
Dentuman keras terdengar jelas dari dalam rumah keluarga Dagistani, tampaknya benda berukuran besar baru saja terjatuh di dalam sana. Kekhawatiran Icha semakin menjadi, suara itu terdengar ketika dirinya baru saja turun dari taksi bersama Zia. Tanpa pikir panjang, Icha langsung berlari menuju pintu utama setelah membayar biaya taksi. Zia yang tidak ingin ketinggalan pun ikut berlari, untuk mengawasi Icha agar tidak bertindak gegabah.
"Cha, jangan masuk dulu!" Melihat Icha hendak membuka pintu, Zia langsung mempercepat langkahnya, kemudian menarik Icha menjauh dari pintu.
"Lepasin Zia, Icha mau masuk!" Masih dengan air mata mengalir di pipinya, Icha memberontak minta dilepaskan.
"Ssstttt Cha, dengerin gue dulu. Lo nggak bisa masuk asal-asalan kayak gini. Yang ada ntar lo cuma nyusahin Kakak lo!" lirih Zia seraya memegang kedua bahu Icha, mencoba menenangkannya.
"Tapi Zia, Kak Cakra ...." Icha menggantungkan ucapannya, bingung dengan apa yang harus dirinya lakukan saat ini.
"Cha, kita pelan-pelan oke. Jangan sampe bokap lo tau kalo kita ada di sini. Gini deh, mending lo jalan dibelakang gue aja. Kalo nanti ada apa-apa, seenggaknya lo masih bisa lari." Tidak ada pilihan lain, Zia tahu Icha sedang merasa takut saat ini. Zia menduga, Icha sudah pernah merasakan apa yang pernah dirinya rasakan ketika diculik oleh Rico dulu.
Icha menganggukkan kepalanya cepat, kemudian menghapus air matanya asal. "Kita lewat samping rumah aja ya Zia, Icha takut Papa tau."
Zia mengangguk, kemudian berjalan mengikuti arah yang Icha tunjukkan. Sesampainya di samping rumah, kedua gadis itu memilih masuk melalui jendela. Seperti seorang maling, kedua gadis itu memasuki rumah tanpa mengeluarkan suara sedikitpun. Keduanya berjalan mengendap-endap melewati sebuah ruangan, hingga terdengar suara seseorang menghentikan langkah keduanya.
"Mau kamu bawa ke mana surat-surat penting itu? Kamu pikir kamu siapa? Berani-beraninya kamu ingin mengelabui saya!"
Terdengar suara Rico dari arah ruang tamu, pria itu tengah mencengkeram kerah baju Cakra yang sudah terkulai lemas di atas kursi.
"Anda lupa? Semua kekayaan ini masih menjadi milik adik saya. Jadi sampai kapanpun saya tidak akan pernah membiarkan Anda merampasnya dengan mudah!"
Dengan posisi tubuh sudah terikat, Cakra menyeringai, menatap Rico tanpa rasa takut. Tadinya, ia berniat membawa kabur semua surat-surat penting milik keluarganya. Namun sayangnya, Rico sudah lebih dulu mengetahui keberadaan Cakra di sana. Hingga akhirnya, pria paruh baya itu berhasil melumpuhkan Cakra menggunakan senjata api yang tepat mengenai kakinya.
__ADS_1
Rico menajamkan matanya, seringai jahat tersungging di bibirnya. "Merampas? Bukankah kalian berdua anak saya? Lalu untuk apa saya merampas harta milik keluarga saya sendiri?"
"Tutup mulut Anda, Pembunuh. Sampai kapanpun Anda tidak akan pernah menjadi orang tua kami, karena Anda hanyalah seorang pembunuh. Anda telah membunuh kedua orang tua saya!"
Cakra berteriak marah, selama ini dirinya selalu diam di depan Rico. Jika bukan untuk melindungi Icha, mana mungkin dirinya akan diam saja membiarkan Rico berlaku semena-mena pada dirinya dan Icha. Rico memang bukan orang tua kandung mereka. Saat Icha dan Cakra masih kecil, pria itu datang dan merusak semua kebahagiaan dalam keluarga Dagistani.
Satu persatu, Rico melancarkan aksinya dengan membunuh Ayah kandung Icha lebih dulu. Kemudian, pria itu menjebak Ibu kandung Icha hingga membuat keduanya menikah. Tidak cukup sampai di situ, Rico bahkan membunuh Ibu kandung Icha secara sadis di hadapan Cakra dan Zia dulu. Karena itu, keduanya memiliki trauma yang begitu membekas hingga sampai detik ini.
"Bertahun-tahun saya mengasuh kalian berdua, beginikah cara kalian membalas kebaikan saya? Jika tidak bersama saya, kalian berdua pasti akan hidup lebih sengsara!" ucap Rico menggebu.
"Sengsara Anda bilang? Hidup saya bahkan akan lebih bahagia jika Anda tidak pernah hadir dalam keluarga kami. Jika bukan karena Icha masih kecil, mana mungkin saya akan membiarkan Anda berpura-pura menjadi Ayah kandung di dalam keluarga kami!" ucap Cakra. Selain karena alasan Icha masih kecil, Cakra juga seringkali mendapat ancaman dari Rico agar tidak mengatakan yang sebenarnya.
Mendengar ucapan Cakra, Zia dan Icha yang masih bersembunyi dibalik tembok seketika terkejut. Tidak pernah mereka duga, ternyata Rico bukanlah Ayah kandung dari Icha dan Cakra. Zia beralih menatap Icha, gadis itu masih menatap kosong ke depan, sedang mencerna semua yang barusan ia dengar.
"Zia, ternyata Papa bukan ...." Icha tidak mampu melanjutkan ucapannya. Pantas saja selama ini dirinya selalu mendapatkan perlakuan tidak menyenangkan dari Papanya.
Rico berteriak marah, sampai detik ini, tujuannya untuk memiliki seluruh harta keluarga Dagistani belum juga tercapai. Semua itu terjadi, karena istrinya sudah lebih dulu mewariskan sembilan puluh persen hartanya pada Icha sebelum dibunuh. Dan harta peninggalannya hanya bisa di ambil alih oleh orang lain ketika Icha sudah memasuki usia dua puluh tahun, itupun atas izin dari Icha sendiri.
Cakra tertawa keras mendengar ucapan Rico. Dibawah tekanan rasa sakit, ia mencoba untuk tetap bertahan menghadapi semuanya. "Seperti yang telah Ibu saya lakukan, sampai kapanpun saya tidak akan membiarkan semua kekayaan ini jatuh pada orang yang salah!"
"Anak sialan!" teriak Rico mengangkat tangannya.
Plakk
__ADS_1
Tamparan keras mendarat di pipi Cakra. Pria itu meringis, mencoba menahan semua rasa sakit ditubuhnya akibat siksaan Rico sejak tadi. Cakra tertawa, meski dengan rasa sakit menjalar di seluruh tubuhnya. "Sepertinya Anda lupa, jika Anda membunuh saya hari ini, maka selamanya Anda tidak akan pernah mendapatkan apapun yang Anda mau!" Seringai mengejek terukir di bibirnya.
Rico tersadar, jika dirinya membunuh Cakra sekarang, maka sampai kapanpun ia tidak akan memiliki sepeserpun dari harta peninggalan istrinya. Semua itu karena surat wasiat sialan yang ditulis oleh sang istri sebelum kepergiannya. Yaa tidak disangka ternyata mendiang istrinya terlalu pandai untuk ia hadapi, hingga dirinya tidak mampu berkutik sampai detik ini.
"AARRGGGHHH KAMU SEMBUNYIKAN DI MANA ANAK SIALAN ITU HAH?!" bentak Rico menggila.
"Jangan pernah mengatai adik saya dengan mulut kotor Anda. Sampai matipun saya tidak akan pernah memberitahu Anda, dan saya tidak akan pernah membiarkan harta keluarga saya jatuh ke tangan Anda!" ucap Cakra dengan berani.
"Jadi itu yang kamu inginkan?" tanya Rico seraya mengambil senjata api di saku celananya. "Bagaimana jika hari ini adalah hari terakhir mu di dunia ini?"
Cakra masih menatap Rico tanpa rasa takut, meskipun senjata api kini sudah mengarah padanya. "Saya tidak takut, karena setelah itu Anda tidak akan lagi bisa melakukan apa-apa!" ucapnya.
"Kamu yakin, saya tidak akan bisa melakukan apa-apa?" Rico menyeringai seraya mendekatkan senjata miliknya pada bagian kepala Cakra, kemudian menarik pelatuknya secara perlahan. "Jika mau, saya bisa membunuhmu dan adikmu sekaligus!" lanjutnya menyeringai.
"Maka lakukanlah, dengan itu Anda tidak akan pernah mendapatkan apapun yang Anda mau dari keluarga saya!" jawab Cakra menantang. Ia tahu Rico tidak akan bisa melakukannya, karena sebenarnya Rico sangat membutuhkan semua harta itu.
"Baiklah, bersiap-siap lah menuju neraka!" Rico menarik pelatuknya hingga sempurna, kemudian mengarahkan pistol hingga menempel di kening Cakra. Dalam hitungan detik, maka peluru akan bersarang di otaknya. Dan setelah itu, maka Rico tidak akan mendapatkan apapun setelah apa yang ia lakukan selama ini.
"BERHENTI! JANGAN LAKUKAN ITU PADA KAKAK KU!"
Terdengar suara Icha memenuhi seantero ruangan, gadis itu tanpa pikir panjang langsung berlari menghampiri Cakra dan Rico. Sementara Zia hanya mampu terdiam di tempat, melihat apa yang dilakukan Icha. Tadinya, Zia ingin mencegah apa yang dilakukan Icha. Namun entah mengapa, kekuatan Icha secara tiba-tiba jauh lebih besar darinya, hingga membuatnya ikut terseret keluar.
"Kejutan macam apa ini?" Rico menyeringai melihat ada dua gadis di hadapannya. Pandangannya tertuju pada Zia, pria tua itu masih bisa mengenali siapa gadis itu. "Putri Tuan Zielinski? Kebetulan sekali Anda juga berada di sini!"
__ADS_1
🎀🎀🎀
...Sampai bertemu di cerita Heavanna selanjutnya 👋🏻...