Heavanna

Heavanna
131. MAMA CALON MERTUA


__ADS_3

"Kak, lo nggak mau pake celana atau apa dulu gitu?"


Zia menutup mulutnya menahan tawa, sejak tadi ia merasa risih dengan posisinya saat ini. Gadis itu bahkan tidak berani menatap ke bawah, karena pemandangan di sana hanya akan menodai matanya. Keadaan Heaven yang hanya memakai celana boxer berwarna biru tentu membuat Zia merasa malu sendiri.


"Celana?"


Heaven termangu sejenak, kemudian menengok ke bawah. Barulah ia sadari keadaan dirinya saat ini. "Shitthhh!"


Seketika Zia tertawa, melihat Heaven berlari menuju kamar mandi tanpa mengatakan apapun. Hanya ada umpatan, Zia hanya menggelengkan kepalanya. Masih dengan tawa kecil di bibirnya, Zia kemudian mendudukkan diri di sisi ranjang.


Tidak berselang lama, Heaven keluar dari kamar mandi dengan hanya menggunakan handuk berwarna putih yang melingkar di pinggangnya. Zia mengerutkan dahi, tampaknya Heaven lupa mengambil celana. Cowok itu berjalan cepat menuju ruang ganti, tanpa menoleh sedikitpun.


Dua menit berlalu Heaven keluar dengan mengenakan pakaian lengkap, celana panjang serta kaos yang sebelumnya ia pakai. Zia masih terdiam menyaksikan gelagatnya, sampai cowok itu duduk di sampingnya.


"Kenapa?" tanya Heaven, melihat Zia masih menatap dirinya.


"Udah selesai?" tanya Zia menahan tawa.


"Nggak usah ketawa!" Heaven mendengus. Karena terlalu senang mendengar Zia mengungkapkan isi hatinya, ia jadi lupa dengan keadaan dirinya tadi.


"Ppfftttt... abis Kak Heaven ada-ada aja, tidur kok nggak pake celana sih!" ucap Zia.


"Gerah," jawab Heaven sekenanya. Tidak tahu saja Zia, bagaimana nyamannya seseorang tidur ketika hanya menggunakan celana pendek saja.


"Boong banget!" kata Zia terkekeh.


"Enggak! Tau dari mana kalo aku bohong?"


"Azka, dia kalo tidur suka pake celana pendek. Katanya lebih nyaman dan bisa bikin tidur lebih nyenyak!" cerocos Zia.


Heaven membulat matanya, mendengar ucapan Zia. "Terus kamu liatin dia gitu?"


Zia menganggukkan kepalanya. "Eum... nggak ngeliatin juga sih, cuma emang sering keliatan aja!"


"NA?" Heaven semakin tercengang. "Lo ngapain liatin dia pake celana pendek argh...." Mengacak rambutnya asal. Membayangkan selama ini Zia berdekatan dengan Azka saja sudah membuatnya merasa tersaingi, apalagi harus mendengar Zia melihat aurat cowok itu. Memang sih belum tentu Zia melihat bagian intinya, namun tetap saja Heaven tidak suka.


"Ish siapa yang ngeliatin, lagian kenapa sih. Nggak bakal ngapa-ngapain juga, kita kan saudara!" ucap Zia membela diri.


Heaven terdiam, memang benar apa yang dikatakan Zia. Tapi.... "Tetep aja lo nggak boleh, nanti mata lo terkontaminasi!" ucapnya asal.


"Ish Kak Heaven apaan sih, tadi bilangnya aku kamu. Sekarang ganti lagi, maunya apaan coba!" Dengan kesal Zia beranjak berdiri. "Udah ah aku mau balik aja, capek berantem mulu sama Kak Heaven!"


"Eh mau ke mana, nggak boleh!" Heaven meraih tangan Zia dengan cepat, mencegahnya yang hendak pergi keluar.


"Mau pulang! Nggak mau ngomong sama Kak Heaven lagi, hobinya ngajak debat mulu. Capek tau!" Zia mengerucutkan bibirnya kesal.


"Kata siapa boleh pulang hm?"


"Kata aku lah!"


"Nggak, kamu nggak boleh pulang. Sini aja sama aku!" Heaven menarik tangan Zia, hingga membuat gadis itu terduduk kembali di dekatnya.


"Nggak mau, Kak Heaven marah-marah mulu kerajaannya. Tau gitu tadi nggak usah ke sini aja sekalian," ucap Zia menyesal. Ia menepis tangan Heaven yang hendak memeluk tubuhnya. "Jangan peluk-peluk ih!"


"Kok ngomongnya gitu? Cuman peluk doang, sebentar!" Heaven kembali melingkar tangannya memeluk gadis itu. "Aku nggak marah, cuma nggak suka aja. Harusnya aku aja yang deket sama kamu, bukan Azka!"


"Oh jadi Kak Heaven maunya jadi saudara bukan pacar?" Zia memundurkan kepala, menatap cowok yang masih enggan melepaskan dirinya.


Heaven tercengang menyadari apa yang dikatakan Zia tadi memang bener. "Ck nggak gitu Na, bukan itu maksud aku!"


"Terus maksudnya apa, katanya pengen kayak Azka!"


"Aaah pokoknya bukan itu maksud aku, udah nggak usah dibahas lagi!" Heaven menyandarkan kepalanya pada Zia.

__ADS_1


"Ish siapa juga yang mulai duluan!" Zia hanya diam membiarkan Heaven memeluk dirinya sambil menyandar di kepalanya. Suhu tubuh cowok itu masih panas, Zia dapat merasakan hawa panasnya di dalam pelukan itu.


Tok Tok Tok


Terdengar suara ketukan pintu, setelah beberapa menit Zia membiarkan Heaven memejamkan mata. Gadis itu mulai kebingungan melihat Heaven masih memejamkan mata, padahal cowok itu sedang tidak tidur.


"Kak!"


"Hm?"


"Lepasin, ada orang di luar!"


"Biarin aja, paling juga Mama!" Tanpa bergerak sedikitpun, kepala Heaven masih menyandar di kepala Zia. "Nanti juga masuk sendiri!"


"Apa, Mama? Kak lepasin, malu kalo Mama kamu tau!" Zia mencubit perut Heaven, karena hanya itu jangkauan yang lebih mudah untuknya.


"Aw aaa... sssshhhh, sakit Na awhh." Heaven meringis, perlahan ia merebahkan diri sambil memegangi perutnya. Tentu saja hal itu membuat Zia seketika panik.


"Kak, kamu kenapa?" panik Zia. Ikut memegang perut Heaven yang baru saja dicubit olehnya.


"Sakit perut aku, butuh obat!" ucap Heaven masih meringis.


"Obat? Dimana obatnya?" Zia panik, tangannya masih dipegang oleh Heaven hingga membuatnya tidak bisa ke mana-mana.


"Di sini!" Heaven menunjuk pipinya. Rintihan dari bibirnya seketika menghilang, berganti dengan senyum manis memperlihatkan deretan giginya yang rapi. "Pake ini!" tunjuknya pada bibir Zia.


Buk


"Kak Heaven ih, nggak lucu tau. Bikin orang panik aja!" omel Zia setelah memukul perut cowok itu. Heaven hanya terkekeh, kemudian mendudukkan diri.


"Haduuhhh kayaknya Mama ganggu nih!" Suara seorang wanita yang tidak lain adalah Mama nya Heaven, ia tersenyum tipis melihat kelakuan dua anak remaja di hadapannya.


"Eum anu Tante, nggak ganggu kok," ucap Zia salah tingkah.


Zia mengerutkan keningnya. "Kak Gala nung---"


"Maksud Mama apa? Kenapa Gala nungguin Anna?" tanya Heaven menyela.


"Lho, bukannya gadis ini pacarnya Gala?" ucap Mama Garnis, berjalan mendekati Zia dan Heaven.


"Pacarnya Gala?" Heaven mengerutkan kening menatap Zia yang juga sedang bingung. "Mama salah paham, dia ini pacar aku. Bukan pacar Gala!"


"Apa?"


"Jadi gadis cantik ini pacar kamu, bukan pacar Gala?"


Garnis tercengang mendengar pernyataan Heaven barusan, sedikit tidak percaya jika putra semata wayangnya itu sudah memiliki pujaan hati. Hebat, padahal sejak dulu Heaven selalu enggan walaupun hanya sebatas berdekatan dengan seorang perempuan. Selama ini anak itu lebih suka berkumpul dengan teman-teman laki-lakinya, hingga seringkali hal itu membuat kedua orangtuanya marah.


"Kamu nggak bohong kan Heav?" Garnis menatap putranya yang masih duduk menyandar di atas ranjang, kemudian beralih menatap gadis cantik di hadapannya. "Kamu kok mau sih sama Heaven?" tanya.


"Maksud Mama apa?" Belum sempat Zia menjawab, Heaven sudah lebih dulu menyela. Pertanyaan sang Mama sedikit menyinggung perasaannya.


"Bukan apa-apa, Mama kan cuma tanya. Siapa tau kamu maksa...."


"Zianna, namanya Zia!" sela Heaven memberitahu.


"Siapa tau kamu maksa Zia biar mau sama cowok super kaku dan arogan kayak kamu!" lanjut Mama. "Pantas saja Gala biarin kamu lama-lama di kamar Heaven!" Itulah yang sejak tadi membuat Garnis heran, bisa-bisanya Gala membiarkan pacarnya berada di kamar cowok lain. Dan ternyata dirinya hanya salah paham sejak tadi.


"Mama ngeremehin anak Mama yang ganteng ini?" Heaven mendengus kesal, meski sebenarnya memang benar apa yang dikatakan Mama nya tadi.


"Ya siapa tau aja! Zia kan cantik, murah senyum, keliatannya juga pintar. Kok bisa sih mau sama kamu!"


"Jadi Mama ragu sama produk yang Mama buat sendiri?" Ah Heaven kesal, Mama nya ini selalu saja berbicara sembarangan.

__ADS_1


"Tidak, Mama tidak ragu. Kamu kan anak Mama yang paling tampan!" ucap Mama kemudian terkekeh.


"Kan Mama udah bilang tadi, Mama cuma pengen tau Zia ikhlas apa enggak punya pacar kayak kamu!" Heaven memutar bola matanya jengah. Sama saja, intinya saat ini Mama sedang meremehkan dirinya.


"Eum enggak kok Tante, Zia emang suka beneran kok sama Kak Heaven," ucap Zia sedikit canggung.


"Lho kok manggilnya Tante sih, panggil Mama dong kayak Heaven." Garnis meletakkan nampan berisi makanan di atas nakas, kemudian dengan senyuman menghampiri Zia yang masih merasa canggung.


"Ma-Mama?" ucap Zia terbata.


Garnis menganggukkan kepalanya. "Nah gitu kan enak," ucapnya sambil mengamati wajah Zia.


"Maaf Tan eh Ma, Zia tadi belum sempat memperkenalkan diri dan malah bikin Mama salah paham kayak gini. Tapi Zia bukan pacarnya Kak Gala!" ucap Zia masih berusaha menyesuaikan diri.


"Nggak papa sayang, justru Mama seneng kalo sekarang Heaven udah punya pacar. Ternyata anak Mama nggak belok!" ucap Garnis terkekeh.


"Mama ngomong apaan sih, Heaven masih normal Ma!" sahut Heaven tidak suka.


"Iya Mama tau kok, buktinya dapet yang cantik banget kayak Zia! Mama nggak nyangka kamu pinter milihnya!" ujar Mama tersenyum bangga.


Heaven ikut tersenyum bangga. "Jadi Mama suka kan?"


"Suka dong, kalo kamu suka Mama pasti bakalan dukung. Apalagi yang secantik ini!" kata Mama memuji, sambil mengusap surai rambut Zia.


"Tante bisa aja," ucap Zia tersenyum kecil.


"Tapi kalo dilihat-lihat wajah kamu seperti mirip seseorang ya!" ucap Mama mencoba mengingat-ingat. "Ah Mama lupa, mungkin Mama salah!"


"Mama kebiasaan, kalo ngomong suka setengah-setengah. Udah mendingan Mama masak aja deh buat makan malam, masa calon menantu dateng di diemin aja!" ucap Heaven seraya mengusir. Saat ini dirinya hanya ingin berduaan saja dengan Zia.


"Oh ya ampun, hampir aja Mama lupa." Mama Garnis menepuk jidatnya. "Zia, Mama boleh minta tolong nggak ?" tanyanya.


"Boleh Mama, minta tolong apa ya?" tanya Zia serius.


Mama Garnis mendekatkan wajahnya ke telinga Zia, kemudian berbisik. "Bantu Mama buat kasih obat ke Heaven, dia itu paling susah buat minum obat," lirihnya.


"Mama ngomongin apa, ngapain bisik-bisik gitu!" tegur Heaven mulai merasa was-was.


"Gimana, oke kan?" tanya Garnis tidak peduli dengan teguran putranya.


"Siap Ma, Zia usahain ya!"


"Bagus, kalau gitu Mama pergi ke dapur dulu ya!" Garnis langsung melenggang pergi meninggalkan kamar Heaven, membiarkan Zia mengatasi putranya yang terkadang sulit diatur itu.


"Mama ngomong apa?" tanya Heaven.


"Katanya Kak Heaven belum mandi!" jawab Zia. Mengambil nampan berisi makanan kemudian mendudukkan dirinya di depan Heaven.


"Enak aja, aku udah mandi!"


"Iya-iya udah mandi, sekarang makan abis itu minum obat!"


🎀🎀🎀


Sambil menunggu Heavanna up, mampir dulu ke karya keren di bawah ini.


Judul : Mendadak Nikah


Napen : Nunuk Pujiati



...Sampai bertemu di cerita Heavanna selanjutnya 👋🏻...

__ADS_1


__ADS_2