Heavanna

Heavanna
57. SUSU BASI


__ADS_3

Heaven baru saja tiba di kantin bersama Gala dan Kenzo yang berjalan di belakang, pandangannya menyapu seluruh kantin yang mendadak riuh setelah kedatangannya. Senyum tipis tersungging di bibir ketika melihat gadisnya sedang berbicara dengan ibu kantin, bersama Handa di meja yang terletak paling tengah di area kantin itu.


Tidak ingin berlama-lama, Heaven melangkahkan kaki menuju tempat di mana Zia berada. Pandangannya masih tertuju pada gadis yang tengah sibuk menyimak lawan bicaranya. Sampai tidak menyadari ada seorang gadis lain yang tengah memasang senyum lebar menunggu di tengah jalan, mengira Heaven tengah tersenyum padanya.


Angel, gadis itu masih memasang senyum manis mengira Heaven tengah berjalan mendekati dirinya. Posisi Zia yang memang tepat berada jauh di belakangnya, sangat berpotensi membuat orang salah paham termasuk Angel. Jarak mereka semakin terkikis, suasana hati Angel semakin tidak karuan apalagi ditambah dengan detak jantungnya yang semakin cepat.


"Heav-"


Angel hendak menyapa, namun siapa sangka Heaven malah melewati dirinya begitu saja. Hembusan angin dari tubuh Heaven yang melintas membuatnya tertegun sejenak, memahami situasi yang sebenarnya terjadi. Tatapannya masih tertuju pada punggung yang bergerak kian menjauh itu. Ternyata senyum tipis tadi bukan untuknya, melainkan untuk... Zia.


Anak itu lagi? Argh... ngeselin banget sih!


Nafasnya memburu semakin cepat, Angel menatap marah Zia yang hanya dalam beberapa minggu setelah kedatangannya sudah mampu mengalihkan perhatian seorang Heaven. Sementara dirinya yang sudah bertahun-tahun mengenalnya belum pernah sekalipun Heaven mau menatap dirinya atau bahkan menganggap dirinya ada. Tangannya mengepal kuat, pandangannya masih menyorot Heaven yang tengah berjalan mendekati Zia. Kemudian pergi meninggalkan kantin dengan rasa kesalnya.


"Makasih ya Bu!" Zia tersenyum manis pada ibu kantin yang baru saja mengantarkan makanan pesanannya bersama Handa. Sifat ibu kantin yang begitu humoris dan supel, membuat semua siswa mudah akrab dengan wanita yang sudah memasuki usia kepala tiga itu, termasuk Zia dan Handa.


"Sama-sama Neng Zia, Neng Handa. Selamat menikmati, kalau enak pesen yang banyak aja. Ibu ikhlas lahir batin kok!"


"Beres Bu!" Handa menunjukkan jempol tangan, mengiringi kepergian ibu kantin yang hendak melanjutkan pekerjaannya.


"Icha mana sih? Makanannya udah nyampe juga, nggak dateng-dateng!" ucap Handa sembari menatap ke arah pintu masuk mencari keberadaan Icha.


Sebelum ke kantin tadi Icha memang mengatakan ingin ke kamar mandi lebih dulu, tidak lupa juga meminta Handa untuk memesankan makanan untuknya agar lebih mudah. Kini sudah terhitung cukup lama, namun Icha belum juga terlihat batang hidungnya. Entah apa yang sedang dilakukannya saat ini.


"Udah, makan aja dulu. Nanti juga dateng tu anak!" sahut Zia. Gadis itu hendak mengambil sendok untuk memulai makan, namun secara tiba-tiba seseorang mengambil mangkuk berisi rawon miliknya. "Eh eh makanan gue?"


Tanpa berbicara sepatah katapun, Heaven dengan seenak jidat mengambil makanan milik Zia lalu membawanya ke meja yang ada di pojok kantin. Meja yang sudah diklaim milik Heaven dan keempat sahabatnya. Dari arah belakang, Gala dan Kenzo yang melintas hanya melirik sekilas Zia yang sudah memasang wajah kesal, kemudian menghampiri sahabatnya yang sudah duduk di tempatnya.


"Tuh anak ngapain coba, resek banget!" kesal Handa ikutan geram melihat apa yang dilakukan Heaven.


"Temenin gue!" pinta Zia memasang wajah memelas.


"Ogah!"


Zia menghela nafas berat, melihat Heaven yang sedang memberikan isyarat dengan senyum tipis untuk makan di meja pojok kantin bersama. Sejenak ia memejamkan mata mengontrol emosi, kemudian mengambil mangkuk makanan milik Icha agar Handa mau menemani dirinya. Melihat apa yang dilakukan Zia, dengan terpaksa Handa mengambil mangkuknya lalu mengikuti Zia menuju meja tempat di mana Heaven dan kedua sahabatnya berada.


Sampai di meja pojok kantin, Zia mendudukkan diri di samping kiri Heaven dengan hati yang dongkol. Di sebelah kanan Heaven ada Gala yang masih memasang wajah dingin, sedang mengetik sesuatu pada ponselnya. Handa memilih duduk di samping kanan Kenzo, agar bisa berhadapan langsung dengan Zia. Setelah itu menggeser makanan milik Icha ke sisinya yang lain, berjaga-jaga saja agar saat Agam datang nanti tidak duduk di sampingnya dan tidak mengganggu pandangannya.


"Resek!" guman Zia menahan kesal.


Gadis itu mengambil makanannya untuk memulai makan siang, tanpa memedulikan sekitar yang malah akan membuatnya semakin kesal setengah mati. Semua orang di kantin itu kini sedang saling berbisik membicarakan Zia dan Handa yang bisa duduk bersama Heaven dan teman-temannya, dan itu sangat membuat Zia merasa tidak nyaman.


"Ngomong apa? coba ulangi!" ucap Heaven yang memang sempat mendengar gumaman kecil Zia tadi.

__ADS_1


"Lo resek!" kesal Zia tanpa mau menatap cowok menyebalkan di sampingnya.


Lucu!


Heaven tersenyum tipis, merasa gemas sendiri melihat tingkah Zia yang sedang menahan marah. Jika tidak ada siapapun di sana, mungkin ia sudah mencubit pipi Zia yang sengaja di kembungkan seperti bakpao itu.


"Di sini Cha!" panggil Handa melihat Icha tengah kebingungan mencari keberadaannya di tengah kantin.


Icha yang mendengarnya tanpa menunggu lama langsung mendekat. "Handa kok duduk di sini sih?" tanya Icha memasang wajah cemberut.


"Udah duduk aja!" Handa langsung menarik Icha hingga terduduk di sampingnya tanpa mau menjelaskan apapun.


Icha terpaksa ikut bergabung meski sebenarnya tidak mau, di tempat itu ada Gala yang membuatnya merasa sedikit tidak nyaman. Tapi Icha tidak tahu harus duduk di mana jika tidak bersama kedua sahabatnya, mana mungkin juga ia duduk sendirian. Di atas meja sudah tersedia rawon pesanannya, Icha hanya memandang dengan raut wajah yang masih cemberut.


"Kenapa muka lo, kusut banget?" tanya Handa melihat Icha masih memasang wajah cemberut.


Icha menarik nafas dalam, menatap Handa dengan wajah sedih. "Susu Icha basi!"


"Hah?"


Sontak semua yang ada di meja itu serentak menatap Icha, termasuk Gala yang tadi masih sibuk dengan ponselnya. Jawaban Icha membuat ketiga cowok itu menerka-nerka apa yang sebenarnya ingin disampaikan cewek unik satu itu. Jika ada Nanda dan Agam di sana, sudah dapat dipastikan mereka akan membuat pembicaraan ambigu itu melebar kemana-mana.


"Ngomong apa sih Cha, ambigu banget?" Handa menyenggol lengan gadis yang duduk di sampingnya agar sedikit mengontrol kata-katanya di hadapan para cowok di sana. Malu juga membahas hal pribadi milik para perempuan seperti itu, apalagi setelah melihat ketiga cowok di sana tengah mengalihkan pandangan salah tingkah sendiri.


"Susu kotak Icha basi Handa, Icha lupa kelamaan nyimpen di tas!" Icha merogoh saku mengambil susu kotak berwarna pink, lalu meletakkannya di atas meja. "Harusnya langsung diminum pas beli waktu itu, tapi Icha lupa!"


"Salah paham?" Mata Icha mengerjap beberapa kali, "Emang Icha ngomong apa, kok bisa salah paham?" tanyanya masih tidak mengerti.


"Bukan apa-apa, udah cepet makan. Keburu dingin ntar rawon lo!" titah Handa sebelum pembicaraan tentang susu semakin melebar kemana-mana.


"Tapi Nda, sayang susunya nggak ke minum!" Icha masih memandangi susu kotak rasa strawberry yang ada di atas meja dekat mangkuk rawon, merasa sayang sekali melihat susu kesukaannya terbuang percuma karena keteledorannya sendiri.


"Susu apaan?" tanya Nanda menyela. Cowok itu baru saja datang membawa beberapa mangkuk makanan dan cemilan, dibantu oleh Agam yang langsung duduk di sebelah kanan Gala. Sementara Nanda duduk di sebelah Icha, karena hanya tempat itu yang masih kosong.


"Icha punya susu strawberry, tapi nggak boleh di minum!" jawabnya dengan lesu.


"Kenapa, kok nggak boleh? Lo nggak suka?" Nanda mengambil susu kotak itu, lalu menelitinya dengan seksama.


"Icha suka kok, kalau nggak suka ngapain Icha beli?" jawab Icha.


"Terus kenapa nggak lo minum? Jangan bilang susunya basi?" tanya Nanda penasaran.


"Enggak kok, susunya nggak basi!" jawab Icha dengan polosnya.

__ADS_1


Tanpa mengatakan apapun, Nanda langsung memasukkan sedotan ke dalam lubang yang tersedia dalam susu kotak itu. Zia dan Handa yang melihatnya hendak mencegah, namun cowok yang duduk di samping mereka menyuruh untuk diam. Sementara Icha dengan kepolosannya, hanya menatap bingung Nanda yang sudah menyeruput susu basi itu di sampingnya.


Byurr


Nanda langsung menyemprot keluar semua susu yang sebelumnya sudah mengenai lidahnya. Rasanya sedikit aneh, tidak seperti susu pada umumnya. Sudah dapat ditebak kalau susu itu memang sudah basi.


"Ini sih udah basi Cha!" Nanda langsung membuka air mineral dan meminumnya untuk segera membuang rasa pahit yang masih terasa di rongga mulutnya.


"Ya kan emang udah basi!" jawab Icha polos.


"Hahaha... makan tuh susu basi, makanya jangan suka sembarangan ambil makanan orang!" sahut Kenzo tertawa mengejek. Di ikuti Heaven juga Agam yang mulai memahami apa yang sedang terjadi, sementara Gala hanya memasang wajah datar menatap Icha dalam diam.


"Kampret! Terus kenapa tadi bilang susunya nggak basi?"


"Kan Kak Nanda sendiri yang ngomong, jangan bilang susunya basi!"


Nanda melongo mendengar ucapan Icha, otaknya masih berpikir keras memahami cewek yang duduk di sampingnya itu. Sudah sekitar lima tahun Nanda hidup sebagai seorang playboy, selalu belajar memahami sifat para gadis yang didekati olehnya. Namun baru kali ini ia bertemu dengan makhluk polos sekaligus bego seperti Icha. Nanda sampai menjambak rambutnya sendiri saking herannya, tidak tahu harus menggunakan kosakata seperti apa agar mudah di mengerti oleh Icha.


"Makanya lain kali kalau ngomong tuh yang jelas!" sahut Handa yang sudah sangat berpengalaman mengenai sahabatnya yang satu itu.


"Bukan gitu maksud gue, Cha!" Nanda mengangkat tangannya, hendak menjitak pelan kepala Icha karena saking gemasnya.


Pletak


"Akhh sshhh...." Icha memejamkan mata, tangannya memegangi bagian kepala yang baru saja dijitak oleh Nanda. Rasanya sangat sakit, hingga ia tidak bisa lagi menyembunyikan raut kesakitan dari semua orang yang ada di mejanya itu.


"Lo kenapa Cha?" Nanda yang melihat dengan jelas raut wajah Icha seketika terkejut, begitu juga dengan yang lainnya. Jitakan pelan tadi sangat tidak mungkin menyakiti Icha hingga separah itu, sampai membuatnya meringis dan merintih meski tidak sampai pada titik menangis.


"Eum Icha nggak papa kok!" Melihat Nanda hendak meraih tangannya, seketika Icha langsung berdiri dari duduknya. Membuat semua orang bingung melihat tingkah Icha yang seakan sedang menyembunyikan sesuatu.


Handa yang sudah sangat penasaran langsung berdiri dan meraih kepala Icha agar tidak memberontak. Perlahan ia membuka helai demi helai surai rambut Icha, dan alangkah terkejutnya ia melihat adanya goresan luka yang cukup lebar tercetak jelas di kepala Icha. Ada sedikit darah yang sudah mengering dan darah yang masih basah karena baru keluar setelah mendapat jitakan dari Nanda tadi.


"Cha, kepala lo luka. Kok lo diem aja sih?" ucap Handa mulai sedikit khawatir, "Kenapa lo diem aja?"


"Icha nggak papa kok Nda, cuma luka kecil. Nggak sengaja kepentok sudut meja kemaren!" kilah Icha.


"Nggak, ini pasti bukan karena kepentok meja. Lo bohong-"


Ucapan Handa terhenti saat tiba-tiba Gala menyerobot tangan Icha, dan membawanya pergi meninggalkan kantin tanpa berbicara sepatah kata pun. Handa dan semua orang yang melihat hal itu hanya mampu melongo tidak percaya dengan apa yang dilakukan Gala. Setahu mereka Gala sangat tidak menyukai Icha karena sikap dan sifatnya yang masih sangat kekanak-kanakan. Tapi apa ini? Gala baru saja mengandeng tangan Icha dan membawanya pergi entah kemana.


*********


Siapa tau ada yang mau cuci mata dulu 😍

__ADS_1



...Sampai bertemu lagi di cerita Heavanna selanjutnya 👋🏻...


__ADS_2