Heavanna

Heavanna
46. BERDUAAN


__ADS_3

Selesai merayakan ulang tahun Kenzo, Heaven langsung mengantarkan Zia pulang karena hari sudah malam. Di dalam mobil Heaven hanya diam saja, karena masih kesal pada Zia yang sejak pagi mengabaikan dirinya. Di tambah ia masih merasa telah dibohongi, meski Zia juga sudah menjelaskan alasannya saat di rumah Kenzo tadi. Begitu sampai di gedung apartemen, Heaven berjalan sedikit cepat setelah keluar dari lift menuju apartemen milik Zia.


"Kak, lo kenapa sih? pelan-pelan napa jalannya?" pinta Zia yang masih berusaha menyamakan langkahnya dengan langkah lebar Heaven. Namun tetap saja cowok itu tidak mendengarkan dan terus berjalan cepat hingga sampai di depan pintu.


"Buka pintunya!" titah Heaven setelah sampai di depan apartemen Zia.


"Mau ngapain? Kak Heaven mau masuk?" Zia mulai waspada, menyadari guratan kekesalan yang nampak jelas di permukaan wajah Heaven.


"Buka pintunya Anna!" Heaven menekan kata-katanya, masih memasang wajah datar dan dingin seperti biasanya. Suara berat yang terdengar tertahan itu membuat Zia sedikit kesal, namun gadis itu memilih mengalah daripada ribut berkepanjangan.


"Iya iya!" Mau tidak mau Zia menekan password apartemennya di hadapan Heaven, hingga terdengar suara kunci pintu sudah terbuka.


Tak ingin berlama-lama Heaven langsung menarik Zia masuk ke dalam, untuk segera mengintrogasi gadis nakalnya itu. Zia hanya pasrah saat cowok itu menyuruhnya untuk duduk di sofa, tidak tahu apa yang akan dilakukan cowok yang kini juga duduk di sampingnya. Heaven melepaskan jaket yang melekat di tubuhnya, lalu menyandar pada sofa sembari memejamkan mata sejenak, membuang rasa kesal yang masih terselip di benaknya.


"Kak Heaven kenapa sih? Nggak boleh tau masuk ke apartemen cewek cuma berdua kayak gini!" protes Zia. Nampak tidak suka dan tidak nyaman hanya berduaan dengan Heaven di dalam apartemen luas itu, jika dengan seorang perempuan mungkin Zia akan menyukainya. Tapi ini Heaven, satu-satunya cowok paling pemaksa yang pernah dikenalnya selain Daddy Zion.


"Itu berlaku buat cowok lain! Gue itu pacar lo, jadi gue berhak masuk ke apart lo!" ucap Heaven tidak peduli, "Ah ya dan lebih daripada itu, gue juga calon suami lo!"


"Kak! Kita masih sekolah!" protes Zia sambil melotot, "Lagian gue nggak mau punya calon suami pemaksa kayak lo!"


"Anna!" Heaven kesal mendengar apa yang di katakan Zia, "Gue nggak peduli lo mau apa nggak, gue bakal tetep nikahin lo! Kalau perlu secepatnya biar lo nurut apa kata gue!"


"Nggak mau! Gue masih mau sekolah!" tolak Zia cepat. Tidak peduli dengan raut wajah Heaven yang tengah menahan kesal, lagipula cowok itu tidak tahu apapun tentang dirinya. Selain itu Zia juga masih tidak menyukai cowok itu, lebih tepatnya, hatinya belum siap untuk menerima seseorang lagi setelah luka yang diberikan Danis dan Rexie.


"Nggak peduli!" ucap Heaven terdengar santai.


Tanpa Zia ketahui, sebenarnya Heaven sudah menghubungi Daddy Zion untuk meminta restu. Hebatnya Daddy Zion merestui hubungan itu, asalkan Heaven bisa menjaga putrinya dengan baik. Heaven sendiri tidak mengerti kenapa, tapi setidaknya ia tidak perlu repot-repot meluluhkan hati calon mertuanya. Misinya kini hanya tinggal meluluhkan hati gadis pembangkang yang duduk di sampingnya kini.


"Nggak usah macem-macem, Daddy nggak akan mau punya menantu kayak lo!"


"Nggak masalah kalau Daddy lo nggak mau, gue bakal bawa lo buat nikah lari!"


"Nggak mau, gue masih mau sekolah. Ngapain nikah lari! Nikah di tempat aja capek, ini malah disuruh lari!" celetuknya.


"Kalau masih mau sekolah harusnya lo nurut apa kata gue! Apa susahnya sih?" Heaven kembali kesal mengingat Zia telah membohongi dirinya tadi, "Kenapa lo nggak bilang ke gue kalau lo nggak jadi kerja kelompok? Apa jangan-jangan lo bohong ke gue tadi siang?" selidiknya.


"Gue nggak bohong!"

__ADS_1


"Terus?"


"Terus apa? Gue kan udah jelasin tadi di rumah Kak Kenzo, kalau Handa nggak sengaja nabrak Tante Shena yang lagi bawa kue. Gue cuma mau gantiin kue yang rusak tadi! Kalau beli yang baru, model yang sama udah nggak ada!" ucap Zia menjelaskan lagi.


"Bilang apa ke gue?" tanya Heaven menatap intens.


"Kak udah deh to the point aja, gue capek! Gue pengen istirahat!" keluh Zia yang sudah tidak ingin menjawab teka-teki pertanyaan Heaven.


"Seharian lo udah cuekin gue, lo juga pergi ke rumah Kenzo tanpa bilang apapun ke gue. Terus lo nggak mau bilang sesuatu gitu ke gue?" tanya Heaven masih menatap lekat mata Zia.


"Iya iya, gue minta maaf! Udah sana pulang, gue ngantuk!" Lebih baik Zia mengalah, daripada terus meributkan sesuatu yang sama sekali tidak ada pentingnya.


Zia beranjak berdiri setelah mengusir Heaven dengan cara yang sedikit kasar. Saat hendak melangkahkan kakinya untuk pergi, Zia merasakan tubuh lelahnya seperti tertarik ke belakang. Kedua kelopak matanya menutup dengan erat, menyadari dirinya mungkin akan terjatuh dalam hitungan detik. Namun pada detik berikutnya Zia tidak merasakan sakit apapun di bagian tubuhnya. Merasa ada yang aneh perlahan Zia membuka matanya. Detik itu juga pandangannya langsung bertemu dengan mata elang Heaven.


"Mau ke mana?" tanya Heaven setelah berhasil membawa Zia ke dalam pangkuannya.


Bugh


Zia memukul dada bidang Heaven dengan kesal. "Ish kirain mau jatoh!"


"Nggak akan gue biarin!" Heaven menarik Zia ke dalam pelukannya, lalu memejamkan mata sambil membuang rasa kesal yang sejak tadi menganggu pikirannya. Sepertinya aroma Zia sudah menjadi obat penenang tersendiri untuk mengendalikan semua emosi yang keluar dalam dadanya.


"Jangan banyak gerak, ntar gue kelepasan!" ucap Heaven sambil menenangkan gadis yang kini duduk pangkuannya. Ia memejamkan mata dengan tangan yang masih mempertahankan posisi Zia.


"Kelepasan?" Zia mengernyit tidak mengerti, matanya mengerjap polos menatap Heaven yang sedang memejamkan mata.


"Gue juga cowok, Anna!"


"Ih Kak Heaven!" Zia yang mulai mengerti langsung mencubit pinggang Heaven dengan penuh kekesalan, "Makannya jangan kayak gini, nggak enak!"


"Mau yang enak-enak, hm?"


"Hah?"


"Sssttt... jangan banyak nanya, diem!"


Heaven mengangkat tangannya mengelus puncak kepala Zia, tak segan juga memberikan kecupan di kening itu. Cowok pemaksa itu sedang meminta ganti rugi, karena sejak tadi pagi Zia terus marah dan mengabaikan dirinya. Menyadari tidak akan ada kesempatan untuk pergi, Zia hanya pasrah dengan apa yang di lakukan Heaven. Selama itu tidak keluar dari batas kewajaran, Zia masih bisa menoleransinya.

__ADS_1


"Kak ih jangan dicium gitu, dosa tau. Berduaan gini aja udah dosa!" protes Zia menghentikan mulut Heaven menggunakan tangannya.


Cowok itu terkekeh kecil, tapi bukannya berhenti ia malah beralih mencium tangan Zia bertubi-tubi. "Gue kangen sama lo!" ucapnya.


Cup


Cup


Cup


"Kak ih, gue tabok nih!" Zia menarik tangannya merasa tergangu, "Lagian tiap hari juga ketemu, kayak nggak ketemu setahun aja!"


Tiap detik juga gue kangen sama lo, Anna!


Heaven mengacak rambut Zia dengan gemas, ia sendiri juga tidak menyangka akan berada dalam fase seperti ini. Mencintai Zia, gadis yang baru di kenalnya kemarin. Rasanya sangat tidak mungkin, tapi memang itulah yang sebenarnya terjadi.


"Kak, jantung lo kok cepet banget!" Zia mengerjap polos, mendongak menatap Heaven yang masih memejamkan mata menahan malu.


"Nggak perlu gue jawab juga lo udah tau jawabannya! Kayaknya lo juga lebih pinter dari gue!" Heaven kembali menarik kepala Zia hingga membentur dadanya, mencoba membuang semua rasa malu yang menghampiri. Lagipula memang begitu adanya, mau mengelak pun tidak akan mungkin bisa karena Zia gadis yang cerdas.


"Kak udah malem tau, emang lo nggak mau pulang apa?" Zia bermaksud mengusir secara halus, terlalu lama berduaan hanya akan membuatnya semakin merasa tidak nyaman.


"Nggak!" jawab Heaven singkat padat dan jelas.


"Ish!" dengus Zia kesal. Tidak ingin meributkan lagi, Zia menduselkan kepala mencari posisi yang nyaman pada dada Heaven. Masa bodo kalau ada setan yang mengintip sekarang, Zia hanya ingin istirahat sejenak karena terlalu lelah setelah banyak beraktivitas seharian ini.


Beberapa menit berlalu mereka masih berada di posisi yang sama. Getaran benda pipih di dalam saku memaksa Heaven untuk mengambilnya, padahal posisi sekarang sedang nyaman-nyaman nya memeluk tubuh Zia. Heaven menatap Zia yang ternyata sudah memejamkan mata, dengkuran halus terdengar teratur menandakan gadisnya itu sudah tertidur.


Tanpa membuka pesan yang masuk, Heaven kembali memasukkan ponselnya ke dalam saku. Cowok itu tersenyum melihat Zia yang sedang tidur dengan damai, tanpa menunggu lama ia langsung menggendong dan membawanya masuk ke dalam kamar. Sampai di dalam kamar, perlahan ia membaringkan Zia di atas ranjang, lalu menyelimutinya dengan lembut.


Lo tambah cantik kalau lagi tidur gini! -gumam Heaven tersenyum sembari mengelus rambut Zia.


Heaven mengambil ponselnya lagi, mendial nomor orang kepercayaan yang ia suruh untuk mencari tahu tentang Zia. Tanpa sepengetahuan orang lain, Heaven memang tengah menyelidiki Zia yang menurutnya sedikit mencurigakan. Namun sudah beberapa hari ini anak buahnya belum menemukan apapun tentang Zia dan keluarganya, ia pun hanya tahu nama Daddy nya Zia tanpa tahu berasal dari keluarga mana Zia itu.


"Gimana?" tanya Heaven pada orang di seberang telepon.


"Maaf Tuan, saya belum menemukan apapun!"

__ADS_1


"Ya sudah!" Heaven memutuskan sambungan telepon secara sepihak, meski sebenarnya ingin mengumpat anak buahnya yang tidak kunjung menemukan apapun yang ia minta.


__ADS_2