
Jam pelajaran masih berlangsung, Heaven yang sedang malas mengikuti pelajaran memilih pergi ke atas rooftop. Seperti biasa, cowok itu hanya berdiam diri sembari tiduran, menikmati semilir angin yang menerpa tubuhnya. Damai, tidak ada suara bising yang biasa mengganggu ketenangannya. Heaven masih memejamkan mata, saat seseorang tiba-tiba datang menghampiri dirinya.
"Kak Heaven?"
Suara lembut seorang gadis terdengar memanggil namanya, Heaven membuka matanya dengan malas. Baru beberapa menit ia memejamkan mata, kini sudah ada lagi yang berani mengganggu waktu istirahatnya. Cowok itu mendudukkan diri, menatap tidak suka gadis yang telah mengganggu dirinya. Tampak di depan sana, Rexie tengah berdiri dengan bantuan tongkat masih menatap ke arahnya.
"Kak Heaven ngapain di sini?" tanya Rexie mendekat.
Melihat gadis itu mendekat, Heaven langsung beranjak dari duduknya. "Menurut lo?!" jawabnya tak berminat.
"Galak banget sih Kak, cuma nanya doang juga." Rexie beranjak mendudukkan diri, menatap langit biru yang begitu menyilaukan mata jauh di atas sana. "Bukannya masih jam pelajaran ya, kok Kak Heaven nggak masuk kelas?"
"Bukan urusan lo!" tekan Heaven lagi.
Rexie tersenyum tipis, mencoba memaklumi sifat Heaven yang memang sangat dingin pada setiap orang, kecuali ... Zia. Setidaknya informasi itulah yang sering kali ia dengar setelah pindah ke sekolah ini, dan hal itu semakin membuatnya tertarik. "Emang bukan urusan gue sih, cuma tanya aja!"
"Nggak ada hak lo nanya-nanya gitu ke gue!" Heaven berjalan hendak meninggalkan Rexie, namun ucapan gadis itu selanjutnya membuat Heaven menghentikan langkahnya.
"Lo yakin mau pergi gitu aja?" Rexie tersenyum penuh arti.
"Maksud lo?" tanya Heaven kemudian membalikkan badannya.
"Bukannya lo penasaran kemarin, kenapa gue sama Zia bisa marahan kayak gini?"
Heaven terdiam di tempat. Tidak beranjak pergi, tidak juga menjawab pertanyaan Rexie. Tidak bisa dipungkiri, sebenarnya Heaven sangat penasaran akan hal itu. Banyak pertanyaan yang muncul dalam benaknya, apalagi setelah kejadian di rumah sakit kemarin. Pandangan Zia terhadap Rexie berbeda, ia menangkap raut khawatir pada wajah Zia ketika melihat Rexie terluka. Heaven melihatnya dengan jelas saat itu. Namun anehnya, Zia selalu bersikap seolah tidak peduli dengan keadaan gadis itu.
"Lo nggak penasaran, alasan Zia pindah ke sekolah ini?" tanya Rexie sekali lagi.
"Gue nggak penasaran!" Heaven membalikkan badannya hendak pergi, ia sadar berbicara dengan Rexie hanya membuang-buang waktu. Tidak seharusnya ia mempercayai gadis yang baru dikenalnya itu.
"Dia pindah ke sini, itu karena cinta pertamanya!" Ucapan Rexie kembali berhasil menghentikan langkah Heaven, gadis itu tersenyum penuh arti.
"Cinta pertama?" Heaven kembali menatap ke arah Rexie, keningnya berkerut penuh rasa penasaran.
__ADS_1
Rexie menganggukkan kepalanya. "Gue yakin sampai sekarang Zia masih belum bisa bales cinta lo!"
Heaven terpaku, merasa tertampar mendengar ucapan Rexie. Tangannya terkepal kuat menahan amarah yang muncul dalam benaknya. Yang dikatakan Rexie memang benar, Zia belum bisa membalas perasaannya sampai detik ini. Apa itu karena cinta pertamanya? Berbagai macam pertanyaan muncul dalam benak Heaven. Jika semua itu benar, akankah ada kesempatan untuknya menggantikan posisi cinta pertama itu.
"Cinta pertama Zia berkhianat, dia selingkuh. Dia mencintai gadis lain di belakang Zia," ucap Rexie mulai menceritakan.
"Dan lo tau siapa selingkuhannya?" Rexie terkekeh miris. "Itu gue, gue selingkuhan cowok Zia saat itu. Dan sekarang gue nyesel, gue nyesel kehilangan teman sebaik Zia!" lanjutnya.
"Gue tau Zia masih menyimpan rasa buat cinta pertamanya, dia bahkan bahagia banget waktu pertama kali pacaran sama cowok itu dulu!" Rexie beranjak dari duduknya. "Dan itulah alasan kenapa Zia belum bisa terima cinta lo sampai detik ini, tebakan gue bener kan?" Ia tersenyum miring.
"Zia masih menyimpan hati buat cinta pertamanya! Dan-"
"Stop!" Heaven mengepalkan tangannya geram, menatap Rexie dengan tajam. "Jangan bicara tentang Zia pake mulut kotor lo itu!"
"Gue tau sekarang, alasan kenapa Zia selalu larang gue buat deket sama lo!" Heaven menatap jijik Rexie yang tengah berdiri tidak jauh dari tempatnya. "Karena lo emang sampah yang harus dijauhi sebelum jadi penyakit!" ucapnya pedas.
Rexie terpaku di tempatnya, ucapan Heaven benar-benar sama dengan kata-kata pedas yang pernah Zia ucapkan padanya dulu.
"Lo pikir dengan bicara tentang masa lalu Zia, gue bakal nyerah gitu aja? Lo salah, gue bukan cowok pengecut kayak cinta pertama yang lo bicarain itu. Gue bukan cowok bego yang bakal ninggalin Zia demi cewek murahan kayak lo!" ucap Heaven dengan penuh penekanan.
"Satu hal yang harus lo tau, gue lebih percaya sama cewek gue daripada ucapan nggak bermanfaat lo ini. Kalo pun semua yang lo bicarain tadi bener, gue nggak akan pernah ninggalin Zia sampai kapanpun! Camkan itu!" ucap Heaven dengan penuh keyakinan.
"Apa lo yakin bisa bikin Zia suka sama lo?" tanya Rexie memastikan. "Asal lo tau aja, mantan pacar Zia udah ada di sini. Dia bisa kapan aja dateng buat nemuin Zia kalo mau!"
"Tapi, terserah lo juga sih. Gue cuma mau ingetin aja, kadang cinta pertama itu susah buat dilupain!" lanjutnya.
Heaven masih menatap gadis di hadapannya. "Mantan pacar Zia ada di sini?" tanyanya.
Rexie menganggukkan kepalanya. "Gue yakin lo udah ketemu dia sebelumnya!"
"Kalo sampai dia berani ganggu Zia lagi, jangan harap dia akan hidup nyaman selama ada gue di sini!" tegas Heaven penuh ancaman.
"Nggak semudah itu lo bisa lawan dia, karena dia bukan orang sembarangan!" ucap Rexie mengingat sosok Danis yang begitu teguh dalam pendiriannya.
__ADS_1
"Dan asal lo tau! Sesulit apapun itu, gue nggak akan menyerah! Kata takut nggak ada dalam kamus hidup gue!"
Rexie berjalan cepat mendekati Heaven yang hendak pergi. "Kak, gue cuma nggak aaaakh...."
Heaven membalikkan badannya mendengar teriakan Rexie, secara tiba-tiba gadis itu kehilangan keseimbangannya membuat Heaven refleks menangkap tubuhnya yang akan jatuh ke arah dirinya. Heaven terkejut, tanpa ia sadari Rexie sudah menyandarkan tubuhnya dengan tangan berpegangan erat pada bahunya.
"Aw ssshhhh... kaki gue!" rintih Rexie masih bersandar pada Heaven.
Tanpa keduanya sadari, seorang gadis tengah berdiri mematung melihat pemandangan mengejutkan di hadapannya. Zia terkejut, baru saja sampai di rooftop, dirinya langsung disambut oleh situasi di mana Heaven dan Rexie tampak sedang berpelukan di sana. Entah memang berpelukan atau tidak, tapi posisi keduanya saat ini tampak sedang berpelukan dalam sudut pandang Zia.
"Kalian berdua ngapain?" tanya Zia mengejutkan Heaven dan Rexie.
Seketika Heaven mendorong tubuh Rexie hingga terjatuh. Ia bahkan tidak peduli lagi dengan pekikan Rexie ketika pantatnya mencium lantai.
"Aw ssshhhh...." pekik Rexie mengelus pantatnya.
"Na, lo di sini?" tanya Heaven terkejut.
Zia masih terdiam, menatap Heaven dan Rexie secara bergantian. "Kenapa emangnya? Nggak boleh ya gue ke sini?"
"Atau, gue ganggu kalian berdua?" Zia menatap dingin Heaven. "Sorry kalo gitu, gue nggak tau!"
Bola matanya mulai tergenang, Zia langsung melenggang pergi meninggalkan tempat. Hatinya begitu sesak melihat apa yang dilakukan Heaven dan Rexie tadi. Zia memilih pergi karena tidak ingin berlama-lama dalam situasi menyesakkan itu.
"Na, bukan gitu. Gue bisa jelasin!" Heaven segera berlari untuk mengejar Zia, ia sangat tidak ingin gadisnya itu salah paham.
Sementara Rexie yang masih duduk di lantai, kini hanya melongo melihat Heaven dan Zia meninggalkan dirinya sendiri. Gadis itu melirik batu berukuran sedang yang sebelumnya telah membuat dirinya terjatuh. Dengan kakinya yang masih sehat, ia menendang batu itu hingga menjauh. "Batu sialan, bikin gue malu aja!"
Rexie mengambil ponsel dalam saku, membukanya lalu mendial nomor seseorang. Tidak berselang lama panggilan telepon di angkat. "Misi selesai, sesuai permintaan gila lo!"
🎀🎀🎀
Hadehh, Rexie mulai beraksi nih. Enaknya di apain ya? 🤔🤔🤔🔪
__ADS_1
...Sampai bertemu di cerita Heavanna selanjutnya 👋🏻...