
"Heav, yang bener dong mainnya! Gue udah bilang suruh oper, kenapa lo malah main sendiri anjir!"
Agam berteriak menegur, sejak tadi ia melihat Heaven masih saja tidak fokus dalam pertandingan. Tim Heaven yang awalnya memimpin poin, kini perlahan mulai terkejar hanya dalam beberapa menit saja.
"Lo kenapa sih hah? Ada masalah?" Menyadari sepupunya sejak tadi masih diselimuti kekesalan, Gala dengan tenang merangkul bahu Heaven. Mencoba berbicara sejenak, sebelum detik pertandingan kembali dimulai.
"Tuh cowok sialan nggak bisa jaga mata anjing, ngeliatin cewek gue mulu!" geram Heaven seraya menepis tangan Gala yang bertengger di pundaknya.
"Cuma gara-gara itu?" Gala menggeleng tidak menyangka, begitu mudahnya Heaven terjebak oleh permainan licik mereka. Setelah diamati secara seksama, Gala menduga lawan mainnya kali ini hanya sedang mencoba memprovokasi Heaven melalui Zia.
"Cuma gara-gara itu lo bilang?" Heaven menatap Gala kesal, mana mungkin ia terima gadisnya dipandangi seperti itu oleh cowok lain.
"Mending lo ilangin dulu deh keposesifan lo itu, sekarang belum waktunya. Lo mau kita kalah cuma gara-gara provokasi mereka?"
Heaven tidak memedulikan ucapan Gala. Baginya, Zia jauh lebih penting dari semua ini. Kalau pun ia harus kalah dalam pertandingan kali ini, itu bukan suatu masalah besar baginya. Heaven tahu saat ini Zia sedang merasa tidak nyaman di pinggir lapangan sana, karena sejak tadi Danis masih saja melihat ke arahnya disela permainan.
"Lo boleh aja cemburu, tapi bukan berarti lo boleh korbanin kepercayaan temen-temen demi kecemburuan lo itu. Musuh lo cuma lagi mancing lo biar kita semua kalah!" ucap Gala sekali lagi mencoba memberikan pengertian pada Heaven.
"Untuk kali ini mending lo dengerin omongan gue. Lo percaya kan sama Zia? Dia nggak mungkin juga ninggalin lo sekarang, cuma gara-gara tatapan mata tuh cowok!"
Tanpa berniat menjawab ucapan Gala, Heaven berjalan menuju ketengah lapangan. Semua pemain basket sudah bersiap di tempatnya masing-masing. Begitu juga dengan Heaven yang sudah berhadapan langsung dengan Danis. Tatapan kedua cowok itu semakin menajam. Jika saat ini bukan berada dalam sebuah pertandingan, mungkin Heaven sudah menonjok wajah Danis yang masih bersikap santai di saat-saat seperti ini.
"Gue nggak percaya kalo ternyata lo pacarnya Zia!" kata Danis. Sebelumnya ia memang sempat mendengar beberapa orang tengah membicarakan hubungan Heaven dan Zia ketika beristirahat tadi, termasuk teman-teman satu club basketnya juga ada yang membicarakan mereka.
"Mau lo percaya atau enggak, gue nggak peduli. Karena gue nggak butuh statement lo buat ngebuktiin kalo Zia beneran cewek gue atau bukan." Heaven berkata dengan penuh penekanan, tangannya sudah terkepal saking geramnya pada cowok dihadapannya ini.
Seorang wasit datang dan berdiri di antara kedua pemain tersebut. Menghentikan perdebatan antara Heaven dan Danis yang semakin lama semakin memanas. Semua pemain mulai bersiap siaga ketika wasit mengangkat tinggi-tinggi bolanya. Berbeda halnya dengan Heaven dan Danis yang masih saling beradu tatapan tajam mereka.
Wasit yang berdiri di antara kedua cowok itupun sedikit terheran melihat tatapan panas keduanya. Setelah memberikan aba-aba pada semua pemain, wasit tersebut langsung melemparkan bola basket ke atas, hingga melambung tinggi di udara. Secara bersamaan, Heaven dan Danis melompat setinggi mungkin. Saling berlomba meraih bola basket yang masih melayang bebas di udara.
Postur tubuh Heaven yang pada dasarnya lebih tinggi dari Danis berhasil membuat bola kini berada di pihak tim Heaven. Semua lawan kembali bersiap siaga, setelah melihat bola kini berada di tangan Gala. Dengan gesit, Gala mendribble bola melewati satu pemain. Kemudian, ia melemparkannya pada Heaven yang memang posisinya lebih menguntungkan dibandingkan yang lain.
Tidak peduli dengan teriakan Nanda yang minta bolanya dioper, Heaven yang menyadari ada celah langsung berlari dan melompat, memasukkan bola ke dalam ring lawan. Berhasil, semua anggota tim serta para penonton yang mendukung langsung berteriak heboh setelah melihat Heaven berhasil mencetak poin.
"Good job," kata Gala menepuk bahu sepupunya.
"Keren Bos!" tambah Nanda yang kini sudah menempati posisinya.
Heaven menangkap bola yang tiba-tiba terlempar ke arahnya, lalu melirik Danis yang tadi sempat tertangkap tengah mencuri pandang lagi pada Zia. Senyum yang terukir di bibir Danis sangat mengganggu ketenangan Heaven. Ditambah lagi dengan melihat raut wajah tidak nyaman Zia, Heaven sangat tidak menyukai hal itu.
"Jaga mata lo sialan!" ucap Heaven seraya melempar bola dengan kasar ke arah Danis. Beruntungnya, Danis sudah lebih dulu menyadari bola yang tergerak ke arahnya dan menangkapnya dengan mudah.
__ADS_1
"Woy, apa-apaan nih!" Salah satu teman Danis tidak terima melihat Heaven berlaku kasar.
"Nggak papa, Roy!" Salah satu tangan Danis terangkat, menghentikan temannya yang sedikit terpancing setelah melihat perlakuan tidak menyenangkan Heaven padanya.
"Gue peringatin sekali lagi, jaga mata lo dari cewek gue!" tekan Heaven setelah mendekat.
"Cewek lo?" Danis terkekeh mendengar pertanyaannya sendiri. "Gue bahkan jauh lebih istimewa buat Zia dibanding lo!" ujarnya tersenyum miring.
"Maksud lo apa?" Heaven menggemeretakkan giginya, tangannya terkepal kuat hingga memperlihatkan otot-ototnya.
"Gue cinta pertama Zia kalo lo nggak tau!" ucap Danis dengan sombongnya. "Dari posisinya aja kita udah beda, gue jauh lebih istimewa di mata Zia dibanding lo. Karena sebelum ada lo, Zia udah lebih dulu ngejar-ngejar gue. Sementara lo? Lo bahkan butuh perjuangan lama buat dapetin hati Zia. Gue bahkan masih yakin kalo sebenernya Zia masih memendam rasa buat cinta pertamanya," lanjutnya panjang lebar.
"Lo cinta pertama cewek gue?" Heaven menatap tajam seraya tersenyum miring. "Zia nggak butuh penghianat cinta kayak lo, karena sekarang udah ada gue yang mau terima cintanya tanpa memandang cewek lain. Selingkuh sama temen cewek sendiri? Gue bahkan jijik liat ada cowok kayak lo di sini sekarang!" ucapnya.
Geram, Danis mengepalkan tangannya. "Tau apa lo tentang masa lalu gue hah?" Danis mulai terpancing, menyadari kesalahannya di masa lalu.
"Gue peringatin sama lo, jauhin cewek gue. Dia udah nggak butuh lagi cowok plin-plan kayak lo, karena udah ada gue di sini. Cowoknya yang bakal selalu jagain dia sampai kapanpun!" Heaven menepuk bahu Danis seraya tersenyum penuh kemenangan, lalu berjalan melawati cowok yang tengah terpaku di tempatnya.
"Gue nggak peduli sama peringatan lo sialan!" Danis membalikkan badannya lalu meraih bahu Heaven, hendak memberi cowok itu pukulan. Namun yang terjadi, Heaven langsung menepis tangan yang tengah melayang ke arahnya.
Bugh
Dalam hitungan detik Danis tersungkur lebih dulu, setelah mendapat pukulan telak dari Heaven. Tidak di sangka, Heaven jauh lebih cepat menyadari serangan Danis. Semua orang di sana seketika terkejut dengan apa yang dilakukan Heaven. Tentu saja teman-teman Danis tidak terima melihat perlakuan Heaven, namun mereka tidak bisa berbuat apa-apa karena sudah lebih dulu di halangi oleh para sahabat Heaven.
Dari pinggir lapangan, Zia yang melihat perkelahian itu langsung berlari untuk melerai keduanya. Zia mendorong Heaven agar menjauh dari Danis, memegangi tangannya yang masih terkepal kuat. "Kak, stop Kak!"
"Lepas Na, biarin gue kasih peringatan buat tuh cowok sialan!" Tatapan Heaven masih tajam tertuju pada Danis, tangannya yang terkepal kuat masih terkunci oleh kedua tangan Zia.
"Kak please, jangan berantem!" Zia menggeleng kecil, bola matanya mulai tergenang karena berusaha menahan rasa sakit dan takut. "Mending kita pulang aja!"
Zia menarik Heaven pergi, sebelum semuanya bertambah parah. Bukan karena Zia khawatir dengan Danis ataupun Heaven, ia hanya tidak ingin sakitnya kambuh lagi dan merepotkan banyak orang. Zia tidak merasa khawatir pada Heaven, karena ia sendiri sudah mengetahui kemampuan cowok itu dalam ilmu bela diri.
"Apa bener dia mantan pacar kamu?" tanya Heaven sembari mengikuti langkah Zia. Cowok itu memang belum bisa mempercayai ucapan Danis, sebelum Zia sendiri yang mengatakan sejujurnya padanya. Hanya saja tadi Heaven sudah lebih dulu kesal dengan kesombongan yang ditunjukkan Danis padanya, karena itu ia tidak segan memberi pukulan telak itu padanya.
Zia menghentikan langkahnya, lalu menatap diam ke arah Heaven. Dengan ragu, ia mulai menganggukkan kepalanya kecil. "Iya, dia mantan aku. Kak Danis," jawabnya lirih.
"Kak Heaven mau ngapain?"
Tidak ada jawaban dari cowok itu. Heaven hanya tersenyum kecut, lalu membalikkan badannya kembali menghampiri Danis. Tidak di sangka oleh semua orang, Heaven kembali memberikan pukulan membabi buta pada Danis yang masih terduduk di lantai. Semua sahabatnya segera melerai Heaven yang sudah diselimuti oleh amarah, berbeda dengan Zia yang kini sudah terduduk sambil memegangi lehernya yang terasa sangat sakit.
"Heav, stop Heav!" ucap Gala mendorong Heaven hingga mundur beberapa langkah.
__ADS_1
"Minggir Gal, biar gue beri perhitungan sama tuh cowok nggak tau diri!" geram Heaven dengan sorot mata dipenuhi kilatan amarah.
"Udah cukup Heav, lo nggak kasian sama cewek lo?" Gala menunjuk ke arah Zia yang sudah terduduk di lantai bersama Handa.
Sekilas Heaven melihat ke arah Zia, kemudian berjalan menghampiri Danis yang sedang dibantu oleh teman-temannya. Tidak peduli dengan keadaan sekitar yang sudah ramai oleh cibiran para penonton yang ada.
"Sekali lagi gue peringatin sama lo, jauhin cewek gue!" ucap Heaven penuh penekanan.
Setelah mengucapkan hal itu, Heaven langsung menghampiri Zia yang masih duduk di lantai. Menyuruh Handa untuk pulang kemudian menggendong Zia ala bridal style, lalu pergi meninggalkan lapangan yang sudah riuh oleh teriakan para penonton.
"Kak, aku takut!" lirih Zia. Gadis itu menyembunyikan wajahnya, seraya memeluk Heaven dengan sangat erat.
Tidak ada jawaban dari Heaven, cowok itu hanya diam saja bahkan ketika sudah sampai di dalam mobil. Pelukan Zia bahkan tidak mampu Heaven lepaskan sedikitpun. Terpaksa Heaven masuk ke dalam mobil, membiarkan Zia tetap berada dalam pelukannya. Selama beberapa menit, Heaven masih diam sambil mencoba menenangkan Zia. Membiarkan Zia berada di pangkuannya seraya mengelus punggung gadis itu.
"Na?"
"Hm!"
"Nggak usah nangis," lirih Heaven merasakan basah pada kaos olahraga yang dikenakannya.
"Jangan berantem Kak, aku takut!" ucap Zia.
Heaven menangkup wajah Zia, mengusap air mata yang masih mengalir deras membasahi pipi. "Aku nggak akan berantem kalo dia nggak mulai duluan!" ucapnya.
"Sekali aja bisa nggak sih, selesain masalah jangan pake berantem. Masih banyak cara lain Kak!" Zia menatap sendu, rasa sakit serta bayang-bayang kekejaman saat penculikan dulu kembali berputar di ingatannya.
"Nggak bisa Na, orang kayak dia pantes dapet itu. Gue nggak mau ambil resiko dengan biarin dia gangguin lo lagi!" ucap Heaven menatap Zia posisinya masih berada di pangkuannya.
"Dia nggak akan gangguin aku lagi kok!" Zia menduselkan kepalanya di dada Heaven, ia pun tidak tahu harus melakukan apa untuk menghentikan perbuatan Danis.
"Buktinya dia liatin kamu terus dari tadi!" Heaven mengeratkan pelukannya, mencium puncak kepala Zia yang masih bisa digapai olehnya. "Aku nggak suka itu, karena kamu cuma milik aku! Cuma aku yang berhak liatin kamu!"
🎀🎀🎀
Maaf pren baru bisa up sekarang, othor abis perjalanan lintas provinsi kemaren. 😅
Sambil menunggu Heavanna up, mampir dulu yuk ke karya baru othor. Karya di bawah ini mengikuti event lomba 'Wanita Mandiri', jadi mohon dukungannya ya teman-teman. Dukungan kalian sangat berarti buat othor.
Judul : Halaman Terakhir Kisah Shabira
Napen : Smiling27
__ADS_1
...Sampai bertemu di cerita Heavanna selanjutnya 👋🏻...