Heavanna

Heavanna
128. PUTUS?


__ADS_3

Pagi itu Heaven tengah menggunakan sepatu berwarna hitam miliknya, cowok berpakaian sederhana dengan T-shirt berwarna putih serta celana panjang berwarna hitam itu hendak pergi menemui gadisnya. Sudah lebih dari satu hari sejak kepulangannya dari rumah sakit, ia belum juga bertemu dengan Zia. Dan sekarang, Heaven sangat merindukan gadis itu.


Memang setelah kepergian Zia untuk berangkat sekolah pagi itu, ia langsung pulang atas permintaan sang Mama. Heaven tidak bisa menolak, karena siangnya Mama sendiri yang menjemput dirinya. Padahal saat itu ia belum memberitahu Zia, tentang kepulangannya dari rumah sakit. Bagaimana mau memberi tahu? Ponsel Zia saja masih berada di tangan musuhnya.


"Mau ke mana kamu, sayang?"


Dari arah pintu, terlihat Mama datang kemudian duduk di samping Heaven. Keningnya berkerut, melihat putranya sudah terlihat sangat rapi seperti hendak pergi. Bahkan ranjang yang didudukinya pun sudah tertata rapi, tidak seperti satu hari yang lalu. Sangat berantakan karena Heaven hanya tiduran di kamar.


"Mau keluar bentar, bosen di rumah terus. Sepi!" jawab Heaven sambil beranjak berdiri.


"Lho nggak bisa gitu dong, kamu kan masih sakit!" Mama terkejut, dalam keadaan demam seperti ini bisa bisanya Heaven ingin pergi. "Kamu nggak denger apa kata dokter? Kamu itu kecapekan, jadi harus banyakin istirahat dulu!"


"Ma, aku nggak papa kok. Udah sembuh!" elak Heaven. Ia sangat sadar tubuhnya sedang tidak fit, akan tetapi ia tidak bisa lagi berlama-lama tidak melihat Zia.


"Udah sembuh gimana? Lihat, wajahmu masih pucat sayang!" tunjuk Mama. Suhu tubuh putranya masih tinggi, bagaimana mungkin Mama membiarkannya pergi begitu saja.


"Tapi Ma-"


"Tidak ada tapi-tapian, pokoknya nggak boleh pergi!" cegah Mama. Seketika Heaven mengacak rambutnya frustasi, ia sangat merindukan gadis itu saat ini.


"Dokter bilang kamu kurang istirahat, memangnya kamu ngapain aja beberapa ini. Apa Papa memberimu banyak pekerjaan kantor, sampai kamu jarang beristirahat seperti ini?" tanya Mama penuh selidik. Sangat jarang Heaven sakit seperti ini, tapi sekalinya sakit, itu akan membutuhkan waktu sedikit lama untuknya pulih kembali.


"Heaven nggak ngapa-ngapain kok, udah sembuh juga. Mama nggak usah lebay deh!" Heaven mengelak, ia tidak ingin Mama atau Papa sampai tahu apa yang terjadi padanya beberapa hari ini. Bahkan ketika Mama bertanya tentang luka-luka di tubuhnya, Heaven pun memilih berbohong agar Mama tidak khawatir.


"Lebay kamu bilang? Mama itu khawatir sama kamu, jarang sekali kamu sakit seperti ini!" ucap Mama.


"Nggak usah khawatir, aku nggak papa kok! Udah ya, aku pergi dulu."


"Eh tap-"


"Cuma bentar doang Ma!" pekik Heaven sambil berlari keluar kamar.


"Jangan lama-lama, minta supir buat anterin!" Meskipun tidak rela, Mama akhirnya mengizinkan. Jika dilarang pun akan percuma, karena Heaven sangat sulit diberitahu.


Di luar mansion, Heaven langsung memanggil supir yang ada untuk mengantarkannya menuju apartemen Zia. Ketika berada di dalam mobil, cowok itu hanya mengulum senyum membayangkan akan bertemu dengan Zia nanti. Baru satu hari tidak bertemu saja sudah sangat membuatnya tersiksa, apalagi harus menahan diri sampai diizinkan berangkat sekolah lagi oleh sang Mama.


*********


Di dalam kamar bernuansa biru muda dan putih itu, Zia tengah memoles wajahnya dengan makeup natural. Satu jam yang lalu, Azka memberikan kabar bahwa Daddy dan Mommy sudah ada di mansion saat ini. Bukan hanya itu, adik bungsunya yang bernama Satya pun juga ikut bersama mereka. Awalnya Zia berencana menemui Heaven hari ini, karena sejak kemarin ia terlalu sibuk mengerjakan tugas sekolahnya.


Namun, seketika rencananya berubah ketika Azka mengatakan bahwa kedua orangtuanya sudah berada di Indonesia. Bagaimanapun juga Zia sudah sangat merindukan mereka, sama halnya seperti dirinya tengah merindukan kehadiran Heaven saat ini. Tapi apa boleh buat? Ia baru satu hari tidak bertemu dengan Heaven. Sementara dengan kedua orangtuanya, ia sudah tidak bertemu selama berbulan-bulan lamanya.


"Oke, siap!"


Zia menatap bangga wajahnya di pantulan cermin, sangat cantik. Tidak ingin berlama-lama, ia menyambar tas sling bagnya kemudian keluar dari apartemen. Di dalam lift, Zia membuka ponselnya. Azka baru saja memberikannya kabar bahwa ia sudah berada di bawah, menunggu di pelataran gedung.


Zia segera keluar setelah pintu lift terbuka, menghampiri Azka yang ternyata sudah menunggu sambil menyandar di mobil mewah miliknya. Gadis itu berlari dengan senyum lebarnya, ia memang belum sempat bertemu dengan Azka setelah malam saat di rumah sakit waktu itu.


"Zian!" Zia berlari kecil, kemudian memeluk cowok itu tanpa pikir panjang.


"Tumben bahagia banget?" ujar Azka bertanya dalam pelukan.


"Iya lah, lo serius kan Mom sama Dad udah di mansion?" tanya Zia setelah melepaskan pelukan.


Azka menganggukkan kepalanya pasti. "Iya lah, ngapain gue bohong!"

__ADS_1


"Awas aja kalo sampe boong!" ancam Zia.


"Ck ngapain gue bohong, kurang kerjaan banget! Buruan masuk!" ucap Azka setelah membukakan pintu.


"Rexie mana?" tanya Zia saat masuk kedalam mobil.


"Udah di mansion, lo lupa dia menantu kesayangan? Gue aja sampe dikacangin sama Mommy!" Azka berdecak kesal, kemudian berjalan memutari mobil.


"Ya mana gue tau, lo tunangan aja gue nggak tau!" ucap Zia sambil memakai seat belt nya.


"Eh, lebih tepatnya pura-pura nggak tau sih!" ralat Zia menyengir lebar.


"Terserah lo!" Tanpa memedulikan ocehan Zia, Azka melajukan mobilnya dengan kecepatan sedang.


Tanpa mereka sadari, seseorang sejak tadi memperhatikan keakraban keduanya dengan dada bergemuruh. Di dalam mobil yang berhenti di pinggir jalan itu, Heaven menatap kepergian mobil Azka dengan amarah membuncah.


Jadi karena ini lo nggak jenguk gue sekalipun Na?


Heaven menggeram, giginya saling menggemeretak menahan amarah. Tangannya terkepal kuat, namun ia tidak ingin gegabah saat ini. Belum tentu apa yang ia lihat saat ini sama seperti yang ia pikirkan.


"Ikuti mobil itu!"


*********


Tiga puluh menit berlalu Azka mengendarai mobilnya, sekitar lima ratus meter lagi ia akan sampai di kediaman Zielinski. Sejak tadi ia menyadari sesuatu, mobil di belakangnya masih saja mengikuti mobilnya. Bukannya menghindar, Azka justru tertarik memancing mobil itu menuju mansion. Ia tahu saat ini sudah ada banyak bodyguard di mansion, akan sangat berbahaya jika pemilik mobil itu nekat mencelakai dirinya atau Zia sekalipun.


"Zian, lo ngerasa ada yang ngikutin kita nggak sih dari tadi?" tanya Zia sambil menengok ke belang.


"Iya, biarin aja. Dia nggak akan mungkin macam-macam, pengawal di mansion kita banyak!" ucap Azka santai.


"Gala? Siapa Gala?" tanya Azka yang memang tidak tahu.


"Sepupunya Kak Heaven, masa nggak tau!" Zia kembali menatap mobil tersebut, memang mirip seperti mobil yang dibawa Gala dan Heaven saat ini. Namun sayangnya ia lupa nomor plat nya.


"Lo serius suka sama Heaven?" tanya Azka mengalihkan pembicaraan. Ia teringat malam itu Rexie menjelaskan panjang lebar tentang apa yang dilakukan Heaven untuk menolong Zia, sangat berbeda jauh dengan apa yang dilakukan Danis dulu. Azka memang tidak tahu apa saja yang telah dilakukan Danis demi Zia, namun ia kini mengerti setelah mendengar penjelasan Rexie.


Zia menganggukkan kepala, dengan air muka menahan malu. "Keliatan nggak sih?"


Azka menoleh sejenak, kemudian kembali fokus dengan setirnya. "Pipi lo merah!" ucapnya.


"Ish gue kan pake blush on!" dengus Zia, memeriksa wajahnya di pantulan cermin.


"Pantes jelek!" ucap Azka.


"Apa?" Zia memekik tidak terima. "Lho, kenapa berhenti?"


Zia bingung ketika melihat Azka menghentikan mobilnya, padahal jarak dari gerbang mansion tinggal beberapa meter lagi. Masa iya harus jalan kaki, sementara pelataran mansion begitu luas seperti lapangan golf.


"Keluar bentar, gue penasaran siapa pemilik mobil itu!" ucap Azka kemudian turun dari mobil.


"Tapi Zian-"


Ucapan Zia terhenti, melihat Azka sudah turun dari mobil. Mau tidak mau Zia akhirnya ikut turun, terlihat dari kejauhan beberapa pengawal datang menghampiri Azka. Zia yang baru turun seketika terkejut, di belakang sana terlihat Heaven datang menghampiri.


"Kak Heaven," lirih Zia. Gadis itu mulai merasa takut, Heaven berjalan dengan raut wajah dingin mengarah padanya. Jangan sampai salah paham!

__ADS_1


"Kak Heaven kok ada di sini?" tanya Zia sedikit gelagapan.


"Kenapa? Ada yang salah, lo takut ketahuan selingkuh?"


Heaven menatap dingin Zia, kepalanya begitu pusing. Suhu tubuhnya sudah cukup panas, ditambah dengan panas di hatinya setelah melihat Zia bersama laki-laki lain. Sejenak Heaven tersadar, haruskah ia meninggalkan gadis di hadapannya ini. Membiarkannya bahagia bersama laki-laki lain? Bukan bersama dirinya yang selalu membawa Zia ke dalam jurang bahaya, seperti yang terjadi sebelum ini.


"Jadi ini alasannya kenapa lo nggak nengokin gue kemarin? Gue sadar sekarang, nggak seharusnya gue pertahanin orang yang nggak pernah suka sama gue!"


Deg


Zia terhenyak, kenapa Heaven tiba-tiba mengatakan demikian. "Kak, gue bisa jelasin!"


Heaven melihat ke arah Azka yang kini tengah berjalan menghampiri. Cowok itu melempar senyum miring padanya, seolah membenarkan dugaannya. Zia hendak menemui orang tua Azka, di mansion Zielinski. "Nggak perlu jelasin, semua udah jelas!"


"Kak tunggu gue bisa jelasin!" Zia memegang tangan Heaven, mencegahnya yang hendak pergi membawa kesalahpahaman ini. "Ini nggak seperti yang lo pikirin!"


"Lepas, udah cukup Na!" Heaven menghempaskan tangan Zia, salah satu hal yang tidak pernah Heaven lakukan selama ini. "Gue bebasin lo sekarang, lo boleh pergi sama siapapun yang lo mau!"


"Kak, lo ngomong apa sih?"


"Sorry, kalo selama ini gue udah nyakitin lo!" Heaven beralih menatap Azka. "Gue harap lo bisa jaga Zia!" ucapnya.


"Dengan senang hati, gue bakal jaga Zia sampai kapanpun!" jawab Azka merangkul bahu Zia.


Zia hanya mampu tercengang, apa maksud dari perkataan Heaven barusan. Situasi macam apa ini? Kenapa tiba-tiba Azka malah mendukung kesalahpahaman Heaven.


"Kak, lo salah paham!" Zia berlari menghampiri Heaven yang hendak masuk ke dalam mobil, cowok itu sama sekali tidak peduli dengan panggilannya.


"Kak buka pintunya!" Zia membuka pintu mobil, namun sudah terkunci. Ia beralih menggedor kaca berharap Heaven mau mendengar penjelasan darinya, namun mobil itu justru mulai berjalan meninggalkan dirinya.


"KAK, LO SALAH PAHAM!"


Zia berteriak, menatap kepergian mobil Heaven dengan perasaan campur aduk. Bodoh, akhirnya kesalahpahaman ini benar-benar terjadi. Zia merutuki dirinya sendiri yang selama ini selalu membohongi cowok itu, dengan alasan yang sebenarnya begitu sepele.


"Aarrggghhh... bego!" pekik Zia. Beralih menatap Azka yang sedang tertawa dengan wajah kesalnya. "Lo apa-apaan sih, bukannya bantuin malah ketawa!" kesalnya.


"Udah tenang aja, dia nggak akan tinggalin lo kalo emang bener-bener cinta sama lo!" ucap Azka percaya diri.


"Tenang kepalamu, lo nggak denger dia ngomong apa tadi!" Zia dengan rasa kesalnya langsung masuk ke dalam mobil, hendak mengejar Heaven yang sudah pergi jauh. "Kuncinya di mana sialan!"


Azka terkejut, berkali-kali dalam satu waktu ia mendengar Zia berbicara kasar seperti ini. Ia mengambil kunci mobil di dalam saku, lalu menunjukkan pada Zia yang tengah kebingungan mencari kunci di dalam mobil.


"Kuncinya ada di gue!" ucap Azka kemudian berlari memasuki gerbang.


"AZKA, SINI KUNCINYA! GUE HARUS KEJAR KAK HEAVEN SEKARANG! AARRGGGHHH...!"


🎀🎀🎀


Sambil menunggu up, mampir dulu yuk ke karya keren satu ini.


Judul : Mis black : Pewaris Ceo yang Terbuang


Napen : Icha Lauren


__ADS_1


...Sampai bertemu di cerita Heavanna selanjutnya 👋🏻...


__ADS_2