
"Kak Nanda dari tadi ngomong apa sih?" bisik Icha hati-hati. Sejak tadi gadis itu sangat penasaran dengan apa yang sebenarnya dibicarakan Nanda dan teman-temannya. Namun belum berani mengatakannya, karena melihat Heaven yang masih saja memasang wajah datar, dingin dan menyeramkan menurutnya.
"Emang Kak Regha kenapa, kok nggak bisa berdiri gara-gara kolor ijo nya dibakar?"
Seketika Nanda menahan tawanya mendengar pertanyaan Icha yang terlampau polos. "Udah deh Cha jangan banyak tanya, itu urusannya Regha bukan urusan lo!" ucapnya.
"Emang bener ya, kalau kolor ijo itu jimat?" tanya Icha lagi. Nanda hanya menganggukkan kepalanya, berharap Icha berhenti menanyakan hal itu lagi. Karena sejak tadi ia melihat Heaven sudah memasang wajah kesal. Akan sangat bahaya jika cowok itu marah-marah di rumah sakit seperti ini.
"Berarti bahaya dong, ada hantunya ya?" tanya Icha lagi.
"Iya Cha bahaya, makanya harus dimusnahkan dengan cara dibakar. Sebelum hantunya makin banyak!" jawab Nanda yang kini mulai tertarik mengerjai Icha yang dasarnya penakut.
"Kak Cakra juga punya banyak kolor warna ijo, berarti di rumah Icha banyak hantu dong?" Gadis polos itu mulai panik, membayangkan ada berapa banyak hantu yang mengisi rumahnya saat ini.
Seketika Nanda melongo mendengar ucapan Icha. Masih tidak menyangka gadis itu akan percaya dengan apa yang dikatakan olehnya. Namun sebuah ide jahat sekilas muncul di kepalanya, Nanda kini tersenyum penuh misteri.
"Iya Cha, makanya lo harus musnahin tuh kolor ijo. Kalau perlu punya Bokap lo sekalian, biar rumah lo aman!" ucap Nanda heboh. Wajahnya dibuat seolah sedang panik, membuat Icha yang melihatnya pun ikutan panik juga.
"Nggak Cha, jangan percaya omongan Nanda. Itu nggak bener!" Gala yang kesal langsung menjitak kepala Nanda, karena telah mengatakan hal yang tidak-tidak pada Icha yang terlampau polos. "Kalau ngomong sembarangan lagi, gue lempar lo dari gedung ini!" ancamnya sambil mendelik.
"Ampun Gal, cuma bercanda kok!" Nanda menyengir lebar melihat tatapan tajam Gala, lalu beralih melihat Icha yang nampaknya tengah kebingungan sendiri. "Lo nggak percaya kan, kolor ijo itu jimatnya para cowok. Jadi jangan di apa-apain, kalau perlu mandiin tiap malem jum'at!"
"Kecuali kalau kolornya bau kembang tujuh rupa atau bau kemenyan!" lanjut Nanda sembari berbisik agar Gala tidak dengar.
"Kalau kolornya bau itu bahaya?" tanya Icha mastikan. Nanda hanya menganggukkan kepalanya, sambil mendekatkan jari telunjuk pada bibirnya. Menyuruh Icha untuk diam dan tidak lagi membahas masalah perkolorijoan, karena melihat wajah Heaven dan Gala sudah mulai memerah menahan marah.
Tidak berselang lama pintu ruangan terbuka. Seorang dokter yang keluar bersama beberapa perawat sempat terkejut melihat keramaian di depan ruang rawat milik putri dari pemilik rumah sakit, yang tidak lain adalah atasannya sendiri. Hanya ada dua orang yang dokter itu kenal di antara tujuh orang itu, yaitu Handa dan Kenzo yang memang sudah sering ia lihat sejak kedua anak itu masih kecil.
__ADS_1
"Dok, gimana keadaan Anna?" Heaven mendekat sembari bertanya, berharap tidak terjadi sesuatu yang buruk pada gadisnya.
Dokter pribadi keluarga Zielinski bernama Felio itu menatap Heaven dengan sedikit heran, pandangannya pun beralih pada Kenzo dan Handa yang juga tengah menunggu jawabannya. "Apa Tuan Zion sudah tahu hal ini?" tanya Dokter Felio.
Handa dan Kenzo hanya menggeleng, karena memang tidak tahu akan hal itu. Bagaimana mau menghubungi, kalau ponselnya saja entah berada di mana saat ini. "Apa keadaannya sangat buruk Dok?" tanya Handa dengan suara tercekat.
"Iya!" Dokter itu menganggukkan kepalanya dengan mantap, meskipun dengan hati yang berat. Sudah dipastikan setelah ini dirinya akan kembali disibukkan dengan keadaan Zia, dan para pasien lain yang juga sedang menunggu perawatan darinya. "Saya tidak yakin keadaannya akan membaik dalam waktu dekat, jika Tuan Zion tidak segera datang ke sini!"
"Maksud Dokter apa?" Heaven menyela, merasa sedikit aneh karena sejak tadi hanya Handa dan Kenzo yang ditanya oleh dokter itu.
"Siapa di antara kalian yang paling dekat dengan Nona Zia?" Dokter Felio menatap pada semua anak di sana, lalu terhenti pada Kenzo yang kini menundukkan kepalanya dengan wajah penuh sesal. "Kenzo, ikut saya!"
"Aku?" Kenzo mendongakkan kepalanya, lalu menunjuk dirinya sendiri dengan heran. "Nggak, aku nggak penting buat Zia!"
"Lalu siapa lagi? Kamu ingin saya yang menjaganya?" tanya Dokter Felio heran. Karena setahunya sejak dulu Kenzo lah yang paling dekat dengan Zia, jika menyuruh Handa itu sangat tidak mungkin bisa membuat Zia dalam keadaan tenang. Yang ada gadis itu malah hanya membuat Zia semakin tertekan, karena harus mendengar jeritan cemprengnya.
"Heaven?" Dokter Felio mengernyit menatap cowok tampan bertubuh tinggi yang ditunjuk Kenzo, namun sedetik kemudian ia tersenyum merasa telah menemukan secercah harapan. "Bagus, ikut saya!"
Heaven hanya mengangguk lalu mengikuti Dokter itu masuk ke dalam ruang rawat Zia, meski sampai sekarang masih tidak mengerti dengan apa yang sebenarnya terjadi. Di dalam ruangan itu tampak Zia masih terlelap di atas brankar, wajahnya masih sangat pucat seperti sebelumnya. Seketika rasa sesal kembali menyeruak masuk ke dalam diri Heaven, menyadari telah gagal menjaga Zia hingga membuatnya masuk rumah sakit seperti sekarang. Sampai saat ini pun ia masih tidak mengerti mengapa hal ini bisa terjadi pada Zia, padahal tidak ada luka sedikitpun yang menggores tubuh gadis itu sebelumnya.
"Apa kamu pernah melihatnya dalam keadaan seperti ini sebelumnya?" Suara Dokter Felio memecah keheningan yang sempat terjadi di ruangan itu, mengalihkan atensi Heaven yang sejak tadi masih fokus menatap tubuh lemah gadisnya di atas brankar.
"Belum Dok, saya baru sekitar satu bulan ini menjalin hubungan dengannya. Apa keadaannya sangat buruk?" tanya Heaven harap-harap cemas.
"Seperti yang kamu lihat, dalam beberapa hari mungkin Zia tidak akan mau bicara pada siapapun. Dan tugasmu adalah membuatnya nyaman dan merasa aman berada di sisimu," jawab Dokter Felio masih memantau kondisi Zia.
"Maksud dokter?" tanya Heaven masih tidak mengerti.
__ADS_1
"Apakah kamu tahu, kalau Zia itu memiliki trauma sejak kecil?"
Heaven hanya menggelengkan kepalanya menjawab pertanyaan Dokter Felio, karena memang sampai sekarang ia sama sekali tidak tahu menahu soal trauma yang dimiliki Zia.
"Sepertinya kamu belum mengenal Zia lebih dalam, alangkah baiknya kamu mulai mengenalnya lebih dulu dari sekarang. Agar suatu saat kamu bisa bersamanya dan bisa menjaganya dengan lebih baik lagi!" ujar Dokter Felio menyarankan.
Heaven hanya mengiyakan, meski sampai saat ini masih belum juga paham apa yang dimaksud Dokter di sampingnya itu. Ucapan Dokter itu seolah menegaskan bahwa dirinya sama sekali tidak tahu apapun tentang Zia, dan itu sempat membuat Heaven tertegun sejenak. Mengingat dari awal kehadiran gadis itu, dirinya hanya berusaha memaksa Zia untuk menjadi pacarnya, tanpa mau tahu siapa dan bagaimana Zia yang sebenarnya.
"Setelah ini coba kamu hubungi calon mertuamu, mintalah saran bagaimana caranya menjaga Zia. Setidaknya sampai calon mertua kamu sampai di Indonesia," ucap Dokter Felio lagi.
"Bagaimana Dokter bisa tahu kalau keluarga Zia tidak ada di Indonesia?" tanya Heaven mengernyit curiga.
Dokter Felio hanya mengulas senyum mendengar pertanyaan itu, menyadari bahwa dugaannya memang benar. Anak laki-laki di sampingnya ini memang belum tahu apapun tentang seluk beluk keluarganya Zia. "Suatu saat kamu akan tahu!" ucapnya yang tidak ingin membocorkan identitas rahasia keluarga Zielinski.
"Sekarang berikan tanganmu!"
Melihat trauma Zia yang mulai bereaksi, Dokter Felio langsung meraih tangan Heaven tanpa permisi. Mendekatkan tangan itu pada tangan Zia yang mulai terangkat hendak memegang bagian lehernya. Secepat mungkin ia harus menahan pergerakan tangan Zia. Hingga akhirnya tangan Heaven kini menjadi sasaran empuk gadis yang masih terlelap dalam mimpi buruknya itu.
"Kamu harus bisa menahannya, dan buatlah dia merasa dalam keadaan aman dan nyaman!" ucap Dokter Felio menerangkan.
"Tapi Dok, saya tidak arghhh...." Baru saja Heaven ingin bertanya, tangannya sudah lebih dulu dicengkram oleh Zia dengan begitu kuat. Bahkan kuku-kuku panjang gadis itu kini mulai memaksa menyelinap masuk di permukaan kulitnya. Gadis itu tengah berada dalam mimpi yang semakin tidak terkendali, hingga membuatnya meracau hebat sambil mencengkram erat apapun benda yang sudah berada dalam genggamannya.
"Jangan berteriak seperti itu, kamu harus tahan dan cobalah tenangkan dia. Semakin kamu berteriak malah akan semakin membuat Zia merasa ketakutan, dan itu malah akan membuat keadaannya tidak kunjung membaik!"
*********
...Sampai bertemu di cerita Heavanna selanjutnya 👋🏻...
__ADS_1