Heavanna

Heavanna
158. Extra Part 07. Menyesal


__ADS_3

"IH HANDAAAAAAAA...."


Pekikan keras terdengar memenuhi seantero ruang kelas, seketika membuat Handa dan Zia menutup telinga dengan mata terpejam. Untungnya jam sekolah sudah selesai, jadi tidak ada siapapun lagi selain Handa, Zia dan Icha di ruangan itu.


"Anj, Ichaaaaa! Lo ngapain sih pake teriak segala? Budek kuping gue, ah elah!" Handa masih memegang kedua telinga. Dengungannya masih sangat terasa setelah mendengar teriakan cempreng milik Icha.


"Lagian kenapa sih Handa, dari tadi nggak bisa diem banget? Icha kan jadi nggak bisa nulis! Liat tuh, tulisan Icha kena coret!"


Icha mendengus kesal, lalu menunjukkan buku yang terdapat coretan cukup panjang. Handa baru saja menyenggol lengan tangannya yang sedang menulis, hingga akhirnya menciptakan garis bujur sepanjang setengah halaman buku.


Seperti mesin penggiling padi, sejak tadi vibrasi tubuh Handa sangat mengganggu konsentrasi menulis Icha. Sebelum ini, beberapa kali Handa bahkan sempat menyenggol tangan dan bahu Icha. Padahal ia sedang sangat serius menyalin materi tadi.


"Cuma begitu aja marah-marah lo! Nggak usah lebay!" omel Handa. Mendorong buku catatan Icha yang hampir menyentuh wajahnya.


"Icha nggak lebay! Kalo Handa ganggu mulu nanti nggak selesai-selesai Icha nulisnya!" sahut Icha beranjak berdiri.


"Siapa juga yang mau ganggu lo! Lagian lo udah ditungguin dari kemaren sore nggak selesai juga nulisnya!"


Memang sudah satu jam berlalu Handa dan Zia menunggu, tapi Icha belum juga selesai menyalin materi yang diberikan oleh guru tadi. Jika diingat-ingat, sepertinya sejak tadi Icha hanya sibuk mengetuk-ngetuk penanya dengan mata terkantuk-kantuk.


"Kok malah Handa yang marah sih? Handa itu salah! Harusnya minta maaf sama Icha, bukan malah marah-marah!" Icha berkacak pinggang, menunjukkan reaksi tidak terima. Matanya membulat, melototi Handa dengan bibir hampir mengerucut.


"Apa lo? Berani sama gue?" tantang Handa ikut mendelik.


"Handa pikir Icha berani?" ucap Icha masih di posisi yang sama. "Huuaaa Zia, Icha nggak suka sama Handa!"


Tidak diduga, tiba-tiba saja Icha merengek, lalu menghampiri Zia yang masih memperhatikan tingkah keduanya dari belakang. Padahal sebelumnya ia sedang asik bertukar pesan dengan Heaven, tapi seketika terganggu oleh dua bocah di depannya.


"Nah kan! Udah tau takut, masih aja ngelawan! Udah gue tungguin bukannya terimakasih malah marah-marah!" oceh Handa marah.


"Udah sih, kalian dari tadi pagi ribut mulu nggak capek apa?" lerai Zia. Kini Icha sudah menyembunyikan wajahnya dengan memeluk lengan tangan Zia.


"Tauk tuh Handa!" sahut Icha. Sekilas mendongak, lalu kembali menduselkan wajahnya pada bahu Zia.


"Lo juga!" ucap Zia cepat. Ia menggeleng pelan, melihat Icha hanya menunjukkan cengirnya sekilas. "Lagian lo kenapa sih Nda? Dari pagi marah-marah mulu, nggak biasanya!"

__ADS_1


Mendengar pertanyaan itu, Handa menghembuskan nafas kemudian mendudukkan diri dengan lesu. "Aarrggghhhhhh gue juga nggak tau, Zi!"


Melihat Handa mengacak rambut, Zia dan Icha hanya mengerutkan kening terheran-heran. Sikap Handa tidak seperti hari-hari sebelumnya. Bahkan setelah keputusannya untuk menolak Agam, cinta pertamanya, Handa seperti baik-baik saja kemarin.


Tapi mengapa sekarang berubah? Handa lebih terlihat seperti tanaman yang kekurangan cahaya matahari. Mencoba tetap tegar meski seluruh daunnya mulai meluruh. Jika tanaman akan meregangkan batangnya untuk mencari cahaya matahari, maka marah-marah adalah cara Handa untuk tetap bertahan tanpa cahaya itu.


"Gue nggak paham! Kenapa sekarang gue jadi nyesel ya nolak Kak Agam!"


Handa menghela nafas, itulah yang membuatnya resah sejak tadi. Siang tadi, ia sempat melihat Agam berdekatan dengan perempuan lain. Ternyata Agam sudah melupakan Handa setelah penolakan satu minggu yang lalu. Secepat itu? Handa saja masih belum bisa melupakan kata-kata romantis yang Agam ucapkan waktu itu.


"Nah lo aneh! Pake gaya-gayaan nolak Kak Agam segala, sok jual mahal banget lo!" tegur Zia akhirnya. "Kalo suka mah suka aja! Ngapain pake nolak segala?"


Handa hanya diam membisu. Dalam hatinya memang masih mencintai Agam, tapi logika selalu menyadarkan Handa untuk tidak lagi berhubungan dengan Agam. Setidaknya untuk beberapa saat, sampai Agam benar-benar mengubah sikap dan sifatnya.


Agam memang tipikal cowok yang manis dan cukup perhatian. Namun sejauh mengenal, Handa selalu dibuat kecewa dengan tindakannya. Ketika masih berpacaran dulu, sering kali Agam lebih mementingkan para sahabatnya dibandingkan Handa.


Jika hanya itu, mungkin Handa masih bisa memaafkan. Akan tetapi semua berubah, ketika Agam selalu mendengar ucapan negatif para sahabatnya daripada mendengarkan apa kata Handa. Hingga akhirnya perpisahan itu terjadi. Padahal Handa sudah mencoba semua yang terbaik untuk cowok itu.


"Entahlah, mungkin gue kurang piknik." Handa menghela nafas, menyandarkan tubuhnya pada kursi yang sedang diduduki. "Hang out yuk, gue bosen di rumah!"


"Yee, giliran nongkrong aja lo cepet!" tegur Handa. "Selesain dulu nulis lo!"


"Nggak ah, Icha capek!" Icha mengerucutkan bibir, tangannya sudah cukup pegal setelah menulis cukup banyak tadi.


"Capek apaan? Cuma nulis selembar doang juga!" Bukan Handa, melainkan Zia yang kini menegur sahabatnya itu.


"Selembar juga banyak, Zia!" dengus Icha.


"Udah buruan tulis ah, jangan banyak ngoceh!" tambah Handa.


"Nggak mau, pokonya Icha nggak mau nulis! Icha cuma mau jalan-jalan!" jawab Icha.


"Nggak bisa gitu dong, Cha! Lo harus tulis semuanya, kalo nggak mau, ntar lo belajar pake apa?" paksa Zia.


"Pake otaknya Handa sama Zia!' jawab Icha menyengir lebar.

__ADS_1


"Gunanya otak lo buat apa?"


"Buat pelengkap hehe!" Icha mengedipkan kedua matanya beberapa kali, mencoba membujuk Zia yang masih menatap datar padanya.


"Udah lah Zi, biarin aja. Nggak ada gunanya maksa Icha, nggak bakal mau juga!" cegah Handa. Ia sangat tahu bagaimana Icha jika sudah mengeluarkan jurus pemalasnya. "Bahkan koala pun akan kalah malasnya dengan kemalasan Icha!"


"Tapi koala kan lucu! Icha jadi pengen pelihara koala." Bukannya tersenyum senang seperti biasanya, kini Icha justru menekuk wajahnya dengan sedih.


"Kenapa lo?" tanya Handa heran. Ia pikir Icha hendak mengatakan sesuatu yang aneh tadi. Namun kenyataannya, memang aneh seperti biasa. Memangnya siapa yang boleh memelihara koala? Sebagai hewan yang terancam kepunahannya.


"Icha sedih, jadi keinget Wulan. Icha pengen pelihara burung lagi aja deh! Tapi burungnya Kak Nanda kan katanya langka, udah gitu mahal lagi. Gimana Icha belinya ya?" Icha mengetukkan jari pada dagu, berpikir keras.


Mendengar ucapan sahabat oonnya itu, Handa langsung berdecak kesal. Masih saja Icha membicarakan soal burung. Ia jadi kesal pada Nanda yang justru menanggapi segala pertanyaan aneh Icha dulu. Dua orang aneh itu benar-benar membuatnya sakit kepala.


"Udah deh, Cha! Gue capek denger lo ngomong! Gue pulang dulu, bye!" Handa meraih tasnya, kemudian berlalu meninggalkan kedua sahabatnya. Terang saja Icha buru-buru mengambil tas dan bukunya yang masih di atas meja.


"Handaaa! Tungguin Icha!" teriak Icha sambil memasukkan peralatan sekolah.


"Buruan!"


Dengan terburu-buru, Icha berlari menghampiri Handa. Meninggalkan Zia yang masih sibuk bertukar pesan dengan Heaven.


Heaven Arsenio Maaf Na, hari ini kamu pulang sendiri ya. Aku ada urusan sebentar.


Kening Zia berkerut, urusan penting apa yang berhasil membuat Heaven membiarkan dirinya pulang sendiri? Namun Zia tidak mau ambil pusing. Ia meraih tasnya, lalu menggeleng pergi meninggalkan kelas. Baru saja melewati pintu keluar, Zia dikejutkan oleh seseorang yang tiba-tiba menarik tangannya dengan kasar.


"Lepas! Ngapain lo tarik-tarik gue?"


🎀🎀🎀


Hai pren! Othor mau numpang promo dulu. Mampir yuk ke karya baru Othor, judulnya Lentera pengganti. Nggak kalah seru dari Heavanna lho, jangan lupa mampir ya guys ya 🥰



Sampai bertemu di Ex part Heavanna selanjutnya 👋🏻

__ADS_1


__ADS_2