
"Udah?"
Zia hanya mengangguk menjawab pertanyaan Heaven, melepaskan jaket itu lalu mengalihkan pandangannya menutupi rasa malu. Bisa-bisanya dengan ceroboh ia membuang ingus pada jaket cowok di hadapannya kini, argh... betapa malunya Zia saat ini.
"Ya udah ayo pulang!" Heaven menggenggam tangan Zia yang terasa dingin, karena terkena terpaan angin malam yang cukup kencang. Akan lebih baik untuk segera mengantarkannya pulang, sebelum gadisnya itu malah menjadi sakit. Tidak, Heaven tidak ingin sampai itu terjadi.
Zia yang tidak ingin pulang sebelum menemukan Jaka langsung menahan pergerakan, menghentikan apa yang akan dilakukan Heaven. "Nggak mau pulang!" ucapnya.
"Terus mau ngapain hm?"
"Mau cari Jaka!" Zia mencebikan bibir bawahnya, menahan air matanya yang memaksa keluar lagi.
Meskipun baru beberapa minggu ini mengadopsi Jaka, tapi Zia benar-benar sangat menyayangi kucing itu. Apalagi Jaka masih sangat kecil, Zia semakin merasa khawatir tidak ingin terjadi apa-apa padanya. Meski tidak semua orang melakukannya, tapi tidak bisa di pungkiri masih banyak orang di luaran sana yang bisa saja melukai kucingnya.
"Udah malem Anna, besok lagi aja!" ujar Heaven memperingatkan, "Liat tuh badan lo udah kusut gitu!"
"Ih kok kusut sih," kesal Zia tidak terima. "Pokoknya nggak mau pulang kalau Jaka belum ketemu!" ucapnya tanpa mau di bantah.
"Nggak usah ngebantah, gue bilang pulang ya pulang!" Mendelik tajam, Heaven hanya tidak ingin Zia kenapa-kenapa. Saat ini waktu sudah menunjukkan pukul sepuluh malam, akan sangat berbahaya jika gadis itu masih berkeliaran di sekitar tempat itu. Apalagi banyak musuh Heaven yang juga masih berkeliaran di sekitar sana.
"Nggak mau! Mau cari Jaka, nanti kalau dia kenapa-kenapa gimana?"
Heaven mengacak rambutnya frustasi sekaligus geram, kenapa gadisnya ini selalu saja membantah perintahnya. "Gue cariin sampai ketemu, tapi lo harus pulang sekarang!"
Baru jadi kucing aja udah nyusahin. Jadi penasaran gue, kayak apa bentuknya. Awas aja kalo ketemu, gue geprek lo sampai gepeng, Joko sialan!.
Tanpa mau di bantah, Heaven menarik Zia menuju motornya yang berada di pinggir jalan jauh di depan sana. Tidak peduli dengan Zia yang terus meronta sambil mengomel tidak ingin pulang. Saat hendak mengambil helm, sayup-sayup terdengar dering ponsel di dalam saku jaketnya. Heaven mengambil ponselnya, lalu menggeser icon hijau setelah melihat siapa yang menelepon.
"Apaan?" tanya Heaven tanpa basa-basi.
"Lo di mana bos, kok nggak balik-balik! Lo baik-baik aja kan? Taruhannya gimana?"
Heaven menepuk jidatnya teringat dengan balap motor yang dilakukannya tadi, bisa-bisanya ia lupa telah membuat kesepakatan taruhan motor sebelumnya. "Ck lo ke sini deh, ambil tuh motor gue. Abis itu lo semua harus bantuin gue!"
"Jadi... lo kalah nih bos?" tanya Nanda dengan ragu.
"Gue ada urusan penting, buruan!"
Heaven memutuskan panggilan, lalu mengirimkan lokasi di mana tempatnya berada saat ini pada Nanda. Setelahnya ia memerintahkan bawahannya untuk segera mengantarkan mobil, agar bisa mengantarkan Zia pulang nanti.
"Kenapa Kak?" tanya Zia. Sedikit penasaran melihat Heaven yang sepertinya sedang ada masalah.
Heaven menatap Zia yang sedang memasang air muka penasaran berdiri di sampingnya, jangan sampai gadis itu tahu apa yang sedang terjadi. Rasanya pasti akan sangat canggung jika sampai Zia tahu kalau Heaven baru saja kalah dari balapan, hanya untuk menghampirinya.
"Nggak papa!" jawabnya singkat.
Selang beberapa menit berlalu, terlihat Nanda datang bersama Gala menggunakan satu motor. Nanda sebagai penumpang sementara Gala sebagai pengendara. Mereka sengaja menggunakan satu motor, agar salah satunya bisa membawa motor Heaven nanti.
__ADS_1
"Heav, lo nggak papa kan?" tanya Gala sedikit khawatir. Karena tidak biasanya Heaven meninggalkan pertandingan tanpa mengatakan apapun padanya.
"Gue nggak papa, bawa aja tuh motor. Gue mau anterin dia dulu ke apartemen." Heaven menunjuk gadis di sampingnya menggunakan dagu.
"Eh ada neng Zia, ngapain malem-malem di sini. Udah kaya lont-"
"Heh, mau ngomong apa lo?!" Heaven mendelik tajam, menghentikan apa yang ingin diucapkan Nanda. Meskipun hanya untuk bercanda, namun tetap saja Heaven tidak terima jika gadisnya dikatakan yang tidak-tidak.
"Hehe ampun bos, bercanda kok!" ucap Nanda. Menunjukkan cengirannya lalu menepuk mulutnya yang nyaris membuatnya kehilangan nyawa.
"Jadi gara-gara ini, lo-" Gala menghentikan ucapannya melihat Heaven mendelik, seolah memberikan isyarat untuk tidak mengatakan apapun di depan Zia.
Nanda yang mulai mengerti hanya terkekeh, tidak menyangka seorang Heaven rela kehilangan motornya demi Zia. Padahal harga motor sport miliknya terbilang cukup fantastis. Sangat kecil kemungkinan juga Heaven kalah dalam balapan kali ini, jika tidak ada Zia yang menghalangi.
"Udah sana pergi, abis ini lo berdua sama yang lainnya bantuin gue!" ucap Heaven seraya mengusir.
"Hah, bantuin apaan?" tanya Nanda penasaran.
"Nyari Joko!" ucap Heaven dengan nada malas. Zia benar-benar menyayangi kucingnya sampai tidak mau pulang, dan itu sangat membuatnya kesal setengah mampus.
"Jaka, bukan Joko!" koreksi Zia.
"Sama aja, lagian baru jadi kucing aja udah nyusahin! Awas aja ntar kalau ketemu!" kesal Heaven.
"Ih kok ngancem! Kalau nggak mau nyari ya udah pergi aja sana, nggak usah marah-marah gitu. Lagian siapa juga yang minta bantuan!" Zia mencebikan bibir bawahnya, menahan air mata yang hendak keluar lagi.
Heaven mengusap wajahnya gusar, kenapa harus ada Jaka di antara dirinya dan Zia. Gadis itu bahkan sampai menangis hanya karena kehilangan seekor kucing. Ia pun tidak mengerti kenapa begitu kesal pada kucing itu, padahal melihatnya satu kali pun belum pernah.
"Gal, mending kita pergi aja yuk. Urusan rumah tangga, gue punya firasat nggak enak!" bisik Nanda di dekat telinga Gala.
Gala yang mulai paham situasi pun mengangguk, lalu secara diam-diam kembali ke motornya. Sementara Nanda langsung naik ke motor milik Heaven. Untung saja kuncinya sudah berada di tempat, sehingga Nanda tidak perlu memintanya pada Heaven yang masih dalam keadaan marah.
"Itu kenapa motornya di bawa?" tanya Zia.
"Katanya lo nggak suka naik motor, gue udah nyuruh supir buat nganter mobil ke sini!" jawab Heaven.
"Ya nggak gitu juga kali!" gumam Zia. Masih dengan tatapannya yang mengarah pada kepergian kedua motor itu, padahal bukan masalah besar jika dirinya pulang menggunakan motor.
"Mau ke mana?" tanya Heaven. Melihat Zia tiba-tiba menepis tangannya, lalu membalikkan badan hendak pergi.
"Mau cari Jaka!" jawab Zia singkat.
Heaven memejamkan mata menahan nafas sejenak, kemudian menghembuskan nafas membuang rasa kesal. "Gue bilang pulang, Anna!"
Zia membalikkan badan, menatap Heaven dengan bola mata yang sudah mulai tergenang. "Nggak mau...," balas Zia dengan air mata yang sudah meleleh, "mau cari Jakaa... hiks...."
Melihat Zia yang kembali menangis, dengan sabar Heaven menariknya masuk ke dalam pelukan. Mengelus punggungnya yang sedikit bergetar, mencoba memberikan kenyamanan agar Zia kembali tenang. Heaven sadar marah-marah tidak akan memberikan solusi apapun, yang ada justru pikiran Zia malah menjadi semakin kacau.
__ADS_1
*********
"Kucing oren ternyata, pantes aja nyusahin. Mana mukanya songong banget lagi, nggak ada imut-imut nya. Liat tuh Gal mukanya, dih najis sok imut banget!"
Untuk kesekian kalinya Heaven menunjukkan foto kucing di ponsel milik Zia, pada Gala dan teman-teman lainnya. Sudah setengah jam berlalu masih belum puas juga Heaven memaki kucing itu, membuat siapapun yang mendengarnya mulai merasa bosan. Foto Zia yang tengah tersenyum manis bersama Jaka dan satu kucing berwarna abu-abu, berhasil membuat Heaven kalang kabut sendiri.
"Ini kucing pasti kerjaannya tidur mulu, tukang berak sembarangan, terus suka nyakar, songong, mana makannya banyak lagi. Liat aja tuh mukanya jelek banget, resek lagi!" cibir Heaven sambil menunjuk wajah kucing menyebalkan itu.
Yang ada elu yang resek bego. -gumam Gala dalam hati menahan kesal.
Gala dan yang lainnya hanya pasrah mendengar umpatan Heaven sejak tadi, sembari mencari kucing yang di tunjukan Heaven sebelumnya. Dalam hati mereka mengumpat Heaven yang telah menyuruh mencari kucing ditengah malam seperti ini, tapi tidak bisa memprotes karena itu adalah perintah dari sang tuan muda.
"Masih sempet-sempetnya dia abzenin kebobrokan kucing," gumam Kenzo mengelus dada melihat kelakuan sahabatnya.
"Heaven kalau lagi bucin gini bahaya ternyata, kita yang sial malah ujung-ujungnya!" ucap Agam lirih sembari menggeleng heran, "Nasib-nasib!"
"Bos laknat emang, malem-malem gini di suruh nyari kucing. Mana kucingnya oren lagi, kaum perorenan kan resek semua. Dia yang bucin lah kita yang susah!" dengus Nanda setengah berbisik.
"Gue denger!" ucap Heaven sembari melempar tatapan tajam pada Nanda dan yang lainnya.
Seketika Nanda menunjukkan cengirannya, sedikit takut dengan tatapan intimidasi Heaven. "Ya elah bos sensi amat. Besok lagi aja ngapa nyarinya, nggak liat apa udah malem gini?"
Nanda kesal, sudah cukup lama mereka mencari kucing namun belum juga menemukan kucing yang mirip seperti yang ada di dalam foto. Kebanyakan kucing yang di temui memang memiliki warna yang sama yaitu oren, tapi terdapat perbedaan cukup jelas di antara kucing-kucing itu membuat mereka semakin frustasi untuk mencarinya lagi.
"Nggak bisa, pokoknya harus ketemu malam ini. Gue udah janji sama Anna!"
Heaven mengingat tadi sempat berjanji akan menemukan Jaka, agar Zia mau menuruti perintahnya untuk menunggu saja di dalam mobil. Karena Zia tetap bersikukuh tidak ingin pulang sebelum menemukan kucingnya. Namun karena gadis itu sudah sangat kelelahan setelah empat jam lebih mencari Jaka, akhirnya ia tertidur dengan pulas di dalam mobil.
"Lah kan elu yang janji, bukan kit-" Nanda menghentikan ucapannya, melihat Heaven menatap dengan tajam sambil menggeram kesal.
"Udah udah, kalau ribut terus kapan ketemunya tuh kucing!" ucap Gala melerai, "Mending kita mencar aja deh, biar cepat ketemu tuh kucing!" usulnya.
"Tunggu tunggu!" Heaven meletakkan jari telunjuk ke depan bibir, sembari menajamkan pendengarannya. Sayup-sayup terdengar suara kucing kecil di sekitar jalan menuju sebuah gang, Heaven segera mendekat ke sumber suara.
"Ck tuh anak kenapa coba!" celetuk Nanda melihat Heaven berjalan mengendap-endap seperti maling.
"Ssstttt... diem, mending kita ikuti aja!" ujar Gala yang sangat tahu akan ketajaman pendengaran sepupunya.
Perlahan Heaven mendekat ke sumber suara, di jalan kecil yang berada di sebuah gang. Suara kucing itu semakin terdengar jelas, saat Heaven mendekat pada jalur selokan. Cowok itu menyalakan lampu flash dalam ponsel, dan benar saja, nampak seekor kucing kecil yang sedang berteriak tengah berusaha keluar dari selokan itu.
"Itu itu huahahaha...." Heaven tertawa ngakak melihat Jaka ternyata berada di dalam selokan, "Joko Joko, emang udah nasib lo jadi kucing got!" ucapnya heboh.
Gala yang mendengar hal itu segera mendekat untuk melihat, begitu juga yang lainnya. Seketika tawa mereka pecah melihat nasib Jaka yang begitu menyedihkan, terdapat lumpur yang menghitamkan sebagian tubuhnya. Dendam mereka seolah terbalaskan melihat Jaka dalam keadaan memprihatinkan. Untung saja tidak ada Zia di sana, jika ada mungkin gadis itu akan menangisi nasib sial yang menimpa Jaka saat ini.
"RASAIN LO KUCING SIALAN!"
__ADS_1
*********
...Sampai bertemu di cerita Heavanna selanjutnya 👋🏻...