Heavanna

Heavanna
103. TERTANGKAP?


__ADS_3

Setelah lama mencari jalan pulang, Zia, Handa dan Icha yang kelaparan akhirnya mampir ke sebuah restoran untuk mengisi perut sambil mengistirahatkan diri. Sebelumnya mereka sempat beristirahat di rumah sakit selama beberapa jam, karena harus menunggu Icha yang belum sadar dari pingsannya. Beberapa kali mereka memang sempat kesasar saat dalam perjalanan pulang, hingga membuang cukup banyak waktu. Dan kini mereka tengah menyantap makan malam di restoran favorit Handa dan Icha yang untungnya masih buka.


"Kalian udah selesai belum?" tanya Zia yang sudah lebih dulu menghabiskan makanannya.


"Sabar kali Zi, masih banyak ini!" jawab Handa yang masih menyantap makanannya. "Lo kenapa sih dari tadi, buru-buru banget mau pulang?"


Zia menggelengkan kepala dengan tak minat, sebenarnya ia sedang memikirkan bagaimana reaksi Heaven ketika bertemu nanti. Sudah dapat dipastikan Heaven akan sangat marah padanya, dan Zia tidak ingin itu terjadi. Cowok itu pasti sedang mencari keberadaan dirinya sekarang, apalagi pagi ini ia tidak mengirimkan pesan apapun padanya.


"Zia udah kangen ya sama Kak Heaven?" tanya Icha yang baru saja menghabiskan minumannya.


"Bukan!" jawab Zia singkat. Gadis itu mengambil kentang goreng di hadapannya lalu memakannya dengan malas, sembari memikirkan bagaimana cara menghadapi Heaven nantinya.


"Udah lo tenang aja, nanti gue bantuin!" ucap Handa yang cukup tahu apa yang sedang Zia khawatirkan saat ini.


Beberapa menit kemudian ketiga gadis itu baru keluar dari restoran. Menyadari waktu sudah semakin malam, mereka memutuskan untuk segera pulang. Malam ini Zia berencana akan menginap di rumah Handa bersama Icha, karena memang Zia belum siap bertemu dengan Heaven. Cowok itu pasti akan memarahi dirinya habis-habisan, dan Zia belum siap akan hal itu.


"Zi, lo yang bawa mobil ya. Tangan gue masih pegel!" ucap Handa sembari memberikan kunci mobil. Ketika perjalanan pulang tadi memang Handa yang menyetir mobil, bergantian dengan Zia yang sudah kelelahan setelah lama berkejaran dengan Danis di jalanan.


"Oke!" Dengan senang hati, Zia masuk ke dalam mobil dan duduk di belakang kemudi lebih dulu.


"Pelan-pelan bawanya, jangan kayak orang kesetanan!" peringat Handa yang kini duduk di samping Zia. Sementara Icha duduk di belakang seorang diri, karena Zia tidak mau duduk di depan sendiri seperti seorang supir.


"Zi, lo serius mau nginep di rumah gue?" tanya Handa memastikan.


"Serius! Gue belum siap ketemu sama Kak Heaven, pasti nanti dia marah-marah nggak jelas!" jawab Zia sembari melajukan mobilnya membelah jalanan malam itu.


Handa mengangguk mengerti, membiarkan Zia mengendarai mobil dengan nyaman. Sejauh ini semua berjalan lancar, Zia masih mengendarai mobil dengan kecepatan sedang. Handa memilih menikmati pemandangan di sekitar tempat yang mereka lewati, sementara Icha memilih memejamkan mata karena sudah mulai mengantuk.


"Zia, coba cek deh. Kayak ada yang ngikutin kita nggak sih?" Handa mulai gusar, sejak tadi pendengarannya terganggu oleh banyaknya suara klakson motor di belakang sana.


Zia melihat ke arah spion luar. Dan benar saja, ada banyak pengendara motor yang sedang mengikuti mobilnya saat ini. "Gawat Nda, kayaknya kita diikuti sama geng motor!" ucap Zia mulai panik.


"Hah masa sih?" Handa menengok ke belakang untuk memastikannya, memang benar, ada banyak pengendara motor yang sedang melaju cepat di belakang sana. "Wah anjir banyak banget lagi!" pekiknya terkejut.

__ADS_1


"Ngebut Zi, ngebut buruan!" lanjut Handa menepuk bahu Zia berulangkali.


Sesuai permintaan Handa, Zia langsung melajukan mobilnya dengan kecepatan tinggi. Tidak peduli dengan banyaknya pengendara lain di depannya, Zia hanya takut jika mereka adalah para musuh dari geng Clopster. Apalagi ia tidak bisa melihat dengan jelas siapa yang sebenarnya sedang mengikuti mobilnya saat ini, karena cahaya terang dari lampu motor-motor itu membuatnya tidak bisa memastikan dengan jelas.


"Handa ada apa?" tanya Icha dari belakang. Mulai merasa takut karena Zia kembali melajukan mobilnya dengan kecepatan tinggi seperti yang terjadi ketika siang tadi.


"Nggak ada apa-apa, pegangan Cha!" ucap Handa yang tidak ingin Icha ketakutan.


Tinn...


Tinn...


Tinn...


Suara klakson motor saling bersahutan, Zia masih mempertahankan laju mobilnya dengan kecepatan tinggi. Di belakang sana, para pengendara motor itu masih mengejar mobilnya. Posisi mereka semakin lama semakin mendekat, Zia yang tidak ingin terjadi sesuatu sekali lagi menambah kecepatan mobilnya.


"Ada lampu merah di depan Zi, tinggal berapa detik lagi bakal nyala. Mau nggak mau lo harus lewat dulu, kalo nggak kita bakal ketangkep sama mereka!" ucap Handa memperingatkan Zia.


Zia masih fokus dengan setirnya, tinggal berapa detik lagi lampu merah akan menyala. "Please, please, please!" lirih Zia berharap bisa melewati perempatan jalan, sebelum lampu hijau berubah merah.


Tinggal dua detik lagi lampu akan berubah merah, Zia nekat menerobos karena memang masih ada waktu yang tersisa. Di sekitar sana juga tidak banyak kendaraan yang melintas, mungkin karena memang waktu sudah cukup malam, dan sebagian orang sudah berada di rumahnya masing-masing.


"YEAH AKHIRNYA BERHASIL!" pekik Zia dengan senangnya.


"Sumpah lo emang keren Zi!" ucap Handa ikut senang. Berbeda halnya dengan Icha yang masih meringkuk sambil memejamkan mata karena takut di belakang.


Zia memeriksa keadaan di belakang, semua anak motor itu tidak lagi mengejar mobilnya karena terhalang lampu lalulintas yang sudah menyala merah. Kedua gadis itu tersenyum penuh kemenangan, karena sekali lagi mereka bisa menghindari bahaya yang mungkin saja akan mengancam nyawa mereka.


"Nggak nyangka gue bisa sehebat itu!" ucap Zia masih tidak percaya.


"Mending kita ke rumah langsung Zi, gue udah capek kejar-kejaran mulu!" pinta Handa yang ingin segera sampai di rumah.


"Gue juga!" Zia langsung mengarahkan mobilnya menuju jalanan kompleks perumahan tempat tinggal Handa. Sebelum anak geng motor tadi kembali melihat keberadaannya dan kembali mengejar mobilnya.

__ADS_1


"Handa, Icha takut!" ucap Icha yang sebenarnya sudah menangis sejak tadi.


Handa menengok ke belakang, lalu mencoba menenangkan sahabatnya yang cengeng itu. "Udah jangan nangis, kita aman kok. Otw pulang ini!" ucapnya menenangkan.


"Buruan Zi, gue capek!" pinta Handa lalu menyandarkan tubuhnya yang terasa pegal.


Zia masih menjalankan mobilnya menuju kompleks perumahan elit di kota itu, perjalanan masih cukup jauh untuk bisa sampai di rumah Handa. Jalanan cukup sepi, tidak ada satupun kendaraan yang melintas di sana. Namun saat membelokkan arah ke kiri, ketiga gadis itu justru dikejutkan oleh banyaknya pengendara motor yang menutup akses jalan. Zia menelan salivanya dengan kasar, saat matanya melihat beberapa motor itu mulai berjalan mendekati mobilnya di depan sana.


"Nda, itu bukan anak motor yang ngejar kita tadi kan?" tanya Zia sembari menghentikan mobilnya.


"Nggak tau gue, Zi. Nggak biasanya juga ada anak motor nongkrong di sini, apa jangan-jangan emang mereka yang ngejar kita tadi?" Handa mencoba melihat dengan jelas siapa mereka, namun cahaya yang menyoroti mobilnya begitu terang, hingga sangat sulit baginya melihat mereka dengan jelas. "Kayaknya mending kita mundur deh, nggak mungkin kan kita lawan mereka semua?" ucapnya takut.


"Mundur, mundur! Buruan!" titah Handa melihat mereka mulai mendekat. "Gue nggak bisa lawan mereka semua!"


Zia hendak memundurkan mobilnya. Namun saat memeriksa ke belakang, ia malah dikejutkan oleh tiga pengendara motor yang kini berjalan mendekati mobilnya. Zia menyadari kini mobilnya sudah terkepung oleh semua orang di sana, hingga tidak tahu lagi harus melakukan apa.


"NGGAK BISA NDA, DI BELAKANG ADA MOTOR JUGA! MASA IYA GUE TABRAK MEREKA?"


🎀🎀🎀


Sambil menunggu Heavanna up, mampir dulu yuk ke karya keren temanku. Beliau juga salah satu pemenang di event lomba YMYB kemarin lho, ceritanya keren pokoknya. Jangan lupa mampir ya 🥰


JUDUL : ROMANSA BIAS DAN ZEE


KARYA : BUBU.id


Zee masuk dalam sekolah unggulan di mana Bias menjadi idola di sana. Zee berbeda, ia memilih berpenampilan jelek di sekolah untuk mengetahui ketulusan orang-orang di sekitarnya. Ya, di masa peralihan itu Zee tidak ingin dikenal menjadi gadis berpenampilan cantik, tetapi Zee ingin dikenal sebagai gadis berotak cerdas.


Suatu hari Zee mendapat surat tertanda Bias sang idola. Hati Zee tak menentu.


"Mungkinkah kak Bias menyukaiku yang jelek?"


__ADS_1


🎀🎀🎀


...Sampai bertemu di cerita Heavanna selanjutnya 👋🏻...


__ADS_2