Heavanna

Heavanna
63. MENCARI MASALAH


__ADS_3

"Im on the next, level yeah!"


Di dalam perpustakaan yang cukup sepi itu, Icha kembali menyanyi dengan suara cemprengnya. Mengganggu kedua sahabatnya yang tengah serius belajar untuk mengikuti ulangan nanti. Beberapa kali kedua sahabatnya menyuruh Icha untuk diam, namun tetap saja dalam beberapa menit lagi bocah itu kembali menyanyi dengan heboh. Suasana perpustakaan yang cukup sepi membuatnya merasa bebas, karena tidak akan ada siapapun selain kedua sahabatnya yang akan memprotes.


"Belajar Cha! Jangan nyanyi mulu, berisik!" ucap Handa kesal, "Pecicilan mulu dari tadi!"


"Icha nggak pecicilan kok!" sahut Icha masih dengan tangan terangkat ke atas.


"Tapi petakilan, kayak kuda lumping!"


"Ish kok kuda lumping sih?" protes Icha cemberut, "Lagunya bagus tau, Handa coba deh nyanyi."


"Im on the next level yeah!" Icha meliuk-liukkan tangannya ke kanan dan ke kiri sambil menyanyi, membuat Handa semakin gusar karena sangat terganggu dengan suara yang menurutnya cempreng itu.


"Diem Cha, diem! Kuping gue sakit denger lo nyanyi!" Handa mengangkat buku di tangannya, hendak melemparkannya pada gadis menyebalkan yang duduk di hadapannya.


Seketika Icha memberingsut, melindungi diri dengan kedua tangannya dari amukan singa betina. "Ish Handa galak banget sih, pantes aja Kak Agam nggak mau!" celetuknya.


"Mulut lo! Ngomong sekali lagi gue jepit sampe monyong!"


"Handa kok kasar ih, nggak suka!" Icha menatap Handa dengan sorot mata tajam karena kesal, tapi mau setajam apapun tetap saja malah terlihat menggemaskan bagi siapapun yang melihatnya.


"Biarin, suara kayak kaleng rombeng aja gegayaan nyanyi!" balas Handa ikut menatap tajam.


"Iiih Handa nyebelin, Handa jelek kayak monyet. Icha nggak suka!" Icha mengalihkan pandangannya, merajuk sambil melipat kedua tangannya di depan dada. Begitu juga dengan Handa yang melengos ke kiri, ke arah di mana Zia berada.


Handa masih memperhatikan Zia yang tengah fokus menatap buku, terdistraksi pemandangan tidak biasa di hadapannya. Terasa sedikit aneh karena sejak tadi Zia terus menatap ke arah yang sama, bahkan sejak beberapa menit yang lalu masih berada di halaman yang sama. Menyadari Zia sedang melamun dengan perlahan Handa menepuk bahu gadis itu, mencoba menyadarkannya sebelum berlarut-larut dalam lamunannya.


"Zia? Lo kenapa?" tanyanya pelan.


Tidak ada jawaban dari gadis itu, pandangannya masih menatap kosong buku tanpa berkedip. Zia masih memikirkan kejadian saat dirinya tidak sengaja melihat sosok Danis saat akan pulang bersama Heaven kemarin. Berbagai pertanyaan muncul di benaknya, bagaimana bisa mantan pacarnya itu ada di Indonesia. Dan yang lebih mengagetkan lagi, ia sempat mendengar Danis memanggil namanya kemarin. Apa mungkin Danis masih ingin berhubungan dengannya? Ah memikirkan hal itu malah membuat Zia marasa bimbang.


"ZIA!" panggil Handa lagi sembari menepuk bahu gadis itu lebih keras, "Lo kenapa bengong terus dari tadi? Lo sakit?" tanyanya setelah melihat Zia sudah sadar.


Zia menggeleng pelan, memijat pangkal hidungnya agar lebih fokus lagi. "Gue nggak papa kok!"

__ADS_1


"Beneran?"


Zia hanya mengangguk mengiyakan, mana mungkin juga ia menceritakan kedatangan Danis ke Indonesia pada kedua sahabatnya. "Mending kita ke kelas yuk, bentar lagi jam istirahat selesai kayaknya!" ajaknya.


Zia beranjak pergi membawa beberapa buku miliknya, pikirannya sedang sangat kacau hingga membuatnya tidak bisa fokus. Handa menyadari hal itu namun hanya diam saja, karena tidak ingin memaksa Zia untuk menceritakan tentang masalahnya. Gadis itu langsung menarik Icha keluar, mengikuti Zia dari belakang. Handa berlari kemudian merangkul bahu Zia, mencoba untuk mengalihkan pikiran gadis itu dari lamunan.


"Lo kenapa sih? Mikirin ulangan?" tanya Handa terkesan santai, "Ya elah Zi, lo itu pinter. Nggak belajar juga pasti otak lo tetep encer. Nggak kaya yang di sebelah gue!" Ia melirik gadis yang berjalan disampingnya.


"Ish Handa kok nyindir sih, emang icha salah apa coba?" Icha mengerucutkan bibirnya, lalu mencomot bibir Handa yang tengah mencibir tanpa suara.


"Njir asin!" Handa melepehkan rasa asin di mulut saat tidak sengaja salah satu jari Icha masuk ke dalam mulut, "Abis pegang apa lo Cha?"


"Icha kan abis cebok tadi!" jawabnya menyengir lebar sambil menunjukkan tangan kirinya.


"Jorok banget lo Cha, ih huekk!"


Icha terkikik geli melihat wajah Handa yang kian memerah, padahal rasa asin itu bukan karena dirinya habis buang air. Entahlah, Icha juga tidak tahu bagaimana bisa tangannya asin. Mungkin karena ia tidak sengaja menyentuh sisa makanan di meja perpustakaan tadi, karena sebelumnya meja itu memang sempat di tempati orang lain. "Nggak kok Icha bohong, kan dari tadi Icha nggak ke kamar mandi!"


"Sialan lo Cha! Terus ini asin dari mana?" tanya Handa mendelik.


Bruk


"Zia?" Handa terkejut melihat Zia tiba-tiba oleng dan terjatuh di lantai, beralih menatap tajam seorang perempuan yang telah menyenggol bahu gadis itu dengan keras. "KALAU JALAN LIHAT-LIHAT! BUTA MATA LO?" semprot Handa pada tiga gadis yang kini tengah tersenyum sinis padanya.


"Siapa lo? Nggak sopan banget sama Kakak kelas!" balas Angel tidak kalah menantang, "Salah dia sendiri ngehalangin jalan gue!"


"Sialan! Lo pikir gue nggak liat lo sengaja nabrak dia?"


Handa bergerak maju hendak membantai habis ketiga cewek menyebalkan itu, namun tertahan oleh tangan Zia yang tiba-tiba menghentikan pergerakannya. Gadis itu menggeleng kecil. Jika tidak mengingat Zia memiliki trauma, mungkin Handa sudah memberi balasan setimpal untuk mereka. Apalagi kemarin Zia sempat mengatakan bahwa ketiga gadis itu yang telah menguncinya di dalam toilet, dan bukan hanya itu Angel juga telah berani menampar pipi Zia.


"Udah Nda, mending kita pergi aja. Gue nggak papa kok!" Zia menarik tangan Handa untuk segera meninggalkan tempat itu, sebelum semuanya bertambah kacau.


"Cih miris. Ternyata masih ada ya cewek kayak kalian bertiga, hobinya ngerayu cowok kaya!" ucap Angel sinis, "Nggak tahu diri banget!"


Mendengar cibiran itu Handa menghentikan langkahnya, kedua tangannya mengepal kuat. Matanya terpejam sejenak mencoba meredam amarahnya, Handa masih tidak ingin membuat keributan ataupun bertengkar di hadapan Zia saat ini.

__ADS_1


"Gimana rasanya? Ditinggal pas lagi sayang sayangnya?" Dela menatap kedua sahabatnya, lalu terkekeh bersama bermaksud meledek Handa, "Pasti sakit banget!" lanjutnya.


Tidak tahan dengan cibiran itu, Handa membalikkan badan menatap nyalang ketiga cewek yang masih menertawakan dirinya itu. "Maksud lo apa?"


"Maksud gue?" Dela menunjuk dirinya sendiri, kemudian tersenyum penuh arti, "Jauhi Agam!"


"Lo siapa? Pacarnya?"


"Kalau iya kenapa?"


Handa terkekeh kecil, menahan rasa sakit yang tiba-tiba menghimpit rongga dadanya. "Pantes aja bau sampah!"


Dela yang tadinya tertawa kini menatap Handa tajam, tidak terima dengan apa yang di katakan gadis itu. "Maksud lo apa?"


"Dapet barang bekas gue aja bangga! Tukang sampah lo?" desis Handa tajam.


Icha yang berada di sampingnya seketika terkikik geli, kali ini otaknya cukup memahami apa yang sebenarnya sedang terjadi. "Cantik cantik kok sukanya jadi tukang sampah sih, Kak Dela mau main nggak ke rumah Icha?"


"Mau ngapain?" tanya Dela yang dengan bodohnya meladeni Icha.


"Mau Icha kenalin sama Ucit, kecoa peliharaan Icha. Ucit juga suka kok di tempat sampah kayak Kak Dela, siapa tahu cocok!" jawabnya lalu terkekeh. Handa yang mendengarnya langsung mengangkat tangannya, beradu tos dengan telapak tangan Icha.


Dela mengepalkan tangannya geram, begitu juga dengan kedua sahabatnya. "Berani lo ya, nyari masalah sama gue?"


"Apa, lo pikir gue takut?"


Handa menghempas tangan Zia yang masih menahan tangannya, lalu menghampiri Dela yang juga hendak menyerang dirinya. Tidak peduli lagi bagaimana keadaan sepupunya nanti, ia sudah cukup geram melihat ketiga kakak kelasnya berlaku semena-mena. Akan lebih puas jika tamparan yang sempat mereka berikan pada Zia kemarin, dibalas dengan yang lebih dari itu. Handa memang tidak suka memberi belas kasih pada siapapun yang berani mengusik ketenangan anggota keluarganya.


*********


Handa : Buat yang nungguin Kak Danis nanti dulu ya, Handa mau bales tiga curut ini dulu. Rada greget kalo dibiarin hidup tenang, enak aja main nampar-nampar Zia sembarangan. 😠


Jangan lupa tinggalkan jejak ya 😇


...Sampai bertemu di cerita Heavanna selanjutnya 👋🏻...

__ADS_1


__ADS_2