Heavanna

Heavanna
78. PERKARA KOLOR IJO


__ADS_3

Heaven masih duduk diam dengan perasaan tidak menentu, menunggu Zia yang masih ditangani oleh dokter. Sudah sekitar dua puluh menit berlalu, namun pintu di hadapannya belum juga terbuka. Hingga ingin rasanya ia mendobrak pintu itu saat ini juga, hanya untuk memastikan keadaan Zia di dalam sana. Di sebelahnya masih ada Icha yang sejak tadi hanya diam saja, sedang merasa takut setelah sebelumnya melihat Heaven mengamuk sampai meninju diding hingga tangannya mengeluarkan darah.


"Itu Heaven sama Icha!" Dari kejauhan terlihat Gala datang bersama Kenzo dan Nanda, berlari terburu-buru menghampiri Heaven dan Icha yang masih duduk diam di tempatnya.


"Zia gimana?" tanya Kenzo setelah sampai.


"Masih di dalem!" jawab Heaven sembari menunjuk ruangan di hadapannya menggunakan dagu.


Sebenarnya Heaven sedikit heran, mengapa ketika Zia sampai di rumah sakit tadi sempat menyebabkan sedikit kehebohan. Beberapa petugas rumah sakit langsung mendorong brankar Zia ke ruangan yang ada di hadapannya kini, bahkan sekarang yang menangani gadis itu bukanlah dokter umum yang biasa menangani pasien di ruang IGD. Rasanya sedikit aneh, namun ia menepikan itu semua karena saat ini keadaan Zia jauh lebih penting dari apapun.


"Agam sama Handa di mana?" tanya Nanda tidak melihat keberadaan keduanya di sekitar sana.


"Agam lagi di tangani sama dokter, di temenin sama Handa!" jawab Heaven. Memang sejak kejadian di markas tadi, hubungan keduanya kini semakin jauh lebih baik. Bahkan sejak tadi Handa terus berada di sisi Agam, sampai mengabaikan Icha dari awal keberangkatan hingga sampai di rumah sakit.


"Tumben banget mereka barengan ke mana-mana! Calon mau balikan kayaknya!" ucap Nanda tersenyum penuh arti.


"Kalau balikan juga kenapa? Orang masih sama-sama suka ini!" sahut Kenzo. Pandangannya sekilas menangkap raut tidak suka di wajah Gala, namun Kenzo yang sedang tidak ingin banyak berpikir lebih memilih mengabaikan hal itu.


"Nungguin PB lah!" jawab Nanda tersenyum sumringah.


"Apaan PB?"


"Pajak balikan!" Nanda menaik turunkan alisnya, "PB aja nggak tau lo!" dengusnya pada Kenzo.


Nanda melirik pada Icha yang masih menautkan kedua tangannya, bibirnya nampak mengatup erat dengan mata beberapa kali mengerjab polos. Sangat jelas terlihat dari wajahnya, gadis itu sedang menahan sesuatu yang sejak tadi membuatnya takut. Nanda beranjak duduk di samping Icha, dengan netra yang masih menatap intens gadis itu.


"Lo kenapa Cha, diem aja?" tanyanya.


Icha menoleh dengan mata membulat, kemudian mendekatkan wajahnya pada Nanda. "Icha takut, tadi Kak Heaven marah-marah sama tembok!" bisiknya sembari menunjuk tangan Heaven yang terluka.


Nanda mengulas senyum melihat tingkah gadis polos di sampingnya, lalu mengangkat tangannya mengelus puncak kepala Icha. "Nggak usah takut, Heaven nggak akan gigit lo kok!"


"Mau ngapain lo?" Gala yang melihat sahabatnya hendak melancarkan aksinya segera menjewer telinganya, menariknya hingga berdiri menjauhi Icha.

__ADS_1


"Aw aw Gal, sakit njir!" Nanda memegangi tangan Gala yang masih menarik telinganya, sampai akhirnya Gala melepaskannya setelah puas.


"Makanya jangan macem-macem!"


"Ya elah sensi amat sih, cemburu lo?" tanya Nanda mendengus kesal.


"Cemburu pala lo!" jawab Gala kemudian mendudukkan diri di samping Heaven.


"Gimana, kalian nemuin sesuatu nggak tadi?" tanya Heaven. Mengetahui ketiga sahabatnya itu baru saja mencari sesuatu yang bisa dipakai untuk membuktikan bahwa dirinya tidak bersalah, atau mungkin sesuatu yang mencurigakan lainnya untuk menghentikan perbuatan geng Gorized.


"Nggak ada apa-apa di sana, capek-capek nyari sampai ke kolong juga nggak nemuin apa-apa!" jawab Nanda sambil geleng-geleng.


"Sampai kolong apaan lo?" Kenzo mendelik tidak terima, "Lo disuruh nyari bukti malah sibuk ngebakarin kolor ijo, bang*ke emang!" ucapnya dengan kesal. Begitu juga dengan Gala yang hanya mampu menggelengkan kepalanya tidak habis pikir dengan tingkah absurd sahabatnya saat di markas Gorized tadi.


"Gue kesel sama tuh kolor ijo anjir, baunya nggak ngotak banget. Kayak kambing nggak pernah dimandiin!" ucap Nanda menggebu. Mengingat telah membakar dua kolor ijo yang telah mengusik indra penciumannya di markas Gorized tadi, ia sendiri tidak tahu milik siapa benda kotor berbau menyengat itu.


"Asli kayaknya itu jimatnya Regha sama temen-temennya deh, makanya gue bakar. Siapa tahu bisa bikin mereka jadi lemah gitu!" ujarnya lagi sambil tersenyum jahat.


"Apanya yang lemah?" Agam yang baru datang bersama Handa mengernyit mendengar pembahasan ambigu para sahabatnya.


"Anu apaan?" Agam semakin tidak mengerti dengan apa yang sedang mereka bicarakan, sampai membuat Nanda begitu bersemangat.


"Anu itu!" Kenzo menunjuk ke bawah dengan sudut matanya, lalu terkekeh geli.


"Anu yang bisa tidur, terus berdiri tegak menantang ciahhh!" ucap Nanda heboh sembari mengangkat kepalan tangannya, "Kayak punya Agam, awokawok!"


"Wah bahaya nih anak, emang nggak ada warasnya lo berdua!" ucap Agam yang kini mulai paham.


"Siapa tahu ya kan, tuh kolor ijo bisa bikin punyanya Regha nggak bisa berdiri!"


"Kayak punya lo dong Nan?" sahut Gala bertanya.


"Anjir mana mungkin, punya gue masih sehat!" ucap Nanda tidak terima dengan apa yang Gala katakan. "Mau liat, ayok...."

__ADS_1


"Ogah, paling bau ikan asin!" jawab Gala datar.


"Pfftttt... pantesan dari kemaren banyak kucing garong deketin Nanda!" ucap Agam menahan tawanya.


"Mana ada anjir, punya gue bersih. Wangi, punya lo aja kalah wanginya sama punya gue!"


Plakk


"Bisa diem nggak lo, bahas anu di depan cewek!" Setelah memukul bahu Nanda, Kenzo menunjuk Handa dan Icha dengan sudut matanya.


Handa yang merasa diperhatikan langsung membulatkan matanya sambil menggeleng kaku. "Gue nggak ngerti, kenapa kalian liatin gue?" ucapnya sedikit salah tingkah.


"Hm bagus deh! Polos, polos deh lo Nda!" ucap Nanda menggebu.


"Lagi kalian ngapain sih bahas anu di sini, kurang kerjaan banget!" dengus Handa kesal.


"Cowok lo tuh yang nanya, makanya gue jawab!" ucap Nanda menunjuk ke arah Agam.


Agam hanya mampu menggelengkan kepala melihat sahabatnya yang masih saja membicarakan hal privasi itu. "Lo nggak jelas, lagian ngomongin apa sih dari tadi? Nggak paham gue!" ucapnya sambil mendudukkan diri di samping Handa.


"Ngomongin masa depannya Regha, ngeri aja anunya ilang abis gue bakar tuh kolor ijo!" Tawanya kembali pecah, namun hanya sesaat karena Heaven sudah menatapnya dengan tatapan tajam.


"Kalian bisa diem gak sih, bercanda mulu! Nggak lihat kita lagi di mana?" Heaven kesal melihat teman-temannya malah bercanda di saat-saat seperti ini, padahal sampai sekarang keadaan Zia belum juga diketahui.


Semua langsung terdiam, begitu juga dengan Kenzo yang kini mulai khawatir mengingat keadaan sepupunya. Bergaul dengan manusia absurd seperti Nanda membuatnya terkadang melupakan hal-hal penting seperti sekarang, tapi setidaknya itu bisa sedikit mengurangi beban di hatinya. Menyadari sekali lagi dirinya telah gagal menjaga Zia, karena itu ia memilih tidak ikut mengantarkan gadis itu ke rumah sakit dengan harapan agar sejenak bisa melupakan penyesalan di hatinya.


"Kak Heaven mending obatin dulu lukanya, jangan dibiarin kayak gitu aja!" Handa menyerahkan kotak p3k yang sempat dimintanya tadi pada perawat yang bertugas. Menyadari Heaven yang saat ini sedang tidak mau pergi kemana-mana, karena sangat mengkhawatirkan keadaan Zia.


Dengan gerakan malas Heaven menerima kotak itu, lalu menyerahkan pada Gala yang duduk di sampingnya. "Bantuin gue Gal!" ucapnya.


"Kebiasaan!" kata Gala sambil menghela nafasnya. Tapi tetap saja cowok itu mau membantu sepupunya yang sedang dalam keadaan sangat berantakan itu. Gala bisa merasakannya, karena dulu ia pun pernah berada pada posisi yang sama seperti Heaven saat ini.


*********

__ADS_1


...Sampai bertemu di cerita Heavanna selanjutnya 👋🏻...


__ADS_2