Heavanna

Heavanna
52. GARA-GARA NANDA


__ADS_3

Sudah sepuluh menit berlalu mulut Zia belum juga berhenti bergerak, matanya memejam penuh kenikmatan. Dan jangan lupakan senyum manis yang terukir di bibirnya, setiap kali satu suapan es krim berhasil mendarat dengan sempurna di lidahnya. Sensasi dingin itu membuatnya begitu candu, sesekali kepalanya mengangguk-angguk meresapi rasa manis dan kelembutan itu bersamaan. Sangat menyegarkan.


Setengah cup es krim rasa strawberry vanilla kesukaannya itu sudah menyelam di dasar perut, namun belum cukup membuat lidah Zia puas dan mau berhenti bergerak. Lidahnya terus menggeliat ke sana kemari, berusaha melelehkan buih setengah beku yang bersarang di mulutnya. Saking asiknya berjibaku dengan es krim, ia sampai mengabaikan televisi besar yang menyala di hadapannya.


Sayup-sayup terdengar bunyi bel yang kian mengeras, Zia membuka matanya memasang air muka malas. Dengan berat hati meletakkan es krim itu di atas meja, lalu segera menuju pintu untuk melihat siapa yang datang. Jika bukan sesuatu yang penting, mungkin Zia akan merubah pengganggu itu menjadi butiran es krim yang akan ia makan kedepannya.


"Siap-" Ucapan Zia terhenti setelah melihat siapa yang datang, "Jaka...." Berteriak senang, tanpa berpikir panjang Zia segera mengambil kucing kesayangannya yang sedang dalam gendongan Pak Didin.


"Maaf Non, saya diperintahkan untuk mengantarkan Jaka dan juga barang-barangnya!" ucap Pak Didin sembari mengikuti Zia yang berjalan masuk.


Senyumnya mengembang melihat Zia yang begitu menyayangi kucing kecil itu, terlihat seperti seorang ibu yang menyayangi anaknya. Sementara kucing berwarna oranye itu hanya memasang wajah polos yang terlihat sangat menggemaskan, sehingga Zia enggan berhenti mengelus dan menghujani kucing itu dengan ciuman.


"Barang-barangnya letakkan di sini saja Pak, terus tempat poo nya taruh di...," Zia engedarkan pandangannya mencari tempat yang pas, "kamar mandi itu aja!" Tangannya menunjuk pada kamar mandi yang letaknya tidak jauh dari kamar untuk tamu, tempat yang menurutnya lebih cocok dari pada diletakkan di dalam kamar mandi miliknya.


"Baik Nona!" Pak Didin mengangkat kembali pasir kucing dan bak nya menuju kamar mandi yang di maksud.


Lima belas menit berlalu Pak Didin sudah selesai merapikan barang-barang milik Jaka yang di bawanya, termasuk barang yang masih tertinggal di dalam mobil tadi. Zia masih bermain dengan Jaka di samping jendela kaca besar yang memperlihatkan gedung-gedung tinggi di luar sana. Ruang tamu dengan design minimalis itu menjadi ramai dengan ocehan Zia yang sedang bermain dengan Jaka.


"Sudah saya rapikan semua Non Zia, apa ada lagi yang kurang?" tanya Pak Didin.


Zia yang sedang tergelak langsung mendongak, terdistraksi dengan suara yang terdengar ringan di telinganya itu. Pancaran sinar matahari sore yang menerpa tubuh Zia dari arah samping, memperlihatkan siluet yang mempercantik wajahnya. Ditambah dengan senyum manis di bibir menunjukkan deretan giginya yang rapi. Jika masih muda, mungkin Pak Didin juga akan menyukai Zia setelah melihat kecantikan yang ia pancarkan.


Apa yang kau pikirkan Didin? Tua ya tua saja. Jangan sampai istrimu dan Tuan Zion tahu, atau kau akan dipenggal hidup-hidup.


Didin menggeleng kecil, menebas semua pikiran ngawur yang berkecamuk di dalam otaknya. Anak pertamanya sudah sebesar Zia, bagaimana bisa dirinya berpikir untuk menjadi muda lagi. Jika menjadi muda lagi pun belum tentu Zia mau, dulu ia bertubuh kerempeng dengan kulit berwarna cokelat kusam yang kian menghangus akibat terbakar terik matahari. Maklum saja, Didin berasal dari desa yang mayoritas penduduknya berkecimpung di dunia pertanian.


"Pak Didin!" panggil Zia yang entah sejak kapan sudah berdiri di hadapan Pak Didin. Tangannya sampai melambai di depan wajah, berusaha menyadarkan Didin dari lamunannya.


"Pak Didin mikirin apa sih?" tanya Zia penasaran. Karena sejak tadi pria paruh baya di hadapannya itu tampak tidak mendengarkan ucapannya.


"Eh iya Nona!" Tersadar dari lamunannya, Didin seketika menunduk saat melihat Zia sudah berada di hadapannya. Didin tidak tahu harus melakukan apa, hingga menundukkan wajah adalah cara yang tepat untuk menutupi rasa malunya.


"Kalau udah selesai, Pak Didin boleh pulang. Zia udah nggak butuh apa-apa lagi kok!" ucap Zia dengan nada yang sedikit dipelankan agar Pak Didin mengerti.


"Oh baik Non, kalau begitu saya permisi dulu!" Pak Didin membungkuk sejenak, lalu dengan terburu-buru melenggang pergi menuju pintu keluar.

__ADS_1


"Pak Didin, Pak Didin." Zia hanya menatap kepergiannya dengan raut wajah tidak mengerti, kepalanya kembali menggeleng sambil terkekeh kecil.


*********


Kepulan asap secangkir kopi panas di atas meja berhasil memporak-porandakan hidung dua cowok yang tengah fokus bermain game di dalam ponselnya. Di dalam markas itu semua orang tengah terdiam dengan pandangan serius, tertuju pada dua layar ponsel milik Heaven dan Gala. Kedua cowok itu tengah beradu ketangkasan dalam bermain game, untuk menjadi yang terbaik.


Sudah menjadi kesepakatan sebelumnya, jika kalah dalam game kali ini maka salah satu di antara mereka akan meminum kopi panas tanpa gula tersebut. Bagi Heaven yang menyukai kopi memang bukanlah hal yang sulit, mungkin rasanya hanya akan sedikit lebih pahit dari kopi yang biasa dirinya minum. Tapi bagi Gala itu bukanlah hal yang biasa, karena sejak dulu cowok itu sangat tidak menyukai segala jenis kopi. Apalagi dari tampilan kopi hitam itu sudah dapat dipastikan rasanya akan sangat pahit.


"Ayo Gal, ayo!" Aldi yang berdiri di belakang Gala menjadi heboh sendiri melihatnya, "jangan ampe lo menang!" lanjutnya.


"Berisik! Lo niat nggak sih mau dukung gue? Jangan ampe gue suruh lo yang minum tuh kopi nanti!" Gala yang sedang fokus, menjadi kesal sendiri mendengar ucapan pendukungnya yang tidak jelas itu.


"Hehe sorry Gal, maksud gue jangan ampe lo kalah." Aldi menggaruk kepalanya yang tidak gatal, sembari menunjukkan cengirannya.


"Emang tuh anak satu, nggak jelas banget. Suka setengah-setengah kalau mau ngedukung," sahut Taufik. Cowok itu tengah berdiri di belakang Heaven, menjadi pendukung setia bersama beberapa orang lainnya.


"Udahlah Gal, kalah mah kalah aja!" balas Heaven dengan santainya.


"Nggak akan gue biarin!" sahut Gala serius


Permainan terus berlanjut, beberapa kali halangan malang melintang dalam permainan Gala. Namun dengan ketelitian dan kecepatannya, Gala mampu menyingkirkan semua rintangan itu. Begitu juga dengan Heaven, wajah santainya sangat menunjukkan seolah tidak ada beban sama sekali. Mungkin jika kalah pun tidak masalah bagi Heaven, namun sangat menjadi masalah bagi seorang Gala.


Nanda dan Agam yang baru saja datang merasa bingung sendiri dengan keadaan markas yang cukup sepi, tidak seperti biasanya. Saat keduanya masuk, barulah diketahui oleh mereka apa yang sebenarnya sedang terjadi. Sampai di dekat sofa yang masih kosong, dengan malasnya Nanda langsung menjatuhkan diri. Sementara Agam memilih melihat permainan apa yang sedang dimainkan kedua sahabatnya itu.


"Gal, Gal, awas awas!" pekik Aldi yang sudah terlanjur terbawa suasana permainan.


"Diem Al, diem!" balas Gala merasa terganggu hingga membuatnya panik sendiri.


"Ayo Heav, gue yakin lo menang!" Taufik dan yang lainnya juga tidak kalah heboh menjadi pendukung setianya Heaven.


"Ck kalian ngapain sih, berisik banget!" Nanda menatap para sahabatnya itu dengan kelopak mata setengah membuka, namun pandangan terhenti pada kopi panas di hadapannya.


"Wih kebetulan banget nih, gue lagi rada ngantuk!" Tanpa aba-aba Nanda menyerobot kopi itu, membuat semua orang terkejut melihatnya yang hendak meminum kopi pahit itu.


"Eh Nan, itu-" Ucapan Aldi menggantung saat melihat Nanda sudah lebih dulu menyeruput kopi pahit buatannya itu.

__ADS_1


Seketika Nanda membulatkan mata, sesaat setelah kopi itu berhasil menyentuh lidahnya. Sementara tidak sengaja beberapa persen sudah masuk dan tertahan di dalam kerongkongannya. Rasanya sangat... ah tidak bisa di jelaskan dengan kata-kata, hanya ada kata sangat pahit yang kini memenuhi isi otaknya.


Byurr...


"Anjir! Ini kopi, apa kenyataan hidup? Pahit bener, huekk...!"


Nanda membuang secangkir kopi itu sembarangan, nampak jelas ampas kopi yang menggunung masih menempel erat di dalam cangkir itu. Lidahnya terus bergerak keluar, mencoba membuang rasa kopi yang masih sangat terasa di seluruh rongga mulutnya. Kini bukan hanya rasa kantuknya yang menghilang, tapi mungkin nyawanya juga akan menghilang karena merasakan kepahitan itu.


"Makanya kalau mau apa-apa itu jangan asal ambil, kebiasaan banget. Mampus, makan tuh kopi hitam lima sendok!" ucap Aldi tertawa puas.


"Lo kasih lima sendok Al?" tanya Gala terkejut. Sementara Aldi dengan cengirannya hanya mengangguk mengiyakan, kemudian terkekeh.


"Huft untung aja ada lo, Nan!" Gala mengelus dada lega, setelah selamat dari kopi pahit itu.


"Untung pala lo! Ini mah bukan kopi, tapi ampas kopi. Gila kali ya, bikin kopi lima sendok!" Nanda menggerutu sambil menghilangkan rasa pahit itu dari mulutnya, kemudian beranjak mengambil minuman ke belakang.


Seketika tawa semua orang memenuhi seantero ruangan, melihat wajah Nanda berubah menjadi merah dalam sekejap. Kesepakatan yang sebelumnya disetujui kini gagal hanya gara-gara Nanda yang seenaknya saja membuang kopi itu. Heaven pun sudah menjatuhkan ponselnya, menatap Nanda dengan gelengan tidak habis pikir. Sementara Gala tengah menghela nafas lega, karena kesepakatan konyol itu sekarang sudah dibatalkan.


"Kenapa nih rame-rame, abis ketawain apa lo pada?" Kenzo yang baru datang bersama beberapa teman lainnya sampai terheran melihat semua orang tertawa lepas, bahkan sampai ada yang terduduk saking lemasnya menertawakan Nanda barusan.


"Biasa temen nggak ada akhlak, giliran temen sendiri menderita aja senengnya minta ampun!" kesal Nanda. Datang dengan wajah masam, membawa minuman yang telah di campur dengan sirup. Setidaknya minuman itu bisa menghilangkan bekas kopi yang masih menempel di lidahnya.


"Ada-ada aja lo semua!" Kenzo hanya mampu menggeleng melihat kelakuan semua sahabatnya, lalu mendudukkan diri di sofa yang masih kosong.


"Heav, lo ditantang balapan sama Regha nanti malem. Dateng nggak?" tanya Kenzo memberikan informasi yang baru didapat tadi.


"Nggak ah males gue," jawab Heaven. Menyandarkan tubuhnya lalu memejamkan mata.


"Sumpah lo nggak ikut Heav, biasanya lo paling semangat adu skill balapan lo!" ujar Nanda heboh, "Apa jangan-jangan...."


"Jangan-jangan apa?" tanya Heaven. Sedikit nyolot melihat tampang menyebalkan Nanda yang tengah memasang wajah penuh selidik.


"Lo udah ada janji sama Bu bos?"


"Nggak usah kepo!"

__ADS_1


*********


...Sampai bertemu di cerita Heavanna selanjutnya 👋🏻...


__ADS_2