
"Kenapa mukanya datar gitu?"
Sudah sepuluh menit berlalu sejak kepergian Kenzo, Heaven masih saja memasang wajah tidak bersahabat di depan Zia dan yang lainnya. Tidak ada sepatah katapun yang terucap, Zia semakin dibuat bingung karenanya.
"Kak Heaven sedih ditinggal Kak Kenzo?" Zia bertanya polos, seketika mengundang tawa Nanda dan Agam yang sudah paham dengan sifat Heaven.
"Nggak usah ketawa!" Heaven mendelik tajam, menghentikan tawa lirih Nanda dan Agam yang sempat tertangkap pendengaran.
"Ya elah Bos, jangan marah-marah mulu napah. Capek gue liat lo marah mulu! Jangan bilang lo juga mau runtuhin nih bandara, cuma gara-gara cemburu?"
Masih teringat jelas dipikiran Nanda, ketika Heaven menghancurkan seisi markas satu minggu yang lalu. Pegal di kaki dan tangannya bahkan masih bisa dirasakan setelah beberapa hari berlalu. Beruntungnya, tidak lama setelah itu, Heaven sudah kembali berbaikan dengan Zia. Jika tidak, mungkin kakinya akan semakin membengkak karena harus merapikan markas setiap harinya.
"Anjir! Sumpah jangan, Heav! Gue capek bego! Udah cukup markas aja yang lo hancurin!" Sama halnya dengan Nanda, Agam pun ikut berseru mengingat perbuatan laknat ketua gengnya itu.
"Gue setuju! Perbuatan Anda sangat tidak ramah, semoga hari Anda senin terus!" tambah Nanda. Hanya mampu mengumpati Heaven dalam hati sambil menggeleng pelan.
"Kalian ngomongin apa sih?" tanya Zia bingung. Pasalnya sejak kemarin tidak ada satupun dari mereka yang bercerita tentang Heaven yang mengamuk. Bukan karena apa, berita tentang keputusan Handa untuk menolak cinta Agam bahkan lebih menghebohkan jagat raya daripada berita tentang Heaven yang mengamuk.
"Lo nggak tau apa? Heaven kalo lagi ngamuk tuh nggak tanggung-tanggung, markas aja mau dirobohin sama dia!" jawab Nanda, menjelaskan dengan nada kesal.
"Nggak usah lebay!" sahut Gala yang sejak tadi hanya diam.
"Lebay lo bilang?" Nanda bertanya dengan wajah syok, kemudian menggeleng tidak percaya. "Lo mah enak tinggal nyuruh doang, lah kita yang disuruh beresin. Lo kira nggak gempor nih kaki?
"Masa sih? Emang Kak Heaven ngamuk kenapa?" Zia bertanya polos, melirik Heaven yang masih memasang wajah datar padanya.
"Ya karena lo, ogeb!" jawab Nanda dan Agam bersamaan.
"Lo ngatain cewek gue bego?" Seketika Heaven mendelik. Tentu saja ia tidak terima mendengar Zia.
"Hehe kagak Boss, canda!" Nanda menyengir lebar.
"Lagian ngapain sih Kak Heaven pake mau hancurin markas segala? Biar keliatan keren gitu?" omel Zia.
"Kenapa jadi kamu yang marah? Harusnya tuh aku yang marah! Ngapain kamu peluk-peluk Kenzo segala?" balas Heaven tak mau kalah.
"Ish cuma peluk doang juga! Kak Kenzo itu sepupu aku kalo Kak Heaven lupa!" Zia mendengus kesal, bisa-bisanya Heaven cemburu dengan hal itu.
"Sepupu? Dia bukan anak Om Kenzie, mana bisa jadi sepupu kamu!" balas Heaven.
"Gam, Gal, kayaknya kita mending pergi deh!" bisik Nanda, merasa tidak akan ada gunanya melihat sepasang kekasih yang sedang bertengkar itu.
"Ih tetep aja, mau anak Om Kenzie atau bukan, Kak Kenzo tetep sepupu aku!" Zia meninggikan suara, menghentikan pergerakan Gala, Nanda dan Agam yang akan meninggalkan tempat.
"Terserah lo!" ucap Heaven. Tangannya sudah terkepal kuat, tapi di sisi lain, ia sedang tidak ingin bertengkar dengan Zia. Heaven melangkahkan kakinya pergi begitu saja. Membuat ketiga sahabatnya tercengang melihat sikapnya yang jauh berbeda dari sebelumnya.
Kenzo tuh suka sama lo, Zia! Kenapa lo nggak peka sih?
Heaven mengumpat dalam hati, selama ini ia hanya diam meskipun mengetahui bahwa Kenzo menyukai Zia. Sebagai sesama laki-laki, tentu Heaven bisa melihat adanya rasa itu di hati Kenzo untuk Zia. Namun atas nama persahabatan, ia memilih untuk diam.
"Bakal ada pertunjukan nih!" ucap Agam. Langsung mendapat anggukan setuju dari Nanda dan Gala.
"Kak Heaven!" Zia menghentakkan kakinya, mencebikkan bibir dengan wajah menyesal. Ini salah, Heavennya bukan orang seperti ini. Zia berlari mengejar cowok itu. "Jangan pergi sendiri!"
Zia berteriak sambil berlari menghampiri. Sontak Heaven berbalik badan ketika merasa Zia sudah dekat. Tanpa ia duga, Zia tiba-tiba melompat ke arahnya. Beruntung pertahanan tubuh Heaven cukup kokoh ketika secara tiba-tiba Zia menerjang tubuhnya.
"Astaga Anna! Ngapain kamu lompat-lompat gitu, hah?" Heaven terkejut, kedua tangannya kini menahan tubuh Zia agar tidak terjatuh. "Bahaya!"
"Jangan pergi!" Zia mencebikkan bibir, dengan mata berkaca-kaca menatap wajah Heaven. Kedua tangannya melingkar di leher cowok itu, begitu juga dengan kedua kakinya yang saling mengait, melingkar di pinggang. "Maaf, Anna janji nggak gitu lagi!"
"Boong!" ucap Heaven setelah beberapa detik terdiam. "Turun sekarang! Sana pergi ke Kenzo aja, peluk aja dia sampe mampus!"
"Aaaa nggak mau! Nggak mau turun!" rengek Zia. Tangan dan kakinya semakin erat merengkuh tubuh Heaven.
__ADS_1
"Tuh kan! Gue bilang juga apa!" ucap Nanda dari kejauhan. Meskipun kesal melihat kemesraan sahabatnya, ketiga cowok itu tetap datang mendekat.
"Ck turun, Na! Lo suka kan pelukan sama Kenzo? Ya udah sana pergi, lo bebas peluk sampe puas!" Heaven menggerakkan tubuh, mencoba melepaskan kedua tangan Zia dari lehernya. Namun yang terjadi, Zia justru semakin mengeratkan pelukannya sambil merengek.
"Aaaa nggak mau peluk Kak Kenzo, maunya peluk Kak Heaven! Punya Kak Heaven lebih enak!" rengek Zia lagi.
"Hah? Enak?" Semua orang terkejut mendengar ucapan Zia, begitu juga dengan Heaven.
"Apanya yang enak, Zi?" tanya Nanda yang mulai negatif thinking.
"Anunya!" sahut Agam lalu terkekeh.
"Njir! Ngapa gue jadi positif thinking, eh!" Nanda menutup mulutnya, pura-pura bodoh. "Lebih gede ya, Zi?"
Plakk
"Sembarangan kalo ngomong!" tegur Gala. Memukul kepala Nanda, sebelum pembicaraan semakin kemana-mana.
"Makin ke sini, yang lo bahas jadi makin ke sana tau nggak! Bocah prik!" Agam menggeleng tidak habis pikir. Entah Authornya yang sudah terkontaminasi virus Nanda, atau justru sebaliknya. Mereka tidak tahu!
Nanda mengusap kepalanya. "Ck maksud gue tuh badannya, badan Heaven kan lebih gede dari Kenzo! Emang lo miki apa sih, Gal? Jangan-jangan lo yang negatif thinking lagi?" Nanda tersenyum jahat.
"Nggak usah ngeles! Gue tau isi otak lo!" kilah Gala. Nanda hanya terkekeh bodoh.
"Kalian ngomongin apa sih?" tanya Zia tidak mengerti.
"Nggak usah dengerin! Sesat!" Heaven mendorong kepala Zia, hingga wajah gadis itu bersembunyi di ceruk lehernya.
"Kak Heaven nggak marah lagi kan?" bisik Zia bertanya.
"Gue emang capek setiap kali lo bandel, tapi gue paling nggak bisa marah lama sama lo!" jawab Heaven. Semakin erat memeluk tubuh Zia. "Aarrggghhhhhh kenapa gue sayang sama lo sih, Na?"
Barulah mereka sadari, kini posisi Heaven sedang mesra-mesranya dengan Zia. Seketika ketiga jomblo itu melengos dengan kesal.
"Sebagai investor, saya menolak dengan keras persatuan ini!" Nanda memegangi dadanya yang terasa nyeri. Lebih tepatnya, ia hanya berpura-pura iri.
"Sebagai penghuni kontrakan di bumi, mending kita pergi!" Gala malas melihat kemesraan sepupunya itu. Ia langsung menarik Nanda dan Agam untuk segera pergi.
"Iri bilang jomblo!" teriak Heaven lalu terkekeh.
"Kak?"
"Hm?"
"Mau turun!" ucap Zia sambil menyembunyikan wajah.
"Kenapa emangnya?"
"Malu! Banyak orang!"
Kini Zia baru menyadari, suasana bandara masih sangat ramai. Beberapa orang bahkan masih membicarakan dirinya dan Heaven sekarang. Bagaimana tidak? Saat ini mereka masih mengenakan seragam sekolah sambil bermesraan. Jelas saja itu mengundang pemikiran negatif semu orang.
"Ya udah ayok pulang!" Heaven perlahan menurunkan Zia, lalu menggandeng tangannya dan mengajaknya pergi.
Sementara Gala, Nanda dan Agam yang sudah sampai di depan bandara, justru dikejutkan dengan kehadiran seorang gadis berseragam sekolah. Bukan terkejut, sebenarnya mereka hanya sedikit heran dengan kehadiran gadis itu.
"Loh! Hara? Lo ngapain di sini?" Nanda bertanya, membuka pembicaraan yang terasa sedikit canggung.
"Kak Kenzo udah pergi ya, Kak?" Hara bertanya pelan, pandangannya mengedar seakan mencari keberadaan seseorang.
"Kenzo udah masuk!" jawab Agam datar. Sejak awal ia memang tidak suka dengan gadis itu, sama seperti Gala dan Nanda. Hanya saja, Gala dan Nanda masih bisa menjaga sikapnya.
"Yah, sayang banget. Padahal aku pengen nganterin Kak Kenzo juga." Hara mengerucutkan bibirnya, kecewa.
__ADS_1
"Kalian ngapain masih di sini?" Baru saja sampai, kening Heaven berkerut melihat suasana sedikit canggung. Barulah ia sadari, ketika melihat di samping Nanda ada Hara.
"Itu Heav, anu." Nanda mengedipkan mata, memberi kode pada Heaven.
"Hai Kak Heaven!" sapa Hara tersenyum manis.
"Ngapain lo di sini?" tanya Heaven datar. Tangannya semakin erat memegangi tangan Zia, mencoba meyakinkan gadisnya agar tidak salah paham lagi.
"Tadinya aku mau ikut anterin Kak Kenzo, tapi sayangnya udah terlambat," jawab Hara kecewa.
"Bukanya lo bilang tadi mau check up dokter?" tanya Nanda. Sebelumnya ia memang sempat mengobrol dengan Hara, mengajaknya jalan setelah pulang sekolah. Maklum saja, Nanda memang playboy cap kaki tiga.
"Eh itu ... tadi udah kok!" jawab Hara gagap.
"Cepet juga!" sindir Agam.
Beberapa hari yang lalu ia sempat mendengar Heaven mengeluh tentang Hara yang selalu mengganggunya. Hara pernah mengatakan ketika check up ke dokter, ia harus mengantri lama untuk bergantian dengan yang lain. Alhasil, Hara memanfaatkan hal tersebut agar Heaven mau menemani.
Namun bukan Heaven namanya jika menurut begitu saja, beruntungnya Heaven masih punya seribu satu macam cara untuk menolaknya. Akan tetapi alasan itu cukup membuat tanda tanya bagi Agam dan yang lainnya.
"Iya, tadi pas dateng lagi nggak ada yang lain. Jadi bisa cepet!" jawab Hara beralasan.
Meskipun sedikit tidak percaya, tetapi mereka tetap mengiyakan saja. Lagipula untuk apa meributkan hal tersebut.
"Kenzo udah lepas landas, mending lo pulang!" ucap Heaven. Sejenak ia menatap Zia, kemudian menariknya pergi. "Gue cabut dulu!"
"Eh tapi Kak Heaven!" panggil Hara, menghentikan langkah Heaven dan Zia. "Aku boleh nggak, numpang di mobil Kakak?"
"Lo nggak punya mobil?" Zia bertanya sebelum Heaven sempat menjawab, ia cukup kesal dengan kegigihan gadis di hadapannya. Setelah keributan beberapa hari yang lalu, kini ia sudah cukup tahu siapa gadis di hadapannya itu.
"Aku punya kok, tapi lagi dibawa sama Kak Hugo!" jawab Hara. Pandangannya menunduk, seolah takut dengan Zia.
"Lo ke sini naik apa?" tanya Heaven. Ia sangat ingin segera pergi, ditambah lagi melihat Zia mulai merasa tidak nyaman.
"Naik taksi tadi!"
"Ya udah, lo pulang naik taksi lagi, biar Kak Nanda yang bantu nyariin." Zia kembali menyahut, raut wajahnya menunjukkan ketidakramahan.
"Tapi Kak—"
"Sorry, nggak bisa! Gue ada perlu sama cewek gue!" jawab Heaven memotong ucapan Hara.
"Tapi Kak, aku lupa nggak bawa tas. Kalo naik taksi lagi, aku nggak bisa bayarnya," ucap Hara beralasan. Sudah seminggu ini ia tidak bisa dekat dengan Heaven, karena itu ia sangat ingin bersama cowok itu sekarang.
"Gue naik motor, kalo mobil pun gue nggak yakin bisa nganterin lo! Gue nggak mau cewek gue marah!" ucap Heaven tegas.
Seketika Hara menunduk, rasanya begitu sakit ketika orang yang dicintai justru memilih perempuan lain. Apa salahnya? Hara hanya ingin bersama Heaven. Lalu kenapa tidak pernah ada kesempatan sedikitpun untuk dirinya, walau sesaat.
"Kalo nggak bawa uang, lo bisa bayar di rumah!" Zia berdecak kesal, lalu merogoh tas miliknya. "Tapi kalo lo emang nggak punya uang buat bayar, nih gue kasih!"
Zia meraih tangan Hara, menyerahkan lima lembaran berwarna merah itu dengan cepat. Ia sudah malas menghadapi Hara. Dengan cepat ia menarik tangan Heaven, dan segera pergi meninggalkan tempat.
Sialan!
Hara sampai dibuat tercengang karenanya. Dengan marah gadis itu mengepalkan tangannya yang terdapat uang milik Zia.
"MANTAP BOSSQUE!"
🎀🎀🎀
Sambil menunggu up, othor mau kasih rekomendasi karya bagus. Kuy baca!
__ADS_1
...Sampai bertemu di Ex part Heavanna selanjutnya 👋🏻...