Heavanna

Heavanna
101. TERSESAT


__ADS_3

Handa melihat ke arah yang ditunjuk Zia, di depan sana tampak mobil milik Rico sedang bergerak pelan ke arah mobilnya yang sedang dalam posisi berhenti karena tidak tahu harus melakukan apa. Zia pun masih belum bisa memutuskan akan melakukan apa dalam situasi terdesak seperti ini.


"Zi, kita nggak mungkin ketangkep kan?" tanya Handa mulai ketar-ketir. "Jangan bercanda Zi, nggak mungkin juga gue adu jotos sama mereka. Secara, gue kan cewek. Mana bisa gue lawan mantan mafia!" Handa tertawa garing, antara takut dan penasaran.


"Terus gue harus gimana Nda?" tanya Zia menelan salivanya dengan kasar. Ketegangan itu membuat otaknya tidak mampu berpikir sama sekali, apalagi melihat jauh di belakang sana ada mobil lain yang sedang melaju ke arahnya juga.


"Mundur Zi mundur, cepet mundur!" pinta Handa sedikit takut.


"Nggak bisa Nda, di belakang ada mobil!" ucap Zia bingung.


Handa menengok ke belakang, memastikan apa yang dikatakan oleh Zia. Dan benar saja, tampak di kejauhan sebuah mobil berwarna hitam juga tengah berjalan ke arah mobilnya. "Masa kita pasrah aja sih, nanti gimana kalo sampe ketangkep sama mereka?"


"Kayaknya kita udah masuk perangkap mereka Nda!" ujar Zia sembari berpikir. "Kalo kita maksa mundur, pasti mobil belakang bakal nabrak kita!" lanjutnya menimbang-nimbang.


Namun setelah dipikir-pikir memang ada benarnya, sebuah ide konyol tiba-tiba muncul di pikiran Zia. Memang belum tentu bisa berhasil, namun apa salahnya untuk mencoba lebih dulu. Zia memundurkan mobilnya dengan kecepatan lumayan tinggi, membuat mata Handa seketika melotot lebar. Terkejut, Handa mulai panik melihat apa yang dilakukan sepupunya.


"Zi, wah lo gila! Kenapa mundur? Di belakang ada mobil bego, nyari mati lo!" celetuk Handa mulai takut.


Meskipun mendengar dengan jelas, namun Zia sama sekali tidak peduli ucapan sepupunya. Ia terus memundurkan mobilnya dengan kecepatan tinggi, diikuti oleh mobil Danis dari depan. Ketika sudah merasa cukup dekat dengan mobil di belakang, secara tiba-tiba Zia mengganti arah laju mobilnya ke depan, membuat semua orang di sana terkejut.


Dengan kecepatan tinggi Zia terus melaju menghampiri mobil Danis yang jaraknya masih cukup jauh di depan sana. Di belakangnya Handa hanya mampu melongo tidak percaya, bahkan kepala bagian belakangnya sempat terbentur akibat perubahan arah yang dilakukan secara tiba-tiba. Sementara kedua tangannya masih berusaha menahan tubuh Icha agar tidak terjatuh dari tempatnya.


"Stop Zia! Lo mau ngapain? Wah parah, lo kalo mau cari mati jangan bawa-bawa gue dong!" sungut Handa melihat Zia masih melajukan mobilnya dengan kecepatan tinggi.


Kedua mobil berbeda arah itu semakin mendekat. Bukannya menurunkan kecepatan, Zia malah semakin menambah kecepatan mobilnya. Tindakan nekat ini solah tengah menantang Danis yang sudah diketahui sedang menyetir di depan sana. Entah mendapat bisikan setan dari mana, Zia merasa Danis tidak mungkin membiarkan kedua mobil berkecepatan tinggi itu saling bertabrakan.


Melihat mobil Danis sudah semakin mendekat, Handa membulatkan matanya. "ZIA STOP, GUE NGGAK MAU MATI SIA-SIA! JANGAN AAAAA...!" teriaknya sambil menutup mata.

__ADS_1


Beem, Beem, Beem....


Suara klakson mobil saling bersahutan, Zia sudah tidak peduli lagi bagaimana nasib hidupnya setelah ini. Namun, secara tiba-tiba mobil yang dikendarai Danis tiba-tiba berubah arah, mengganti jalur laju mobilnya ketempat yang seharusnya.


Ciiiittttt...


Zia mengerem setelah berhasil melewati mobil Danis dengan selamat, deru nafasnya memburu, masih tidak percaya dengan apa yang dilakukannya tadi. Seperti dugaan sebelumnya, Danis ternyata memilih membelokkan mobilnya memakai arah penggunaan jalan yang seharusnya. Dan menyelamatkan semua orang di dalam kedua mobil itu.


"Nda, gue berhasil!" ucap Zia tersenyum penuh kemenangan.


Handa membuka matanya sambil memeriksa keadaan tubuhnya yang ternyata masih utuh. Ia kesal dengan Zia, tapi apa yang dilakukannya tadi cukup menyenangkan baginya. Gadis itu menengok ke belakang, memeriksa keadaan di belakang sana.


"Berhasil apaan? Liat tuh, mobil Om Rico putar balik!" ucap Handa menunjuk ke belakang. "Begini amat gue punya sepupu, astaga!" ucapnya mengelus dadanya yang masih berdebar kencang.


Zia melirik ke spion luar, memeriksa keadaan di belakang sana. Dan benar saja, ternyata Danis tidak menyerah begitu saja. Setelah berhasil putar balik, mobil hitam itu kembali mengejar mobil yang dikendarai Zia. Hingga mau tidak mau Zia kembali melajukan mobilnya dengan kecepatan tinggi, menghindar dari pengejaran Danis yang tampaknya belum juga mau menyerah.


Kedua mobil itu kembali saling berkejaran di jalanan, Zia hanya mampu menghela nafas pasrah karena kedua tangannya sudah mulai pegal. Ini adalah kali pertama dirinya mengendarai mobil setelah sekian lama, tentunya masih butuh banyak latihan baginya agar lebih terbiasa. Setelah lama saling kejar mengejar di jalanan, akhirnya Zia yang mengendarai mobil secara sembarangan berhasil menghilangkan jejak dari pandangan Danis dan Om Rico.


"Nggak ada, nggak keliatan!" jawab Handa menghembuskan nafas lega. "Gila, naik mobil sama lo berasa mau mati tau nggak. Nahan nafas mulu gue, berasa naik rollercoaster menuju neraka!" celetuknya sambil mengelus dada.


"Tapi seru kan? Asik banget, berasa abis nemu harta karun gue!" Zia tersenyum penuh kemenangan, lalu menghentikan mobilnya di dekat SPBU untuk mengisi bahan bakar.


"Asik menurut lo, jantungan menurut gue!" sungut Handa sembari melihat ke sekeliling. "Zi, kita dimana sekarang?" tanya Handa tercengang, melihat sekelilingnya begitu asing menurutnya.


"Iya juga ya, gue nggak liat-liat jalan tadi. Apa jangan-jangan kita nyasar?" Zia menggaruk kepalanya yang tidak gatal, melihat ke sekeliling mencari sebuah petunjuk sedang berada di mana mereka saat ini.


"Anjir, beneran nyasar kita Zi?" Handa membulatkan matanya tercengang, lalu menyandarkan tubuhnya pasrah. "Sumpah, nggak lagi-lagi gue biarin lo bawa mobil."

__ADS_1


"Emang bener kata Uncle Zion, lain kali nggak usah deh lo bawa-bawa mobil gini. Bikin gue pusing tau nggak!" sungut Handa kesal.


Zia mencebikan bibir bawahnya, ia jug tidak tahu kenapa bisa kesasar sejauh ini. "Ya sorry, terus mau gimana sekarang?" tanya.


"Udah, mending kita ke rumah sakit terdekat aja dulu. Gue takut Icha kenapa-kenapa!" ucap Handa melihat Icha belum juga mau membuka matanya sejak tadi.


"Duh handphone gue mati lagi, gimana dong Nda?" Zia menunjukkan ponselnya yang sudah tidak bernyawa.


"Ck lo gimana sih? Ada tempat charger tuh di situ. Kayaknya gue bawa charger di dalam tas, colokin aja!" ucap Handa menunjuk ke depan.


Zia membuka tas kecil berwarna abu-abu di sampingnya, setelah diperiksa ternyata tidak ada apapun selain ponsel dan dompet milik Handa di sana. "Apanya yang di colokin Handa, nggak ada apa-apa di sini!"


"Ah masa sih? Perasaan tadi gue bawa charger sama hp gue deh!" Handa mulai mengingat kembali, apa mungkin ia lupa membawa barang-barang miliknya termasuk ponsel.


"Charger apaan? Cuma ada dompet, alat makeup, sama hp lo di sini. Nggak ada yang lain!" ucap Zia menegaskan.


Handa menyengir lebar, mengingat ia memang tidak menyimpan charger di dalam tasnya tadi pagi. "Hehe berarti gue lupa!" cengirnya.


"Ah ya udah lah, yang penting lo bawa hp!" ucap Zia kembali melakukan mobilnya untuk mengisi bahan bakar yang sudah mengering.


🎀🎀🎀


...Sambil menunggu Heavanna up, mampir dulu ke karya keren temenku ini! 🥰...



...Ceritanya seru lho, jangan lupa mampir dan tinggalkan jejak ya 😇...

__ADS_1


🎀🎀🎀


...Sampai bertemu di cerita Heavanna selanjutnya 👋🏻...


__ADS_2