malunya. Lagipula Heaven sendiri yang menyuruhnya melakukan itu, bukan menyuruh sih tapi lebih ke memaksa jika dilihat dari tatapan elang Heaven. Seperti biasa tatapannya kini seperti sedang menahan marah, mungkin karena mendapati Zia sedang berkeliaran di jalanan malam-malam seperti ini.


Sroottt...


Dalam satu kali hembusan penuh tenaga, Zia berhasil memindahkan semua ingusnya ke bagian dalam jaket milik Heaven. Gadis itu tiba-tiba terpaku, rasa malu mendadak menghampiri setelah melakukan hal tersebut. Sudut matanya melirik pada Heaven yang ternyata masih menatap dirinya, bahkan wajah cowok itu seakan tidak merasa jijik sama sekali. Apa Heaven hanya sedang menyembunyikan rasa jijiknya? Namun Zia tidak melihat adanya semburat kebohongan di mata itu.


*********


Pernah ngerasain gasih hewan kesayangan hilang? Ya kurang lebih kayak Zia tadi lah😭 Wkwkwk... sampai rela hujan-hujanan sambil ngetengin makanan, khawatir bosnya laper πŸ˜‚


...Sampai bertemu di cerita Heavanna selanjutnya πŸ‘‹πŸ»...

__ADS_1


__ADS_2