Heavanna

Heavanna
15. SALAH PAHAM


__ADS_3

Terlihat Zia, Handa dan Icha mendekat ke arah tiga cowok itu. Tatapan mata ketiganya tersirat akan kemarahan yang luar biasa, Handa maju paling depan di antara ketiganya. Tangannya terkepal kuat, sungguh dia marah dengan ketiga cowok yang tidak tahu malu itu. Menurutnya ini sudah sangat keterlaluan, memangnya mereka pikir sepupunya itu perempuan seperti apa.


Handa menatap tajam Agam kemudian beralih menatap Nanda, tangannya mulai terangkat saat sudah semakin dekat dengan cowok yang dituju. Namun tidak disangka, tiba-tiba dari belakang Zia menahan tangannya yang hendak menampar Nanda.


Plakk


Tamparan keras tepat mendarat pipi Nanda, bukan Handa yang melakukannya melainkan Zia. Sontak hal itu membuat semua orang terkejut, termasuk Heaven dan Kenzo yang baru saja tiba di pintu masuk. Meski belum melihat siapa ketiga cewek itu, tapi Heaven paham kalau di antara mereka ada Handa dan Icha.


"Kayaknya tamparan ini lebih cocok buat lo dari pada Dio!" ucap Zia dengan penuh penekanan.


"Maksud lo apa?" Nanda terpancing emosi, berdiri balik menatap Zia dengan tajam.


Handa menarik Zia untuk bersembunyi di belakangnya. "Harusnya lo tanya sama diri lo sendiri, maksud lo apa nyuruh Dio nanya kayak gitu ke Zia?" Tanpa rasa takut, Handa ikut menatap tajam Nanda.


"Emang gue nyuruh dia apa bangsat!" bentak Nanda marah.


"NANDA!" bentak Agam. Tidak terima melihat cewek yang disukainya dibentak oleh seorang cowok, meskipun sahabatnya sendiri.


"Apa? Lo mau bela dia?" balas Nanda menatap nyalang.


"Bukan itu maksud gue!" Agam terdiam, tidak tahu mana yang harus ia bela saat ini.


"Apa-apaan ini! Ngapain kalian?" Suara Heaven berhasil menginterupsi semuanya. Semua orang langsung beralih melihat dua cowok yang baru saja datang itu.


Deg


Zia? - gumam Kenzo terkejut. Cowok itu memang tidak tahu menahu tentang kepindahan Zia ke sekolahnya, dan kini sangat dikejutkan dengan kehadirannya.


"NGGAK ADA YANG MAU JELASIN?" bentak Heaven melihat tidak ada yang mau bicara.


"Lo tanya aja ke temen lo satu ini!"


Sekali lagi tanpa rasa takut Handa mengucapkannya, tidak peduli kalau cowok itu Heaven sekalipun. Bagi Handa tidak ada yang lebih penting dari keluarga, siapapun yang berani mengusik keluarganya dia pasti akan berdiri paling depan untuk membela.


"Udah Nda, nggak penting banget ladenin mereka. Mending kita pergi aja!" Icha memegang tangan Handa untuk segera mengajaknya pergi, sebelum suasana semakin tidak terkendali.


"Gue nggak masalah lo semua mau lakuin apapun di sekolah ini, tapi gue nggak bakal diem aja kalau lo ganggu sahabat gue!" ucap Handa pada Nanda dengan penuh penekanan. Sekilas cewek itu melirik Agam sebelum kemudian melangkah mengikuti Icha yang menarik tangannya, meninggalkan kantin yang sudah sangat hening itu.


"Dio udah minta maaf tadi kan?" tanya Zia menatap datar Nanda, "Dia nggak sengaja, apa dengan minta maaf masih kurang buat lo? Dia juga nggak mau itu terjadi!"


"Lo pikir dengan nyuruh dia nanya kayak gitu bakal bikin gue marah dan nampar dia? Lo salah!" ucap Zia pada Nanda menegaskan panjang lebar.


Zia melangkah mendekati Heaven yang terdiam menatapnya, lalu mengambil uang di dalam saku. Cewek itu mengambil tangan Heaven, karena ia yakin cowok itu tidak akan mau menerima uang itu dengan mudah.


"Makasih minumannya, kembaliannya buat lo aja!" Zia memberikan uang pecahan sepuluh ribu ke tangan Heaven, melirik pada Kenzo sekilas kemudian pergi mengejar kedua sahabatnya yang sudah berjalan cukup jauh di depan.


Heaven meremas uang di tangannya dengan rahang mengeras. Gagal sudah rencananya untuk mendekati Zia, tapi tidak semudah itu Heaven menyerah. Masih ada seribu satu cara yang ia miliki untuk mendekati cewek itu. Dia akan melakukannya nanti, karena sekarang yang harus diselesaikan saat ini adalah mencari sumber dari masalah yang terjadi tadi.


"Ada yang bisa jelasin?!" geram Heaven menatap tajam ketiga sahabatnya.


Gala dan Agam pun menatap Nanda meminta penjelasan, Nanda yang merasa terpojok semakin tidak mengerti dengan situasi ini. Dia merasa tidak ada yang salah dengan menyuruh Dio meminta nomor ponsel Zia, tapi kenapa reaksi ketiga cewek itu begitu marah.


"Sumpah, gue cuma nyuruh Dio minta nomor teleponnya doang tadi!" ucap Nanda jujur.


"Lo bilang tadi nyuruh Dio nanya ukuran daleman Zianna. Kenapa sekarang berubah?"tanya Agam mulai terpancing.

__ADS_1


"APA?" pekik Heaven dan Kenzo terkejut bersamaan.


"Lo nyuruh apa tadi?" Heaven kembali bertanya, memastikan kalau apa yang dikatakan Agam tidaklah benar.


"Gue cuma bercanda ke lo tadi. Yang bener tuh gue tadi nyuruh Dio buat minta nomor teleponnya, kalau nggak percaya lo tanya aja ke Dio nya langsung." Nanda menunjuk Dio, dan semuanya pun beralih menatap cowok berkacamata itu.


"I-iya Kak, tapi maaf aku nggak dapet nomor teleponnya," jawab Dio menunduk takut. Bagaimana tidak? Kelima cowok itu tengah menatapnya dengan tajam saat ini.


"Pergi lo!" titah Heaven setelah mendengar jawabannya.


*********


"Emang setan tuh anak, pengen gue bejek-bejek jadi rujak terus gue kasih ke penghuni kebun binatang!" Handa mendudukkan diri di tempat duduknya sambil menggerutu kesal.


"Udah jangan marah marah mulu ntar cepet tua lo," ucap Icha menenangkan.


"Lo nggak lihat apa, tampangnya yang nggak merasa berdosa sama sekali tadi?"


"Udahlah Nda nggak usah di pikirin lagi. Lagian udah berlalu juga," sahut Zia.


"Ya nggak bisa lah Zia, mana bisa gue terima sepuemmmmpppphhhhh...." Ucapan Handa hilang bersama bekapan tangan Zia.


"Ssstt... udah nggak usah marah marah lagi." Zia masih membekap mulut sepupunya, sembari mengalihkan pembicaraan.


Handa baru menyadarinya, untung saja Zia lebih dulu membekap mulutnya. Kalau tidak mungkin ia sudah membongkar rahasia mereka pada semua anak yang ada di kelas saat ini. Ia melepas tangan Zia agar menjauh dari mulutnya, rasa kesalnya masih belum reda saat ini.


"Lo juga sih pake narik gue segala, 'kan jadi gagal gue nampar muka songong dia!" ucap Handa menggerutu kesal.


"Terserah lo aja Nda, udah biarin aja Zi. Obatnya udah abis, ntar juga sembuh sendiri."


"Icha, bukan paus orca! Baru nyadar apa kalau suka angot angotan? Bentar bentar marah, bentar bentar ketawa, ntar tiba-tiba nangis. Jadi ngeri liatnnya!" balas Icha bermaksud sebagai candaan.


"Kampret lo!" ucap Handa kesal. Tapi, memang benar apa yang di katakan Icha tadi.


*********


Bel tanda pulang sekolah berbunyi, semua murid mulai berhamburan keluar. Begitu juga dengan Zia dan kedua sahabatnya, mereka baru keluar kelas setelah selesai mengemasi buku dan peralatan lain ke dalam tas. Handa keluar lebih dulu dengan menggandeng tangan Icha, Zia pun segera mengejar kedua sahabatnya.


"Tungguin dong!" ucap Zia menyamakan langkah dengan kedua sahabatnya.


"Iya tuan putri," jawab Handa terkekeh.


"Eh minggu depan kayaknya Papa mau pergi lagi deh!" ucap Icha sedikit cemberut.


Papa-nya memang selalu sibuk dengan bisnis, hingga sering kali harus pergi keluar kota. Sedangkan Ibunya sudah lama meninggal, kini Icha hanya memiliki Papa dan satu Kakak laki laki. Tapi tetap saja ia merasa kesepian setiap harinya, karena Kakaknya juga sama sibuknya seperti Papanya.


"Bisnis lagi?" tanya Handa yang hanya dijawab anggukkan kepala, "Kakak lo juga?"


"Iya, lo nginep di rumah gue lagi ya? Temenin gue, please!" pinta Icha. Setidaknya kalau ada Handa, rumahnya tidak akan sepi lagi. Ya meskipun sebenarnya di rumah ada pembantu rumah tangga yang siap menemani.


"Oke, kita nonton film bareng nanti!" jawab Handa menyetujui.


"Lo juga ikut ya Zi biar rame," ajak Icha.


"Jangan! Nggak tahu aja lo segalak apa Pamannya Zia," sahut Handa menggebu. Ia sampai bergidik ngeri mengingat bagaimana dingin dan menakutkannya Paman Max.

__ADS_1


"Emang lo pernah liat Pamannya Zia, Nda?" tanya Icha sedikit heran.


"Eum pernah waktu itu," ucap Handa beralasan.


Zia menyenggol lengan Handa yang malah membuat cewek itu terkekeh.


"Nggak segalak itu juga kali," ucap Zia. "Gue izin dulu ya ke Paman gue, kalau dibolehin gue ikut."


Ketiganya terus berjalan keluar area sekolah, dengan Handa yang terus bercanda tawa bersama Icha. Sedangkan Zia hanya diam di belakang, mendengarkan celotehan keduanya dengan sesekali ikut tertawa.


"Gue balik dulu ya!" Icha langsung menuju motornya tanpa menengok pada kedua sahabatnya, hanya tangan kanannya saja yang melambai ke atas.


Handa menggeleng sambil tersenyum melihat kesongongan sahabatnya, sudah biasa Icha melakukan hal seperti itu. Padahal dulu gadis itu begitu menaati tata krama, tidak seenaknya seperti sekarang.


"Ayo Zi kita pul... loh Zia ke mana?" Ucapan Handa sempat terhenti, saat menyadari tidak ada Zia atau siapapun di sekitar sana.


"Zia... Zi...?" panggil Handa. Berjalan kembali sambil menengok kanan kiri, mencari keberadaan sepupunya yang barang kali tersangkut di suatu tempat.


"Ke mana tuh anak!" gumam Handa lalu membalikkan badan.


"Eh kodok kepencet, sakit bego!" latah Handa. Cewek itu terkejut saat tiba-tiba seseorang mencengkram tangannya dengan cukup keras.


"Lo apaan sih ngagetin aja," pekik Handa setelah melihat orang itu adalah Agam.


"Gue mau ngomong sama lo!" ucap Agam dengan wajah datar.


"Nggak ada yang perlu diomongin, lepasin tangan gue!" Handa menepis tangan Agam hingga terlepas dari tangannya, lalu melangkah hendak pergi meninggalkan cowok itu.


Agam tertawa miris. "Dengan lo kayak gini gue semakin yakin kalau lo itu emang egois Nda," ucapnya langsung menghentikan langkah Handa.


"Siapa lo berani nilai gue?" Handa membalikkan badan, menatap penuh amarah pada cowok menyebalkan itu.


"Gue tahu lo benci sama gue, tapi nggak seharusnya juga lo benci sama sahabat gue," ucap Agam.


Yeah gue emang benci sama lo, gue benci segala sesuatu yang di dalamnya ada lo. Gue bahkan benci sama diri gue sendiri yang dengan bodohnya suka sama lo, gue benci sama diri gue yang ternyata nggak bisa benci sama lo sialan. -teriak Handa dalam hati dengan mata yang mulai tergenang.


"Emang lo tahu isi hati gue?" tanya Handa dengan wajah datar.


Agam mengalihkan pandangan, hatinya sedikit ngilu melihat ada kesedihan di mata itu. "Nanda cuma mau kenalan sama temen lo, emang di mana salahnya?"


"Bilang ke temen lo, bukan gitu caranya kalau mau deketin cewek. Zia temen gue bukan cewek rendahan, jadi jangan samain Zia sama jal*ng yang biasa dia pacarin."


Handa membalikkan badan hendak pergi, namun sebelum itu ia sejenak menghentikan langkahnya.


"Ah ya satu lagi, gue emang egois. Dan gue nggak akan pernah biarin cowok playboy kayak Nanda deketin sahabat gue!" ucap Handa. Kemudian pergi menuju keluar gerbang di mana mobil sudah menunggu, meninggalkan Agam yang masih mematung sendirian.


"Sialan!" Agam menendang udara geram, tangannya terkepal kuat. Cowok itu memejamkan mata meredam gemuruh yang berdesakan di dadanya.


*********


...Semoga suka sama cerita haluan Author ya, jangan bosen-bosen. Jangan lupa juga tinggalkan jejak....


...Berikan Like, Love, Vote dan Komentar kalian....


...😇...

__ADS_1


__ADS_2