
Jam pelajaran tengah berlangsung, dari belakang Zia beberapa kali melirik jam yang terpajang di atas papan tulis. Sekitar tiga puluh menit lagi bel pulang sekolah akan berbunyi, tapi ia sudah tidak bisa lagi menahan hajat yang sudah menderanya sejak tadi. Rasa ingin buang air kecil begitu mendesak membuatnya tidak bisa duduk dengan tenang. Di kelas itu suasana begitu hening, sedikit berbeda dari biasanya. Semua murid sedang sibuk mengerjakan tugas dari guru, termasuk Zia yang sebenarnya sudah selesai sejak tadi.
Zia membenturkan bolpoin pada meja berulang kali dengan pelan, sorot matanya masih mengarah pada jarum jam yang seakan bergerak kian melambat. Detik demi detik ia lalui dengan ketidaknyamanan akibat hajat yang datang mendesak secara tiba-tiba. Tidak tahan jika menunggu lebih lama lagi, Zia akhirnya beranjak menuju meja guru sambil membawa buku berisi jawaban dari tugas yang telah dikerjakan tadi.
"Bu, saya sudah selesai!" Meletakan buku di atas meja guru, Zia bisa merasakan kini semua orang di dalam kelas menatapnya dengan tidak percaya.
Bagaimana bisa dalam waktu sekitar tiga puluh menit, Zia mampu mengerjakan soal yang jumlahnya lima puluh. Memang sih semua soalnya pilihan ganda, tapi tetap saja butuh pemikiran extra untuk menjawab semua soal itu dengan benar. Atau mungkin Zia hanya menjawab dengan asal? Itulah yang sempat terbesit dalam pikiran semua siswa di sana, selain Handa yang memang sudah tahu tingkat kecerdasan otak sepupunya.
"Kamu sudah selesai?" tanya guru wanita itu seakan tidak percaya. "Apa kamu sudah yakin dengan jawaban kamu Zia, masih ada waktu dua puluh menit lagi loh untuk memeriksa jawaban kamu kembali!" ujarnya seraya memberikan saran.
"Nggak Bu, saya sudah yakin dengan jawaban saya!"
Guru itu hanya mengangguk, lalu mengambil buku milik Zia untuk memeriksa jawabannya. "Ya sudah kalau kamu yakin, kamu boleh duduk kembali!" ucapnya.
"Bu, saya mau izin ke toilet sebentar!"
"Oh ya sudah, silakan!"
Zia langsung melenggang pergi keluar dari kelas, melangkahkan kakinya dengan sedikit cepat menuju toilet terdekat. Sesampainya di depan toilet, Zia yang hendak masuk malah dicegat oleh tiga cewek cantik yang keluar bersamaan dari dalam. Angel, Sarah dan Dela, entah apa yang sedang mereka lakukan hingga berdiri di ambang pintu, menjadi portal hidup yang menutupi akses jalan masuk. Ketiga gadis itu tersenyum sinis pada Zia. Angel yang berada di tengah menatap gadis di hadapannya dari ujung kepala hingga ujung kaki, dengan kedua tangan terlipat di depan dada.
"Maaf Kak, permisi aku mau masuk!" ucap Zia. Mencoba bersikap ramah meskipun pandangan ketiga gadis di hadapannya itu sama sekali tidak menunjukkan keramahan, yang ada malah tatapan menusuk penuh ketidaksukaan.
"Cih sok cantik!" ucap Sarah yang berdiri di sebelah kiri Angel.
"Maksudnya apa ya Kak?"
"Gue heran deh, kenapa Heaven bisa milih cewek kayak lo buat jadi pacarnya!" sambung Dela menatap remeh.
Zia menarik nafas dalam, lalu membuangnya dengan cepat. Tidak mengerti apa yang sedang dibicarakan ketiga gadis itu, membuatnya merasa sedikit jengah. Mengapa ia harus memiliki Kakak kelas semenyebalkan ini. "Kalau nggak ada yang penting boleh beri jalan Kak? Aku mau masuk!"
"Nggak ada sopan-sopannya lo ya sama Kakak kelas!" Dela bergerak hendak menyerang Zia, namun langsung dicegah oleh Angel yang berdiri di tengah.
__ADS_1
"Udah lo nggak perlu ikut campur, ini urusan gue sama dia!" Angel mendorong Dela agar mundur, lalu kembali menatap Zia dengan penuh intimidasi, "Ok! Langsung to the point aja. Gue nggak suka lo deket-deket sama Heaven, jadi sebelum terjadi sesuatu sama lo, mending lo jauhin Heaven mulai sekarang!" Ia menunjuk dada sebelah kiri Zia dengan kasar.
Zia hanya diam saja, menatap Angel dan kedua sahabatnya dengan wajah datar. Hanya karena Heaven, ia harus menghadapi para cewek yang begitu memujanya. Ini memang bukan untuk yang pertama kalinya bagi Zia, karena teman-teman sekelasnya pun ada yang memusuhi dirinya setelah menjalin hubungan dengan Heaven. Heran saja mengapa ia harus menghadapi semua ini hanya karena seorang Heaven, cowok paling pemaksa, pemarah dan menyebalkan menurutnya. Ah menyesal sekali rasanya, kenapa ia harus pindah ke sekolah yang sudah dipenuhi murid super aneh seperti ini.
"Kalian ngomong apa sih?" Zia menggeleng cuek lalu melangkahkan kaki hendak menerobos masuk ke dalam toilet, namun tubuhnya kembali terhuyung ke belakang karena adanya dorongan dari Angel.
"Nggak sopan banget lo ya!" Angel mulai terpancing emosi, sangat tidak biasa ada adik kelas yang berani melawan dirinya seperti ini.
"Apaan sih Kak, gue mau masuk!" Tidak ada lagi keramahan, Zia mulai kesal dengan perilaku semena-mena ketiga gadis itu.
"Gue peringatin sama lo, jauhin Heaven. Atau gue bakal bikin lo ditendang dari sekolah ini!" ancam Angel mengandung keseriusan.
"Siapa lo berani ngancem gue?"
"Asal kalian tau, yang ngedeketin duluan itu Kak Heaven. Jadi mending kalian ngomong langsung ke Kak Heaven, suruh dia buat jauhin gue!" Zia lalu menyatukan kedua telapak tangannya di depan dada, "Gue akan sangat berterimakasih kalau kalian bisa bikin Kak Heaven ngejauhin gue!"
Angel seketika melotot, tidak terima dengan apa yang dikatakan Zia. Mana mungkin seorang Heaven yang terkenal sempurna, berwibawa, keren dan dingin itu mau mengejar seseorang seperti Zia. Perkataan gadis itu seolah tengah menjelekkan pangerannya, dan Angel tidak bisa menerima hal itu. "Sok kecakapan banget lo, mana mungkin Heaven mau ngejar-ngejar cewek kayak lo!"
Zia memutar bola matanya jengah, sudah sangat malas menanggapi ketiga gadis yang mulai membicarakan sesuatu yang tidak-tidak. "Kak, mending minggir deh. Gue mau masuk!" ucap Zia dengan nada sedikit direndahkan.
"Berani lo sama gue?" Angel melotot tajam, semakin tidak terima melihat raut wajah Zia yang terkesan meremehkan dirinya sejak tadi.
Zia melipat kedua tangannya bersedekap dada, raut wajahnya terlihat santai dengan kerutan di kening seolah sedang berpikir. "Eum, kira-kira kalau Kak Heaven tahu apa yang kalian lakuin ke gue saat ini, apa yah yang bakal Kak Heaven lakuin?" tanyanya pura-pura berpikir.
"Maksud lo apa?" tanya Angel sedikit nyolot. Namun berbeda dengan kedua gadis di sampingnya, raut wajahnya sedikit menunjukkan ketakutan setelah mendengar apa yang dikatakan Zia tadi.
"Kalian tahu kan gimana sifat Kak Heaven? Apa kalian nggak takut kalau Kak Heaven tahu perbuatan kalian saat ini?" tanya Zia mengandung ancaman. Jika tidak dengan cara seperti ini, sudah dipastikan ketiga gadis itu tidak akan menghentikan apa yang tengah mereka lakukan.
"Lo ngancem gue?" Angel mulai meninggikan suaranya, kesal dengan sikap menyebalkan Zia.
"Maybe yes maybe no!"
__ADS_1
"Angel udah!" Sarah bergerak menghentikan Angel yang hendak menyerang Zia, begitu juga dengan Dela. Tidak dapat di pungkiri, mereka juga takut jika melihat Heaven marah. Yaps, kemarahan cowok itu memang satu hal yang sangat dihindari oleh semua siswa di sekolah ini.
"Mending kita pergi aja!" lanjut Sarah menarik tangan kedua sahabatnya.
"Ck minggir!" Angel menepis tangan Sarah yang sempat menahan pergerakannya, saat sudah terlepas ia langsung menatap Zia dengan tajam.
"Berani banget lo ngancem gue!" Angel menunjuk wajah Zia dengan geram.
"Gue nggak akan ngancem kalau kalian nggak mulai duluan!" jawab Zia ikutan marah dan menatap tidak kalah tajam.
Plakk
"ANGEL!" pekik Sarah dan Dela terkejut bersama.
Zia memejamkan matanya, tamparan keras baru saja mendarat di pipi kirinya. Rasa panas dan perih bercampur menjadi satu, ini adalah pertama kali dirinya mendapat tamparan dari seseorang setelah kejadian dua belas tahun silam. Bayangan penculikan itu kembali berputar dalam otaknya, air mata mulai menggenang di pelupuk matanya. Secara tiba-tiba rongga dadanya terasa menyempit, Zia memegang dadanya yang berdebar kencang dengan nafas yang mulai terasa sesak.
"Angel, lo gila ya!" ucap Sarah yang mulai ketar ketir melihat pipi Zia yang memerah.
Zia yang masih terhanyut dalam bayangan masa lalu sedang berusaha memfokuskan diri. Sekuat tenaga ia menerobos masuk ke dalam toilet, dengan nafas yang mulai tersengal. Angel, Sarah dan Dela pun sedikit terheran melihat apa yang dilakukan gadis itu. Bukannya marah atau membalas, Zia malah berlari masuk ke dalam toilet.
"Kenapa tuh anak?" tanya Dela heran.
"Paling mau nangis," balas Sarah tersenyum sinis. Mencoba melupakan ketakutannya pada Heaven, karena mau bagaimana pun Angel sudah terlanjur menampar Zia.
"Biarin aja, gue punya ide buat ngerjain dia. Enak aja mau ngancem Angel!" Ia tersenyum penuh misteri, menatap pintu kokoh yang masih terbuka lebar di hadapannya.
*********
...Jangan lupa tinggalkan jejak ya 😇...
...Sampai bertemu di cerita Heavanna selanjutnya 👋🏻...
__ADS_1