
"Lepas! Ngapain lo tarik-tarik gue?"
Gadis di depannya itu masih terus berjalan, tanpa mendengar ucapan Zia. Sampa di samping kelas XI IPA 1, suasana sudah sangat sepi, tampaknya seluruh siswa sudah pulang. Zia memasukkan lagi ponselnya ke dalam saku, lalu menghempaskan tangannya. Menatap tajam gadis di hadapannya. Sebelumnya, tanpa sopan santun Hara menariknya hingga terpisah dari Handa dan Icha.
"Mau apa lo?" tanya Zia langsung pada intinya.
"Gue mau bicara, penting! Soal Kak Heaven!"
Zia tidak terkejut, walaupun ini pertama kali dirinya melihat wajah asli Hara. Di depan Heaven dan teman-temannya gadis itu selalu memasang wajah lugu. Sangat jauh berbeda dengan wajahnya kali ini. "Soal Kak Heaven, gue juga harus bicara sama lo!"
"Sakit lo itu cuma pura-pura 'kan?" tanya Zia. "Biar Kak Heaven merasa bersalah sama lo?"
"Nggak ada orang lain di sini! Rahasia busuk lo itu aman!" Raut penuh kekhawatiran tercetak jelas di wajah Hara, Zia berhasil menahan pergerakan mata Hara yang hendak memeriksa keadaan sekitar.
"Benar! Emang bener gue cuma pura-pura, biar gue bisa deket lagi sama Kak Heaven. So what? Even lo bilang, Kak Heaven nggak akan percaya sama lo!" Hara berkata penuh keyakinan, apalagi selama seminggu lebih Heaven masih mau memperhatikan dirinya.
"Lo emang GTM ya!" Zia menatap jijik. "Nggak ada cowok yang nggak akan percaya sama ceweknya! Seandainya ada, gue adalah orang pertama yang bakal tinggalin dia!"
"Seriously?" Wajah Hara berbinar. Seketika semangatnya untuk memisahkan Heaven dan Zia semakin bertambah. "Lo tau alasan Heaven nggak jemput lo sekarang?"
Zia terdiam, tidak tahu harus menjawab apa. Heaven memang tidak mengatakan akan pergi ke mana tadi. Tidak mungkin karena Hara 'kan? Akan tetapi, kini perasaan Zia jadi sedikit meragu.
"Benar! Itu karena Kak Heaven mau nemenin gue check up!" ucap Hara dengan bangga. "Kak Heaven nggak bilang sama lo! Dan lo masih percaya dia setia?"
Zia mengepalkan tangannya, marah. Hara mendekat dan membersihkan seragam sekolah Zia dengan penuh ejekan. "Jangan marah, percuma! Karena sebentar lagi, posisi lo bakal jadi milik gue!"
"Gue janji bakal jaga Kak Heaven dengan sepenuh hati!" Hara tersenyum manis. Namun terlihat penuh ejekan di mata Zia.
"Posisi?" Zia bertanya dengan menahan amarah. "Gue bakal tunjukkin di mana posisi lo sebenarnya!"
Zia mengambil ponsel di sakunya, lalu mendial nomor Heaven. Tidak berselang lama, terdengar suara Heaven dari seberang telepon.
"Kak Heaven, aku sakit!"
Tanpa mengatakan apapun lagi, Zia langsung memutuskan sambungan telepon. Sorot matanya masih menatap Hara yang kini sedang bingung dengan apa yang dilakukan Zia.
"Kita lihat, siapa yang akan Kak Heaven pilih! Lo atau gue!"
Zia menyeringai penuh percaya diri. Ia sangat meyakini bahwa Heaven hanya mencintai dirinya. Beberapa detik kemudian, vibrasi ponsel menggetarkan tangan Hara yang menempel pada tas. Ia mengambil ponselnya dan membuka dengan cepat.
Heaven Arsenio Sorry, gue nggak bisa anter lo! Cewek gue sakit!
__ADS_1
Melihat wajah Hara yang seakan terkejut setelah melihat isi ponsel, Zia tersenyum penuh kemenangan.
"Itu belum seberapa, setelah ini, lo bakal tau seberapa cintanya Kak Heaven sama gue, pacarnya!" ucap Zia lagi.
"Lo curang!" Hara kesal, lalu mendorong dada Zia hingga mundur beberapa langkah ke belakang. Hampir saja ia menabrak tong sampah di belakangnya.
"Gue curang? Apa kabar lo yang pura-pura sakit cuma buat dapet perhatian cowok orang? Bukannya itu impas, hah?" Meskipun marah, tapi kali ini Zia tidak membalas.
"Tutup mulut lo! Sampai kapanpun gue nggak akan pernah biarin lo sama Kak Heaven bersama!" Hara menunjuk wajah Zia dengan penuh ancaman.
"Sayangnya gue udah merekam semua yang kita lakuin tadi!" Zia menyeringai, lalu menunjukkan ponselnya yang menyala.
"Sial!"
Hara tidak menduga Zia telah merekam semua pembicaraannya. Dengan cepat Hara merebut ponsel di tangan Zia, tapi sayangnya ponsel tersebut sudah lebih dulu jatuh dan masuk ke dalam tong sampah. Hara tidak ingin Heaven sampai tahu rahasia itu, ia bahkan rela mencari ponsel itu sampai dapat.
"Itu emang posisi lo yang sebenarnya," kata Zia. Menatap penuh jijik Hara yang sedang mengobrak-abrik tong sampah. "Gue bohong soal rekaman, rekaman itu nggak ada!"
Ucapan Zia seketika menghentikan pergerakan Hara yang sudah berhasil menemukan ponsel itu. Zia langsung merebut ponselnya, selagi Hara menatapnya dengan penuh amarah.
"Thanks, lo udah temuin hp gue!" Zia tersenyum manis, tapi terlihat penuh ejekan di mata Hara
Hara mengepalkan tangan, sorot matanya tajam menatap Zia. Bisa-bisanya ia dimanfaatkan dengan begitu mudah oleh Zia. Kini pakaiannya sudah kotor akibat mengorek sampah seperti seorang pemulung.
"Setidaknya gue bukan pengemis cinta yang bakal ngelakuin hal menjijikkan kayak lo, cuma untuk merebut cowok orang lain!" balas Zia.
"Aarrrggghhhh... Harusnya lo nggak pernah dateng ke sini! Lo itu cuma merusak hubungan orang!"
Hara berteriak marah, lalu mendorong-dorong tubuh Zia hingga mundur. Zia yang tidak mau kalah pun ikut mendorong, lalu mengangkat tangan hendak menampar wajah Hara. Namun Zia tersadar dan menghentikan pergerakannya.
Siapa sangka, di saat yang bersamaan, Heaven datang bersama teman-temannya. Menyadari hal itu, Hara langsung meraih tangan Zia, dan membuat drama seolah Zia baru saja menampar wajahnya.
Zia cukup terkejut dengan apa yang dilakukan Hara. Hingga menyadari Hara melakukan hal tersebut karena melihat Heaven dan teman-temannya datang. Kini wajah Hara tampak seratus delapan puluh derajat berubah, seperti seorang gadis yang baru saja mengalami bullying.
"Kalian berdua ngapain berantem kayak gini?" bentak Heaven pada kedua gadis itu.
"Kak Heaven! Zia tiba-tiba nampar aku, katanya aku nggak boleh deket-deket lagi sama kalian. Bajuku juga kotor, karena tadi Zia maksa aku buat nyari hpnya di tong sampah!"
Hara memasang wajah tertekan, seketika membuat amarah Zia semakin memuncak. Namun ia tidak bisa berbuat apa-apa.
"Nggak Kak, dia bohong!" kata Zia membela diri.
__ADS_1
Namun melihat Heaven dan teman-temannya seperti meragukan dirinya, Zia jadi tambah marah. Wajah Hara yang sedang berpura-pura kesakitan itu semakin membuat Zia ingin menamparnya.
Plakk
Tamparan keras benar-benar mendarat di pipi Hara. Zia benar-benar mampu melakukannya. Padahal, sebelumnya ia sudah menahan semua amarah yang memuncak. Hal itu seketika membuat Heaven dan teman-temannya tercengang dengan apa yang dilakukan Zia.
"Itu baru tamparan!" Zia mendekat lalu menunjuk wajah Hara dengan tatapan membunuh. "KALO LO MASIH BERUSAHA DEKETIN KAK HEAVEN, GUE BAKAL POTONG SEMUA URAT NADI LO! GUE TARIK SEMUA KULIT DARI DAGING LO, TERUS GUE LIPAT-LIPAT TUBUH LO JADI JAJAR GENJANG! NGERTI LO, RATU KUYANG?!"
Seketika semua orang menelan ludah, kali ini Zia bahkan lebih galak dan menyeramkan daripada singa betina. Heaven bahkan tidak menyangka Zia bisa mengatakan hal itu, bahkan pada Hara.
"Ngeri-ngeri sedap!" gumam Nanda dari belakang. Meskipun takut, sebenarnya mereka sangat mendukung semua yang dikatakan Zia.
"When Zia ketularan virus Heaven!" sahut Agam lirih.
Hara hanya bisa terdiam seribu bahasa. Seketika semua kata di dalam otaknya buyar, setelah mendengar ancaman Zia. Ia hanya mampu menatap kepergian Heaven. Karena Zia langsung menarik Heaven pergi setelah mengatakan ancamannya.
"Kak!" Hara menatap Gala dan teman-temannya yang masih berada di tempat. "Apa aku salah kalo minta sama Kak Heaven buat nemenin ke rumah sakit?" tanyanya sedih.
"Y salah lah, lo pikir apa?" gumam Nanda jeleh.
"Padahal kan aku sakit juga karena Kak Heaven nggak sengaja mukul aku waktu itu." Hara menunduk sedih.
"MAU SAMPAI KAPAN LO BOHONG, RATU DRAMA?" Ucapan Handa terdengar cukup keras. Dari arah belakang kelas, terlihat Handa datang bersama Icha dengan tangan terlipat di depan.
"Maksud kamu apa?" tanya Hara.
"Mending lo cepet pergi deh, susul Kakak lo yang udah pindah sekolah itu," ucap Handa setelah dekat.
"Betul, biar kuman-kuman di sekolah ilang ilang!" sahut Icha lalu menutup hidung.
"Atau lo mau, rekaman ini kesebar dan bikin nama lo jadi tercoreng?"
Handa menunjukkan ponsel milik Zia, yang terdapat rekaman suara Hara. Sebelumnya, Zia memang sempat memberikan ponselnya pada Handa untuk mengurus semuanya hingga selesai. Zia memang merekam semua yang dikatakan Hara sebelumnya, tapi ia sudah malas menghadapinya yang banyak drama.
Rekaman suara itu terdengar begitu jelas ketika Handa mulai memutarnya. Seketika membuat Hara terdiam dan tidak tahu harus melakukan apa. Bahkan teman-teman Gala dan teman-temannya pun langsung menatap jijik pada gadis itu.
"Lo nggak mau 'kan? Di cap buruk sama semua orang?" tanya Handa setengah mengancam.
Seketika Hara menghentakkan kaki, dan memilih pergi daripada semakin merasa malu. Handa menggantungkan tangan sambil tersenyum penuh kemenangan, lalu icha dengan semangat menepuk tangan Handa, ber tos ria. Sebelumnya kedua gadis itu memang tidak sempat melihat semua yang terjadi pada Zia dan Hara. Tapi dengan adanya rekaman itu, mereka jadi mengerti akar permasalahannya.
"IIH KOK BAU SAMPAH YA, HUUUU!"
__ADS_1
🎀🎀🎀
...Sampai bertemu di Karya Author Smiling27 selanjutnya 👋🏻...