
Zia berjalan santai di koridor sambil mengemut permen pentol yang baru saja dibelinya. Di depan sana terlihat Dio sedang berjalan sambil memegang ponsel, kemudian memasukkannya ke dalam saku. Sudah dua hari ini Zia mengawasi gerak-gerik cowok itu, tanpa disadari oleh siapapun. Itulah alasannya kenapa ia sampai tidak sempat menjenguk Heaven saat sakit kemarin.
Gue harus dapet hp nya hari ini juga!
Zia masih fokus terhadap targetnya, Dio berjalan semakin mendekat. Hanya akan ada waktu beberapa detik saja, Zia harus memanfaatkan waktu itu sebaik mungkin. Ketika keduanya hampir berpapasan, dengan sengaja Zia menabrakkan dirinya pada Dio.
Bruk
"Aw ssshhh ...." Zia meringis sambil memegangi bahunya, dengan cepat salah satu tangannya ia sembunyikan ke belakang. Ia bahkan tidak menyangka bahunya akan benar-benar terasa sakit setelah dengan sengaja menabrak Dio tadi.
"Kamu nggak papa, Zi?" tanya Dio yang juga terkejut. Tangannya spontan memegangi kedua bahu Zia, karena melihatnya yang hampir terjatuh.
"Gu-gue nggak papa kok, sorry ya gue nggak sengaja nabrak lo tadi!" Zia masih berusaha bersikap normal, meski saat ini dirinya sedang merasa gugup. Hampir saja gerakannya saat mengambil ponsel tadi ketahuan oleh Dio, tapi sepertinya sudah teralihkan oleh tabrakan yang cukup keras tadi. "Lo nggak papa kan?"
"Aku nggak papa kok, lain kali jalannya hati-hati ya! Untung aja kamu nggak papa," ucap Dio mencoba untuk tidak marah.
"Iya sorry, gue nggak liat-liat jalan tadi. Eum gue cabut dulu ya!" Zia menunjuk ke belakang dengan jempolnya, kemudian melenggang pergi meninggalkan Dio yang masih menatapnya.
Aneh! - batin Dio
Cowok itu hendak melangkahkan kakinya pergi, namun mengingat gerak-gerik Zia yang cukup mencurigakan tadi membuatnya sedikit curiga. Ia kembali menatap pada punggung Zia yang kini sudah berjarak sekitar sepuluh meter.
"ZIA!" panggil Dio. Cowok itu hendak mengejar, namun suara seorang perempuan berhasil menghentikan langkahnya.
"DIO TUNGGU!"
Dio menoleh ke samping, terlihat seorang gadis sedang berlari menghampiri dirinya. "Rexie, ada apa?"
"Sorry, gue boleh minta tolong ke lo sebentar nggak?" tanya Rexie.
"Eeum minta tolong apa?" tanya Dio berusaha ramah.
"Ikut gue!" Tanpa permisi, Rexie langsung menarik tangan Dio. Tanpa disadari, Rexie tengah tersenyum penuh arti. Gadis itu sebenarnya tahu apa yang sebelumnya dilakukan oleh Zia, karena memang ia melihatnya di momen yang sangat tepat tadi. Setidaknya dengan mengalihkan perhatian Dio, ia bisa sedikit membantu Zia. Meski Rexie sendiri tidak tahu apa yang sebenarnya sedang dilakukan Zia.
*********
Sementara di sisi lain, Zia menghela nafas lega ketika melihat Dio sudah dibawa pergi oleh Rexie. Padahal ia pikir akan ketahuan tadi. Zia kembali melangkahkan kakinya menuju belakang sekolah, ia harus memeriksa isi di dalam ponsel itu dengan cepat, sebelum Dio menyadari jika ponselnya telah berada di tangannya.
"Abis ngapain kamu sama Dio?"
Zia tersentak kaget ketika seseorang tiba-tiba berdiri menghalangi jalannya, ia mendongakkan kepala. Terlihat Heaven tengah melipat kedua tangannya, sambil menatap datar dirinya. Ya, Heaven memang sempat melihat interaksi antara Zia dan Dio tadi.
"Nggak ngapa-ngapain kok!" jawab Zia.
"Boong!"
"Nggak boong, tadi cuma nggak sengaja nabrak dia aja!" kata Zia menjelaskan.
Heaven meraih tangan Zia, mengajaknya pergi dari tempat itu. "Ngapain kamu nabrak-nabrak dia, kayak nggak ada aku aja!"
"Ih apaan sih Kak!" Zia terkekeh kecil. "Orang nggak sengaja mana bisa milih-milih," lanjutnya.
"Makanya kalo jalan liat-liat, pandangannya ke depan jangan ke samping!" Heaven mengambil permen pentol yang masih bersarang di mulut Zia. "Makan permen mulu!"
"Ih Kak jangan, itu punya ku!" Melihat Zia hendak merebut kembali permennya, Heaven dengan sengaja mengangkatnya tinggi-tinggi.
"Ambil aja kalo bisa!" ucap Heaven seraya menantang.
__ADS_1
"Nggak bisa lah! Balikin Kak, sayang permennya masih banyak!" Zia mencebikan bibir bawahnya.
"Makan permen mulu, bukannya tadi pagi udah. Ntar sakit gigi, Na!" ucap Heaven tanpa menyerahkan permennya.
"Kata siapa makan permen mulu? Lagian gigi aku sehat kok, liat nih hiiiii!" Zia meringis, menunjukkan deretan giginya yang putih.
"Tuh kan ada cabenya!" celetuk Heaven asal. Tanpa meminta izin, cowok itu langsung memasukkan permen Zia ke dalam mulut.
"Cabe?" Seketika Zia menutup mulutnya, kemudian mengambil ponsel di saku untuk melihat giginya. "Mana, nggak ada cabenya? Boong banget!"
Heaven terkekeh, mudah sekali menipu gadis di hadapannya ini. "Siapa suruh percaya!"
"Siipi sirih pirciyi! Ya kan nggak liat, Kak Heaven nya aja yang suka boong!" Zia kembali memasukkan ponselnya. "Ih kok dimakan sih permennya!" omelnya melihat permennya sudah berada di mulut Heaven.
"Udah dibilangin kamu nggak boleh kebanyakan makan permen! Tadi pagi udah abis dua, ntar kalo giginya sakit gimana?" ucap Heaven sambil menghindar.
"Kalo sakit ya tinggal ke dokter gigi lah, balikin permennya!" Zia berlari mengejar Heaven yang sudah membawa kabur permennya. "Kak, jangan kayak anak kecil napa sih. Itu permen aku punya, balikin!"
Heaven masih mempertahankan permennya, meski Zia sudah menariknya dari luar. "Ish tauk ah, abisin aja sana!" Zia menyerah, dengan berat hati ia membiarkan Heaven menghabiskan permennya.
Melihat hal itu, Heaven langsung terkekeh. Berjalan menyamai langkah Zia, sambil merogoh ke dalam saku celananya. "Gitu aja ngambek!" ucapnya.
Zia tidak menjawab sama sekali, ia hanya mengerucutkan bibir sambil melipat kedua tangannya. Bagaimana tidak kesal? Ia hanya membeli satu permen tadi, itupun karena ibu kantin memberinya uang kembalian receh.
"Tungguin napah, cepet amat jalannya. Kayak dikejar anjing aja!" ucap Heaven.
"Emang iya!"
"Udah jangan ngambek mulu, nih mau nggak?" Heaven mengeluarkan permen dengan rasa yang sama dari saku celananya, namun sayangnya Zia tidak menoleh sama sekali.
"Nggak mau!"
Emang iya.
"Nggak mau! Kak Heaven ngeselin, kayak Doli!" celetuk Zia tanpa mau menoleh.
"Hah? Siapa Doli?"
"Anjing punya tetangga yang tinggal di apartemen sebelah!" jawab Zia tanpa merasa bersalah.
"Anjir disamain sama anjing!" Heaven meraih tangan Zia, hingga gadis itu menatap ke arahnya. "Ngomong apa tadi, coba ulangi?" Ia menatap datar.
"Ngomong apa? Nggak ngomong apa-apa!" elak Zia.
"Nggak boleh ngomong gitu!" peringat Heaven.
"Boleh kalo Kak Heaven ngeselin!"
"Nggak!"
"Terserah! Udah lah, males ngomong sama Kak Heaven. Sukanya menang sendiri!" Zia kembali melangkahkan kakinya pergi.
"Beneran nggak mau ini?" tanya Heaven menunjukkan permennya lagi.
"Udah dibilang nggak mau ya nggak mau!" ucap Zia sambil membalikkan badannya. Seketika ia tercengang melihat permen di tangan Heaven. "Eh!"
"Eh apa?" tanya Heaven tersenyum penuh kemenangan.
__ADS_1
"Mau ...."
"Nggak, udah hangus!" Heaven kembali memasukkan permennya.
"Ih mau permennya!" Zia berlari, mencoba mencegah tangan Heaven yang masih memegang permen.
"Tadi katanya nggak mau!"
"Nggak! Mau permennya!"
"Tuh kan nggak mau, ya udah aku masukin lagi!" ucap Heaven sambil memasukkan permennya.
"IH MAKSUDNYA MAU, JANGAN DIMASUKIN LAGI! MAU PERMENNYA!"
*********
Di dalam ruang kelas yang sepi itu, Zia berjalan mengendap-endap mendekati meja tempat duduk Dio. Gadis itu hendak mengembalikan ponsel milik Dio yang sudah ia ambil ketika istirahat tadi. Seperti dugaan sebelumnya, Dio memang menyimpan semua bukti kejahatan Regha dan teman-temannya di dalam ponsel itu. Zia sudah menyalin semua bukti-bukti itu, setidaknya dengan cara ini mungkin bisa sedikit meringankan masalah Heaven nantinya.
"Kamu ngapain di situ?"
Zia tersentak kaget, ketika tiba-tiba terdengar suara seorang laki-laki menegurnya. Perlahan gadis itu membalikkan badan, terlihat Dio sudah berdiri di hadapannya dengan wajah penuh curiga. Zia menelan salivanya dengan kasar, dirinya sudah seperti maling yang baru saja tertangkap basah mencuri sesuatu.
"Anu itu ... g-gue nggak sengaja nyenggol tas lo sampe jatoh tadi! Tapi udah gue benerin kok!" ucap Zia gugup.
Dio masih menatap intens Zia, terlihat jelas dari sorot matanya, cowok itu belum percaya dengan apa yang dikatakan Zia tadi. "Lo nggak bohong kan?"
"Bohong? Buat apa gue bohong? Maksudnya lo nuduh gue nyuri gitu?" tanya Zia seolah tidak terima. "Gue nggak nyuri, kalo nggak percaya cek aja tas lo. Ada yang ilang apa enggak?" tekan Zia.
Dio masih saja menatap Zia curiga, sebelumnya Zia sudah menabrak dirinya hingga beberapa menit yang lalu ia baru menyadari telah kehilangan ponselnya. Dan sekarang, ia justru mendapati Zia sedang memegang tasnya tadi. "Lo nggak ngambil hp gue kan?" tanyanya mengintimidasi.
Zia terkejut, tidak menyangka dengan cepat Dio akan menyadari hal itu. Salahnya juga sih, karena tadi sempat sibuk berlama-lama dengan Heaven. "Buat apa gue ngambil hp lo, emang ada apa sama hp lo?" tanyanya balik.
"Bohong, gue tahu lo bohong!" Dio berjalan mendekat, melemparkan sorot mata tajam dan mengintimidasi pada Zia.
"Lo mau ngapain?" Zia berjalan mundur, seiring dengan langkah kaki Dio yang bergerak maju.
"Lo udah tau siapa gue kan?" tanya Dio menekan.
"Lo ... Dio lah, siapa lagi emangnya!" Zia merem*s ujung rok nya, baru kali ini ia melihat Dio menunjukkan sikap tidak ramah pada dirinya.
"ZIA, BURUAN NAPAH! UDAH DI TUNGGUIN PAK MUH TUH!"
Terdengar suara teriakan cempreng dari Handa, gadis yang baru masuk ke dalam kelas itu langsung berlari ke arah Zia berada. "Buruan udah di tungguin Pak Muh, kita mau praktik!"
Zia menghela nafas lega, untung saja Handa datang tepat waktu. "Ah iya hampir aja gue lupa, ya udah langsung ke sana aja yuk!" ucapnya sambil menarik Handa untuk segera pergi.
"DIO, LO NGAPAIN MASIH DI SITU. BURUAN, UDAH DITUNGGU SAMA YANG LAIN!" teriak Handa.
🎀🎀🎀
Sambil menunggu Heavanna up, mampir dulu yuk ke karya keren di bawah ini.
Judul : Truly Madly Love
Napen : Triple 1
__ADS_1
...Sampai bertemu di cerita Heavanna selanjutnya 👋🏻...