Heavanna

Heavanna
132. MAKAN MALAM DENGAN MERTUA


__ADS_3

"Kak, tidur ih jangan main hp mulu! Istirahat biar cepet turun panasnya!"


Zia merebut ponsel milik Heaven, sejak setengah jam yang lalu cowok itu masih sibuk bermain game. Selepas makan tadi Heaven sudah meminum obatnya, namun anehnya ia tidak merasa ngantuk sama sekali.


"Eh jangan, ah mati kan!" Heaven menggerutu, game yang dimainkannya dengan susah payah langsung mati karena Zia menggagalkan konsentrasinya.


"Jangan main game mulu, istirahat Kak. Susah banget sih dibilangin, siniin hp nya!" Zia mengambil alih ponsel tersebut, kemudian memindahkannya ke tempat yang jauh. "Buruan tidur, bentar lagi aku pulang. Udah malem ini!"


"Pulang?"


"Nggak boleh, malem ini tidur di sini. Bahaya kalo pulang sendirian!" ucap Heaven.


"Ya nggak bisa gitu dong, besok kan sekolah!"


"Besok libur!"


"Libur apaan, besok aja masih hari kamis!" bantah Zia.


Heaven tidak peduli lagi, ia melirik jam di atas nakas. Waktu sudah menunjukkan pukul delapan, ia lupa Zia belum makan sejak tadi, karena sibuk mengurus dirinya yang sedikit sulit minum obat. Ya sedikit sulit, sedikit sulit menurut dirinya sendiri. Tapi belum tentu menurut Zia.


"Mau ke mana?" tanya Zia melihat Heaven malah turun dari ranjangnya.


"Ke ruang makan, kamu belum makan dari tadi!" Heaven meraih tangan Zia, menuntunnya menuju ruang makan. "Kayaknya Papa udah pulang!"


"Papa?" tanya Zia mengikuti langkah ke mana Heaven pergi.


Heaven menganggukkan kepala. "Kamu nggak papa kan?"


"Nggak papa gimana maksudnya?"


"Ketemu sama Papa aku! Tenang aja, dia baik kok orangnya!" Heaven membawa Zia masuk ke dalam ruang makan, terlihat Mama sedang menyiapkan makan malam untuk Papanya, di meja panjang super mewah itu.


"Nah itu anaknya dateng!" Mama Garnis tersenyum manis menyambut kedatangan Zia.


"Malem Pah, Mah!" Heaven menyapa sambil menarik kursi, mempersilakan Zia untuk duduk lebih dulu. Sementara gadis itu hanya menunduk sekilas, ikut menyapa dalam senyuman.


"Malem sayang," jawab Mama. Papa hanya diam memperhatikan gadis cantik yang kini duduk di samping putranya, ia merasa seperti pernah melihat sebelumnya. "Mama udah masakin makanan kesukaan kamu, tapi Mama nggak tau makanan kesukaan Zia. Apa Zia juga suka udang? Atau mungkin ada yang kamu suka di meja ini selain udang?" tanyanya.


"Zia suka udang kok Ma, semua makanannya juga suka! Keliatannya enak!" jawab Zia melihat banyaknya makanan di atas meja.


"Ah syukur deh kalo kamu suka, kamu boleh makan apa aja yang kamu mau. Jangan sungkan ya, anggap saja rumah sendiri!" ucap Mama mempersilakan.


"Ekhem! Jadi kapan Mama mau ambilin Papa makan?" Papa berdehem, menyadarkan istirnya yang justru sibuk dengan calon menantunya.


"Oh iya Pah, kenalin ini Zianna. Pacar aku, calon menantu Papa!" ucap Heaven memperkenalkan.


"Jadi ini, gadis yang sering kamu bicarakan itu?" Papa menatap Heaven dan Zia bergantian.


"Halo Om!" sapa Zia kaku.


"Panggil saja Papa, seperti kamu panggil istri saya Mama!" ucap Papa. "Papa nggak nyangka kamu pinter milihnya, pantas saja dari dulu betah menjomblo!"


"Maksudnya Papa? Emangnya Kak Heaven suka bicara apa tentang aku?" tanya Zia penasaran.


"Pah!" Heaven menggeleng kecil, meminta Papanya untuk jangan mengatakan apa-apa. Ia tidak ingin kalau Zia sampai tahu, bahwa selama ini dirinya terus mencari identitas gadis itu.


"Bukan apa-apa. Heaven itu anaknya sulit diatur dan suka semaunya sendiri, jadi kamu harus banyak sabar buat hadapi dia! Tapi Papa yakin kamu bisa kok!" kata Papa. Zia hanya mengangguk, meski sedikit ragu akan hal itu. Mengingat sampai detik ini Heaven masih saja sulit diberitahu.

__ADS_1


"Kalian itu masih sekolah, jadi harus bisa mengatur waktu. Jangan karena sibuk pacaran, kalian jadi melupakan belajar. Ingat pesan Papa!"


"Tenang aja Pa, Heaven bisa kok tahan diri!"Itulah prinsip yang akan selalu ia jaga, ia tidak akan melakukan apapun pada Zia sebelum resmi menikah.


"Mama percaya, anak Mama bisa jaga batasan!" sahut Mama memberikan kepercayaan. "Ya sudah sekarang makan dulu, kasian Zia dari tadi belum makan."


"Kamu mau makan apa?" Heaven bertanya, melihat ke arah Zia yang tampaknya sedang kebingungan.


"Mau udang aja, eh biar aku ambil sendiri aja!" Zia ingin mencegah, namun Heaven sudah lebih dulu mengambil nasi dan meletakkannya di piring miliknya.


"Udah, kali ini biar aku aja yang ambil. Besok kalo udah nikah giliran kamu!" ucap Heaven seraya mengambil lauk.


Papa dan Mama hanya menggeleng tidak percaya melihat apa yang dilakukan putranya. Jika dulu Heaven selalu meminta diambilkan ketika akan makan, kini hal itu tidak berlaku di depan Zia. Mereka sadar, saat ini Heaven sedang menjaga imagenya di hadapan gadis yang dicintainya.


"Buka mulutnya aaa...."


Zia terbengong, Heaven tiba-tiba menyodorkan udang yang baru saja dikupas olehnya. Di sana masih ada kedua orang tua Heaven, tapi dengan percaya dirinya cowok itu ingin menyuapi Zia saat ini.


"Malah bengong, buruan buka mulutnya!" titah Heaven lagi.


Zia tidak mampu berkata-kata lagi, mau tidak mau ia membuka mulutnya yang masih terisi oleh makanan. Salah satu pipinya masih mengembang, tapi Heaven tidak peduli dan tetap memasukkan udang berukuran sedang itu.


"Pah, ternyata anak kita bisa romantis juga ya." Bisik Mama Garnis pada suaminya, sambil terkekeh kecil.


"Nggak sia-sia Papa tanem bibit unggul!" balas Papa langsung mendapat senggolan dari istrinya.


Ketiga orang itu kembali melanjutkan makan malamnya, berbeda dengan Heaven yang malah sibuk mengupas udang untuk Zia. Dengan sangat telaten cowok itu mengupas, kemudian menyuapkannya pada mulut Zia yang sudah penuh. Beberapa menit berlalu hanya terdengar suara dentingan sendok yang beradu dengan piring, hingga suara Mama kembali memecah kebisingan.


"Zia, kamu tinggal di mana?" tanya Mama di sela makannya.


"Tinggal di apartemen milik ZIE Group." Bukan, bukan Zia yang menjawab, melainkan Heaven yang sedang sibuk mengupas kulit udang.


"Sama aja Ma! Lagian Zia lagi makan, ntar keselek!" ucap Heaven.


"Kamu tinggal sama siapa di apartemen?" tanya Mama Lagi tidak peduli dengan ucapan Heaven tadi.


"Tinggal sendiri Ma."


"Lho kenapa tinggal sendiri? Memangnya keluarga kamu di mana?" tanya Mama penasaran.


"Mommy sama Daddy tinggal di Jerman, tapi hari ini mereka udah di Mansion. Maksudnya di Indonesia!" ucap Zia sedikit meralat ucapannya.


"Mansion?" Mama mengerutkan keningnya. "Kamu punya mansion juga di Indonesia?"


"Ah ya, aku lupa bilang! Calon menantu Papa sama Mama ini anaknya Om Zielinski!" ucap Heaven.


"APA? ZIELINSKI?" pekik Mama dan Papa terkejut.


Ukhuk ukhuk....


"Ya nggak usah teriak juga lah Ma, Pa. Jadi keselek benaran kan!" Heaven segera mengambil air minum lalu menyodorkannya pada Zia yang tengah terbatuk-batuk. Gadis itu terkejut mendengar pekikan kedua orang tua Heaven barusan.


"Kamu serius, Zia anaknya Tuan Zielinski?" tanya Mama memastikan lagi.


"Jangan bercanda kamu, Heav!" sahut Papa tidak percaya.


"Ngapain bercanda sih Pah, aku serius!" Sampai saat ini dirinya saja masih tidak percaya jika gadis di sampingnya itu adalah anak dari rekan bisnis Papanya. Selama ini identitas Zia memang sangat dirahasiakan, hingga sangat sulit bagi semua orang untuk mengetahui keberadaannya, termasuk dirinya. Jujur saja Heaven sedikit bingung, memikirkan bagaimana caranya menghadapi calon mertuanya nanti.

__ADS_1


"Jadi kamu anaknya Zielinski?" tanya Papa pada Zia.


Zia menganggukkan kepalanya. "Iya Pa, apa ada masalah?" Gadis itu sebenarnya sedikit takut kalau kedua orang tua Heaven justru akan tidak merestui hubungannya, setelah mengetahui identitasnya.


"Tidak, tidak ada masalah sama sekali. Papa justru senang kamu bisa berhubungan dengan Heaven, Tuan Zielinski itu teman sekaligus rekan bisnis Papa. Kami hanya terkejut saja, tidak menyangka kalian akan dipertemukan seperti ini!" ucap Papa.


"Pantas saja Mama seperti mengenal wajahmu tadi!" ucap Mama terkekeh.


Heaven tersenyum senang, tidak disangka Mama dan Papa akan benar-benar menyetujui hubungannya dengan gadis yang dicintainya. Ia menatap Zia yang masih mengelus dadanya. "Makanya kalo makan pelan-pelan!" tegurnya.


"Itu salah kamu, udah tau mulut Zia udah penuh. Kamu malah sibuk masukin makanan terus, memangnya Zia kambing!" omel Mama. Sejak tadi ia hanya diam membiarkan apa yang dilakukan Heaven, tapi sekarang ia berani menegur. Karena bukannya menyadari kesalahannya, Heaven justru menyalahkan cara makan Zia.


"Kenapa jadi aku, itu kan salah Papa dan Mama yang tiba-tiba teriak nggak jelas!" kata Heaven membela diri. "Kamu nggak Papa kan?"


"Nggak papa kok," jawab Zia setelah selesai minum.


"Malem ini Zia tidur di sini aja ya Ma, Pa!" ucap Heaven meminta izin. Ia melepas sarung tangan di kedua tangannya, setelah melihat makanan di piring Zia sudah habis.


"Boleh sayang, lagian udah malem juga. Mama juga udah siapin kamar tadi," ucap Mama membolehkan.


Heaven mengerutkan keningnya. "Kamar buat apa?"


"Ya buat Zia tidur lah, masa buat pameran!"


"Nggak, nggak perlu. Zia tidur di kamar aku!" ucap Heaven menolak.


"Lho, nggak bisa gitu dong sayang. Kalian belum nikah, nggak boleh tidur satu kamar!"


"Nggak peduli!" ucap Heaven kemudian menatap Zia yang sedang bingung. "Udah kan makannya?" tanyanya.


Zia beranjak berdiri karena Heaven tiba-tiba menarik tangannya. "Kak mau ke mana?" tanyanya bingung.


"Tidur lah udah malem!"


"Sayang, kamu dengar nggak sih yang Mama bilang?" Mama masih berusaha mencegah, namun Heaven tidak peduli. Entah apa yang ada dipikirannya saat ini.


"Heaven! Kamu tidak diizinkan tidur sama Zia! Kalian masih sekolah, jangan membantah!" tegur Papa dengan suara baritonnya.


"Iya-iya, cuma pinjem sebentar. Nanti dibalikin lagi!" balas Heaven menarik Zia pergi meninggalkan ruang makan. Tanpa mereka sadari, anak itu tersenyum penuh arti.


Mana mungkin itu terjadi!


Garnis hanya mampu menggelengkan kepala. "Anak kamu Pah!"


"Anak Mama juga!" balas Papa.


"ANAK KALIAN BERDUA!"


🎀🎀🎀


Sambil menunggu Heavanna up, mampir dulu yuk ke karya keren di bawah ini.


Judul : Kisah Cinta CEO Dan Dokter Cantik


Napen : Anisyah S


__ADS_1


...Sampai bertemu di cerita Heavanna selanjutnya 👋🏻...


__ADS_2