Heavanna

Heavanna
36. BUAYA BUNTUNG


__ADS_3

Setelah dengan susah payah Handa dan Zia membujuk Icha untuk minum obat, kini gadis itu sudah terlelap karena efek obat yang sedang bekerja. Zia duduk di samping Handa yang sedang mengemil makanan, tidak lupa di sebelahnya lagi juga ada Heaven yang sejak tadi tidak ingin berjauhan dengannya. Sedangkan Gala duduk di sofa lain yang masih kosong. Cukup lama mereka terdiam dalam pikirannya masing-masing. Hingga Gala yang penasaran kini mulai membuka percakapan.


"Nda, orang tua Icha ke mana? Kenapa nggak ada yang dateng ke sini?" tanya Gala yang sejak tadi penasaran.


Handa terdiam, menatap Icha yang sedang tidur dengan raut wajah yang sulit diartikan. Ia kembali menatap makanan di hadapannya, tidak tahu harus menjawab apa.


"Nggak tahu! Gue udah hubungi Om Rico dari semalem, tapi tetep nggak aktif!" ucap Handa sembari menghela nafas. Harusnya di saat-saat seperti ini ada kerabat Icha yang setidaknya datang menemani, tapi jangankan kerabat, bahkan Papa dan Kakaknya pun tidak ada yang datang.


"Gue udah telfon Kak Cakra, tapi lo tau dia jawab apa? Dia bilang lagi sibuk, dan malah nitipin Icha ke gue!" ucap Handa menahan geram. Bukan Handa tidak mau menjaga Icha, hanya saja ia merasa kesal dengan perlakuan mereka terhadap Icha sejak dulu. Mereka seolah tidak peduli, meski sudah mengetahui kalau Icha sedang sakit atau bahkan baru saja dioperasi seperti sekarang ini.


Gala yang mendengarnya pun ikutan kesal. Kalau bisa dilakukan, Gala ingin sekali memukul wajah Cakra dan Om Rico sekarang juga. Bisa-bisanya dengan tega mereka menitipkan anggota keluarganya yang sedang sakit, padahal seharusnya mereka sudah berada di samping Icha saat ini. Heaven dan Zia hanya diam saja, karena mereka sudah mengetahuinya semalam. Mereka juga sedikit kesal saat mendengarnya sendiri, tapi mau bagaimanapun mereka tidak bisa memaksa Kakak dan Papa nya Icha untuk datang.


"Coba aja kalau deket, udah gue tonjok tuh mukanya!" kesal Handa lagi.


"Handa!" Zia melotot memperingatkan sepupunya untung bicara lebih baik, kalau tidak Handa pasti akan terus terusan berbicara tanpa difilter.


"Gue kesel Zi, Kakaknya itu waras nggak sih? Masa lebih mementingkan pekerjaan daripada adik sendiri, perusahaannya juga deket kok dari sini. Emang apa susahnya sih dateng? Seenggaknya itu bisa bikin Icha seneng." ujar Handa, "Bokapnya juga, kayak nggak niat banget jadi orang tua!"


"Pelan-pelan ngomongnya, lo mau Icha denger?" ucap Zia memperingatkan, "Udahlah nggak usah mikirin mereka lagi, di sini juga masih ada kita yang bisa jagain Icha!" lanjutnya.


Lama mereka terdiam, larut dalam pikirannya masing-masing. Pintu ruangan tiba-tiba terbuka, menampilkan seorang pria dengan pakaian rapi pekerjaan kantoran. Pria itu langsung masuk tanpa permisi, menghampiri Icha yang sedang terlelap di atas brankar. Heaven dan Gala sempat ingin mencegah, namun terurung saat Handa mengulurkan tangan untuk menghentikannya.


"Cha, kamu nggak papa?" tanya pria itu yang tidak lain adalah Kakaknya Icha, Cakra. Tangannya mengusap pelan surai rambut Icha, kemudian mencium keningnya dengan sayang.


Merasa terganggu dalam tidurnya Icha mulai membuka matanya, terbangun. Pandangannya bertemu seseorang yang sangat disayanginya. Sudah tiga minggu ini Icha tidak melihat wajah kakaknya, tentu saja Icha begitu merindukannya.


"Kak Cakra! Icha kangen!" Icha beranjak memeluk Kakaknya sambil menangis, "Kakak kok jarang pulang?" tanyanya.


"Kakak juga kangen sayang, maafin Kakak ya!" ucap Cakra sambil mengelus punggung adiknya dengan sesekali mengecup puncak kepalanya.


"Nggak Icha maafin!"


"Kok gitu?" Cakra melepas pelukannya, menatap Icha dengan penuh pertanyaan.


"Soalnya Kak Cakra lama datengnya! Perut Icha udah keburu bolong!" Icha mendengus, melipat tangannya di depan dada pura-pura ngambek.


Cakra terkekeh mendengar penuturan Icha, sifat dan perilaku adiknya ini memang sangat langka sekali. "Ya udah nanti Kakak jahit biar nggak bolong!"

__ADS_1


"Nggak mau ih, kata Zia ntar sakit lagi!"


"Zia? Siapa Zia?" Cakra mengernyit tidak mengerti, karena setahunya teman Icha itu hanya ada Handa.


"Ish Zia itu temen baru Icha! Masa Kak Cakra lupa sih?" Icha memang sempat mengatakan tentang Zia pada Cakra saat ditelepon, mungkin karena sibuk bekerja Cakra jadi melupakannya.


"Itu, temen Icha!" ucapnya sambil menunjuk ke arah Zia.


Zia tersenyum tipis saat Cakra melihat ke arahnya, kalau bukan kakaknya Icha mungkin Zia tidak akan mau melakukannya. Heaven yang melihat senyum itu menjadi kalang kabut sendiri, ingin rasanya ia menarik Zia pergi dari ruangan saat ini juga. Apalagi saat tiba-tiba Cakra berjalan ke arah Zia, Heaven segera memegang tangan gadisnya itu. Zia yang sedang di dekati pun tanpa sadar memundurkan kakinya satu langkah, sangat terganggu dengan tatapan Cakra terus mengarah padanya.


"Kamu yang namanya Zia?" tanya Cakra sembari mengamati wajah Zia yang terlihat familiar menurutnya. Cakra merasa pernah melihat wajah itu sebelumnya, namun entah di mana.


"Iya Kak!" jawab Zia singkat.


"Makasih ya udah mau temenan sama adik saya!" ucap Cakra. Zia hanya mengangguk sambil menunjukkan senyum tipis, ada sedikit rasa takut melihat pria itu masih menatap dirinya dengan intens.


Melihat semburat ketidaknyamanan di wajah Zia, Cakra segera mengalihkan pandangannya pada ketiga anak yang berdiri tidak jauh dari tempatnya. "Buat kalian, makasih ya udah mau menemani Icha semalaman. Terutama kamu Handa!" ucap Cakra tersenyum pada Handa.


"Iya Kak, tapi lain kali jangan tinggalin Icha lama-lama ya! Kita nggak mau Icha kenapa-napa lagi!"


Cakra memaksakan senyumnya, apa yang di katakan Handa memang benar. Tapi mau bagaimanapun Cakra hanya ingin membuat Icha bahagia, meski resikonya harus berjauhan dengan Icha sekalipun. "Saya akan mengusahakannya! Tapi untuk kali ini boleh saya merepotkan kalian lagi?"


"Saya harus kembali ke perusahaan!" jawab Cakra dengan sedikit berat. Apa lagi melihat raut wajah keempat anak di hadapannya yang mendadak berubah, Cakra tahu mereka marah.


"Nggak papa kok Kak, kita bisa jagain Icha!" jawab Zia yang seakan mengerti posisi Cakra.


"Tapi Zi-"


"Udah nggak papa, lagian kita nggak ngapa-ngapain kan!" ujar Zia menyela apa yang ingin Handa katakan.


"Sekali lagi terimakasih, saya percaya padamu Zia!" ucap Cakra sembari tersenyum pada Zia.


"Kakak mau pergi lagi?" tanya Icha sedikit kecewa. Padahal baru beberapa menit bertemu dan kini kakaknya akan pergi lagi.


"Kakak harus kerja sayang, Kakak janji nanti sore balik lagi ke sini!" Cakra mengelus puncak kepala Icha, sebenarnya ia juga berat meninggalkan adiknya di saat seperti ini.


Dengan terpaksa Icha mengangguk, mencoba mengerti kesibukan Kakaknya. "Janji ya nanti sore dateng lagi?"

__ADS_1


Cakra tersenyum lalu mengangguk, untung saja tidak terlalu sulit membujuk Icha kali ini. "Kakak janji!" ucap Cakra sembari mengecup kening Icha dengan sayang. "Kakak pergi dulu ya, jangan bandel! Dengerin kata Handa!"


Cakra beranjak berpamitan pada keempat teman adiknya, tidak lupa mengucapkan terima kasih. Setelahnya ia keluar dari ruangan untuk segera menuju ke perusahaan lagi. Icha hanya menatap kepergian Kakaknya dengan mata berkaca-kaca, hingga tak terasa air mata sudah meluncur bebas di pipinya.


"Handa...," rengek Icha merentangkan kedua tangan minta dipeluk.


"Gue tau lo nggak mau ditinggal, tapi kenapa nggak bilang aja ke Kakak lo?" tanya Handa sedikit kesal. Namun tetap saja ia mendekat untuk memeluk Icha, membiarkan gadis itu menangis di pelukannya.


"Icha nggak pengen nyusahin Kak Cakra hiks...!" ucapnya sembari menangis sesenggukan.


"Mau ke mana Gal?" tanya Heaven melihat Gala berjalan hendak keluar.


"Cari angin!" jawab Gala sambil berlalu meninggalkan ruangan.


"Apa!" ketus Zia saat tiba-tiba Heaven menatap ke arahnya. Zia masih kesal mengingat Heaven mengatakan dirinya jelek tadi pagi, padahal banyak orang yang mengatakan kalau dirinya itu cantik.


"Nggak papa! Masih marah?"


"Menurut lo?" Zia kesal, kenapa Heaven tidak peka sekali. Memangnya perempuan mana yang mau dibilang jelek, apalagi ini oleh pacarnya sendiri. Meskipun Zia belum menyukai Heaven dan tidak menganggap hubungan itu ada, tapi tetap saja ia kesal. Memang perempuan mana yang mau dibilang jelek?


"Jangan marah-marah mulu, ntar jadi keriput kayak nenek peyot!" ujar Heaven.


"Biarin! Biar lo jauh-jauh dari hidup gue!"


"Nggak mungkin lah! Mau sejelek apapun lo, gue bakal tetep sayang sama lo!" ucap Heaven. Namun tiba-tiba bergidik, merasa jijik dengan ucapannya sendiri. "Njir, apaan sih gue?" gumam Heaven yang tentunya tidak terdengar oleh siapapun.


"Halah bullshit! Omongan buaya buntung didengerin!" Bukan Zia yang mengatakannya, melainkan Handa yang masih memeluk Icha.


"Mana Nda?" Icha menghentikan tangisannya kemudian menengok kanan kiri.


"Apanya yang mana?" tanya Handa.


"Buaya buntungnya! Tadi Handa bilang ada buaya buntung!" tanya Icha mengerjap polos.


"Udah pergi!" jawab Handa berharap Icha berhenti bertanya lagi.


"Oh!" Icha beroho ria sembari mengangguk anggukan kepala, "Buayanya yang buntung apanya?"

__ADS_1


"TAU AH CHA, EMANG SUSAH YA NGOMONG SAMA LO! CAPEK GUE!"


"Lah kok ngamok! Icha kan cuma nanya!"


__ADS_2