
"Ngapain kamu lari-lari gitu? Kayak dikejar setan aja!"
Zia menghentikan langkahnya di depan Heaven dengan nafas terengah. Tanpa menjawab pertanyaan cowok itu, ia langsung menarik tangannya pergi meninggalkan tempat yang sudah sepi itu.
"Nanti aku jelasin di mobil!" ucap Zia. Heaven hanya mengerutkan keningnya, mengikuti langkah kaki Zia walau dengan hati bertanya-tanya.
Sesampainya di dalam mobil, Zia menyuruh Heaven untuk segera melajukan mobilnya. Selama beberapa menit, baik Heaven maupun Zia hanya diam saja. Gadis itu masih mengatur nafasnya setelah sebelumnya berlarian menghindar dari kejaran Dio, sementara Heaven hanya diam menunggu Zia sampai merasa lebih baik.
"Kak, langsung ke Mansion aja ya!" ucap Zia setelah cukup lama terdiam. Ya, setidaknya jika di mansion ia akan merasa lebih aman. Bisa saja kan, Dio mengejar dirinya sampai ke tempat tinggalnya nanti.
"Mau pulang ke Mansion? Terus Joko gimana?" Bukan karena sayang, Heaven hanya merasa kasihan saja pada kucing menyebalkan yang sudah jarang dirawat pemiliknya itu.
"Jaka!" koreksi Zia. "Udah diambil sama Pak supir tadi pagi, kasian ditinggal semaleman!"
"Kamu kenapa sih, hm?" Sambil fokus dengan setirnya, Heaven sejenak menoleh ke arah Zia.
"Kenapa apanya?"
"Tadi lari-lari kenapa? Ada yang gangguin kamu?" tanya Heaven. Sudah sejak tadi ia penasaran dengan tingkah Zia yang sedikit berbeda, tersirat kepanikan dan rasa takut di dalam matanya saat masih berada di area sekolah tadi.
"Nggak papa kok, bukan apa-apa!" jawab Zia mengelak.
"Jujur Na!"
"Sebenarnya ... gue ketahuan nyuri," ucap Zia lirih.
"Apa?"
Ciiiittttt....
Heaven seketika menginjak rem mobilnya, ia terkejut mendengar jawaban Zia tadi. "Ngomong apa barusan? Kamu nyuri?" tanyanya sambil mengernyit.
"Kak, pelan-pelan kenapa sih. Kaget tau!" tegur Zia sambil memegangi dadanya sedikit berdebar.
"Kamu abis nyuri? Nyuri apaan?" tanya Heaven lagi. Tidak peduli dengan teguran Zia sebelumnya.
__ADS_1
"Bukan, bukan itu maksudku!" Zia hendak mencoba menjelaskan semuanya, tentang bukti kejahatan yang sudah ia curi dari ponsel milik Dio. Karena tidak tahu harus mengatakannya dari mana, Zia akhirnya mengambil ponsel lalu memberikannya pada Heaven. "Kak Heaven liat sendiri aja deh, susah jelasinnya!"
"Jelasin apaan?" Heaven mengambil ponsel yang Zia sodorkan.
"Liat aja dulu, tapi pinggirin dulu mobilnya!" Zia tidak ingin mengambil resiko, bisa saja Heaven terkejut setelah melihat semua bukti video yang sudah ada di dalam ponselnya itu.
Tanpa banyak bertanya, Heaven segera menepikan mobilnya di pinggir jalan. Ia mulai penasaran apa yang sebenarnya ada di dalam ponsel tersebut. "Kamu nggak aneh-aneh kan?" tanyanya.
"Aneh-aneh gimana?" jawab Zia bertanya. "Itu nggak seperti yang kamu pikirin, lagian aku yakin kamu lagi butuh video itu!"
Heaven mengerutkan keningnya, video apa yang dimaksud Zia. Karena penasaran, ia segera membuka ponselnya. Terlihat sebuah video dengan durasi sekitar lima menit kini berputar di layar cerah itu, itu adalah video ketika penyerangan yang terjadi di depan minimarket dulu. Bukan hanya itu, ternyata masih banyak video serta foto yang membuatnya semakin bertambah terkejut.
"Kamu dapet dari mana semua ini?" tanya Heaven. Pandangannya masih menatap ponsel, jari tangannya sibuk bergulir dari satu foto ke foto lain.
"Kak Heaven lagi nyari itu kan? Aku dapet semua itu di hpnya Dio!" ucap Zia.
"Dio?"
"Iya Dio, aku pikir dia punya dendam tersembunyi sama Kak Heaven. Aku nggak sengaja denger dia ngomongin Kak Heaven kemarin, makanya aku langsung cari tau semuanya. Dan ... itu yang aku temuin!" kata Zia menjelaskan.
"Bukan aku nggak mau kasih tau Kak, tapi waktu itu aku belum yakin. Aku aja udah lupa sama wajah orang di minimarket waktu itu!" ucap Zia.
"Orang di minimarket?" Heaven mengerutkan keningnya, tidak paham.
"Kak Heaven inget kan waktu kita sembunyi di dalem minimarket waktu itu? Di sana aku liat ada orang asing masuk ke ruangan khusus karyawan, tapi aku lupa sama wajahnya. Dan kemaren aku baru inget, ternyata wajahnya mirip sama Dio kalo lagi nggak pake kacamata!"
Heaven masih menatap Zia dalam diam, orang yang ia cari selama ini ternyata berada di sekitarnya. Pantas saja dirinya sangat sulit menemukan bukti itu, karena mungkin saja selama ini Dio memang mengawasi gerak-geriknya serta para sahabatnya selama di sekolah. Heaven mengepalkan tangannya. Sial! Kali ini dirinya sudah kecolongan tanpa sadar.
Heaven mengambil ponselnya, mendial nomor Gala secepat mungkin. Tidak menunggu lama, terdengar suara seorang laki-laki di seberang telepon.
"Kak Heaven mau ngapain?" tanya Zia.
"Halo Gal! Gue ada tugas buat lo, cari Dio sampai ketemu dan bawa langsung dia ke markas hari ini juga!"
"Buat apaan? Dio yang mana? Dio banyak!"
__ADS_1
"Dio temen kelas Anna, nanti gue jelasin di markas. Sekarang lo cari dia jangan sampe dia kabur!" Tanpa menunggu jawaban dari Gala, Heaven memutuskan sambungan telepon secara sepihak.
"Kak, kamu serius? Jangan bilang kamu mau berantem lagi!" ucap Zia. Namun Heaven tampaknya tidak berniat untuk menjawabnya.
"Kita pulang sekarang!" Heaven langsung melajukan mobilnya dengan kecepatan tinggi. Tidak dapat dipungkiri, bisa saja saat ini Dio sudah menyadari apa yang telah dilakukan Zia. Heaven tidak mau kalau sampai melibatkan Zia lagi ke dalam masalahnya, seperti beberapa hari yang lalu.
Lima belas menit berlalu, Heaven sudah sampai di pelataran mansion besar milik keluarga Zielinski. Zia masih duduk di tempatnya, jujur saja ia tidak ingin terjadi sesuatu pada Heaven lagi. Apalagi setelah mendengar pembicaraan antara Heaven dan Gala tadi, Zia sangat tidak ingin Heaven kembali berkelahi dengan para musuhnya.
"Kak, kamu nggak mau mampir dulu? Kamu belum pernah lho ketemu sama orang tua aku!" tanya Zia mencoba mencari alasan agar bisa menahan Heaven.
Heaven menggelengkan kepala. "Lain kali aja, aku masih ada urusan. Kalo ada apa-apa bilang aja, nanti aku usahain dateng! Oke?"
"Tapi Kak, kamu nggak akan berantem lagi kan?" tanya Zia memastikan.
"Sorry Na, aku nggak bisa janji apa-apa sekarang. Tapi aku bakal jaga diri kok, kamu tenang aja ya!" Heaven mengelus puncak kepala Zia, kemudian mencium keningnya. "Udah sana masuk, inget jangan pergi ke mana-mana. Kali mau pergi, jangan lupa bilang ke aku!"
Zia menganggukkan kepalanya, dengan hati yang berat ia turun dari mobil. Untuk kali ini ia akan membiarkannya pergi, dengan harapan agar semua masalah yang menimpa Heaven segera terselesaikan. Zia masih menatap kepergian mobil Heaven yang kini mulai hilang ditelan jarak.
Gue harap semua masalahnya cepet selesai, dan kita bisa hidup aman sama-sama Kak.
🎀🎀🎀
Hai pren! Seperti biasa othor paling rajin ini baru bisa update, mohon pengertiannya ya hehe. Othor juga punya kesibukan real life, tapi insyaallah othor bakal usahakan untuk update tiap hari kok. Ditunggu aja kelanjutannya ya hehe 🥰
Sambil menunggu Heavanna up, mampir dulu yuk ke karya keren di bawah ini.
Judul : Mendadak Nikah
Napen : DARA
Berniat memasang bubu Zena malah menemukan sesosok pria yang pingsan di tepi sungai, lantas ia dan neneknya menolong pemuda tersebut. Suatu hari pria yang bernama Satya itu ingin membalas kebaikan orang yang telah menyelamatkannya, namun siapa sangka yang dilakukannya malah berujung petaka. Membawa pada sebuah kesalahpahaman yang mengharuskan Zena dan Satya menikah hari itu juga. Setelah pernikahan, Satya memperlakukan Zena dengan sangat baik hingga hal itu perlahan membuat sang istri jatuh cinta. Namun suatu kebenaran membuat Zena harus menelan pil pahit, karena Satya ternyata sudah punya kekasih. Bagaimana kisah selanjutnya? Apakah perasaan Zena akan terbalas? atau dia hanya menjadi peran antagonis di kisah cinta suaminya?
...Sampai bertemu di cerita Heavanna selanjutnya 👋🏻...
__ADS_1